Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
24. Permintaan Elin


__ADS_3

Sinta baru saja selesai menyiapkan makan malam ketika ia mendengar suara deru mobil Ariel. Ia buru-buru melepaskan apron lalu membukakan pintu depan untuk Ariel. Kedua matanya menatap mobil merah Ariel yang baru saja masuk ke halaman rumah mereka.


Sinta tersenyum, ia selalu seperti ini menyambut suaminya dengan hangat. Namun, hari ini ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ia melihat Ariel merangkul Elin yang terlihat begitu lemas atau mengantuk, ia tidak yakin. Yang jelas ia tidak begitu menyukainya. Ia yang meminta Ariel untuk selalu mengantar-jemput Elin bekerja, tetapi hari ini ia menjadi menyesali permintaannya.


"Kalian udah pulang? Elin kenapa?" tanyanya.


"Ah, ini pusing banget katanya, lemes dia," jawab Ariel. Ia melepaskan bahu Elin lalu bergerak untuk merangkul Sinta. "Tadi aku sama Elin mampir ke pasar buah terus Maghrib di masjid yang deket sana jadi baru nyampe deh."


"Iya nggak papa, kamu istirahat aja, El. Kayaknya lemes banget," ujar Sinta.


Elin hanya mengangguk. Ia memang mudah sekali lelah dan mengantuk belakangan ini. Apalagi sepulang kerja, rasanya ia sudah tidak memiliki tenaga lagi dan hanya ingin berbaring di kamarnya.


"Aku ke kamar dulu, Mbak," ujar Elin.


Usai mandi dan berganti pakaian, Elin pun duduk di tepi ranjangnya. Perutnya terasa lapar dan juga kembung, sungguh perpaduan yang tidak nyaman.


"Kamu nggak makan, El?" tanya Sinta yang baru saja mengetuk pintu kamarnya lalu masuk.


"Iya, ini mau turun," jawab Elin.


"Kamu bisa makan dengan baik kan?" tanya Sinta seraya duduk di sebelah Elin.


"Lumayan, Mbak. Tapi nggak banyak, aku pengen yang seger-seger terus rasanya," ujar Elin. Ia teringat ketika makan siang, ia terus mual meskipun ia sudah meminum obat dari dokter. Ia sudah membuat Mirna bertanya-tanya. Beruntung, Mirna tidak membuat gosip tentangnya.


"Ya udah yuk makan dulu. Aku masakin kamu sop ikan, kamu pasti suka. Aku jamin seger," kata Sinta dengan nada membujuk.


"Oke, yuk."


Elin pun mengikuti langkah Sinta menuruni anak tangga. Rupanya Ariel sudah di dapur. Terlihat Ariel sedang mengupas buah mangga muda yang ia beli tadi. Senyum Elin mengembang sekarang. Ariel benar-benar menepati ucapannya untuk mengupaskan buah untuknya.


"Kami ngapain, Mas?" tanya Sinta. Ia mendekati Ariel dan memperhatikan apa yang dilakukan suaminya.


"Oh, ini tadi aku beli mangga, Sayang. Aku juga udah kupasin kamu itu yang manis," jawab Ariel.


"Makasih ya, Sayang. Ini buat Elin?" tanya Sinta seraya mengambil piring di depan Ariel. Ariel yang sedang mencuci piring pun mengangguk. "Aku bawa ke meja makan ya."


"Oke." Ariel kembali mengangguk. Ia membereskan sampah kulit mangga lalu menyusul dengan membawa piring mangga untuk Sinta.

__ADS_1


"Kamu suka yang asem-asem ya," ujar Sinta seraya meletakkan piring mangga muda itu di depan Elin. Elin hanya mengangguk pelan.


"Iya, Mbak. Makasih ya udah dibawain," tukas Elin. Ia menatap Ariel yang menyajikan mangga manis untuk Sinta. Elin mendengus pelan. Ia mengira Ariel hanya membelikan buah untuknya, tetapi Sinta juga mendapatkannya.


"Kamu makan nasi juga dong," kata Ariel mengingatkan Elin.


"Aku mual," ujar Elin. Ia sudah mencoba makan masakan Sinta, tetapi ia tidak begitu menyukainya. Perutnya bergejolak setiap kali ia menyendok, jadi ia hanya makan buah potong.


"Kayaknya kamu makin parah, kemarin kamu masih bisa makan," celetuk Sinta.


"Nggak tahu, Mbak. Tapi aku emang lemes banget," kata Elin.


"Jangan lupa minum air, nanti susunya diminum juga," kata Ariel. "Vitaminnya kamu nggak lupa kan?"


Elin menggeleng pelan. "Aku minum kok." Ia sudah beberapa hari tidak minum susu hamil yang dibelikan oleh Ariel. Ia sama sekali tidak menyukainya. Itu hanya membuatnya jauh lebih mual.


Malam itu, Elin tak bisa tidur nyenyak. Ia terbangun ketika tengah malam baru saja berlalu, tetapi ia tidak bisa kembali memejamkan matanya. Ia mendadak lapar dan memutuskan untuk mencari sesuatu di dapur.


"Ehm, biskuit," gumamnya ketika ia membuka kulkas. Ia mencobanya, tetapi ia juga tidak begitu suka. Namun, karena ia lapar ia tetap memakannya. Ia juga makan beberapa buah stroberi milik Sinta yang ternyata sangat lezat.


"Kamu nggak tidur?"


"Makanya, kamu itu makan," tukas Ariel. "Kamu udah lemes, gimana dengan bayinya? Kamu nggak kasihan?"


"Kakak tahu, aku juga udah coba makan. Tapi aku emang mual!" ujar Elin kesal.


"Aku tahu. Tapi kamu makan terlalu sedikit. Aku khawatir kalau kamu muntah-muntah tapi nggak ada asupan yang masuk," ujar Ariel. "Aku bikinin susu ya. Diminum!"


Elin semakin cemberut. Ia tahu Ariel hanya khawatir dengan kandungannya, bukan padanya.


"Kamu bilang kamu mau makan apa, besok aku beliin," kata Ariel seraya mendekati Elin.


"Kan aku udah bilang, aku mau mangga muda yang dipetik di pohonnya, yang ada di rumah lama kita!"


Ariel membuang napas panjang. "Itu jauh banget, El. Kamu nggak kepengen yang lain? Tadi kan udah makan mangga muda."


"Tapi itu kan beda. Aku mau Kak Ariel sendiri yang metik buahnya!" sergah Elin.

__ADS_1


"Ya udah, nanti hari Minggu aku ke sana."


"Serius?" tanya Elin senang. Ariel mengangguk di depannya. "Asyik! Nggak sabar rasanya."


"Ya sabar dong, aku nunggu libur," ujar Ariel. Ia tersenyum tipis melihat rona bahagia di wajah Elin. Sudah sejak sore Elin terlihat lemas dan cemberut, jadi ia merasa agak lega ketika bisa melihat senyuman di wajah Elin.


"Aku mau ikut ke rumah lama, Kak. Bolehkan?" tanya Elin. Ia memperhatikan bagaimana Ariel membuat susu untuknya.


"Ya lihat besok. Itukan jauh lima jam perjalanan, bolak-balik udah seharian. Kayaknya kamu nggak usah ikut aja, nanti kamu capek," kata Ariel seraya mengulurkan segelas susu pada Elin.


Elin kembali murung, ia sempat membayangkan bisa berduaan lebih lama dengan Ariel jika ia melakukan perjalanan ke rumah lama mereka. Namun, ia juga sadar itu memang cukup jauh. Dengan kondisinya sekarang, ia hanya akan teler di jalan.


"Tapi Kakak beneran yang bakal manjat pohonnya kan?" tanya Elin dengan nada sangsi.


Ariel tertawa kecil. "Kamu lupa, aku kan jago manjat. Tenang aja kalau kamu nggak percaya, nanti aku minta Pak Jono buat ambil fotonya."


Ariel mengacak pelan rambut Elin karena gemas dengan permintaan dan pertanyaan Elin. Pak Jono adalah tukang kebun di rumah lama mereka. Meskipun rumah itu kosong ada beberapa orang yang dibayar oleh orang tua mereka untuk mengurusnya.


"Ini diminum susunya jangan dianggurin," ujar Ariel ketika Elin hanya mengaduk-aduk cairan berwarna putih itu.


"Aku tuh nggak begitu suka susunya," protes Elin.


"Tapi ini bagus buat kandungan kamu. Besok aku beliin yang rasa lain, siapa tahu kamu lebih suka."


"Oke." Elin akhirnya mulai minum susunya. Meskipun ia tidak begitu suka, ia tetap menghabiskan minuman itu karena Ariel yang membuatkannya. Ariel bahkan menemaniku di dapur hingga ia meneguk habis.


"Udah kenyang sekarang?" tanya Ariel.


"Udah kenyang banget, aku nyampe takut muntah," jawab Elin.


"Ya jangan dong, sini gelasnya biar aku bilas." Ariel mengambil gelas di depan Elin lantas mencucinya di wastafel. Ia mengelap tangan lalu kembali duduk di sebelah Elin yang sedang membaca sesuatu di ponselnya. "2 minggu lagi kita bisa cek USG lagi. Aku penasaran bayi aku udah sebesar apa."


"Belum kelihatan," ujar Elin seraya mengusap perutnya. Ia terkesiap ketika Ariel menarik tangannya. Telapak tangan besar Ariel menggantikan tangannya yang semula ada di perut. Ia begitu gugup karena Ariel sedang menyentuh perutnya. Ia merasakan jempol Ariel mengusap pelan di sana.


"Aku cuma mau pegang bayi aku," bisik Ariel. Ia menatap mata Elin dengan lembut lalu kembali menatap perut Elin. "Aku harap bayi aku sehat dan tumbuh dengan baik di dalam sana."


Elin mengangguk. Walaupun Ariel menyebut bahwa bayi itu adalah bayinya, Elin mulai berandai-andai jika Ariel akan menyebutnya sebagai bayi mereka berdua. Hati-hati, Elin menyentuh pipi Ariel yang begitu dekat dengannya. Ariel agak kaget, ia kembali menatap Elin sekarang. Mereka sudah cukup dekat untuk melakukan ciuman.

__ADS_1


Elin hampir mendekatkan wajahnya ke wajah Ariel ketika Ariel menelengkan kepalanya dan berkata, "Sinta! Kamu kebangun?"


__ADS_2