
Elin tak ingin menyesal ketika keesokan harinya ia terbangun tanpa menemukan Ariel di sisinya. Ia mengerjap pelan lalu menyugar rambut dengan kasar untuk mengumpulkan kesadarannya. Elin menatap punggung Ariel. Jelas sekali pria itu baru selesai mandi dan matahari masih bersembunyi di ufuk timur.
Elin ingin bangun juga, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika sadar Ariel sedang menelepon seseorang dengan posisi menghadap ke jendela. Ariel mungkin sedang melihat ke lautan yang jauh di sana, pikir Elin. Dan sekarang, Ariel sedang menelepon seseorang, mungkin Sinta.
Elin yang masih terkantuk-kantuk pun mencoba menajamkan pendengarannya. Ia sangat penasaran bagaimana reaksi Sinta jika tahu ia sudah menghabiskan 2 malam dengan Ariel, ia bahkan bercinta dengan panas bersama Ariel, suami mereka berdua. Namun, tentu saja ia hanya bisa mendengar suara Ariel lamat-lamat.
"Nanti aku pulang," ujar Ariel.
"Jam berapa?" tanya Sinta di seberang.
"Mungkin sampai di rumah sore. Jadwal kapalnya masih agak siang," jawab Ariel.
"Elin nggak papa? Dia mau pulang?" tanya Sinta lagi.
"Ya. Aku udah berhasil membujuk Elin, dia bakal pulang sama aku. Nggak usah khawatir. Ehm, bayinya juga baik-baik aja," kata Ariel.
Di atas ranjang, Elin mencebik. Ia mulai bertanya-tanya dalam hati apakah Ariel mengajaknya bercinta semalam hanya untuk membujuknya pulang, atau karena Ariel memang menginginkan dirinya?
"Bayinya perempuan, Elin udah cek kandungannya di sini," kata Ariel lagi.
"Serius?" tanya Sinta. "Itu bayi kita kan, Mas? Kita yang akan ngerawat bayi itu berdua kan?"
Elin melihat gestur resah Ariel sekarang. Terlihat pria itu menunduk lalu kembali menatap ke luar jendela. "Ada beberapa perubahan di perjanjian, jadi mungkin ... aku mau Elin tetap di dekat bayi itu setelah lahir."
__ADS_1
"Apa? Maksud kamu apa?" tanya Sinta kaget.
"Aku nggak bisa pisahin bayi itu dari ibu kandungnya, Sayang. Maaf, tapi aku nggak tega," ujar Ariel hati-hati.
Ariel mendengar tawa getir Sinta di seberang. "Entah apa yang udah Elin lakuin buat cuci otak kamu, Mas. Jangan lupa tujuan kita ngelakuin semua ini. Aku udah biarin kamu tidur dengan wanita lain untuk mendapatkan bayi. Tapi kamu mau apa? Mempertahankan ibu bayi itu di sisi kita?"
"Elin bisa jadi tante yang baik untuk bayi kita. Itu mungkin juga berat bagi Elin, tapi dia tetap ibunya. Kamu tahu sendiri bagaimana rasanya kehilangan bayi, jadi seharusnya kamu mengerti apa yang dirasakan Elin jika kita memisahkan bayi itu darinya," kata Ariel.
Sinta terdiam di seberang hingga Ariel tak tahu harus bicara apa lagi. Ia juga merasakan dilema. Di satu sisi, ia tak ingin menyakiti Sinta dengan pernikahan keduanya. Di sisi lain, ia juga tak bisa membuat Elin lebih terluka lagi.
"Sejak awal, Elin bukan ibu dari bayi itu, Mas. Kamu tahu, Elin punya perasaan lebih sama kamu! Apakah gara-gara itu kamu mau mempertahankan Elin? Apa sekarang kamu udah jatuh cinta sama Elin?" tanya Sinta marah.
"Nggak! Kamu salah paham, Sayang. Aku cuma ... aku cuma cinta sama kamu. Tapi, aku juga nggak bisa melukai Elin. Jadi, terima aja. Aku bakal bersikap baik sama kalian berdua, aku janji," kata Ariel.
"Perceraian itu ... aku nggak tahu," ujar Ariel. "Ayo kita pikirkan 5 bulan ke depan saja hingga bayinya lahir. Setelah itu, kita bisa pikirkan lagi."
"Aku nggak mau terus dimadu, Mas!" hardik Sinta.
"Aku ngerti, Sayang. Aku minta maaf," kata Ariel penuh sesal. Entah mana yang lebih ia sesali. Menduakan Sinta atau menyakiti Elin. "Ayo kita bicara lagi di rumah. Ini udah subuh, aku mau sholat. Kamu juga lekas sholat."
"Jaga baik-baik Elin. Jangan sampai dia kabur lagi, Mas. Kamu bawa dia pulang ke rumah kita kan?"
"Tentu, Sayang. Setelah ini, aku mau jaga lebih ketat Elin. Dia nggak boleh keluar rumah lagi," kata Ariel sebelum mematikan ponselnya.
__ADS_1
Elin memejamkan mata ketika melihat Ariel membalik badan ke arahnya. Ia kembali berpura-pura tidur hingga bermenit-menit meskipun jantungnya sama sekali tidak berdetak normal. Ia tak tahu apa yang diucapkan Sinta di seberang, tetapi ia mendengar jelas ucapan Ariel.
Ariel ingin ia tetap ada di dekat bayinya. Itu bagus. Namun, Ariel tak akan membiarkan ia pergi lagi dari rumah. Yah, itu masuk akal. Sebentar lagi perutnya akan membuncit, para tetangga akan curiga jika mereka melihatnya hamil besar dan suatu hari bayi itu tak pernah bersamanya.
Bagaimana dengan Sinta? Jika ia akan mengambil bayinya, tentu saja itu berlaku juga untuknya. Sinta tak akan banyak keluar rumah lagi dan tiba-tiba 5 bulan lagi, ia akan mengumumkan kelahiran bayinya. Elin meremas selimutnya erat, itu agak menakutkan untuk dibayangkan. Ia mungkin akan dikurung di rumah itu.
"El," panggil Ariel. "Elin, bangun."
Elin merasakan lengannya ditepuk beberapa kali oleh Ariel, lantas ia membuka mata dengan malas-malasan karena ia sedang berpura-pura tidur.
"Bangun, kamu belum sholat subuh," ujar Ariel seraya mengusap rambut kusut Elin.
"Ya, aku mau mandi dulu. Kakak mau cari sarapan?" tanya Elin senatural mungkin. Hatinya masih gelisah karena obrolan yang ia dengar tak sengaja.
"Ehm, sekalian cari kopi di bawah," jawab Ariel. "Buruan bangun. Hari ini kita pulang. Kita harus ke pelabuhan agar nggak kehabisan tiket."
Elin mengangguk saja. Ia sudah sepakat pulang dengan Ariel, tetapi ia menjadi tak ingin pulang jika ia hanya akan dikurung nantinya. Ia tak memiliki kebebasan lagi. Haruskah ia kabur lagi?
Elin terduduk di ranjangnya dengan selimut yang menutupi tubuhnya ketika Ariel sudah keluar kamar. Ia punya kesempatan untuk kabur sekarang. Namun, jika ia pergi sekarang tanpa persiapan apapun, ia juga akan tetap ketahuan oleh Ariel. Ia butuh uang tunai lebih banyak dan ia tak memilikinya lagi. Jika ia mengambil uang di ATM suatu hari nanti, sama saja ia akan terlacak.
Elin merasa ia tak memiliki peluang untuk bisa kabur. Hingga akhirnya ketika ia mandi, ia tiba-tiba kepikiran dengan Galang. Mungkin saja pria itu mau membantunya bersembunyi. Galang pasti bisa membantunya, lagipula Galang pernah menyukainya.
"Nggak, aku nggak boleh ngerepotin Pak Galang. Jangan lupa, El, sekarang Pak Galang udah punya pacar dan sebaiknya kamu tidak melibatkan Galang dalam urusan pribadi kamu," ujar Elin yang merasa bahwa ini adalah ide yang bodoh. Ia telah menyakiti hati Galang, betapa tidak tahu malunya ia jika ia berlari padanya hanya untuk meminta perlindungan. "Aku harus bisa menjaga diriku sendiri."
__ADS_1