
Hari demi hari berlalu di kehidupan Elin. Tak terasa usia kandungannya sudah memasuki 16 minggu. Terakhir kali ia melakukan pemeriksaan, jenis kelamin bayinya masih belum diketahui. Namun, makhluk mungil itu terus tumbuh di perutnya.
Elin sangat penasaran karena setiap kali ia bercermin, perutnya masih terlihat rata hanya bagian bawah yang sedikit berbeda. Ia juga belum merasakan gerakan apapun di perutnya padahal Dokter Ridwan bilang bayinya sudah bisa bergerak aktif.
Elin begitu senang setiap kali melakukan pemeriksaan. Tentu saja, karena Ariel juga terlihat bahagia. Ariel bahkan menggenggam tangannya ketika Dokter Ridwan mengatakan hal-hal terkait dengan kandungannya. Yang membuat Elin berdebar adalah, Ariel menjadi lebih sering menyentuh perutnya. Tentu saja Ariel melakukan itu ketika mereka hanya berdua.
"Aku laper," gumam Elin malam itu. Ia sudah mencoba tidur, tetapi ia benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Ia sudah melewati masa-masa mual muntah dan menjadi lebih sering ingin makan. Ariel tidak bosan untuk bertanya padanya apa yang hendak ia makan dan selalu membawakan sesuatu untuknya setiap kali pulang kerja.
Elin tiba-tiba teringat dengan donat yang dibelikan Ariel sepulang kerja tadi. Karena tidak habis, ia menyimpannya di kulkas. Ia pun memutuskan untuk turun ke dapur untuk mengambil makanan. Namun, langkahnya terhenti ketika ia tiba di dekat pintu dapur. Ia baru saja melihat Ariel sedang memeluk Sinta di dapur dan mereka berciuman.
Elin menutup bibirnya dengan telapak tangan ketika melihat Ariel mendorong tubuh Sinta merapat ke konter, lalu kembali menciumya dengan panas. Cepat-cepat, Elin membalik badan lalu berlari menaiki anak tangga. Ia membuka pintu kamar dan terduduk di lantai dengan jantung berdebar. Ia sudah sering melihat Ariel merangkul atau memberi kecupan selamat pagi pada Sinta, tetapi ia tidak pernah melihat Ariel mencium Sinta sepanas itu.
"Oh, ya ampun," ucapnya gemetar. Ia menundukkan kepala ketika air matanya menetes tanpa permisi. Ternyata begitu menyakitkan melihat kedekatan Ariel dengan Sinta.
Elin mengabaikan rasa laparnya lalu kembali berbaring. Ia masih menangis ketika ia memeluk gulingnya. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia begitu merindukan keberadaan Ariel di sini, di kamarnya. Terkadang, Ariel memang datang ke kamarnya, tetapi tidak lebih dari menyapa atau mengobrol sejenak atau meraba perutnya saja.
Sementara Sinta, tidak lagi memperlihatkan kecemburuan yang berlebihan padanya, karena ia sudah tidak mengalami mual parah, Ariel juga jarang menunjukkan perhatian di depan Sinta lagi. Sangat berbeda dengan sikap Ariel yang terang-terangan ketika memanjakan Sinta di depannya.
Dan malam ini, rasanya adalah yang terburuk bagi Elin. Namun, ia bisa apa? Haruskah ia protes? Ataukah ia harus menahan rasa sakit seorang diri seperti yang selalu ia lakukan?
"5 bulan lagi," gumam Elin di sela isak tangisnya, "aku bakal pergi dari sini."
***
Keesokan harinya, Elin benar-benar tidak bersemangat untuk sarapan. Ia masih berbaring di atas ranjang hingga pukul 6.00 padahal biasanya ia akan sarapan bersama Ariel dan Sinta. Setelah melihat adegan ciuman panas Ariel dan Sinta, ia merasa berat untuk melihat mereka lagi.
Tok! Tok!
Elin bergeming ketika mendengar ketukan dan pintu tiba-tiba dibuka dari luar. Ia hanya mengangkat kepala sedikit untuk melihat Sinta masuk ke kamarnya.
"Kamu nggak sarapan?" tanya Sinta seraya duduk di tepi ranjang Elin.
__ADS_1
"Nanti aja, Mbak. Aku masih ngantuk," ujar Elin. Ia tak lagi menatap Sinta. Bayangan bagaimana Sinta mendekap dan menyambut ciuman Ariel terbayang di benak Elin. Itu sungguh menyakiti hatinya.
"Aku masak bubur ayam kesukaan kamu, nanti dingin. Cuci muka dulu sana," ujar Sinta.
Elin langsung mencebik. Ia sudah menahan rasa laparnya sejak semalam dan kini ia sungguh tergoda dengan bubur ayam yang ditawarkan oleh Sinta.
"Kakak di mana?" tanya Elin.
"Belum turun. Paling bentar lagi. Kenapa?"
"Nggak papa," jawab Elin cepat. Ia tak tahu bagaimana menghadapi Ariel jika ia harus melihatnya pagi ini.
"Ya udah, ayo turun. Aku siapin sarapan kamu," bujuk Sinta lagi.
Elin hanya mengangguk. Ia ingin tinggal di kamar, setidaknya sampai Ariel berangkat bekerja, pikirnya dalam hati. Namun, perutnya tiba-tiba berbunyi keras. Ah, bayinya pasti juga sudah lapar, pikirnya lagi.
Dengan berat hati, Elin pun masuk ke toilet. Ia sudah mencuci wajahnya ketika bangun tidur dan sholat subuh. Namun, ia tetap mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar meskipun belum mandi. Sembari bercermin, ia menatap refleksi dirinya. Apa ia tidak cukup cantik di depan Ariel? Karena Sinta selalu tampil cantik setiap pagi dan sore ketika Ariel berangkat dan pulang kerja, mungkinkah ia perlu berdandan?
Elin segera keluar dari toilet karena ia tidak ingin memikirkan hal-hal itu lagi. Dengan langkah malas, ia pun meninggalkan kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika kedua matanya menangkap sosok Ariel yang juga sedang keluar dari kamarnya.
"Pagi, El," sapa Ariel pada Elin yang membeku.
"Ya." Kedua mata Elin terpaku pada sepasang bibir merah Ariel. Bibir itu begitu ganas mencium Sinta semalam, pikirnya getir.
"Kamu kenapa? Kamu mual?" tanya Ariel seraya mendekat.
"Aku nggak papa." Elin segera berlari kecil menuruni anak tangga. Yah, sesungguhnya ia begitu mual membayangkan ciuman Ariel dan Sinta. Ia tidak bisa memungkiri bahwa hatinya merasa iri. Ia juga menginginkan bibir itu, untuknya.
"Hati-hati!" teriak Ariel ketika melihat Elin berlari menjauh darinya. Ia mempercepat langkah ketika menyadari pagi itu Elin terlihat sangat berbeda. Biasanya Elin akan tersenyum, tetapi pagi ini Elin begitu kaku dan agak ketus.
"Pagi, Sayang!" sapa Ariel pada Sinta. Sinta baru saja membawa 3 mangkuk berisi bubur ayam ke meja. Dan seperti biasa, Ariel merangkul Sinta lalu memberikan kecupan di pipinya.
__ADS_1
Elin menggenggam sendoknya erat. Ia tak sadar bahwa napasnya naik turun sejak tadi. Jika ia tidak sedang kelaparan, ia tentu akan memilih pergi. Sayangnya, ia juga begitu lapar.
"Mas, besok malam ada film baru tayang di bioskop, kita nonton yuk," ajak Sinta.
Ariel menatap Sinta dan mengangguk. "Jam berapa tayangnya?"
"Kayaknya jam 7.00 malam, Mas. Tapi aku belum cek lagi," jawab Sinta.
Ariel hanya mengangguk. Ia melirik Elin yang sedang makan dengan cepat seolah tidak peduli bahwa bubur di mangkuknya masih cukup panas. "Pelan-pelan aja makannya, nanti kamu tersedak," kata Ariel mengingatkan. Ia menuangkan air ke gelas Elin lalu menggesernya lebih dekat ke Elin. "Minum dulu."
"Ya, makasih," ujar Elin datar. Elin meneguk air minum itu lalu kembali makan dengan cepat. Perutnya mendadak mual, entah karena ia makan terlalu cepat atau karena ia sudah muak dengan pasangan Ariel dan Sinta.
Elin tahu, Ariel dan Sinta sering bepergian berdua layaknya pasangan yang baru pacaran, entah untuk menonton bioskop berdua atau hanya jalan-jalan atau berbelanja.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Ariel ketika menyadari wajah Elin yang memerah.
Elin menggeleng. "Cuma mual, aku mau ke kamar."
Elin berdiri cepat. Ia meninggalkan ruang makan dan membuat Ariel bertanya-tanya dalam hati. Kenapa adiknya mendadak bersikap seperti itu.
"Biarin aja, Mas. Tadi juga males bangun katanya masih ngantuk," kata Sinta ketika Ariel berdiri dan hendak menyusul Elin. "Kamu nggak usah begitu khawatir sama Elin, Mas."
"Tapi dia agak aneh hari ini. Dia kayak marah sama aku," ujar Ariel.
"Kenapa harus marah? Kamu kan nggak salah apa-apa sama dia." Sinta membujuk Ariel agar duduk kembali.
"Aku mau tanya bentar sama Elin, aku nggak mau dia kenapa-kenapa," ujar Ariel.
Sinta membuang napas panjang. "Ya udah, terserah kamu." Sinta memasang tampang cemberut di sebelah Ariel.
Melihat istrinya memanyunkan bibir, Ariel pun kembali duduk. "Nggak jadi, kamu aja nanti tanya ke Elin apa dia lagi ada masalah. Oke?"
__ADS_1
"Oke. Tenang aja, Mas." Sinta tersenyum puas. Ia memang sudah bersikap baik pada Elin akhir-akhir ini, tetapi ia tetap tidak ingin Ariel lebih perhatian pada Elin.