Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
28. Ditinggal Sendirian di Rumah


__ADS_3

Keesokan harinya, Elin terbangun karena suara Budhe Sarti yang mengetuk pintu kamarnya. Ia masih bermalas-malasan untuk bangun, tetapi ia lantas membuka pintu.


"Pagi, Budhe. Kok Budhe udah di sini sih? Biasanya kan agak siang datangnya," ujar Elin penasaran. "Ini hari Minggu kan? Budhe bukannya libur."


"Iya, kemarin Pak Ariel bilang saya suruh datang pagi-pagi soalnya Bapak sama Ibu kan mau ke luar kota," jawab Budhe Sarti.


Elin mengernyit. Ia tahu Ariel akan berkunjung ke rumah lama mereka karena Ariel sudah berjanji akan memetikkan buah mangga di sana. Namun, ia tak tahu bahwa Sinta juga akan ikut.


"Mbak Sinta juga pergi ya?" tanya Elin cemberut.


"Iya. Udah berangkat tadi barusan," jawab wanita setengah baya itu.


Elin semakin cemberut sekarang. Ia yang ingin ikut ke sana, tetapi Ariel justru mengajak Sinta. Bahkan mereka tidak berpamitan ketika pergi.


"Neng Elin mau sarapan apa? Biar saya siapkan."


"Nanti aja, Budhe. Saya mau sholat Subuh dulu," jawab Elin. "Nanti saya turun aja kalau udah laper."


"Oke. Saya mau nyuci dulu, Neng."


Elin kembali menutup pintu kamarnya. Ia terdiam selama beberapa saat karena nyeri yang menyasar di hatinya. Ia ditinggalkan begitu saja oleh Ariel, jadi ia benar-benar merasa kesal.


Tak ingin tenggelam dalam rasa kesalnya, Elin segera menunaikan ibadah sholat subuh, lalu ia mencoba untuk menelepon Ariel setelahnya.


"Halo, kamu udah bangun, El?" tanya Ariel di seberang.


"Udah, Kak. Kakak kok nggak bilang-bilang kalau berangkatnya pagi-pagi banget?"


"Iya, biar nyampenya nggak kesiangan. Kamu kan tahu rumah lama kita tuh lumayan jauh," jawab Ariel.


Elin masih mencebik. "Iya tahu. Tapi kenapa nggak pamitan? Kan aku sendirian di rumah. Mbak Sinta juga diajak. Kemarin aku mau ikut nggak boleh."

__ADS_1


"Iya, tadi kamu kan masih tidur nyenyak. Jadi aku nggak pamitan," ujar Ariel. Ia juga tidak sempat melihat Elin di kamarnya karena Sinta sudah berkata bahwa Elin begitu lelap tidur jadi lebih baik tidak usah mengganggunya.


"Tapi seenggaknya bilang dong kalau mau pergi," kata Elin dengan nada kecewa.


"Ya maaf. Kamu tunggu aja, nanti aku bawain buah mangganya buat kamu. Mungkin sore udah pulang kok."


"Oke. Jangan lupa Kakak yang harus manjat pohon ya!" Elin mengingatkan Ariel. Ia mendengar tawa lirih Ariel. "Aku serius, aku nggak mau makan kalau bukan Kakak yang petik. Nanti aku chat Pak Jono."


"Iya-iya, kamu tenang aja. Ya udah aku tutup dulu, baru di jalan ini."


"Ya. Hati-hati, Kak."


Elin meletakkan ponselnya dan merasa sedikit lebih tenang usai berbicara dengan Ariel. Namun, rasa tenangnya tidak bertahan lama. Ia ingat kekacauan yang terjadi kemarin. Ia sudah membuat pekerjaannya berantakan bahkan Ariel memintanya untuk berhenti bekerja. Haruskah?


'Kalau aku di rumah aja, aku nggak tahu mau ngapain,' ucap Elin dalam hati. 'Tapi kalau aku kerja, aku juga nggak bisa. Aku masih mual-mual dan semua orang bakal tahu kalau aku hamil.'


Elin benar-benar dilanda kegalauan sekarang. Jika ia mempertimbangkan kondisinya, ia memang tidak akan kuat bekerja. Apalagi jika proses syuting sudah dilakukan. Ia tidak akan memiliki banyak waktu istirahat. Dengan lembut, Elin meraba perutnya. Lebih dari Ariel maupun Sinta, ia juga ingin bayinya tumbuh dengan baik dan lahir dengan selamat.


Elin menghentikan aktivitasnya ketika ia kembali mendengar ketukan di daun pintu kamar. "Neng, Neng Elin mau sarapan apa ya?"


Elin berdiri untuk membuka pintu. Ia berpikir sejenak karena ia juga tak tahu apa yang ia inginkan untuk sarapan. "Sayur bayem bening aja, Budhe. Sama goreng ayam sama tahu aja. Nanti aku bantuin masak."


"Nggak usah atuh, Neng. Nanti bau bawang malah mual-mual," ujar Budhe Sarti mengingatkan.


Elin terkekeh pelan. "Iya deh. Aku mandi aja, belum mandi aku."


***


Elin menghabiskan seharian itu untuk menulis beberapa baris kata di naskah terbarunya, tetapi ia sama sekali tidak berkonsentrasi. Ia kembali muntah setengah jam usai sarapan. Padahal ia bisa sarapan dengan baik, sayang sekali ia muntah. Elin merasa begitu lemas sekarang.


"Neng nggak papa kan?" tanya Budhe Sarti ketika ia mengecek Elin di kamarnya.

__ADS_1


"Nggak, Budhe. Aku cuma lemes banget, abis makan harus banget muntah jadinya nggak enak," jawab Elin.


Budhe Sarti mengulurkan segelas air jeruk hangat yang ia bawa. "Coba minum dulu, Neng. Ini seger kok."


"Makasih, Budhe." Elin mencoba meneguk air hangat itu. "Iya, ini enak Budhe. Repot banget ternyata jadi orang hamil, aku kira nggak separah ini."


"Beda-beda sih, Neng. Saya hamil tiga kali juga sensasinya beda-beda. Yang pertama nggak bisa ngapa-ngapain kayak Eneng ini, kalau nggak mual, muntah ya pusing. Hamil anak kedua kok enak, nggak kerasa sama sekali, makan apa aja enak banget jadinya gampang melar badan," ujar Budhe Sarti. Elin tertawa kecil mendengar cerita wanita itu.


"Yang ketiga gimana, Budhe?" tanya Elin penasaran.


"Yang ketiga paling parah, Neng. Saya nyampe masuk rumah sakit karena lemes nggak bisa makan terus saya pendarahan pula, pokoknya paling banyak drama deh," jawab Budhe Sarti seraya mengenang masa kehamilannya.


"Oh, tapi bayinya nggak papa, Budhe?" tanya Elin lagi.


"Alhamdulillah, nggak papa. Sekarang udah SD kok, Neng. Dulu saya sambil kerja kayak gini pas hamil anak ketiga, mungkin kecapekan. Sama suami terus disuruh berhenti aja dulu daripada kenapa-kenapa bayinya," ujar Budhe Sarti.


Elin mengangguk pelan. Ia juga sudah bolak-balik diminta berhenti bekerja oleh Ariel. Mendengar cerita Budhe Sarti, ia menjadi lebih mantap. Mungkin ada baiknya ia harus merelakan mimpinya. Mungkin, besok pagi ia akan menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Galang.


"Pak Ariel kira-kira pulang jam berapa udah ngasih kabar, Neng?" tanya Budhe Sarti.


"Belum. Tapi tadi udah sampai di rumah, Budhe. Udah metik mangga juga," ujar Elin sambil menahan cengirannya melebar. Ia benar-benar meminta Pak Jono untuk mengambil momen ketika Ariel memanjat pohon. Ia juga sangat merindukan rumah besar itu. Dulu, ia, Ariel, Gladis dan kedua orang tua mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sana.


"Neng ini aneh-aneh aja ngidamnya. Nyampe nyuruh Pak Ariel ke luar kota buat metik mangga," kata Budhe Sarti sambil menahan tawa.


"Iya, aku kebayang banget segernya, Budhe. Itu pohon kenangan," gumam Elin.


"Ya udah, Neng. Saya mau ambil jemuran. Neng tiduran aja, nanti saya siapkan makan lagi buat siang ya."


Elin mengangguk. Ia menatap kembali layar laptopnya lalu membuka halaman baru di sana. Elin hampir mengetikkan surat pengunduran dirinya, tetapi ia masih agak ragu. Ia menunduk untuk menatap perut datarnya.


"Mungkin ini keputusan terbaik." Dan Elin mulai mengetik.

__ADS_1


__ADS_2