Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
Bab 15. Pernikahan Elin & Ariel


__ADS_3

"Elin, saya mau bicara sama kamu," ujar Galang ketika Elin sudah kembali dari makan siang dengan Ariel.


"Ada apa, Pak?" tanya Elin. Galang mengedikkan dagu ke arah ruangannya, maka Elin pun ikut masuk.


"Naskah Surya untuk Citra udah saya baca plotnya, itu bagus lho. Kamu lanjutkan itu saja. Itu murni ide kamu kan?" tanya Galang.


Elin mengangguk. Saat ini ia sedang menggarap naskah dengan ide dari orang lain, tetapi terkadang ia juga menulis naskahnya sendiri. "Tapi saya belum pede, Pak."


"Pede aja, kamu fokus di situ saja sekarang. Kamu bisa selesaikan itu, nanti saya tunggu," ujar Galang.


Elin menggigit bibirnya. Itu adalah kesempatan emas baginya. Namun, jika ia menikah dan lekas hamil, ia akan kehilangan kesempatan itu karena ia harus keluar dari kantor Galang.


"Baik, Pak. Nanti saya kabari lagi kalau saya udah selesai. Saya mulai besok," kata Elin sambil tersenyum.


"Oke, semangat!" Galang mengepalkan tangannya guna memberi semangat untuk Elin.


Elin melangkah keluar dari ruangan Galang dengan perasaan tak keruan. Ia memiliki mimpi untuk menjadi penulis naskah yang sukses. Sekarang, ia mendapatkan peluang untuk mewujudkan mimpinya tersebut, tetapi di sisi lain juga juga harus mempertimbangkan perjanjiannya dengan Ariel.


Elin berpikir masak-masak sembari melirik tasnya. Di dalam sana ada surat perjanjian yang belum seluruhnya ia baca. Hanya setahun, pikirnya. Ia bisa memulai lagi, ia juga bisa tetap menulis di rumah meskipun mungkin kesempatan emas seperti yang ditawarkan oleh Galang tidak akan datang dua kali. Yah, hanya setahun, pikirnya.


***


Hari yang disepakati pun akhirnya tiba. Elin dan Ariel akan melangsungkan pernikahan 2 jam lagi. Dan kini, Elin sedang mondar-mandir di kamarnya, ia membuang napas berkali-kali melalui mulut lantaran sangat gelisah. Ia menatap kembali surat kontrak yang ada di atas mejanya. Ia sudah membacanya berulang-ulang hingga memutuskan untuk tanda tangan.


Elin hanya menambahkan satu poin di dalam perjanjian tersebut. Pihak Pertama dan Pihak Kedua tidak akan saling membenci ketika perjanjian berakhir. Jika pernikahan itu harus berakhir, pikir Elin, ia tentu ingin akhir yang bahagia. Ia membayangkan saja, semuanya akan mudah, setelah bayinya lahir, ia akan memberikan bayi itu pada Ariel dan Sinta. Lalu mungkin, ia akan menjauh dari mereka.

__ADS_1


"Elin," panggil Ariel yang baru saja masuk ke kamarnya.


"Ya," jawab Elin. Ia menghentikan langkah bolak-baliknya lalu duduk di depan meja rias. "Aku baru mau merapikan riasanku."


"Ehm, santai saja. Kamu sudah membaca ulang perjanjian kita?" tanya Ariel.


"Ya. Aku kan udah tanda tangan juga." Elin mengulurkan amplop cokelat itu pada Ariel.


"Oke." Ariel mengecek sekilas. "Aku akan menyimpannya baik-baik mulai sekarang."


Elin mengangguk. Ia membalik badan sekarang lalu mulai memakai bando untuk menyingkirkan poninya dari kening.


"Kamu tahu, tujuan pernikahan ini cuma ...."


"Aku tahu. Nggak usah khawatir," kata Elin.


Kepergian Ariel digantikan oleh Sinta yang sudah memakai gaun berwarna kuning keemasan. Ia tersenyum pada Elin meskipun hatinya sama sekali tidak tenang. Elin akan menjadi madunya mulai hari ini.


"Biar aku bantu dandan," ujarnya seraya berdiri di dekat Elin. "Kamu jarang dandan kan?"


Elin meletakkan kapas yang tadi ia gunakan untuk membersihkan wajah. Ia tidak menjawab pertanyaan Sinta karena itu tak perlu. Ia lalu membiarkan Sinta memoleskan wajahnya. Elin merasa berdebar tak keruan karena Sinta sendiri yang mendandaninya.


"Kamu tahu poin utama pernikahan kamu dengan Mas Ariel kan?" tanya Sinta ketika ia mengoleskan lipstik berwarna nude ke bibir Elin.


"Ya. Aku cuma perlu hamil dan melahirkan," jawab Elin ketika Sinta menarik kuas lipstiknya.

__ADS_1


Sinta tersenyum tipis dan mengangguk. "Tapi, ada 1 poin lagi yang perlu kamu perhatikan," ujarnya. Ia mengangkat dagu Elin pelan lalu menatap wajah yang telah ia rias dengan cantik itu lekat-lekat. "Kamu nggak boleh memakai perasaan. Artinya, kamu nggak boleh jatuh cinta sama Mas Ariel."


Elin mengepalkan tangannya karena memang ia sudah lama menyimpan perasaan pada Ariel, bahkan jauh sebelum Ariel dan Sinta berkenalan. Ia merasakan remasan di bahunya ketika Sinta berdiri di belakang tubuhnya.


"Kamu paham kan?" tanya Sinta lagi.


"Mbak Sinta tenang aja. Aku sama Kak Ariel sama-sama tidak memiliki perasaan apapun. Jadi nggak usah mikir yang aneh-aneh," kata Elin. Ia mengusap rambutnya. "Ini digerai aja," katanya mengalihkan obrolan."


"Ehm, kamu cantik sekali. Ayo aku bantu pakai kebaya. Kamu pakai tiara ini nanti, pasti tambah cantik walaupun kamu nggak disanggul," kata Sinta.


Elin pun menuruti apa yang diinginkan oleh Sinta. Ia memang tidak ingin riasan pengantin seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang. Lagipula ini hanya formalitas, ia menikah hanya untuk melahirkan bayi untuk kakaknya. Jadi, ini sama sekali bukan pernikahan impiannya.


Elin tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Dari orang tua angkatnya, ia sudah dengar bahwa dulu ia ada di panti asuhan kecil yang cukup jauh dari kota mereka. Karena sudah delapan tahun sejak melahirkan Ariel dan mereka tidak lantas diberikan momongan lagi, mereka memutuskan untuk mengadopsi Elin, bayi tanpa orang tua yang ditemukan oleh petugas yayasan di depan panti asuhan. Ada beberapa bayi di sana, tetapi kata mereka, Ariel yang memilih Elin untuk dijadikan adiknya.


Elin tidak pernah tahu bahwa ia hanyalah anak angkat hingga Gladis yang menemukan berkas-berkas rahasia ketika mereka bermain petak umpet. Ia sudah berusia sebelas tahun dan Gladis baru tujuh tahun waktu itu. Sejak saat itu, Elin pun mengerti kenapa ia sama sekali tidak mirip dengan semua orang. Ariel dan Gladis begitu mirip dengan ayah mereka. Sementara Elin berharap bahwa ia terlihat sedikit mirip dengan ibunya, tetapi nyatanya ia sama sekali tidak mirip. Bahkan ia memiliki golongan darah yang berbeda.


Elin membuang napas panjang ketika memorinya memutar kembali beberapa adegan ketika ia masih kecil. Ia menuruni anak tangga dengan gelisah. Di bawah sana, sudah siap Ariel yang akan mengikrarkan ijab kabul dengan pria yang menjadi wali hakim. Elin ingin menangis sekarang, tetapi ia menahannya kuat-kuat.


"Kamu udah siap?" bisik Ariel ketika ia duduk di sebelahnya.


Elin mengangguk saja meskipun ia merasakan debaran tak keruan di hatinya. Ariel terlihat sangat tampan dengan setelan putih. Seharusnya, jika ini benar-benar pernikahan untuknya, ia akan sangat berbahagia. Ia bisa menikah dengan Ariel, pria yang ia kagumi serta ia cintai sejak beberapa tahun yang lalu. Sayangnya, ini hanyalah permainan.


Elin menunduk dalam-dalam untuk menghindari tatapan Sinta. Ia tahu, Sinta bukan wanita keji, Sinta justru terlalu baik. Jadi, ketika Sinta memintanya untuk tidak jatuh cinta pada Ariel, ia merasa hatinya seperti tercabik-cabik.


"Sah!"

__ADS_1


Elin terkesiap ketika ia mendengar semua orang menyerukan satu kata sebagai pertanda bahwa kini ia telah resmi menjadi istri siri Ariel. Perjanjian mereka dimulai sejak detik ini, pikirnya. Elin mencium punggung tangan Ariel dengan lembut, ia juga mendapatkan kecupan singkat di keningnya.


Elin menatap Ariel lekat-lekat, sama seperti dirinya Ariel terlihat begitu gugup. Ia mengalihkan tatapannya segera, tetapi ia justru bertemu tatap dengan Sinta yang terlihat meneteskan air mata. Yah, Elin tahu ini sama sekali bukan pernikahan idaman semua orang. Itu adalah pernikahan berselimut duka dan Elin harus terjebak di dalamnya!


__ADS_2