
Pagi itu, Sinta menyiapkan sarapan untuk Ariel dan Elin. Ia membuat roti bakar dan kopi. Ia juga menyiapkan beberapa selai buatannya sendiri untuk topping roti bakar. Ia tersenyum tipis pada Elin. Ia sudah tahu bahwa Elin yang akan mengandung benih dari suaminya. Bulan depan, pernikahan siri itu akan dilangsungkan. Namun, ia belum bicara empat mata dengan Elin mengenai hal tersebut.
"Pagi, Mbak!" Elin mencomot satu lembar roti bakar lalu mulai mengoleskan selai. Seperti biasa, ia hendak sarapan cepat-cepat agar ia tak perlu berkumpul dengan Sinta dan Ariel yang selalu memamerkan pagi mesra mereka.
"Pagi, kamu jangan buru-buru dong makannya," kata Sinta mengingatkan.
Elin terkekeh. "Udah laper, Mbak."
Sinta duduk di sebelah Elin lalu ia menyodorkan secangkir kopi di depan Elin. "Kamu bakal bantu aku sama Ariel kan?"
Elin hampir tersedak sekarang. Ia terbatuk dan memukul dadanya keras. Ariel belum memberitahunya bahwa Sinta sudah tahu. "Mbak ... Mbak udah dikasih tahu Kakak ya?"
Sinta mengangguk pelan. "Ya. Aku harap kamu bisa jaga rahasia ini dan juga ... aku beneran berharap sama kamu. Aku juga minta maaf, gara-gara kondisi aku, kamu harus berkorban."
"Udah aku bilang, aku bersalah, Mbak. Aku cuma mau nebus kesalahan aku. Aku harus ganti bayi kalian," kata Elin gugup.
"Oke," ujar Sinta. Ia menoleh pada Ariel yang sedang menuruni anak tangga. "Karena kamu sama Ariel adalah kakak sama adik angkat, aku yakin kalian nggak akan jatuh cinta selama pernikahan kalian besok. Benarkan? Kamu nggak akan ngerebut Ariel dari aku kan?"
Elin menggeleng pelan. Walaupun ia mencintai Ariel, ia selalu ingin Ariel memiliki rumah tangga yang baik-baik saja. Lagipula, Ariel tidak menyukainya. Ariel hanya mencintai Sinta. Elin sadar, perasaannya sudah bertepuk sebelah tangan sejak dulu.
"Kami cuma nikah biar bisa punya bayi," kata Elin lemah. Ia kembali makan ketika ia melihat Ariel mencium pipi Sinta seperti kemarin, seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia penasaran, jika ia menikah dengan Ariel besok, akankah ia mendapat kecupan selamat pagi seperti itu?
***
"Aku di depan kantor kamu. Kita makan siang bareng."
Kedua mata Elin terpaku pada layar ponselnya. Ia baru saja membaca pesan dari Ariel. Ia belum membicarakan rencana pernikahan sirinya dengan Ariel lagi sejak sebulan yang lalu. Namun, ia menjadi grogi sekarang karena Ariel mengajaknya makan siang bersama. Berdua saja? Ataukah bersama Sinta? Mungkin, Ariel akan mulai membahas kontrak pernikahan mereka.
"Saya nggak ikut makan siang bareng," kata Elin pada Galang. Ia mendapatkan tatapan kecewa dari Galang seketika. Yah, tadinya ia hendak makan siang bersama untuk merayakan selesainya syuting film horor yang akan mulai berlanjut ke proses editing. Dan kini, Elin juga sedang menggarap naskah baru.
"Lho kamu mau ke mana, El?" tanya Mirna.
"Aku mau makan sama kakak aku. Dia udah di depan," jawabnya. Ia kembali menatap Galang. "Maaf ya, Pak. Kalian met seneng-seneng!"
"Ya udah, lain kali kamu harus ikut," ujar Galang."
Elin mengangguk pelan. Ia merapikan rambutnya sembari berjalan menuruni anak tangga. Ia menjulurkan kepalanya ketika tiba di lobi hingga ia bisa melihat mobil merah Ariel. Ia tersenyum tipis lalu berlari ke sana. Rupanya, Ariel membawanya ke sebuah restoran yang memiliki ruang privat. Ariel menyewa ruangan itu hanya untuknya dan Elin. Elin pun langsung menebak bahwa ia akan dihadapkan dengan pembicaraan serius.
__ADS_1
"Kamu bisa makan sambil baca baca-baca ini," kata Ariel seraya mengulurkan selembar amplop cokelat besar. Mereka baru saja mulai makan dan Ariel tidak ingin Elin tegang jika mereka membahasnya dengan serius.
"Ini kontrak kita?" tanya Elin.
Ariel mengangguk. "Sinta udah baca dan dia setuju dengan setiap butir pasalnya. Kamu bisa menambahkan jika kamu merasa ada yang kurang. Nanti kita bisa periksa lagi sampai kita sepakat."
Elin meletakkan sendoknya lalu membuka amplop tersebut. Ia merogoh kertas A4 di dalamnya lalu mulai membaca.
...SURAT KONTRAK PERNIKAHAN...
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Ariel Eka Setyawan
Jabatan : CEO Formula Grup
Selanjutnya disebut sebagai Pihak Pertama
Nama : Elinka Gitari
Selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua
Melalui surat perjanjian ini, kedua belah pihak telah menyepakati beberapa ketentuan di bawah ini:
1. Pihak Pertama dan Pihak Kedua akan melangsungkan pernikahan siri pada tanggal xx Juni 20xx dengan jangka waktu maksimal 1 tahun
2. Pernikahan dimaksudkan untuk menghasilkan keturunan semata
3. Pihak Pertama berhak menggauli Pihak Kedua hanya sampai Pihak Kedua dinyatakan hamil
4. Pihak Pertama berhak membatalkan pernikahan atau menjatuhkan talak jika setelah 3 bulan pernikahan berlangsung Pihak Kedua tidak hamil
5. Pihak Pertama dan Pihak Kedua harus merahasiakan semua isi perjanjian
6. Pihak Pertama akan membayar uang tunai 1 miliar pada Pihak Kedua sebagai biaya sewa rahim selama pernikahan berlangsung
7. Bayi yang dilahirkan oleh pihak Kedua adalah bayi milik Pihak Pertama, jadi Pihak Kedua tidak memiliki hak apapun atas bayi tersebut
__ADS_1
8. Pernikahan ini dianggap selesai setelah Pihak Kedua melahirkan
Elin tidak membaca lebih banyak isi surat kontrak tersebut. Ia hanya menyimpulkan bahwa meskipun ia akan mendapatkan uang 1 miliar dan waktu bersama dengan Ariel, itu sama sekali tidak ada artinya. Ia adalah pihak yang banyak dirugikan dalam hal ini. Bahkan, jika ia tidak lantas hamil, ia akan diceraikan begitu saja. Ia juga hanya bisa tidur dengan Ariel hingga ia dinyatakan hamil. Ia juga tidak memiliki hak apapun atas bayi yang akan dikandungnya.
"Kamu bisa menambahkan sesuatu jika kamu punya syarat lain," kata Ariel memecah kesunyian di dalam ruangan.
"Aku belum baca semuanya," kata Elin. Ia memasukkan kembali cetakan kertas itu ke dalam amplop. "Nanti malam aku baca lagi."
"Kamu keberatan dengan butir-butir di awal?" tanya Ariel.
Ya, Elin ingin berkata seperti itu. Namun, ia memilih untuk menggeleng. Lagipula Ariel dan Sinta juga sudah sepakat. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, ia hanya perlu menebus apa yang sudah ia lakukan pada Sinta. Ariel juga tak akan membencinya lagi jika ia mau melakukan perjanjian tersebut.
"Kita bisa mengubah tanggal pernikahan kita sesuai dengan masa subur kamu, jadi kita mungkin tidak perlu sering tidur bersama jika dalam sebulan kamu bisa hamil," kata Ariel.
Kedua mata Elin memanas sekarang. Yah, ia hanya perlu melakukan itu hingga hamil. Ia pernah mendengar cerita bahwa ada orang yang hanya tidur sekali dengan pria asing lalu hamil. Ia mungkin juga akan seperti itu. Mungkin, itulah yang diharapkan oleh Ariel. Yah, ia menikah bukan untuk dijadikan seorang istri, tetapi hanya sebagai penghasil bayi. Elin mulai tertawa dalam hati karena ia sempat mengira ia bisa menikmati perannya sebagai istri Ariel selama setahun ke depan.
"Kamu mau mengubahnya?" tanya Ariel.
"Tiga minggu lagi," ujar Elin. Ia kembali menyendok makanannya meskipun semua terasa hambar sekarang. "Masa subur aku tiga minggu lagi."
"Oke. Kita bisa mengubahnya nanti setelah kamu membaca lengkap," ujar Ariel. "Jika ada yang nggak kamu setujui kamu bisa bilang sama aku."
Elin mengangguk pelan. Ia melipat amplop itu lalu memasukkannya ke dalam tas. Dengan cepat, ia kembali makan. "Aku masih punya satu proyek lagi. Aku boleh tetep kerja kalau kita nikah?"
"Ya, asalkan kamu bisa menjaga rahasia pernikahan kita, kamu bisa bekerja. Tapi, kalau kamu udah hamil lebih baik kamu di rumah. Kamu harus menjaga diri kamu baik-baik, agar bayi aku juga baik-baik saja selama di kandungan," kata Ariel.
Elin meremang. Yah, ia memang hanya digunakannya oleh Ariel dan Sinta untuk hamil dan menjaga bayi mereka agar lahir dengan sempurna.
"Gimana jika nanti ... ada sesuatu sama kandungan aku? Kita nggak akan tahu apa yang terjadi selama beberapa bulan ke depan?" tanya Elin.
"Maksud kamu, jika bayi itu tidak bisa dilahirkan dengan selamat atau sesuatu yang buruk terjadi selama kehamilan kamu?" Elin mengangguk pelan. "Kamu bisa baca keseluruhan surat perjanjian itu. Ada poin-poin yang menyinggungnya. Yang jelas, jika bayi itu nggak bisa lahir sesuai yang kami harapkan maka pernikahan kita juga juga berakhir. Dan kamu tetap harus tutup mulut atas semua yang terjadi selama pernikahan berlangsung. Kamu tenang aja, kamu bakal tetap dapat uangnya."
Elin mengangguk paham. Ia mulai merasa ngeri sekarang karena ia tahu ia tidak menyukai setiap butir perjanjian itu. Jika ia memang menginginkan sebuah pernikahan, tentu saja bukan seperti ini yang ia mau. Elin makan dengan cepat lantaran pikirannya tidak keruan hingga tiba-tiba ia tersedak.
"Kamu nggak papa?" tanya Ariel cemas. Ia mengambil segelas air putih dan mengulurkannya pada Elin. Ia mengusap-usap punggung Elin ketika gadis itu minum.
Mendapatkan perlakuan manis dari Ariel, Elin pun semakin berdebar. Ia kembali meneguk air dan meyakinkan dirinya sendiri, walaupun ia hanya akan menikah selama setahun dengan Ariel, atau lebih kurang jika ia bisa hamil lebih cepat, mungkin saja Ariel akan jauh lebih perhatian dengannya. Ia menginginkan itu.
__ADS_1