Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
49. Elin Terjebak


__ADS_3

Ariel mengetuk pintu kamar Elin ketika ia hendak meninggalkan rumah, tetapi tak ada jawaban. Jadi, ia pun segera menuruni anak tangga. Rupanya, di bawah ia melihat Elin sedang duduk di ruang tengah sembari menonton TV. Karena Elin tak lagi bekerja, Elin lebih banyak bersantai sekarang.


"El, kami keluar dulu ya," kata Ariel berpamitan.


Elin menoleh sejenak lalu mengangguk. Ia sudah mendengar bahwa mereka akan pergi menonton film di bioskop malam ini, jadi ia tidak heran melihat mereka berdua pergi. Ia kembali menatap layar TV dan memindah channel.


Ariel masih menatap Elin ketika Sinta menarik tangannya. "Kamu jangan tidur terlalu malam. Kalau ngantuk, istirahat aja di kamar," kata Ariel mengingatkan.


"Ya." Elin menjawab pelan tanpa menoleh lagi. Ia bahkan belum makan malam dan karena mereka berdua pergi, itu artinya ia harus makan sendirian, pikirnya.


"Ya udah, kami pergi dulu, El. Tadi aku udah masak kok kalau kamu mau makan," ujar Sinta. Ia tersenyum pada Ariel untuk meyakinkan bahwa ia tidak perlu mencemaskan Elin lagi.


"Ya, met seneng-seneng," kata Elin.


Elin membuang napas berat ketika mendengar pintu depan ditutup dan tak lama ia juga mendengar deru mobil Ariel menjauh dari rumah. Elin tak lagi berselera menonton TV, bahkan film yang tengah ia tonton rasanya menjadi tak menyenangkan lagi.


"Sepi banget," gumam Elin. Ia memutuskan untuk tetap menyalakan TV sementara ia masuk ke ruang makan. Ia menatap beberapa makanan yang disiapkan oleh Sinta.


Elin sadar, ia cukup lapar. Namun, ia tidak cukup berselera. Jadi ia hanya makan sedikit malam itu. Ia membawa piring berisi nasi, ayam goreng dan sayur orak-arik tersebut ke depan TV lalu makan di sana. Ia tak ingin makan seorang diri di rumah sebesar ini. Apalagi ini malam hari. Entah bagaimana, ia merasa agak takut padahal ia juga sudah sering sendirian di malam hari.


"Apa gara-gara aku baru hamil jadi cemen," gumam Elin lagi. Ia meletakkan piring kosongnya di dapur lalu memutuskan untuk segera kembali ke kamar.


Di kamar, Elin kembali merasa kesepian karena ia tahu ia benar-benar seorang diri di rumah ini. Jadi, Elin memutuskan untuk sholat lalu menelepon Mirna. Ia terus mengucapkan kata-kata berisi banyak kebohongan atas keluarnya ia dari perusahaan Galang. Ia cukup terhibur setelah bicara dengan Mirna.


Elin jatuh tertidur setelah bermenit-menit ia bicara ini dan itu dengan Mirna. Dalam hati, ia berharap Ariel dan Sinta akan segera pulang.

__ADS_1


***


Elin menggeliat pelan, ia meraba perutnya yang keroncongan sejak ia membuka mata beberapa menit yang lalu. Karena ia hanya makan sedikit tadi, sekarang ia benar-benar kelaparan. Ia ingin mengisi perutnya, tetapi ia juga sangat mengantuk.


"Jam berapa sih ini?" Elin meraba-raba kasurnya untuk mengambil ponsel. "Ah, baru jam 1.00 pagi."


Dengan malas Elin pun terduduk. Ia mengusap perutnya. "Bayi, kita makan besok pagi aja ya."


Elin membuang napas panjang. Perutnya kembali berbunyi seolah merespon ucapannya. "Ya udah, kita makan dikit terus tidur lagi."


Elin keluar dari kamar dan melihat ke lantai bawah. Semua lampu masih gelap seperti tadi ketika ia meninggalkan lantai satu. "Kakak sama Mbak Sinta pasti udah pulang."


Elin mengira mereka pasti sudah pulang karena ini sudah lewat tengah malam, jadi ia tak perlu takut. Dengan cepat ia menuruni anak tangga lalu menyalakan lampu dapur saja. Ia membuka kulkas karena ingin makan makanan ringan. Ia mulai makan buah apel dan menenggak satu kotak susu kemasan. Ia juga memotong roti lapis legit buatan Sinta dan mulai mengunyah.


Karena merasa haus usai makan, Elin pun menuangkan air putih ke gelas. Ia mulai minum ketika mendengarkan deru mobil mendekat.


"Apa Kak Ariel baru pulang?" gumamnya. Cepat-cepat Elin menghabiskan air minum. Ia ingin kembali ke kamar karena malas melihat Ariel dan Sinta.


Elin mematikan lampu dapur dan segera meninggalkan dapur. Sayangnya ketika ia tiba di ruang makan, ia mendengar suara pintu depan sudah ditutup. Ia menghentikan langkah ketika tawa lirih Sinta dan Ariel mulai terdengar. Jantungnya mulai berdetak liar, ia benar-benar merasa kesal karena pasangan suami istri itu terdengar begitu bahagia.


"Mas, kamu jangan gini." Terdengar suara lirih Sinta.


"Abisnya kamu milih film yang bikin adem panas sih." Elin meremang mendengar suara Ariel. "Aku udah nggak tahan, Sayang."


"Tadi kamu diajakin ke hotel nggak mau. Ah ... Mas! Kita di ruang tengah ini." Sinta tertawa kecil dan seketika jantung Elin seperti mau meledak.

__ADS_1


Elin begitu terkejut sekaligus penasaran, jadi ia pun mengintip di balik tembok ruang makan yang terhubung ke ruang tengah. Mulutnya ternganga ketika ia melihat Ariel yang tanpa atasan sedang mengungkung tubuh Sinta di atas sofa. Ia melihat Ariel merendahkan wajahnya ke wajah Sinta dan tentu saja Elin bisa menebak adegan selanjutnya. Ciuman.


Elin tak berani mengintip lagi. Ia ingin kembali ke kamarnya segera, tetapi kedua kakinya justru melemas hingga ia terduduk di lantai. Lagipula jika ia berlari ke anak tangga ia hanya akan mengganggu aktivitas panas kedua insan yang sedang terbakar gairah itu. Elin bernapas semakin cepat ketika mendengar des ahan demi des ahan Ariel dan Sinta.


Air mata Elin mengalir tanpa permisi di wajahnya sementara tubuhnya semakin gemetar. Ia menutup telinga rapat-rapat, tetapi ia masih bisa mendengarkan teriakan penuh kenikmatan Sinta. Elin tak tahu berapa lama ia terduduk di balik tembok ruang makan itu. Namun, rasanya seperti bertahun-tahun.


***


"Mas, udah, kita ke kamar aja," ujar Sinta pada Ariel yang baru saja menciumi bibirnya setelah pergumulan panas mendadak mereka.


"Iya, bentar. Aku haus, kamu haus nggak, Sayang?" tanya Ariel.


"Lumayan. Aku ambilin air ya." Sinta berusaha mendorong tubuh Ariel dari atasnya.


"Kamu di sini aja, kamu pasti capek. Aku ambilin buat kamu. Kamu mau yang dingin kan?" tanya Ariel seraya turun dari atas tubuh Sinta. Ia mengenakan celana panjangnya kembali lalu memungut singlet dari lantai.


"Iya, air dingin aja, Mas," jawab Sinta.


Ariel mengangguk. Ia mengenakan singletnya seraya berjalan menuju dapur. Ia berjalan melewati ruang makan tanpa menyadari Elin ada di balik tembok. Ariel menyalakan lampu dapur lalu membuka kulkas. Ia mengambil minuman kaleng dan meneguknya cepat. Tak lupa ia mengambil air mineral dingin untuk Sinta.


Ariel menutup pintu kulkas lalu berjalan kembali. Ia menghentikan langkahnya ketika tiba di sebelah meja makan karena kini, ia baru melihat eksistensi Elin yang meringkuk di atas lantai dan bersandar di tembok. Jantung Ariel seolah hendak meledak sekarang. Apalagi, ia melihat jelas air mata di wajah Elin. Elin terlihat begitu terluka di depannya.


"Elin," panggilnya gugup. Jika Elin ada di sini sejak tadi, itu artinya Elin baru saja memergoki dirinya sedang bercinta dengan Sinta. Elin mungkin mendengar semua racauannya dengan Sinta dan Elin sedang terluka karena hal itu. Rasa bersalah menyerang hati Ariel seketika.


"El, sejak kapan kamu di sini?" tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2