Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
66. Para Penjaga


__ADS_3

"Kamu jangan khawatir, aku bakal sewa beberapa orang untuk menjaga rumah ini. Jadi, Elin tak akan memiliki kesempatan untuk kabur lagi," kata Ariel.


"Beneran?" tanya Sinta.


Ariel mengangguk. Ia sudah merencanakan ini sejak kemarin. Galang sudah tahu Elin sedang hamil dan telah menikah, rasanya itu sudah agak tidak aman baginya. Ia tak bisa mengambil risiko jika lebih banyak orang yang tahu akan kehamilan Elin.


"Aku mau pecat Budhe Sarti," kata Ariel.


Sinta melebarkan kedua matanya. "Kamu serius? Tapi Budhe Sarti bisa dipercaya," kata Sinta.


Ariel menggeleng pelan. "Budhe hanya tahu aku menikah siri dengan Elin. Jika Budhe tahu kita mengambil bayi Elin, rasanya itu agak berbahaya. Apalagi Budhe sayang banget sama Elin."


"Tapi, gimana jika justru Budhe buka mulut ke banyak orang di luar?"


"Kamu tenang aja," kata Ariel. "Keluarga Budhe ada di luar kota. Aku yakin Budhe bakal pulang kampung jika kita memberikan banyak uang ganti rugi pemecatan."


Sinta mengangguk setuju. Ia tidak keberatan jika harus memasak dan membersihkan rumah asalkan semuanya berjalan dengan lancar. Ia tak mau rencananya dengan Ariel berantakan karena orang-orang luar.


"Terserah kamu aja, Mas. Yang penting kita nggak kehilangan Elin dan bayinya," ujar Sinta.


Ariel mengusap kepala Sinta. "Aku minta maaf, aku harus menduakan kamu seperti ini. Tapi, ini cara yang terbaik, Sayang. Setelah 5 bulan dan bayi itu lahir, aku yakin semuanya akan baik-baik aja."


"5 bulan? Dan setelah itu, aku harap kamu menceraikan Elin, Mas."


Ariel menelan saliva. Sebenarnya, perceraian itu memang yang terbaik untuknya, dan untuk Elin, mungkin. Karena Elin bisa memulai kehidupan baru di luar sana. Elin mungkin akan bertemu pria lain yang jauh lebih baik dan bertanggung jawab darinya. Namun, entah kenapa ia merasa tak ingin melepaskan Elin. Sungguh egois jika ia mempertahankan Elin dengan alasan Elin harus menyusui bayi mereka? Ia hanya akan memanfaatkan Elin lagi?


"Masalah itu, kita bicarakan lain kali, Sayang. Aku capek banget. Aku mau tiduran bentar," kata Ariel beralasan.

__ADS_1


Sinta mendengus pelan. "Aku mau bayinya disusui dengan susu formula. Aku nggak rela Elin menyusui bayi kita. Dia udah janji mau pergi setelah melahirkan, Mas. Biarin aja dia cari kehidupan sendiri! Adik kamu udah dewasa dan nggak bagus jika dia menumpang di rumah kita terus!"


Ariel yang baru saja berbaring hanya bisa menatap istrinya dengan bingung. Ia mengerti kenapa Sinta begitu marah dan bersikap cemburu padanya dan Elin. "Ke sini," ujarnya seraya menarik tubuh Sinta ke ranjang.


Jadilah pasangan suami-istri itu berpelukan di sana. Ariel masih bisa merasakan napas kembang-kempis Sinta sebagai pertanda bahwa istrinya itu masih sangat marah.


"Kamu bercinta dengan Elin tadi malam?" tanya Sinta dengan suara tertahan.


"Aku ngelakuin itu cuma buat ngebujuk dia biar mau pulang," jawab Ariel.


Sinta menatap Ariel dengan mata memerah. Ia memukul dada Ariel keras-keras karena merasa ia sudah dikhianati oleh suaminya sendiri.


"Elin istri aku juga," kata Ariel setenang mungkin. Ia menahan tubuh Sinta yang memberontak dengan memukuli dadanya. "Dia sedang marah dan butuh ditenangkan, Sayang. Kamu jangan begini."


"Selama Elin pergi, kamu menolak aku, Mas. Dan begitu kamu ketemu Elin, kamu justru bercinta sama dia?" tanya Sinta tak percaya.


"Kamu nggak boleh tidur sama Elin lagi. Aku nggak rela," kata Sinta.


Ariel menggenggam tangan Sinta erat-erat. Ia lalu mengusap wajah Sinta dengan lembut. "Kalau begitu, kita bisa kehilangan Elin dan bayinya. Plis, kamu ikuti apa yang aku lakukan kalau kamu mau rencana kita berjalan lancar."


"Jadi kamu mau meniduri Elin lagi?"


"Aku kan udah bilang, aku bakal bersikap adil sama kalian berdua. Aku bakal lebih banyak bermalam sama kamu, tenang aja," kata Ariel meyakinkan.


Di depannya Sinta mulai menangis. Namun, ia membiarkan Ariel memeluk tubuhnya. Hatinya terasa hancur dengan fakta bahwa semua ini tidak mudah. Sama sekali tidak mudah ia terima.


***

__ADS_1


Sore harinya, sebelum Budhe Sarti pulang, Ariel sengaja menemuinya. Ia sudah bertekad bahwa rencananya tidak boleh gagal. Budhe Sarti sangat dekat dengan Elin dan ia khawatir jika Budhe Sarti tahu ia hendak mengambil bayi Elin, situasi tidak akan baik. Ariel juga memikirkan kemungkinan lain jika Elin berniat kabur lagi, barangkali Budhe Sarti akan membantunya.


"Apa ini, Pak?" tanya Budhe Sarti seraya menatap amplop putih tebal yang disodorkan oleh Ariel. Beberapa bulan yang lalu, Ariel melakukan hal yang sama padanya. Memberinya segepok uang agar ia tutup mulut perihal pernikahan siri Ariel dengan Elin.


"Budhe nggak perlu bekerja lagi mulai besok," ujar Ariel. Kedua mata Budhe Sarti sontak melebar. "Saya udah belikan tiket kereta untuk besok siang."


"Tapi, kenapa, Pak? Apa saya bekerja kurang baik?" tanya Budhe Sarti bingung.


"Nggak, Budhe. Tapi saya tahu, suami Budhe di kampung sedang sakit. Jadi, lebih baik Budhe merawat suami Budhe," ujar Ariel.


"Pak, saya sungguh-sungguh bisa jaga rahasia," kata Budhe Sarti. "Apa Pak Ariel nggak percaya sama saya makanya saya dipecat? Saya beneran nggak bocorin masalah pernikahan kedua Bapak sama siapapun."


"Saya percaya sama Budhe, tenang aja," ujar Ariel seraya meletakkan amplop itu di tangan Budhe Sarti. "Tapi saya juga peduli sama keluarga Budhe."


"Siapa yang bakal bantu-bantu di rumah kalau saya nggak ada, Pak? Kasian Bu Sinta, Neng Elin," ujar Budhe Sarti yang sebenarnya sudah mencium ketegangan di antara Sinta dan Elin. Tentu saja, ia sangat kasihan pada Elin yang berstatus sebagai istri kedua Ariel, tetapi lebih sering diabaikan.


"Nanti ada orang baru, saya nggak bakal bikin istri saya susah, Budhe. Saya berterima kasih banget selama ini Budhe bisa diandalkan," kata Ariel.


"Saya yang berterima kasih sama Bapak," ujar Budhe Sarti canggung. "Saya boleh pamitan sama Neng Elin dulu?"


"Nggak usah, Elin mungkin sedang tidur," tukas Ariel.


Budhe Sarti mengangguk saja. Karena sudah menerima uang dan diminta pergi maka sore itu ia pun segera berlalu. Ia menatap rumah Ariel dari kejauhan dan hanya bisa membatin, apa saja yang dilakukan Ariel, ia berharap itu bukanlah sesuatu yang akan membuat orang lain terluka.


Ariel membuang napas panjang usai melepas kepergian Budhe Sarti. Itu adalah keputusan yang menurutnya terbaik. Ia tak memecat Budhe Sarti begitu saja, tetapi ia juga membayar orang untuk mengawasinya selama ia yakin bahwa Budhe Sarti bukan ancaman.


Berikutnya, Ariel pun segera menelepon Soni, orang kepercayaannya. "Soni, kamu tolong kirimkan Damar, Seto, Miko dan Marcus ke rumah saya. Mulai malam ini, mereka harus berjaga di sekitar rumah saya."

__ADS_1


Ariel menatap ke arah anak tangga ketika mendengar langkah kaki mendekat. Ia tersenyum pada Elin yang berjalan ke dapur, ke arahnya! Ia segera mematikan panggilannya dan menyambut Elin. Kali ini, ia tak akan pernah membiarkan Elin kabur, ia akan memastikan Elin tinggal di rumah dengan aman meskipun itu artinya, ia harus mengurung Elin.


__ADS_2