
"Kamu udah datang, Mas."
Ariel mengalihkan tatapannya pada Sinta yang baru saja terbangun. Ia segera keluar dari aplikasi percakapan lalu meletakkan ponsel Sinta di atas nakas. Wajah pucat Ariel sontak mengundang rasa penasaran Sinta.
"Itu ponsel aku? Ada apa, Mas?" tanya Sinta.
"Nggak papa, Sayang." Ariel membantu Sinta agar bisa duduk lebih tegak dengan mengatur tinggi tempat tidur. "Kamu bisa tidur? Apa masih sakit banget?"
Sinta menggeleng. Karena ia sudah sangat penasaran dengan apa yang membuat Ariel bertampang seperti ini, ia segera mengambil ponselnya. Sama seperti Ariel, ia langsung kaget membaca pesan dari ibunya. Sinta yang sudah merasa sedikit lebih tenang langsung kembali bersedih. Ia menatap Ariel dengan mata basah.
"Kayaknya kita harus kasih tahu mereka sekarang, Mas. Ehm, orang tua kamu juga. Aku nggak mau mereka berharap lagi," kata Sinta. Ia mengetik sesuatu di layar ponselnya. "Aku mau kasih tahu Ibu."
"Kamu yakin? Kita bisa kasih tahu nanti aja, Sin," kata Ariel meyakinkan.
"Sekarang aja, Mas. Mau sekarang atau besok juga sama aja. Bayi aku udah nggak ada dan nggak bakal pernah ada." Sinta menghentikan ketikannya lalu menatap Ariel. "Kamu kasih tahu orang tua kamu, mereka pasti juga nunggu-nunggu kabar kelahiran cucu pertama mereka. Daripada mereka makin kecewa, Mas."
Ariel menimbang sejenak. Ia melihat Sinta sudah mengirim pesannya, tetapi mungkin ibu mertuanya tidak langsung merespon karena Sinta langsung meletakkan kembali ponsel itu di atas nakas.
"Nanti aku kasih tahu mereka pelan-pelan," ujar Ariel. Ia bisa menebak kekecewaan yang akan dirasakan oleh ibunya. Ibu dan ayahnya sedang menemani Gladis yang baru masuk kuliah di Prancis. Mereka berencana untuk pulang ketika Sinta melahirkan nanti. "Tapi aku nggak mau kasih tahu tentang kondisi kamu sekarang, kamu nggak usah kasih tahu ibu kamu juga. Oke?"
Sinta mengangguk pelan. Jika mereka semua tahu, ia tak akan memiliki harga diri lagi. Mereka mungkin akan membencinya atau mungkin mengusirnya dari sisi Ariel. Jadi, ia tak mau itu terjadi.
"Kamu udah jenguk Elin, Mas? Dia nggak papa?" tanya Sinta mencoba mengalihkan obrolan.
Ariel mengangguk. "Ya. Dia baik-baik aja. Dia udah bisa pulang besok. Kamu tenang aja."
"Alhamdulillah. Kamu juga harus kerja, Mas."
"Nanti kalau kamu udah sembuh, aku baru balik kerja. Sekarang biar di-handle asisten aku aja," ujar Ariel meyakinkan.
Sinta tersenyum tipis. Ariel memang suami yang sangat perhatian. Sejak mereka berpacaran, Ariel sudah memberinya banyak sekali perhatian hingga ia yang ragu untuk menerima cinta Ariel akhirnya yakin. Ia sudah sangat takut untuk membina hubungan dengan Ariel karena ia hanyalah anak orang biasa sementara Ariel adalah putra keluarga kaya raya.
"Aku beliin kamu bubur, kamu mau makan?" tanya Ariel seraya membuka barang bawaannya.
__ADS_1
"Nanti aja, Mas. Aku nggak laper."
"Oke. Tapi kamu harus tetap makan. Hm?" Ariel mengusap kening Sinta beberapa kali. Ia tersenyum ketika Sinta mengangguk. Ia ingin melihat Sinta tersenyum lebih lebar atau tertawa lagi, tetapi sepertinya itu akan sulit sekarang. Padahal, Sinta adalah pribadi yang begitu ceria dan menghibur.
Ketika malam tiba, Ariel pun memutuskan untuk menelepon ibunya. Ia duduk di luar ruangan Sinta lalu menekan tombol panggil di kontak Maria, ibunya. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya panggilan itu dijawab.
"Assalamualaikum, Ma."
"Oh, waalaikumsalam. Kamu baru telepon, Ril. Mama chat kamu dari semalam nggak ada bales, Elin juga dari kemarin nggak terkirim. Kalian nggak ada masalah kan?" tanya Maria dengan nada penuh kekhawatiran.
"Ehm, aku pengen ngomong sesuatu sama Mama," kata Ariel ragu-ragu.
"Ada apa? Jangan bikin Mama deg-degan dong," ujar Maria.
Ariel membuang napas panjang dari mulutnya sebelum akhirnya berkata, "Jadi sebenarnya kemarin Elin sama Sinta kecelakaan, Ma."
"Apa? Terus ... gimana kondisi mereka? Elin nggak papa? Kecelakaan seperti apa yang terjadi?" tanya Maria panik.
Ariel mendengar suara langkah kaki dan suara Gladis di seberang, agaknya adik bungsunya juga ikut penasaran dengan apa yang terjadi di sini. "Kecelakaan mobil, Ma. Elin yang nyetir kemarin."
"Mama siapa yang kecelakaan, Ma?" Suara lirih Gladis terdengar.
"Elin nggak papa, tapi Sinta cukup parah, Ma." Ariel menjeda ucapannya karena mendengar sang ibu sedang bicara dengan Gladis. "Sinta mengalami pendarahan dan bayi kami nggak selamat. Tadi malam langsung aku makamkan."
"Ya Allah. Ril, kamu nggak bohong sama Mama kan? Cucu Mama udah nggak ada?"
"Iya, Ma. Aku serius. Sinta masih di rumah sakit ini, dia juga tertekan banget," jawab Ariel.
"Kok bisa? Kenapa sampai kayak gitu ya Allah. Kamu sabar ya, Ril. Sinta butuh dukungan kamu, kamu yang kuat ya." Maria terisak di seberang.
"Iya, Ma. Walaupun aku juga sedih banget aku harus bisa buat Sinta bangkit," ujar Ariel. "Sinta udah berharap banget bisa melahirkan bulan depan. Sekarang semuanya pupus, Ma."
"Mama doakan Sinta lekas pulih. Dokter bilang gimana? Sinta bisa hamil lagi kapan? Pasti butuh waktu ya," kata Maria penuh harap.
__ADS_1
Tangan kiri Ariel mengepal erat. Ia mulai berdebar lebih keras karena ucapan ibunya. Tidak, Sinta tidak akan pernah bisa hamil lagi. Batinnya bergejolak, ia menahan lidahnya untuk berucap.
"Ehm, Sinta harus pulih dulu secara fisik sama mental, Ma. Aku harap Mama sama Papa nggak banyak menuntut Sinta. Aku nggak mau dia stres padahal dia baru saja kehilangan bayinya," kata Ariel.
"Ya, kamu tenang aja," ucap Maria. "Tapi kamu juga jangan terlalu santai, Ril. Kalau Sinta udah pulih, kalian harus coba lagi buat punya anak. Jangan berlarut-larut dalam duka. Mengerti?"
Ariel mendesahkan napas gusar. "Iya, Ma. Aku ngerti kok. Aku juga ... pokoknya Mama nggak usah khawatir. Aku cuma mau Mama dukung Sinta aja."
"Mama belum bisa ngomong sama Elin. Ponselnya nggak bisa dihubungi. Apa Elin ada di situ?" tanya Maria.
Ariel berdiri perlahan, ia tahu ponsel Elin rusak parah jadi tak mungkin Elin bisa menerima panggilan dari ibu mereka. "Ponselnya remuk, Ma. Makanya nggak bisa. Mama mau ngomong sama Elin? Dia baik-baik aja kok."
"Tapi Mama mau ngomong dulu. Dia pasti juga sakit abis kecelakaan nyampe dirawat di rumah sakit pula."
"Ya udah, aku ke bawah. Dia di kelas dua soalnya dirawatnya," kata Ariel menjelaskan.
"Ha? Kamu ini gimana sih? Kenapa nggak kamu urus kamar adik kamu? Kasian dong kalau di kelas dua harus berbagi kamar sama pasien lain. Harusnya kamu minta kelas VIP buat adik kamu."
Ariel menggeleng pelan mendengar omelan ibunya. "Elin nggak papa kok. Dia juga bakal takut kalau di kamar sendirian, Ma. Lebih baik ada temennya. Ini aku lagi jalan ke kamar Elin. Mama tunggu bentar kalau mau ngobrol sama Elin."
Ariel berjalan cepat ketika ia keluar dari lift, ia menuju kamar Elin yang ada di ujung koridor. Namun, ia menghentikan langkahnya ketika melihat Galang muncul dari arah lain. Kedua alis Ariel mengerut karena ia tidak menyangka Galang bahkan datang semalam ini ke rumah sakit. Dan benar saja, Galang langsung masuk ke kamar Elin.
Ariel berjalan pelan ke pintu kamar Elin. Kedua matanya terpaku pada Galang yang baru saja duduk di kursi kecil. Ia membawa beberapa barang untuk Elin termasuk satu kotak kecil yang langsung ia ketahui sebagai ponsel baru. Ariel menggigit bibirnya. Tidak mungkin Galang hanyalah sebatas bos untuk Elin, pasti ada sesuatu di antara mereka.
"Mama besok aja telepon Elin, dia udah tidur," kata Ariel berbohong.
"Ya udah, biarin aja bobo," ujar Maria. "Kamu jangan nunggu istri kamu terus, adik kamu juga diperhatiin. Mama tahu Elin suka sok mandiri, tapi kamu kan kakaknya. Jaga adik kamu baik-baik."
"Ya. Tenang aja, Ma. Elin kan bukan anak kecil lagi." Ariel memencet tombol lift untuk naik ke lantai atas lagi. "Ya udah, Ma. Aku tutup dulu ya."
Setelah mengucapkan salam, Ariel pun masuk ke dalam lift. Ia menyandarkan kepalanya di dinding lift lalu mulai berpikir. Orang tuanya tak akan tahu Sinta tak bisa memiliki bayi lagi. Dan mereka tinggal di luar negeri, jadi jika ia memutuskan untuk mengadopsi bayi, itu tak akan menjadi masalah.
Sayangnya, mereka pasti akan tahu jika bayi itu tidak mirip dengannya atau dengan Sinta. Mereka pasti akan bertanya-tanya kapan Sinta hamil lagi. Dan yang lebih buruk, mereka akan bertanya tentang progres kehamilan Sinta. Tidak mungkin ia membohongi mereka dengan tiba-tiba mengadopsi bayi.
__ADS_1
"Aku harus mikir gimana cara yang terbaik untuk bisa punya bayi lagi," gumam Ariel seraya meninggalkan lift.