
Elin membanting tubuhnya di ranjang begitu ia tiba di rumah. Ia cukup lelah karena banyak sekali hal yang terjadi sejak kemarin. Ia sudah menikah dengan Ariel, ia sudah melewati malam pertama dengan pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya, ia juga harus bertemu dengan ibu Galang lalu yang terburuk, ia sudah menolak Galang.
Elin memiringkan tubuhnya lalu teringat, ia belum mencuci sprei yang terkena bercak darahnya semalam. Ia malu jika ia harus membawanya ke ruang cuci dan Sinta mungkin akan melihatnya. Tidak!
Elin segera melepas blazer yang ia kenakan lalu masuk ke kamar mandi. Ia sudah merendam kain lebar itu sejak pagi tadi. Jadi, ia hanya perlu membilasnya dan mencuci dengan deterjen. Sembari mencuci, Elin kembali terbayang akan malam yang ia lalui bersama Ariel. Ia tidak bisa melupakan bagaimana sensasi berciuman dengan Ariel.
"Nggak usah diinget-inget," ujar Elin geram.
Elin berdiri di atas ember dan mulai menginjak-injak seprei serta baju-baju yang sekalian ia cuci. Ia ingin memikirkan hal lain, tetapi ia benar-benar tidak bisa menepis ingatan akan malam pertamanya. Kedua tangan Elin mengepal, seharusnya ia tidak seperti ini, pikirnya.
Dengan cepat, Elin menjemur cuciannya di balkon kamar. Setelahnya, ia langsung mandi dan berniat berganti pakaian. Namun, ketika ia berdiri di depan cermin, ia menatap bercak-bercak merah di sekitar dadanya. Ariel yang membuat tanda-tanda itu di tubuhnya. Elin merabanya, ini sungguh gila! Ia baru pertama kali melakukannya dan ia benar-benar ingin lagi.
"Aku udah nggak waras!" umpat Elin kesal. Ia pun masuk ke kamar, berpakaian lantas memilih turun ke lantai satu agar ia tidak berpikir yang aneh-aneh lagi. Ia melihat Sinta sedang memasukkan kue-kue kering buatannya ke dalam toples.
"Mau dibantuin, Mbak?" tanya Elin pada Sinta.
Sinta tersenyum tipis. "Boleh. Itu tinggal nempel stiker aja, kamu bisa kan?"
"Bisa dong. Anak kecil aja bisa, Mbak," ujar Elin sambil tertawa kecil.
Elin pun mengobrol perihal pekerjaannya dan pesanan kue Sinta selama beberapa menit. Hingga tiba-tiba mereka berdua mendengar suara langkah kaki. Elin menatap Ariel yang baru saja pulang. Ia berdebar kencang saat melihat senyuman lebar Ariel. Sayangnya, senyuman itu hanya ditujukan untuk Sinta.
Seperti biasa, Sinta menyambut Ariel dengan pelukan dan Ariel akan mencium pipi atau bibir Sinta. "Kamu udah pulang, Mas? Kamu capek?"
"Nggak kok. Liat kamu juga ilang capeknya," ujar Ariel yang merangkul erat-erat bahu Sinta. Ia mengecup puncak kepala Sinta sekali lagi. "Kamu bikin banyak kue?"
__ADS_1
"Cuma delapan toples, tenang aja. Aku nggak kecapekan," kata Sinta meyakinkan suaminya.
Elin menunduk dalam-dalam karena ia tidak ingin melihat dan mendengar adegan itu. Ariel bahkan tidak meliriknya, Ariel bahkan tidak menyapanya. Menyebalkan, pikir Elin.
"Kamu mandi dulu, Mas. Aku udah siapin baju buat kamu," kata Sinta.
"Oke. Kamu udah selesai kan?" tanyanya seraya menatap tumpukan toples yang disusun oleh Elin.
"Ehm, masih dikit itu tinggal beresin sisa-sisanya yang nggak masuk toples," ujar Sinta.
"Nanti aja, yuk."
"Biar aku yang beresin, Mbak," celetuk Elin. "Sekalian aku makan yang ini ya, Mbak."
Elin tersenyum kecut. Ia mengunyah kue-kue kering itu dengan cepat hingga ia merasa tidak ingin makan lagi. Ia menyimpan sisa kue yang tidak dijual Sinta di toples kecil lalu membersihkan dapur.
Malam harinya, usai makan, Elin segera kembali ke kamar. Ia harus merevisi naskah Surya untuk Citra. Jadi, ia segera mengenakan kacamata dan duduk di depan laptopnya. Ia mengetik sesuai dengan arahan Galang, tetapi kemudian ia berhenti mengetik. Ia mulai bingung akan hubungannya dengan Galang.
Elin menggeleng keras. Jika Galang mengabaikannya di kantor mulai besok gosip baru akan merebak. Ia sudah cukup dekat dengan Galang, jadi jika ia tiba-tiba berjauhan dengan Galang pasti akan ada yang membicarakan. Ah, Elin benar-benar dalam masalah sekarang. Itulah sebabnya ia tak ingin terlibat asmara dengan atasannya. Ia juga baru mendapatkan tawaran film untuk naskahnya, bisa-bisa semua orang berpikir ia mendapatkan itu karena ia dekat dengan Galang. Oh, tidak! Ia ingin kemampuannya diakui.
Elin kembali mengetik hingga menit-menit berlalu cepat. Ia sama sekali tidak mengantuk karena begitu bersemangat dalam bekerja. Namun, tiba-tiba perhatiannya terputus ketika Ariel masuk ke kamarnya.
"Kamu bekerja?" tanya Ariel.
"Ya, tapi udah selesai," jawab Elin berbohong. Ia masih harus menulis beberapa adegan lagi. Namun, kehadiran Ariel sudah mencuri seluruh perhatiannya.
__ADS_1
Elin tahu, adegan setelah ia menutup laptopnya. Kali ini, Ariel mematikan lampu utama. Dalam ruangan remang itu, Ariel menarik lengan Elin, ia membuat Elin duduk di pangkuannya, menghadap dirinya. Elin tentu tak lupa, sensasi yang menjalari tubuhnya sejak tadi. Kini, saatnya ia menyalurkan semua hasratnya.
Elin menikmati setiap sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Ariel padanya. Ia tidak menahan diri lagi untuk mengerang keras, karena ia mulai menyukai semua yang dilakukan oleh Ariel. Ia sudah sering melihat Ariel mencium pipi Sinta, ia begitu cemburu, tetapi kini, Ariel tengah mencium bibirnya dengan panas.
Elin merasa tubuhnya terdorong dengan Ariel yang menindihnya. Jemari Elin lenyap di balik rambut gelap Ariel, ia membiarkan Ariel bergerilya di lekukan leher dan tubuh depannya.
"Kamu udah siap banget rupanya," bisik Ariel di telinganya. Ia menggigit kecil daun telinga Elin hingga Elin menggeliat tak keruan.
Elin tak bisa berkutik, ketika Ariel menerobos tubuhnya dengan cepat. Beruntung, kali ini ia sudah sangat siap seperti yang dikatakan oleh Ariel. Ia tak lagi merasakan nyeri, yang ia rasakan hanyalah sentakan-sentakan yang membuai dirinya.
"Kakak!" panggil Elin lirih. Ia mendekap lebih erat tubuh Ariel ketika pria itu mendorong lebih cepat. Ia merasakan kedua tangan Ariel menahan punggungnya kuat-kuat dan tak lama, mereka pun sama-sama berada di puncak.
Elin dan Ariel bertatapan dengan napas terengah. Elin merasakan tangan Ariel mengusap keningnya dengan lembut. Ia ingin mencium bibir Ariel sekali lagi, atau mungkin kecupan, ia ingin Ariel melakukan itu. Namun, Ariel segera melepaskan tautan tubuh mereka. Ariel berbaring sejenak di sebelah Elin seperti malam sebelumnya.
"Aku keluar dulu," ujar Ariel sembari berpakaian.
Elin menatap Ariel dengan kecewa. Lagi dan lagi Ariel meninggalkannya usai mereka berhubungan. Oh, kenapa rasanya sesakit ini menjalani perjanjian ini, pikir Elin dalam hati.
"Kakak ... nggak mau tidur di sini?" tanya Elin tak tahan lagi.
"Apa?" Ariel menatap Elin tak percaya. Di sebelahnya Elin masih telentang tanpa tertutup apapun, jadi ia segera menarik selimut untuknya. "Kamu tidur aja duluan. Kamu pasti capek."
Yah, ia begitu lelah, batin Elin kesal. Ia membuang napas panjang lalu memeluk guling. Ia menatap kepergian Ariel dengan sedih. Apakah malam-malam panasnya akan terus seperti ini? Ia hanya bisa bersama Ariel selama beberapa menit lalu ia akan ditinggal begitu saja. Ah, Elin mendengus keras.
Elin meraba perutnya dan membatin, 'Apakah benih-benih Kak Ariel akan segera tumbuh di dalam sana?'
__ADS_1