
Usai mandi dan sholat Elin pun berdandan tipis. Ia akan jalan-jalan dengan Ariel, jadi kantuknya yang semula mendominasi matanya langsung lenyap. Ia memoleskan lipstik tipis ke bibirnya lalu berdiri mengambil tas kecil.
"Udah?" tanya Ariel.
"Udah. Yuk!"
Ariel mengulurkan tangannya yang disambut oleh Elin. Dengan digandeng Ariel, Elin pun meninggalkan kamarnya, kamar mereka. Senyum Elin tak luntur sepagi itu, hingga mereka tiba di sebuah kedai untuk sarapan. Elin memesan pancake dan jus mangga sementara Ariel memesan croissant dan kopi hitam.
"Tinggal semalam lagi di sini," ujar Ariel. Ia menatap Elin yang begitu menggemaskan ketika makan. Pancakes di piringnya telah ludes dan jus mangganya masih tersisa setengah gelas.
"Ehm." Elin mengangguk. Ia tahu arah pembicaraan Ariel. Pasti Ariel ingin membawanya pulang. "Boleh aku ngontrak rumah aja? Kakak bisa datang kapan-kapan kalau mau. Aku nggak bakal kabur."
"Sebaiknya kita tinggal 1 atap," ujar Ariel. Ia menyesap kopinya sedikit. "Aku khawatir jika kamu tinggal di luar sendiri."
Elin mengaduk jusnya dengan sedotan. "Mbak Sinta pasti nggak terima kalau aku suka sama Kakak. Dia udah mewanti-wanti aku buat nggak pakai perasaan ketika kita menikah. Aku nggak mau jadi pengkhianat, tapi aku juga nggak bisa membohongi perasaan aku sendiri."
"Aku udah bilang sama Sinta. Dia pengen kamu pulang," kata Ariel.
Elin menggigit lidahnya. Ia maklum, Sinta pasti takut ia akan membawa pergi bayinya. Ia tak hanya menjadi pengkhianat, ia juga sudah berbohong. Dan kini, ia juga mendambakan Ariel. Dalam hati, Elin berharap 5 bulan ke depan hati Ariel akan memilihnya. Mungkin saja. Dosakah ia? Salahkah ia jika ia ingin merebut Ariel seperti ini?
Elin menggeleng pelan untuk menepis hasrat gila di benaknya. Ariel bahkan tidak mencintainya. Ia tak akan bisa merebut Ariel dari Sinta. Ia tak boleh seperti itu.
"Kamu mikir apa?" tanya Ariel.
"Nggak kok," jawab Elin. Ia menyesap jusnya lalu mencuil kue berbentuk bulan sabit di piring Ariel. "Enak juga. Bisa kita ngobrolin masalah ini nanti aja? Bukannya kita mau jalan-jalan?"
"Oke. Terserah kamu," jawab Ariel seraya tersenyum.
Mereka menghabiskan sarapan mereka lalu mulai berjalan-jalan di sekitar kedai. Pagi itu karena sudah akhir pekan, terlihat ada beberapa wisatawan yang datang ke pulau Nareswari. Di taman bahkan cukup ramai, begitu juga dengan pantainya.
__ADS_1
Elin merentangkan tangannya ke kanan kiri, ia tersenyum lebar ketika bayangan ia dan dirinya berlarian di pantai ini kembali terngiang. Ia menoleh pada Ariel.
"Aku pengen lari-larian di sini," ujarnya.
"Jangan, kamu kan baru hamil. Nanti kamu capek," kata Ariel memperingatkan. Ia mengusap wajah Elin agar ia tak cemberut. Ia tahu Elin adalah gadis yang sangat aktif dan tak tahan untuk berdiam diri. "Kita jalan-jalan aja di air yuk. Lepas sepatunya."
"Oke!" Elin tak ingin kehilangan momen bersama dengan Ariel. Ia segera melepaskan sepatu ketnya lalu mendekati air. Ia tertawa ketika air dingin menerpa kakinya yang terbuka.
"Aku lupa aku pernah janji sama kamu buat datang ke pantai ini berdua aja," kata Ariel.
Elin tertawa lagi. "Aku seneng Kakak akhirnya inget sama janji Kakak."
"Butuh 9 tahun untuk mewujudkannya. Ini juga bukan di hari ulang tahun kamu," ujar Ariel.
Elin tertawa kecil. Ia memeluk lengan Ariel lalu mendaratkan kepalanya di sana. Beruntung matahari pagi itu belum begitu terik. Jadi, ia tidak cukup kepanasan di bawah langit terbuka.
Elin tersenyum lebar begitu Ariel melepaskan ciuman. Ia masih tidak yakin dengan perasaan Ariel untuknya, tetapi ia cukup bahagia seperti ini selama ia bisa mendapatkan perhatian dari Ariel, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Lagipula, ia sudah terbiasa menahan rasa sakitnya selama ini.
"Ayo ke sana, kita jajan es krim." Ariel menunjuk sebuah kedai es krim yang tak jauh dari pantai. Meskipun ini masih pagi, Elin mengangguk setuju.
Elin duduk di kursi yang disediakan oleh kedai sembari menunggu Ariel yang sedang memesan es krim. Ia baru saja membuka ponselnya yang beberapa hari ia matikan. Tentu saja ada banyak sekali pesan yang masuk. Dari ibunya, ayahnya, Gladis dan beberapa temannya juga Ariel sendiri.
"Kita ketemu lagi!"
Elin menengadah ketika melihat presensi Galang. Kali ini Galang terlihat bersama dengan 2 orang pria. Elin terkesiap lalu berdiri.
"Ehm, halo, Pak." Elin menatap teman Galang bergantian. Mereka saling melempar senyum.
"Ini Elin, dulu dia bekerja sebagai penulis naskah di kantor saya," ujar Galang memperkenalkan Elin pada 2 temannya.
__ADS_1
"Salam kenal." Elin mengangguk dan menyalami mereka berdua.
"Kami baru saja sarapan sekalian meeting. Saya akan mengambil beberapa adegan di pulau ini dan beliau berdua yang akan menjadi penanggung jawabnya," kata Galang memperkenalkan lagi.
"Oh, ya. Semoga lancar, Pak," ujar Elin.
Galang mengangguk. Ia hampir berpamitan pada Elin ketika melihat Ariel muncul dari balik pintu kaca dengan membawa baki berisi 2 mangkuk es krim. Mereka bertatapan. Galang agak kaget karena Elin berkata ia di sini bersama suaminya sedangkan Ariel jelas adalah kakak Elin. Sementara Ariel yang sudah merasa kesal karena semalam melihat Elin bersama Galang hanya tersenyum kecut, ia tidak sadar bahwa Galang sedang menatapnya curiga.
"Ini es krim kamu, El," kata Ariel seraya meletakkan mangkuk es krim di depan Elin.
"Ya, makasih." Elin menatap Galang panik, ia tak ingin ketahuan memiliki hubungan lebih dengan Ariel. Apalagi Galang tahu dirinya tengah hamil.
"Apa kabar kamu, Galang?" tanya Ariel.
"Alhamdulillah baik, Mas. Kalian liburan bersama?" tanya Galang.
"Ya," jawab Ariel.
"Nggak," jawab Elin bersamaan dengan Ariel. Ia menelan keras karena jawabannya tidak serempak dengan Ariel. Tentu saja, itu akan mengundang tanya di hati Galang, pikir Elin. Apalagi sekarang Galang sedang menatap ke arahnya. "Ah, sebenarnya Kak Ariel datang ke sini sama istrinya. Kami liburan bareng."
Galang mengangguk pelan. Ia masih merasa ragu dan penasaran dengan ucapan Elin. Namun, ia tak ingin memperpanjang masalah karena ia sedang ada pekerjaan. "Oh, begitu? Ya udah, saya masih ada pekerjaan. Kalian selamat bersenang-senang."
Galang menyalami Ariel lagi bersama kedua temannya lalu mereka pergi. Elin yang begitu gugup memilih untuk makan es krimnya saja. Ia menghindari tatapan Ariel karena tak ingin ditanya ini dan itu.
"Kenapa kamu perlu jelasin semua itu ke Galang? Dia kan tahu kita saudara. Wajar kan kita liburan bareng," kata Ariel santai.
Elin menatap Ariel bingung. Ia membuang napas panjang sebelum berkata, "Pak Galang tahu kalau aku sedang hamil dan udah nikah. Kemarin aku udah bilang sama dia kalau aku ke sini sama suami aku. Kalau dia liat kita berduaan aku takut, dia bakal curiga."
Ariel membelalak. "Kamu ceroboh atau gimana? Kenapa Galang bisa sampai tahu?"
__ADS_1