Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
82. Meminta Jarak


__ADS_3

Elin tak ingin berdebat dengan Sinta. Mungkin benar wanita itu sedang perut dan tak ingin diganggu karena masih ingin menuntaskan hajatnya. Namun, Elin juga agak curiga karena suara tadi jelas-jelas suara erangan lirih. Tidak mungkin Sinta .... Elin menggeleng pelan seraya naik ke lantai atas. Entah bagaimana, ia masih merasa penasaran. Ia pun melongok dari balkon kamarnya.


"Mas Miko nggak kelihatan," gumam Elin. Ia membuang napas panjang. Tak hanya sekali ia melihat Miko bersama Sinta, bahkan terkadang mereka tertawa bersama ketika duduk di teras rumah. Entah sejak kapan mereka sedekat itu, pikir Elin.


"Nggak mungkin Mbak Sinta aneh-aneh deh," kata Elin menepis pemikiran buruk. Mungkin Miko duduk di teras, jadi tak terlihat.


Elin pun memutuskan untuk kembali membaca buku. Ia duduk bersandar di headboard ranjang lalu mengambil buku dari atas nakas. Ia tersenyum tipis kala merasakan gerakan halus di perutnya.


"Sayang, kamu laper?" tanya Elin seraya meletakkan bukunya. Ia mengusap pelan perut buncitnya. "Ehm, Mama punya biskuit nih. Kamu mau, 'kan?"


Ketika sedang sendirian, Elin tak sungkan memanggil dirinya Mama untuk sang bayi. Ia tetap ingin bayi itu tahu bahwa ialah ibu darinya. Walaupun nanti, ia tak tahu apakah ia harus terpisah dari bayi itu atau tidak. Yang jelas, ia tidak ingin memikirkan yang buruk-buruk. Ia hanya ingin fokus pada proses persalinan yang tinggal menghitung hari.


Ariel tak akan membawanya ke rumah sakit ketika ia melahirkan. Ariel sudah menyewa dokter dan perawat yang dibayar khusus untuknya nanti. Dan itu membuat Elin merasa lebih was-was. Karena memang, bayi itu akan segera dimiliki oleh pasangan Sinta dan Ariel. Bahkan, persalinannya tak boleh diketahui oleh banyak orang.


Elin membuang napas panjang. Ia masih mengusap perutnya seraya menikmati biskuit. Ketika itu ia mendengar suara dari luar karena ia membuka lebar pintu balkon. Segera, Elin pun mengintip. Ia baru melihat Miko kali ini. Miko terlihat bersama dengan Damar. Ah, barangkali memang ia salah paham dengan Sinta dan Miko, pikirnya.


***


Beberapa saat yang lalu ketika Elin meninggalkan dapur, Sinta dengan panik membalik badan. Ia memegangi erat pinggang Miko dan menatapnya panik. "Miko, kita hampir ketahuan Elin. Kita nggak boleh begini lagi."


"Ehm, bahaya juga kalau kita ngelakuin ini di rumah," kata Miko seraya mengusap pipi Sinta. "Tapi walaupun begitu rasanya agak menantang."


Sinta memukul keras dada Miko karena pria itu masih bisa tersenyum miring. "Aku khawatir. Kalau kita ketahuan, nanti gimana? Aku nggak mau ketahuan, aku masih mau sama kamu."

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus jaga jarak, Sin. Mungkin ... kita bisa melakukannya kalau ketemu di luar," kata Miko.


"Kamu tahu ... aku nggak bisa keluar dari rumah ini," kata Sinta frustasi. Ia merasakan tarikan di pinggangnya hingga merapat ke tubuh Miko lagi. Ia berdebar semakin keras. Entah karena baru saja hampir ketahuan Elin, atau karena ia merasakan bagian tubuh Miko yang masih mengeras di balik celananya.


"Ya nanti, Sayang. Setelah bayinya lahir kamu pasti udah boleh keluar, 'kan?" Miko mendaratkan kecupan di bibir Sinta. Jelas itu membuat Sinta benar-benar dimabuk kepayang. "Masih berapa hari lagi sampai bayinya lahir?"


"Nggak lama, paling setengah bulan," jawab Sinta.


"Oke. Kita jaga jarak aja dulu, yang penting kita nggak ketahuan," kata Miko. "Aku pasti kangen kalau kita nggak bisa sering-sering ketemu. Apalagi ... aku nggak dapat servis dari kamu."


Sinta menegang ketika tangan Miko mendarat di dadanya dan meremas di sana. "Miko, jangan gini lagi. Aku takut Elin turun lagi."


"Iya, Sayang. Kamu benar, tapi ... aku belum puas tadi," kata Miko jujur. Ia masih *******-***** dada Sinta dengan lembut lalu ia mencium bibir Sinta tanpa perlawanan.


"Oke. Aku keluar dulu. Udah aman belum?" Miko memutar gagang pintu dan ia mengintip ke luar. "Elin udah nggak ada, 'kan?"


"Tadi udah naik," jawab Sinta. Ia melebarkan dan pintu lalu keluar lebih dulu. Kini, ia baru bisa mencium aroma gosong dari bolu yang ia buat. Ia membuang napas panjang karena merasa menyesal. Ia benar-benar terlena ketika bersama dengan Miko sampai-sampai lupa waktu.


Itu semua karena baginya Miko sungguh kuat dan bisa menguasai permainan dengan durasi yang lama. Mungkin, itu yang membuat Sinta benar-benar ketagihan.


"Ya udah, aku keluar dulu ya. Kamu ...." Miko mengusap rambut Sinta dengan lembut. "Kamu rapiin ini dong, nanti Elin curiga sama kamu."


"Iya, nanti aku mandi sekalian," kata Sinta.

__ADS_1


Miko mencebik. "Aku belum ngerasain mandi bareng kamu."


"Kamu bisa aja, udah sana keluar. Jangan bikin gerah mulu," gerutu Sinta.


Miko tertawa kecil. "Udah aku bilang, kamu nggak bakal bosen sama aku. Aku bisa bikin kamu puas sekaligus kurang terus kalau udah ngerasain nikmatnya sama aku."


Sinta mencubit lengan Miko dengan gemas. "Iya, aku percaya kok. Kamu hebat. Aku kehabisan kata-kata buat ngungkapin gimana rasanya ketika aku bersama kamu. Makanya ... kita jangan sampai ketahuan. Sekarang kamu keluar aja dulu. Aku mau beres-beres. Lihat tuh, kuenya nyampe gosong gara-gara kamu gangguin aku."


"Ya ampun, aku nggak tahu kalau tadi udah lama aja kita di dalem padahal ... kita sama-sama belum nyampe," kata Miko. Ia menggigit bibirnya lalu berkata. "Aku bakal kangen kamu banget."


"Aku juga," ujar Sinta.


"Ya udah. Aku keluar dulu. Jangan lupa chat aku, Sayang."


"Pasti." Sinta memejamkan mata ketika sekali lagi, Miko mencium bibirnya dengan rakus. Ia mengusap bibirnya ketika ciuman itu berakhir dan Miko tak lagi ada di dapurnya.


Sinta membalik badan. Ia segera mengambil ikat rambutnya agar terlihat sedikit lebih rapi. Segera, ia mengurus kue yang gosong. Padahal, kue itu request Ariel. Jika Ariel tahu kuenya gosong karena ia keasyikan bercinta dengan Miko, bisa-bisa Ariel mengamuk. Ia tahu, Ariel masih sangat mencintainya walaupun Ariel juga mencintai Elin.


Sungguh egois, pikir Sinta dalam hati. Itulah kenapa, ia juga memilih untuk menghabiskan waktu dengan Miko. Bahkan membagi tubuhnya seperti yang Ariel lakukan dengan Elin. Ini mungkin terkesan seperti balas dendam. Namun, ia tak yakin juga. Ia sungguh-sungguh mencintai Ariel, tetapi ia juga menyukai waktunya bersama dengan Miko.


"Aku harus bikin kue lagi untuk Mas Ariel," kata Sinta seraya membuang kue gosongnya di dalam tempat sampah.


Selagi membuat adonan ulang, Sinta berpikir haruskah ia meneruskan semua ini dengan Miko? Sebentar lagi bayi Elin akan lahir dan ia harus bersandiwara di depan semua orang bahwa ia yang baru saja melahirkan. Ia pasti akan disibukkan dengan bayi newborn itu, jadi ... sempatkah ia menjalin hubungan dengan Miko lagi?

__ADS_1


"Udahlah, dipikir nanti," gumam Sinta. "Yang penting, setelah bayi itu lahir, Elin harus disingkirkan dan aku bisa memiliki Mas Ariel dan bayi itu sekaligus."


__ADS_2