
"Aku naik ojek aja," kata Elin pada Ariel keesokan harinya. Ia berniat datang ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Galang.
"Aku anterin, kita berangkat sekarang," ujar Ariel. Ketika ia turun untuk sarapan, Elin sudah lebih dulu di sana.
"Nggak usah, Kakak kan belum sarapan. Aku mau duluan," ujar Elin seraya berdiri dan mencangklong tasnya. Ia sudah cukup kenyang dengan makan setengah kentang rebus, satu sosis goreng dan segelas susu cokelat.
Ariel berdiri ketika Elin berjalan cepat ke arah pintu depan. "El, kamu tunggu bentar, aku pamitan sama Sinta dulu. Nanti aku anterin. Oke?"
"Nggak usah, ini mungkin terakhir kali aku datang ke kantor. Aku udah pesen ojek online bentar lagi pasti datang. Kasian," tukas Elin cepat. Ia menoleh pada Sinta yang baru saja menuruni anak tangga. "Lagian Mbak Sinta pasti udah nyiapin sarapan. Mending Kakak sarapan berdua sama istri Kakak itu."
Elin meninggalkan Ariel tanpa berpikir lagi. Ia sudah lelah menjadi pihak yang tersakiti. Apalagi semalam ia mendengar obrolan yang paling menyakitkan dalam hatinya. Elin tak ingin lemah. Ia mungkin sudah lama menyimpan perasaannya pada Ariel, tetapi Ariel sama sekali tidak membalasnya. Jadi, Elin hanya ingin melewatkan masa-masa kehamilan ini dengan cepat, ia tidak bermaksud untuk menggunakan perasaannya lagi. Seandainya bisa.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Sinta seraya mendekati Ariel lalu memeluk lengannya.
"Nggak papa kok. Itu Elin mau berangkat kerja duluan nggak mau dianter malah mau naik ojek," kata Ariel penuh sesal.
"Lho katanya mau resign?"
"Iya mungkin hari ini dia mau ngajuin ke atasannya," jawab Ariel. Ia mencium pipi Sinta. "Kamu masak apa, Sayang?"
"Nasi uduk, kesukaan kamu, Mas."
***
Elin tiba di kantor lebih pagi dari biasanya. Sengaja, ia tak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari semua orang karena ia sudah pingsan di gedung tempat audisi kemarin. Ketika turun dari ojek, ia sudah melihat mobil Galang, jadi ia merasa lega. Ia bisa bicara dengan Galang sesegera mungkin.
Tok! Tok!
Elin mengetuk pintu ruangan Galang lalu membukanya pelan. Ia tersenyum ketika Galang menatapnya dari balik meja. "Pagi, Pak."
__ADS_1
"Pagi, Elin. Kamu sudah benar-benar sehat?" tanya Galang.
"Alhamdulillah. Saya baik-baik saja, Pak." Elin mendekati meja Galang, tetapi Galang menunjuk sofa di sudut ruangannya. "Duduk saja. Saya buatkan kopi."
"Ehm, ya." Elin tak enak untuk menolak meskipun kini ia berusaha keras tidak minum kopi lagi.
Galang duduk di seberang Elin setelah meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Ia menyesap kopi miliknya lalu menatap Elin penuh makna. Elin pun ikut meminum kopi tersebut.
"Jadi, proses audisinya akan diundur hingga akhir bulan ini jika kondisi kamu memang belum fit, saya sudah bicara dengan pihak produksi," ujar Galang mengawali obrolan mereka.
Elin meletakkan kopinya dengan gelisah. Ia merogoh sesuatu dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja. Kedua mata Galang menyipit ketika ia melihat amplop cokelat yang diberikan oleh Elin.
"Apa ini?" tanya Galang.
"Maaf, Pak. Saya ingin mengundurkan diri," ujar Elin dengan suara bergetar. Lebih dari apapun ia tidak ingin kehilangan mimpinya seperti ini.
"Apa? Kenapa?" tanya Galang. Ia membuka amplop cokelat dari Elin lalu membaca isinya. Ia benar-benar tidak percaya Elin akan berbuat seperti ini. "Apa karena saya pernah menyatakan cinta sama kamu dan itu sudah membuat kamu merasa tidak nyaman bekerja dengan saya? Atau, kamu mendapatkan penawaran yang lebih bagus di perusahaan lain? Tidak kan? Bukan itu alasan kamu kan?"
"Kamu sakit apa? Kamu sakit parah?" tanya Galang cemas. Ia sudah memperhatikan perubahan Elin selama 3 minggu terakhir. Elin sering sekali terlihat lesu di mejanya, bahkan kemarin pingsan.
"Nggak, Pak. Saya baik-baik saja. Saya harap Pak Galang mau menerima pengunduran diri saya karena saya tidak bisa bekerja lagi," kata Elin sungguh-sungguh.
"Saya butuh alasan yang jelas untuk menerima ini, Elin. Kamu tidak berpikir bahwa pekerjaan ini hanya main-main bukan? Kamu mengundurkan diri di saat karir kamu menanjak, itu sangat aneh bagi saya. Saya jelas tidak bisa menerimanya. Kamu memiliki talenta, kamu bisa menjadi orang yang sangat terkenal di masa depan, dan kamu ... kamu tiba-tiba mundur seperti ini?"
Galang menyandarkan punggungnya dengan kesal. Tetapi sedetik kemudian ia kembali mencondongkan tubuhnya ke depan. "Katakan sama saya, kamu tidak nyaman bekerja dengan saya gara-gara hari itu? Oke, saya minta maaf. Saya nggak mau kamu berhenti."
"Bukan itu alasannya, Pak. Saya emang ngerasa canggung, tapi bukan karena itu," kata Elin. Ia kembali meneguk kopinya sedikit.
"Jadi? Apa? Kenapa kamu memilih resign, Elin?" tanya Galang.
__ADS_1
Elin menunduk dalam-dalam ketika Galang menatapnya lurus. "Saya sedang hamil, Pak."
Kedua mata Galang membola seketika. Ia merasa baru mendapatkan lelucon yang sama sekali tidak lucu. "Kamu bercanda kan? Dulu kamu berkata sama saya, kamu punya pacar. Sekarang, kamu bilang kamu hamil? Hah, yang benar saja, Elin. Kamu bahkan belum menikah."
Galang menyesap kembali kopinya, tetapi ia merasa sangat kesal. Seharusnya ia membuah teh chamomile yang menenangkan alih-alih kopi dengan kafein yang berhasil meningkatkan ketegangan dalam dirinya.
"Apa kamu juga sudah menikah dan saya tidak tahu?" tanya Galang penasaran.
Elin meremas buku-buku jarinya. Ia menatap Galang kali ini. Ia tahu, ia sudah menyakiti Galang dengan menolak cintanya. Dan kini, ia kembali menorehkan luka pada Galang dengan mengatakan bahwa ia sedang hamil.
"Saya benar-benar hamil, saya lemah dan disarankan beristirahat sama dokter," kata Elin beralasan. Ia menunjukkan foto USG janinnya yang ada di ponselnya pada Galang. "Jika Bapak nggak percaya."
"El, kehamilan bukan alasan kamu bisa mengundurkan diri. Kamu sedang mendaki puncak karir kamu," kata Galang mengingatkan. "Oke, saya percaya kamu hamil. Saya juga tahu wanita hamil ... yah, saya mengerti kondisi kamu sekarang. Saya bahkan liat kamu pingsan. Tapi ... saya nggak mau kamu berhenti, Elin. Saya bakal minta tim produksi untuk mengesampingkan kamu dalam semua prosesnya. Kamu bisa bekerja di kantor saja."
Elin menggeleng pelan. Masalah utamanya bukan itu. Ia hanya tidak ingin semua orang tahu ia sedang hamil. Ia harus merahasiakan kehamilan dan pernikahannya dengan Ariel.
"Saya cuma beritahu Pak Galang tentang kondisi saya. Kehamilan saya tidak boleh diketahui banyak orang. Jadi ... jadi saya memilih berhenti," kata Elin.
Galang benar-benar tercengang mendengar ucapan Elin. "Kenapa? Kenapa kamu harus menutupi kehamilan kamu?"
Elin hanya mengangkat bahu. Biarlah Galang berpikir sesuka hatinya. Mungkin Galang akan berpikir bahwa ia wanita murahan yang hamil di luar nikah. Dengan begitu Galang bisa lebih cepat melupakannya. Dengan begitu, Galang bisa membencinya dan menerima pengunduran dirinya.
"Kamu ... bukannya pacar kamu ada di luar negeri? Bagaimana kamu bisa hamil tiba-tiba?" tanya Galang. Tadinya ia tidak ingin mencampuri urusan Elin, tetapi ia juga penasaran setengah mati. "Kamu sudah menikah? Apa pernikahan kamu juga harus dirahasiakan?"
Elin membasahi bibirnya. Jika Galang tahu ia sedang mengandung anak dari Ariel, kakak angkatnya sendiri, Galang pasti akan sangat terkejut. Sayangnya, Elin tidak berniat menceritakan semua pada Galang.
"Saya minta maaf. Saya nggak bisa cerita detailnya ke Bapak. Saya cuma, saya mau berhenti bekerja," ujar Elin.
Galang menggeleng keras. Ia merobek surat pengunduran diri Elin lalu mencampakkannya ke lantai. "Jika kamu tidak menceritakan semuanya, saya tidak akan menerimanya."
__ADS_1
"Saya nggak bisa, maaf. Saya tetap akan berhenti jika Bapak tidak menerima surat pengunduran diri saya." Elin berdiri karena tak ingin berdebat lagi.
"Apa? Lalu bagaimana dengan perusahaan? Kamu pikir, kami nggak merugi jika kamu berhenti seperti ini? Naskah kamu luar biasa bagus dan kamu akan membiarkannya saja?"