Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
78. Melihat Rumah Baru


__ADS_3

Hari demi hari berlalu di kehidupan Elin. Kini kandungannya sudah masuk di minggu ke-30. Artinya bayi itu sudah berusia 7 bulan di perutnya. Elin selalu berdebar setiap hari karena kini bayinya begitu aktif bergerak di sana. Ia bisa melihat secara langsung sundulan, sikutan atau bahkan tendangan bayinya.


Ia akan tertawa bersama Ariel ketika mereka bersama-sama merasakan momen menakjubkan itu. Dan seperti sebelumnya, terkadang Sinta juga meminta kesempatan untuk menyentuh dan bicara dengan bayi di perutnya.


Elin berkata pada dirinya sendiri bahwa ia adalah wanita paling bodoh sedunia karena tetap bertahan di rumah ini. Bahkan jika ia tetap menjadi wanita nomor 2 di hati sang kakak, ia tak ingin peduli. Ariel menginginkannya, itulah yang membuat Elin bertahan di sana.


"Aku nggak mau kamu pergi. Aku cinta sama kamu, El. Maafkan aku hanya bisa menjadikan kamu istri kedua aku, tapi aku nggak mau pisah sama kamu. Aku ... aku bakal jelasin sama Mama, sama Sinta. Mereka bakal mengerti, kamu tenang aja."


Ucapan Ariel terus terngiang-ngiang di kepala Elin setiap hari. Yah, barangkali menjadi istri kedua untuk selamanya tidak masalah, pikirnya getir. Asalkan ia bersama pria yang ia cintai dan juga mencintainya, mungkin ia bisa bertahan.


Elin baru saja selesai sarapan bertiga dengan Sinta dan Ariel yang tetap seperti biasa. Walaupun Sinta masih sering uring-uringan, tetapi terkadang Sinta juga bersikap baik padanya. Beberapa hari yang lalu, Sinta memberinya setumpuk baju ibu hamil miliknya dulu agar Elin tidak kerepotan karena perutnya yang sudah membesar. Ia juga tak keberatan karena tak ingin ribut dengan Sinta. Padahal, Ariel juga membelikannya baju-baju baru.


"Mbak Sinta ngapain?" gumam Elin ketika ia berdiri di balkon kamarnya. Ia menunduk ke taman depan rumah dan melihat Sinta sedang menghampiri Miko. Keduanya tampak bicara dengan akrab. "Sejak kapan Mbak Sinta deket sama Mas Miko?"


Elin merasa agak aneh saja. Sebab Sinta lebih sering di rumah dan Miko berjaga di luar. Jadi, ia cukup penasaran dengan hal itu. Rasa penasaran Elin bertambah besar ketika ia tahu, Sinta sering menyiapkan sarapan juga untuk Miko, padahal sebenarnya itu tidak perlu.


"Mungkin mereka temenan," ujar Elin suatu hari nanti. Yah, siapa yang tidak kesepian tinggal di rumah tanpa bisa keluar seperti ini. Bahkan, dirinya juga sangat kesepian dan merindukan ada di luar rumah, berpetualang dan menjelajah alam. Ia juga sangat bosan! Jadi, ia memilih maklum saja jika Sinta tiba-tiba dekat dengan Miko.


***


"Kita pergi liat rumah kamu yuk," kata Ariel pada Elin suatu Minggu pagi.


"Rumah aku?" tanya Elin kaget.


"Iya," jawab Ariel. "Bentar lagi bayinya kan udah mau lahir. Kamu bisa tinggal di rumah itu, jadi Mama nggak bakal liat kamu. Kamu pulihkan diri kamu di sana. Kamu juga bisa nyiapin ASI-nya buat bayi kita. Kamu udah belajar kan?"


"Ehm, aku udah baca-baca dan konsultasi sama dokter kalau tentang masalah ASI," jawab Elin. "Tapi, bukannya Mama mau balik ke Indonesia kalau Gladis libur?"


"Tadinya gitu. Tapi Gladis udah ada proyek selama liburan jadi mungkin dia nggak bisa ikut pulang. Makanya Mama mau cepetin aja pulangnya. Mama mungkin pulang abis bayinya lahir," kata Ariel menerangkan.


"Kakak yakin Mama pulangnya abis bayi ini lahir? Gimana kalau Mama pulangnya dipercepat? Aku takut," kata Elin dengan suara gemetar.

__ADS_1


"Nggak mungkin, kamu tenang aja. Mama udah bikin rencana jadi nggak biasa berubah? Mama tuh pergi biasanya menyesuaikan sama jadwal Gladis. Aku tahu kok," kata Ariel menenangkan.


Elin mengangguk. Ia merasa sedikit lebih tenang sekarang. "Tapi kalau Mama nyariin aku gimana?"


"Gampang, aku bisa bilang kamu lagi ada proyek atau apa nanti," kata Ariel.


"Oke," tukas Elin. Ia berpikir sejenak lalu kembali berkata, "Tapi ... aku bisa ketemu Kakak lagi kan? Apa aku harus tinggal di rumah itu sendiri?"


"Nggak dong. Kamu tinggal sama perawat nanti. Aku nggak mau kamu kesepian. Aku juga bakal sering datang. Tenang aja."


"Aku bisa liat bayinya?" tanya Elin resah.


Ariel menangkup pipi Elin dan mencium bibir merah itu. "Bisa. Kalau Mama udah balik ke luar negeri, kamu bisa tinggal kembali di rumah ini ... atau mungkin kamu lebih nyaman di rumah itu. Terserah kamu."


"Liat nanti deh. Kalau aku tinggal di sini, aku bisa ngeliat anak aku lebih sering," kata Elin penuh harap. Sebenarnya ia tak yakin, mungkin Sinta akan jauh lebih senang jika ia tinggal di rumah lain. Sinta sudah bersikap posesif terhadap bayi dalam perutnya, mungkin ia tak akan diberi kesempatan untuk melihat bayinya.


"Oke. Kita pergi dulu yuk," ajak Ariel.


"Ya, aku tunggu di bawah aja," kata Ariel. Ia berlalu meninggalkan kamar Elin lalu turun untuk menemui Sinta yang sedang membuat teh di dapur. "Sayang," panggil Ariel.


"Iya, Mas. Kamu jadi bawa Elin ke rumah itu?" tanya Sinta dengan senyum tipis di wajahnya. Ia sudah muak dengan sikap Ariel terhadap Elin selama ini. Jadi, ia berharap jika Elin diungsikan dari rumahnya, mungkin Ariel akan bisa kembali seperti dulu. Apalagi besok, bayi itu akan tinggal dengannya.


"Ya. Mau liat-liat dulu barangkali ada barang yang dia nggak suka," kata Ariel.


Sinta hanya mengangguk. "Rumahnya aman kan, Mas?"


"Aman, tenang aja. Aku juga bakal kasih penjaga kok jadi nggak ada yang bebas masuk," kata Ariel meyakinkan.


"Oke, kalau gitu. Tapi jangan lama-lama di sana ya, Mas."


"Iya. Sebelum makan siang nanti aku udah pulang kok. Kan cuma mau liat doang," tukas Ariel.

__ADS_1


Sinta mendengus. Ia membalik badan lalu kembali mengaduk tehnya. "Kamu kan suka lupa waktu kalau sama Elin."


"Nggak gitu juga, Sayang." Ariel memeluk pinggang Sinta agar istri pertamanya tidak ngambek lagi.


"Ya udah sana, itu Elin udah turun kok. Aku mau ngeteh dulu," ujar Sinta.


"Oke." Ariel mendaratkan sebuah kecupan di pipi Sinta. Ia mengusap puncak kepala Sinta dan segera mendekati Elin.


"Udah pamitan sama Mbak Sinta?" tanya Elin yang menunggu Ariel di bawah anak tangga.


"Udah kok. Yuk, langsung aja. Keburu siang nanti," kata Ariel.


"Nggak jauh kan?" tanya Elin seraya menggandeng tangan Ariel.


"Nggak, cuma di kompleks sebelah. Aku kan nggak mau jauh dari kamu," jawab Ariel. Ia mengeratkan genggamannya di tangan Elin.


Elin tersenyum lebar. Ia cukup terhibur karena ucapan Ariel. Keduanya pun berjalan menuju mobil Ariel. Tepat ketika Ariel hendak masuk mobil, terlihat mobil Miko memasuki gerbang rumah tersebut.


"Pagi, Pak, Elin," sapa Miko pada Ariel dan Elin.


"Pagi, kamu datang lebih pagi hari ini. Marcus aja masih ngerokok sama Seto," kata Ariel.


"Iya, Pak. Damar cuti hari ini makanya saya mruput aja," ujar Miko.


"Ya udah. Baik-baik di sini. Saya ada keperluan di luar," kata Ariel.


Miko mengangguk ketika Ariel mulai masuk mobil. Elin menatap Miko dengan ekspresi penasaran. Ia sudah sering melihat Miko berduaan dengan Sinta.


"Kak, aku mau tanya sesuatu dong," kata Elin.


"Tanya apa?"

__ADS_1


"Mbak Sinta sama Mas Miko emang deket ya?" tanya Elin.


__ADS_2