
Elin tiba di tempatnya janjian dengan David seorang editor dari penerbit Swara Media. Ia melirik jam di tangannya karena takut akan terlambat. Beruntung, ia tiba lima belas menit lebih awal sebelum waktu janjian, jam 4.00 sore.
"Halo! Kamu Elinka Gitari?"
Elin mendongak pada sosok yang baru pertama kali ia lihat. "Ya, halo. Salam kenal. Pak David ya?"
"Ya. Kamu sudah pesan minuman?" tanya David seraya duduk.
"Belum, Pak."
"Ya udah, saya pesan dulu." David melambaikan tangan pada seorang pelayan wanita yang lantas mendekat. "Saya pesan teh tarik 1."
"Saya jus jeruk saja." Elin menambahkan.
"Oke, ditunggu sebentar." Pelayan itu mencatat pesanan Elin dan David lalu segera meninggalkan meja.
"Ehm, kamu udah tahu maksud pertemuan kita bukan?" tanya David. Elin mengangguk. "Jadi saya tertarik dengan naskah kamu yang berjudul Mencintai Dalam Diam dan jika kamu berminat, kami bisa menerbitkan naskah kamu dalam bentuk buku cetak."
Elin dan David melakukan pembicaraan selama beberapa menit hingga akhirnya Elin berkata bahwa ia akan mempertimbangkan penawaran David. Itu adalah penawaran yang tidak buruk, tetapi entah kenapa Elin menginginkan pendapat orang lain. Akan lebih baik jika ia bisa bertanya pada Galang atau mungkin Ariel.
"Nanti kamu bisa hubungi saya jika kamu sudah memutuskan," kata David sebelum mereka berpisah.
Elin menuruni anak tangga perlahan, ia sedang berpikir untuk menghubungi Galang, tetapi ia juga ragu apakah Galang masih mau bicara dengannya. Ia tak hanya menyakiti hati Galang dengan menolaknya, ia juga sudah membuat kecewa pria itu dengan pekerjaannya.
"Elin?"
Elin terkesiap ketika ia mendengar suara Galang. Ia baru saja memikirkan Galang dan sekarang di depannya muncul sosok tersebut. Ia mengerjap pelan karena mengira ia sedang berhalusinasi.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Galang.
"Oh, itu tadi ada janji." Elin baru sadar, ia tidak sedang berkhayal. Sosok di depannya memang adalah Galang. Bahkan ada seorang wanita yang sepertinya pernah ia lihat. Wanita yang ia lihat sedang makan siang dengan Galang.
__ADS_1
"Oh, begitu? Kamu sehat?" tanya Galang lagi.
"Ya. Pak Galang mau makan sama ...."
"Ini Firda, pacar saya." Galang menarik lengan Firda lalu Firda dengan cepat mengulurkan tangannya pada Elin.
"Salam kenal, saya Firda. Kamu kolega Mas Galang?" tanya wanita berparas cantik itu.
"Saya Elin, mantan karyawan Pak Galang." Elin menyalami tangan Firda sejenak. Ia tersenyum tipis karena merasa Firda sungguh cocok dengan Galang.
"Kamu sendiri saja?" tanya Galang pada Elin.
"Ya, tadi ketemu sama Pak David dari Swara Media. Saya dapat penawaran terbit buku," jawab Elin
"Buku yang mana? Saya pernah baca?" tanya Galang penasaran.
Elin menggeleng. Ia tidak pernah memperlihatkan naskah itu kepada siapapun kecuali ke penerbit Swara Media. "Itu naskah lama, Pak. Tapi saya masih ragu."
"Oh, kamu bisa kirim email ke saya kalau mau konsultasi. Nggak usah ragu," ujar Galang seolah bisa menebak keraguan Elin.
"Santai aja," ujar Firda sambil tertawa. "Saya tahu gimana Mas Galang kalau udah bahas urusan pekerjaan."
Galang terlihat menarik ujung bibirnya ketika mendengar ucapan Firda. Itu membuat Elin merasa lebih tenang, jika benar Galang sudah melupakannya, itu bagus.
"Kamu banyak ditanyain sama anak-anak di kantor. Mereka kangen kamu," ujar Galang.
"Ya, Mirna chat saya tiap hari kok. Dimas sama Susi juga, mereka nggak rela saya keluar dari grup chat kita," kata Elin dengan nada sedih. Ia menatap jam di tangannya lagi. Sudah hampir Maghrib dan ia masih harus ke klinik Dokter Ridwan. "Ah, saya duluan ya, Pak."
"Kamu pulang sama siapa? Dijemput?" tanya Galang.
"Sendiri, Pak. Saya masih harus mampir kok." Elin melambaikan tangannya pelan pada Galang dan Firda sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Galang membuang napas berat ketika Elin tak terlihat lagi di pandangannya. Ia mengedikkan dagu pada Firda agar Firda segera menaiki anak tangga bersamanya.
"Jadi itu ceweknya?" tanya Firda sambil menahan tawanya.
"Iya. Cantik kan?" Galang menoleh pada Firda yang hanya mengangguk. "Makasih ya, kamu udah mau pura-pura jadi pacar aku selama beberapa menit."
Firda tertawa keras. "Untung aja aku bisa akting. Semoga aja nggak begitu kaku. Tapi, kenapa kamu harus pura-pura punya pacar? Kamu beneran udah nggak mau kejar cinta Elin?"
Galang menggeleng. Ia tidak menceritakan bahwa Elin sedang hamil dan telah menikah karena Elin berkata ia harus merahasiakan semuanya. "Elin sudah bersama yang lain, Firda. Aku nggak bisa ... dia sama sekali nggak punya perasaan sama aku. Percuma aku ngejar-ngejar dia."
"Ehm, sayang banget padahal kamu baik. Aku aja naksir sama kamu dari dulu," ujar Firda tak tanggung-tanggung.
Galang hanya membuang napas. "Dan kamu masih mau mengejar aku?" Firda mengangguk. "Tapi kamu tahu aku masih suka sama Elin. Kamu ... kamu serius?"
"Iya dong. Kamu kan suka doang sama Elin. Dia juga bukan mantan pacar kamu, jadi aku yakin aku bisa membuat kamu melupakan Elin," kata Firda dengan nada penuh kepercayaan diri.
"Gimana kalau nggak bisa?" tanya Galang.
"Itu mah tergantung kamu, Mas. Kamu kamu niat mau lupain ya pasti bisa. Kalau nggak niat, mau berapa lama aku godain kamu pun juga nggak ada gunanya."
Galang mengangguk. Firda benar. Sayangnya, melupakan Elin tidak semudah itu. Ia sudah mencoba sering bertemu dengan Firda, bahkan ibunya mendukung 100% agar ia bisa bersama dengan Firda saja. Namun, hatinya berkata lain. Ia masih memikirkan Elin. Ia juga penasaran dengan kehidupan yang dimiliki oleh Elin saat ini.
"Kamu cinta banget sama Elin?" tanya Firda ketika ia melihat resah yang dipamerkan oleh Galang. Di depannya Galang sedang menatap layar ponselnya seolah ia sedang menunggu sesuatu.
"Aku tuh ... banyak hal yang bikin aku penasaran sama Elin. Tapi aku nggak pernah tahu meskipun aku bertanya," ujar Galang.
"Jadi, kamu masih berharap bisa bersama dengan Elin?"
"Aku nggak tahu, Fir. Aku punya firasat yang buruk tentang Elin. Semoga aja firasat aku nggak bener. Aku cuma ... aku khawatir sekarang Elin sudah memilih jalan yang nggak benar untuknya. Karir Elin bisa bersinar seandainya Elin tidak keluar," kata Galang.
Firda tersenyum getir. Ia menepuk punggung tangan Galang yang berada di atas ponselnya. Ia sendiri sudah la menyukai Galang meskipun cintanya tidak pernah berbalas. Jadi, ia bisa memahami perasaan yang ada di hati Galang.
__ADS_1
"Kalau kamu emang masih mau kejar Elin, maka kejar, Mas. Jika kamu masih khawatir sama Elin, itu artinya hati kamu nggak ingin pisah. Mungkin aja kamu berharap firasat itu nggak bener, tapi gimana jika terwujud? Kamu ingin bisa lindungi Elin?"
Galang mengangguk pelan. "Jika aku bisa, Fir, aku ingin selalu jaga Elin."