Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
59. Bicara dengan Sinta


__ADS_3

Ariel mengangguk pelan. Ia tak ingin Elin bersedih atau menangis lagi. 5 bulan bukan waktu yang lama dan ia juga merasa nyaman berdekatan dengan Elin seperti ini. Mungkin, perasaannya benar sudah berubah untuk Elin meskipun ia masih tidak membenarkannya. Bagi Ariel, mencintai Elin adalah hal terlarang. Baik sebagai seorang kakak angkat ataupun sebagai suami dari Sinta.


Namun di dekapan Ariel, Elin tersenyum sayu padanya. Elin sudah sangat terluka karena dirinya dan mungkin membuatnya bahagia selama beberapa bulan tidak akan menjadi masalah. Mungkin! Ariel berharap itu demikian alih-alih sebaliknya. Ia tak akan tega jika Elin harus lebih tersakiti lagi karena dirinya.


"Ayo tidur. Ini sudah malem banget," ujar Ariel.


Elin mengangguk. Ia memang sangat mengantuk sekaligus lelah. Ia bahkan tidak sanggup mengenakan pakaian lagi, jadi hanya dengan bertutup selimut, ia tidur di dekapan Ariel malam itu.


***


Ariel terbangun keesokan harinya ketika sayup-sayup ia mendengar suara adzan Subuh. Dengan hati-hati, ia melepaskan dirinya dari pelukan Elin. Ia akan membiarkan Elin tidur sedikit lebih lama, pikirnya. Ariel segera berpakaian lalu mengambil ponselnya. Ia sudah mengatur mode hening sejak ia melakukan perjalanan untuk mencari Elin.


"Bodoh!" desisnya. Ia mendapatkan banyak sekali pesan dan juga banyak panggilan tak terjawab dari Sinta. Sinta pasti ingin tahu ia ada di mana dan sedang apa, bersama siapa. Namun, karena ia sudah kalut mencari Elin, lalu menemukannya dan berakhir dengan bermalam di motel, Ariel sama sekali lupa untuk menghubungi Sinta.


Di seberang, Sinta hampir tak bisa tidur semalaman. Ia juga baru bangun tidur setelah memejamkan mata beberapa saat. Kedua matanya bengkak karena menangis. Sinta sudah mencoba menelepon Ariel, mengirim pesan, tetapi Ariel tidak menjawab bahkan tidak membalas. Apakah Ariel sudah bertemu dengan Elin? Apakah Ariel tidak pulang karena bermalam dengan Elin?


Pikiran-pikiran buruk Sinta terus terlintas hingga ia membuka mata. Ia hampir menangis lagi ketika membaca nama Ariel di layar ponselnya. Akhirnya! Ariel menelepon!


"Halo, Mas! Kamu di mana?" tanyanya dengan suara serak.


"Aku udah ketemu sama Elin." Terdengar suara lirih Ariel. "Dia nggak papa, bayinya juga. Tapi aku belum bisa pulang. Aku harus bujuk Elin dulu."


"Kenapa?" teriak Sinta. "Kamu ngapain aja sama Elin semalam, Mas? Kenapa kamu nggak mau pulang?"


"Aku bakal pulang dan aku bakal bawa Elin pulang. Kamu tenang aja dan tunggu aku di rumah, Sin," ujar Ariel dengan nada tenang.

__ADS_1


"Aku tungguin kamu semalaman, Mas. Tapi kamu nggak pulang!" hardik Sinta. "Kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu ngapain aja sama Elin semalam?"


Terdengar desah napas Ariel di seberang. Sinta semakin resah. Ia takut Ariel akan jujur padanya, tetapi ia juga takut jika Ariel berbohong.


"Aku di pulau Nareswari. Agak jauh makanya nggak bisa langsung pulang. Elin belum mau pulang dan aku nggak mau maksa dia buat pulang. Sementara aku di sini, semoga hari ini aku bisa bujuk dia pulang," ujar Ariel lagi.


"Kamu tidur sama Elin?" tanya Sinta yang merasa pertanyaannya tidak terjawab dan Ariel justru membicarakan hal lain.


"Sin ... aku mohon kamu mengerti. Elin ... Elin juga istri aku. Dia sedang hamil dan dia butuh aku. Plis, aku tahu ini nggak sesuai dengan perjanjian, tapi ini cuma 5 bulan lagi," kata Ariel lirih.


"Kamu tega, Mas!" pekik Sinta. "Kamu kan udah janji nggak bakal ngapa-ngapain Elin. Kenapa kamu malah begini sekarang?"


"Aku minta maaf," ujar Ariel cepat. "Aku bakal berusaha adil buat kamu dan Elin. Aku janji. Aku minta maaf, tapi ini yang terbaik kalau kamu masih mau melanjutkan rencana kita. Jangan lupa, kita butuh bayi itu."


Sinta mulai terisak. Ia tidak bisa menerima keputusan Ariel meskipun ia tahu itu benar. Jika ia bersikap cemburu dan membenci Elin, ia takut Elin akan pergi lagi lalu semuanya akan berantakan.


"Nggak, Sayang. Kamu tenang aja. Aku cuma cinta sama kamu," kata Ariel. Ia menatap wajah lelap Elin yang masih berselimut di atas ranjang. "Aku cuma pengen bikin Elin bahagia selama masa ia mengandung, jadi bayi kita juga bakal baik-baik aja."


Sinta terdiam beberapa saat. Ia semakin membenci Elin karena berhasil mencuri perhatian Ariel. Sebentar lagi mungkin, Elin juga akan mencuri kasih sayang Ariel. 5 bulan, pikirnya. Hanya 5 bulan setelah itu ia akan menyingkirkan Elin.


"Oke. Aku percaya sama kamu, Mas," kata Sinta dengan berat hati. "Tapi kamu bisa pastiin Elin bakal kasih bayinya ke kita kan? Aku nggak mau ada perubahan rencana lagi?"


"Tentu, Sayang. Kamu tenang aja. Bayi itu milik kita sejak awal," ujar Ariel.


Sinta mengangguk. "Jadi kapan kamu pulang? Elin ... dia juga mau balik ke rumah ini?" Seperti Elin, ia tidak akan rela jika melihat Ariel meniduri wanita lain di rumahnya.

__ADS_1


"Kita liat aja nanti. Kalau tinggal di luar, aku takut ada orang yang bertanya-tanya tentang kehamilan Elin. Sebentar lagi perut Elin pasti bakal membesar," kata Ariel dengan nada cemas.


Sinta setuju. Hal itu harus diperhitungkan jadi memang lebih baik menjaga Elin di rumahnya sendiri. Ia juga harus memastikan Elin tidak main kabur lagi hingga membuat Ariel kelabakan.


"Ya udah, kamu bujuk Elin supaya mau pulang," kata Sinta. "Dan satu lagi, Mas. Aku tetap mau jadi yang nomor 1 di hati kamu. Aku nggak mau Elin menggeser posisi itu."


"Iya, Sayang. Aku tutup dulu ya. Aku belum sholat subuh. Kamu juga buruan sholat," kata Ariel mengingatkan.


Ariel mematikan panggilan teleponnya setelah ia mengucapkan salam pada Sinta. Ia segera mandi lalu sholat subuh. Setelahnya, Ariel pun duduk di tepi ranjang Elin. Ia menatap setiap inchi wajah Elin yang begitu cantik. Seandainya Elin bukan adiknya, mungkin ia akan berani mencintainya sedari dulu.


Dengan lembut Ariel mengguncang tubuh elin. "El, bangun. Udah mau siang ini."


Elin menggeliat pelan. Ia masih sangat mengantuk karena hanya tidur beberapa jam. Dengan mata memicing, ia menatap Ariel. Rasanya masih seperti mimpi ia bisa tidur bersama Ariel tadi malam.


"Bangun dulu. Kamu harus mandi terus sholat," ujar Ariel mengingatkan.


Elin mengangguk setuju, ia menggeliat lebih kuat sekarang lalu terduduk. Dengan gugup, ia menarik selimut karena tubuh polosnya langsung terekspos ketika selimut itu merosot. Ariel tersenyum tipis di depannya.


"Aku ... aku mau mandi dulu," kata Elin.


"Ya. Mandi aja. Aku keluar cari sarapan ya. Atau nanti aja bareng? Sekalian kita jalan-jalan?" tanya Ariel.


"Nanti aja. Aku mau minum susu aja abis sholat. Kakak beli kan?"


"Iya, semalam aku beliin susu kotak rasa pisang kesukaan kamu," jawab Ariel. Elin tersenyum semakin lebar. "Ya udah, sana mandi dulu. Nanti kita jalan-jalan berdua. Kayak dulu. Kita main di pantai. Oke?"

__ADS_1


Elin mengangguk. Ia sadar, ia hanya punya waktu 5 bulan untuk bersama dengan Ariel. Namun sekarang, setidaknya ia bisa mengungkapkan rasa sayangnya pada Ariel. Itu cukup melegakan. Apalagi Ariel juga mau menemaninya. Ariel bahkan tidur dengannya. Itu terkesan bodoh karena pada akhirnya ia yang harus pergi. Namun, Elin tak ingin peduli saat ini. Ia hanya ingin menikmati waktu bersama Ariel.


__ADS_2