
Elin tidak merespon ketika Sinta meluapkan amarah padanya. Yah, ia tahu Sinta sangat takut jika ia sampai mengambil hati Ariel. Sinta bahkan berkali-kali memintanya untuk tidak jatuh cinta pada Ariel.
Melihat Elin hanya diam saja, Sinta pun berdiri. Ia berkutat cukup lama di dapur untuk membuat dua gelas teh panas. Ketika ia kembali ke meja makan, Ariel juga telah turun dari kamarnya. Sementara Elin memilih untuk tidak melanjutkan makannya. Elin meneguk habis air putih di gelasnya lalu meninggal meja makan.
"Kalian kenapa?" tanya Ariel. Ia menatap Elin yang sedang mencuci piring kotornya lalu mengalihkan tatapan pada Sinta.
"Nggak papa, Mas. Ini teh kamu, ayo makan. Aku ambilin nasi ya," ujar Sinta seraya mencentong nasi ke piring Ariel. "Kamu makan dulu, Mas. Ini udah malem banget."
"Iya, Sayang. Aku emang udah laper. Ini masakan Budhe Sarti kayaknya enak banget." Ariel mengambil kerupuk dari toples lantas mulai makan. Di sebelahnya Sinta tersenyum tipis.
"Aku ke kamar dulu." Elin mengambil piring berisi beberapa potong buah mangga yang tadi belum ia habiskan. Ia menatap Sinta yang memberinya tatapan dingin, sementara Ariel mengangguk kecil padanya.
"Kamu marah sama Elin?" tanya Ariel begitu Elin tak terlihat lagi.
"Nggak kok, Mas. Ayo makan dulu, nggak usah bahas Elin," jawab Sinta.
Ariel menatap Sinta penuh makna. Seketika ia merasa serba salah. Di satu sisi ia tak ingin Sinta cemburu sementara di sisi lain ia juga ingin memberikan perhatian pada Elin. Apalagi mengingat pesan dari Budhe Sarti tadi, rasanya ia benar-benar tidak begitu memperhatikan Elin yang sedang hamil muda.
"Aku mau bicara," kata Ariel. Ia dan Sinta baru kembali ke kamar usai makan malam.
"Ya mau ngomong apa?" tanya Sinta seraya duduk di tepi ranjang. Ia masih kesal dan terlihat cemberut.
"Aku tahu kamu marah gara-gara aku nyuapin Elin tadi," kata Ariel. Ia duduk di sebelah Sinta dan merangkul bahunya.
__ADS_1
"Itu kamu tahu, Mas. Aku kan udah bilang aku nggak suka liat kalian berduaan." Sinta menepis tangan Ariel lalu berdiri dengan gusar.
"Aku cuma nyuapin Elin. Kamu tahu, Elin susah banget makan, aku cuma mau dia makan aja, Sayang," kata Ariel seraya berdiri dan menarik lengan Sinta. Namun, Sinta bergeming, ia kembali menepis tangan Ariel dari tubuhnya. "Sayang, Elin sedang hamil muda. Elin juga butuh asupan nutrisi supaya bayi yang dikandungnya baik-baik aja."
"Dan kamu mau nyuapin dia setiap hari? Sehari 3 kali?" hardik Sinta.
Ariel menyugar rambutnya dengan jengkel. "Tentu aja nggak. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh dong. Aku beneran cuma mau liat Elin makan dengan cukup, kasihan dia udah lemes banget dari kemarin."
"Jadi kamu ngelakuin itu karena peduli sama Elin atau karena peduli sama bayi kita?" tanya Sinta keras.
"Elin itu adik angkat aku," kata Ariel mengingatkan. Ia memegang kedua bahu Sinta dengan lembut. "Bisa nggak kamu ngeliat aku sedang merawat adik aku sendiri?"
"Kamu udah tidur sama Elin, Mas!" Sinta menepis keras kedua tangan Ariel lalu membalik badan. "Persepsi aku sudah berubah. Aku nggak bisa ngeliat Elin sebagai adik kamu lagi. Nggak akan pernah bisa!"
Ariel membuang napas panjang. Ia memeluk Sinta dari belakang. Kali ini ia lebih kuat menahan tubuh Sinta, ia tak ingin pertengkaran ini semakin memburuk. "Kamu tahu, aku menikah sama Elin karena perjanjian, Sin. Kami nggak pakai perasaan, kamu tenang aja. Aku cuma ... aku cuma mikirin bayi dalam kandungan Elin. Bayi kita. Gimana kalau bayi kita kenapa-kenapa karena Elin nggak bisa makan dengan baik? Kita udah memulai semua ini, jadi aku juga nggak mau kita gagal. Bayi itu harus lahir dengan baik dan sempurna."
"Tentu aja. Aku nggak punya perasaan lebih pada Elin," kata Ariel. Ia merasa dadanya bergemuruh saat ini untuk alasan yang ia tak ketahui. Namun, ia mencoba mengabaikannya karena ia tak ingin Sinta lebih marah padanya.
"Aku juga pengen bayi kita sehat-sehat, Mas," ujar Sinta melunak. "Tapi hati aku sakit banget ketika liat kamu deket banget sama Elin."
"Aku paham, Sayang. Kita berharap aja semoga masa mual-mualnya Elin segera berlalu. Nanti kalau perutnya udah gedhe pasti dia nggak bakal butuh banyak perhatian aku lagi," kata Ariel meyakinkan. "Elin anaknya jarang sakit, tapi kalau sekali sakit dia emang bakal manja banget. Jadi aku paham kenapa dia kayak gini. Kalau bukan kita yang perhatiin Elin, jadi siapa?"
Sinta mengangguk pelan. Ia sependapat meskipun hatinya masih tidak suka. "Aku agak nyesel udah nyuruh kamu nikah lagi. Ternyata nggak enak dipoligami, Mas."
__ADS_1
"Kamu ingat aja, pernikahan aku sama Elin nggak bakal lama. Begitu bayinya lahir, pernikahan kami bakal berakhir," ujar Ariel. Sinta kembali mengangguk. "Lagian sesuai perjanjian, aku nggak bakal ngapa-ngapain sama Elin setelah dia hamil, Sayang. Wajar jika aku kasih perhatian sama Elin karena dia sedang hamil muda. Kamu tenang aja, kami sama-sama nggak punya perasaan lebih."
Sinta menimbang sejenak, ia tidak begitu yakin jika tak akan terbit rasa cinta di antara keduanya setelah pernikahan itu terjadi. "Aku takut, Mas. Aku takut kamu akan berpaling pada Elin yang jauh lebih sempurna dari aku. Aku ... aku cuma wanita cacat."
"Nggak bakal, Sayang. Bagi aku, kamu satu-satunya. Oke?" Ariel meregangkan pelukannya lalu memutar tubuh Sinta. Ia melihat Sinta mulai terisak di depannya. Jadi, apa yang dirasakan oleh Sinta bukan semata-mata kecemburuan saja, tetapi ia masih merasa minder akan kondisinya.
"Kamu janji nggak bakal ninggalin aku kan, Mas?" tanya Sinta.
"Aku janji," jawab Ariel. Ia menggenggam erat tangan Sinta. "Kamu jangan mikir aneh-aneh lagi ya. Aku nggak bermaksud membagi hati aku ketika berduaan dengan Elin."
Sinta mengangguk pelan. "Kamu nggak bakal jatuh cinta sama Elin, Mas?"
"Nggak mungkin. Kamu tenang aja. Aku ngelakuin semua itu demi bayi kita. Anggap aja kayak gitu. Oke?"
Sinta kembali mengangguk. "Aku beneran takut kalau kamu pergi dari aku, Mas." Ia memeluk tubuh Ariel erat-erat. Ia tak ingin kehilangan Ariel.
Dengan lembut, Ariel membalas pelukan Sinta. "Elin bakal berhenti bekerja juga, mungkin mulai besok atau lusa. Jadi, aku nggak perlu nganter jemput Elin lagi."
"Kamu serius?" tanya Sinta seraya mendongak.
"Iya. Aku minta Elin berhenti bekerja, dia capek banget. Aku khawatir kalau dia ngotot kerja bakal ngaruh ke bayi kita," ujar Ariel.
Sinta mengangguk di pelukan Ariel. Ia mendekap tubuh Ariel lebih erat sekarang. Rasa lega juga bersarang di hatinya kini. Ia yakin Ariel tak akan berpaling darinya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Ariel, ia hanya harus mencoba untuk melihat Elin sebagai sosok adik angkat Ariel semata.
__ADS_1
Ariel dan Sinta tidak tahu bahwa obrolan mereka berdua telah didengar oleh Elin yang tak sengaja lewat depan kamar mereka. Karena pintu yang tidak tertutup sempurna, Elin bisa mendengar samar obrolan tersebut. Ia yang hendak mengisi botol minumnya pun memutuskan untuk kembali ke kamar dengan langkah lemah.
Begitu masuk ke kamar, Elin terduduk di balik pintu. Ia tidak ingin menangis seperti ini, tetapi hatinya seolah teriris-iris oleh kata-kata Ariel yang hanya mempedulikan bayi dalam rahimnya. Seharusnya ia tahu dan tidak berharap lebih. Elin menunduk dalam-dalam, ia terisak semakin keras tanpa seorang pun yang tahu.