
"Pak Galang?" Elin merasa begitu gugup ketika Galang mengeratkan jaket yang menyelimuti dirinya. Kini ia merasa begitu hangat sedangkan Galang hanya mengenakan kemeja putih tipis. "Saya nggak papa kok."
"Kamu yakin? Dari tadi saya perhatiin kamu udah menggigil kok. Mau balik ke motel?" tanya Galang.
Elin menimbang sejenak. "Bentar lagi, Pak. Di sini bagus dan segar, saya emang lupa mau bawa jaket." Elin menatap Galang yang tersenyum tipis. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri. "Sendiri aja, Pak? Saya kira Pak Galang udah balik ke kota. Apa masih ada kerjaan?"
"Iya. Kemarin udah balik sih pas malamnya kita ketemu itu, tapi barusan banget balik lagi karena ada urusan," ujar Galang menjawab pertanyaan Elin.
Elin mengangguk. Ia kembali menatap pantai lalu duduk di pasir. Beberapa kali ia membuang napas panjang. Aksi itu tidak luput dari pengamatan Galang yang akhirnya ikut-ikutan duduk di pasir.
"Saya boleh ikut duduk di sini kan?" tanya Galang.
"Boleh aja," jawab Elin.
"Suami kamu nggak bakal marah kalau tahu saya di sini bersama kamu?"
Elin menelan saliva. Yah, ia lupa harus berpura-pura sedang berlibur dengan suaminya. "Ehm, nggak, Pak. Tenang aja. Suami saya nggak gampang cemburu."
"Kenapa kamu di sini sendirian, Elin?" tanya Galang dengan nada curiga. "Kamu berbohong bahwa kamu sedang bersama suami kamu? Atau kamu ... sebenarnya ada apa? Rasanya janggal melihat kamu sendiri di bibir pantai malam-malam begini. Ini tempat yang sepi lho. Suami macam apa yang akan membiarkan istrinya jalan-jalan sendirian?"
Elin ternganga mendengar pertanyaan Galang yang memang masuk akal. Ia bahkan sampai kehabisan kata-kata ia untuk berbohong lagi. Mungkin, ia memang tak memiliki bakat berdusta.
"Kamu bisa jujur sama saya, El. Apa yang terjadi sama kamu?" tanya Galang. Ia terdiam karena Elin tak lekas memberikan jawaban. Dengan membuang napas panjang, ia menatap ke lautan luas. "Kamu benar-benar sedang hamil dan sudah menikah?" tanya Galang lagi.
"Ya, saya sedang hamil, Pak. Sudah 17 minggu." Elin menyodorkan foto hasil USG miliknya pada Galang. Pria itu menoleh lalu mengambil foto tersebut. "Bayinya perempuan. Pas seperti yang diharapkan oleh suami saya."
Kedua mata Galang kini terpaku pada wajah Elin. "Ehm, jadi kamu benar-benar hamil dan sudah menikah?" Elin mengangguk pelan. "Lalu, di mana suami kamu sekarang?"
"Di motel," jawab Elin asal. "Pak Galang kenapa nggak sama Mbak Firda?"
Galang tersenyum getir ketika Elin mengalihkan obrolan. "Saya nggak bawa pacar saya ketika saya bekerja."
__ADS_1
"Ehm, begitu," gumam Elin. Ia menerima kembali foto hasil USG miliknya. "Kayaknya udah malem banget, Pak. Saya harus kembali ke motel."
Elin melepaskan jaket Galang lalu mengembalikannya pada Galang. "Udah nggak dingin, Pak. Saya nggak papa kok."
"Ehm, oke. Ngomong-ngomong, kamu nggak jadi konsultasi mengenai naskah kamu yang dulu itu?" tanya Galang.
"Ah, yang itu?" Elin tampak berpikir. Itu pasti naskahnya yang tak jadi ia terbitkan di Swara Media. "Yang itu mau saya simpan dulu, Pak. Saya sedang menulis yang lain."
"Oke. Semoga sukses!"
Elin tersenyum. Ia tak menoleh lagi pada Galang lalu berjalan menjauh. Ia sudah berada cukup jauh dari pantai ketika sadar, ada seseorang yang membarengi langkahnya. Ia mengira Galang yang menyusul, tetapi ketika ia menoleh ia justru mendapati sosok Ariel.
"Kamu di sini bersama Galang rupanya," tuduh Ariel. "Kamu nggak tahu aku nyariin kamu kemana-mana! Berhari-hari kamu pergi tanpa ada kabar!"
Elin mengepalkan tangannya. Ia baru bertemu Galang 2 kali dan Ariel bersikap seperti itu padanya. Sungguh tidak adil, pikir Elin. Tadinya, ia merasa kaget dan terkesima karena Ariel muncul di sana, tetapi kini ia justru merasa kesal.
"Kenapa Kakak ke sini?" tanya Elin seraya bersedekap di depan Ariel. "Bukannya Kakak nggak peduli sama aku? Kenapa harus nyusul ke sini?"
Elin tertawa jengkel. "Kalian panik karena aku bawa pergi bayi ini kan?"
Ariel menoleh ke kanan kiri karena tak ingin ada seseorang yang mendengar. Beruntung tempat itu sangat sepi. "Kamu jangan salah paham. Aku nggak hanya mengkhawatirkan bayi dalam kandungan kamu. Aku juga khawatir kamu kenapa-kenapa. Aku udah keliling kesana-kemari untuk nyari kamu, nggak tahunya kamu berduaan sama Galang malam-malam begini."
"Emangnya kenapa kalau aku berduaan sama Pak Galang? Itu bukan urusan Kakak. Kakak nggak pernah peduli sama perasaan aku, jadi nggak usah sok bersikap peduli!"
Elin membalik badan lantas berjalan lebih cepat menuju motelnya. Tentu saja, Ariel mengekor. Elin menoleh jengkel.
"Kamu mau ke mana? Kamu tinggal di mana selama ini? Aku harus tahu," ujar Ariel seraya meraih lengan Elin. Dengan kuat ia mencengkeramnya.
"Bukan urusan Kakak! Lepasin!" hardik Elin. Ia benar-benar tidak ingin disentuh oleh Ariel. Tidak, setelah ia melihat Ariel sedang melampiaskan hasratnya dengan Sinta.
"Aku minta maaf, aku beneran minta maaf. Kasih aku waktu dan kesempatan untuk bicara sama kamu," kata Ariel dengan nada memohon.
__ADS_1
Di depannya Elin mulai menangis dan menggeleng. Ariel langsung tahu, betapa terlukanya hati Elin saat ini. "Maaf," ujar Ariel lagi. Ia mengulurkan tangannya ke wajah Elin dan mengusap wajahnya. "Aku udah menyakiti hati kamu, benar?"
Elin mendorong dada Ariel keras-keras meskipun pria itu bergeming di depannya. Ia menangis lebih keras dan Ariel sontak menarik tubuh Elin ke pelukannya.
"Aku nggak mau pulang," isak Elin di pelukan Ariel. Ia begitu kesal dengan Ariel, tetapi ia juga merindukan Ariel. Dan ini, ia tengah mendekap erat tubuh Ariel yang sangat hangat. "Kalau Kakak ke sini cuma mau nyuruh aku pulang, aku nggak mau!"
Ariel mengeratkan pelukannya di tubuh Elin. Ia mengusap punggung Elin dengan lembut karena gadis menangis begitu keras. Ia membiarkan Elin menangis selama beberapa saat agar merasa lebih lega. Setelahnya, ia pun mengurai pelukan.
"Di mana kamu tinggal?" tanya Ariel.
"Motel," jawab Elin seraya menunjuk gedung motel Mawar Putih.
"Selama beberapa hari?" Elin mengangguk. "Ayo ke sana. Kamu udah kedinginan."
"Aku nggak mau pulang!" pekik Elin. "Kakak ke sini cuma karena pengen aku pulang kan?"
"Ya. Aku pengen kamu pulang," jawab Ariel. Wajah Elin terlihat semakin memerah di depan Ariel, entah karena marah atau ingin menangis lagi. "Tapi nggak sekarang, El. Aku ... aku ke sini bukan hanya untuk jemput kamu pulang. Tapi, aku juga pengen bikin kamu ngerasa jauh lebih baik dan bisa maafin aku."
"Gimana caranya?"
Ariel mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin, kamu bisa meluapkan amarah kamu sama aku atau aku bisa minta maaf berkali-kali. Seperti dulu ketika kamu ngambek sama aku."
Elin memalingkan wajahnya. Ia tak hanya sedang ngambek karena hal sepele seperti ketika ia masih remaja. Tentu saja, kali ini adalah hal yang berbeda.
"Aku janji nggak bakal maksa kamu buat pulang," ujar Ariel. "Tapi sekarang kita harus balik ke kamar kamu. Kamu udah kedinginan."
Ariel memperhatikan Elin yang gemetar dan ia merasa begitu bodoh telah meninggalkan jasnya di mobilnya yang berada entah di mana. Sejak tiba di pulau ini, Ariel mendatangi klinik dokter kandungan yang diketahui oleh Soni. Ia mencari di sekitar sana kemudian ketika malam tiba, ia baru menyusuri daerah pantai hingga akhirnya ia melihat Elin sedang bersama dengan Galang.
Entah kenapa, hatinya terasa nyeri ketika melihat Galang menyelimuti tubuh Elin dengan jaket lalu mereka bicara berdua di atas pasir. Ia tak tahu, apakah itu hanya rasa kesal semata atau karena ia cemburu.
"Ayo, aku nggak mau kamu masuk angin, El."
__ADS_1