
"Kamu gadis yang baik," ujar Sinta pada Elin. Ia mengusap lengan Elin dengan lembut. Ia merasa lega karena sepertinya Elin bisa dipercaya. "Kamu mau makan sesuatu buat siang nanti?"
"Gampang, Mbak." Elin mengambil toples kembali. "Ini udah dingin bisa ditata di sini kan kuenya?"
"Ehm, bisa kok. Aku masukin oven dulu yang itu. Kamu nata di toples aja."
"Siap, Mbak." Seperti biasa Elin memasukkan kue-kue kering itu ke dalam toples. Tak lupa ia menutupnya lalu menempelkan stiker. Dalam beberapa menit, Elin dan Sinta sudah mendapatkan 6 toples kue.
"Kamu istirahat aja kalau capek," kata Sinta yang merasa Elin sudah menemaninya cukup lama.
"Ehm, iya aku ngantuk aja," ujar Elin seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tiduran aja, nanti aku selesain sama Budhe Sarti," ujar Sinta.
Elin mengangguk. Ia meneguk air putih sebelum akhirnya meninggalkan dapur. Ia merasa cukup lega karena Sinta mengajaknya bicara, ia juga bisa mengungkapkan isi hatinya pada Sinta. Dan ia berharap, tak akan ada lagi kesalahpahaman lagi.
***
Malam itu, Elin kembali membaca penawaran dari David. Ariel bilang ia tak perlu menerimanya. Yah, ia agak berat dengan pembagian profit yang tak begitu menguntungkan baginya. Namun, itu juga bisa menjadi peluang baginya. Jadi, ia sedang menimbang untuk meminta pendapat Galang atau tidak.
"Pak Galang udah punya pacar," gumamnya. "Jadi kayaknya nggak masalah kalau aku tanya tentang kerjaan."
Elin lekas mengirimkan gambar penawaran itu ke kontak Galang. Ia ingin tahu bagaimana saran Galang. Apakah lebih baik ia menerbitkan bukunya atau tidak.
Elin: Maaf, Pak. Saya chat malam-malam, saya mau minta saran aja.
Galang: Saya rasa jangan, El. Swara Media memang seperti itu, mereka menerima naskah dan ingin menerbitkan tetapi tidak memberikan keuntungan yang signifikan bagi penulis. Lebih baik kamu ke penerbit lain jika berminat.
Galang: Boleh saya lihat naskah kamu?
Galang: Biar saya bisa kasih kamu saran lebih baik kamu bawa naskah kamu ke mana.
__ADS_1
Elin tampak ragu. Jika ia mengirimkan naskahnya ke Galang, itu artinya Galang akan tahu kisah cintanya untuk Ariel. Galang yang cerdas pasti bisa menyimpulkan dengan cepat jika sekarang ia sedang memiliki hubungan lebih dengan Ariel.
Elin: Makasih sarannya, Pak.
Elin: :-)
Elin: Nanti saya pertimbangkan.
Dengan 2 pendapat dari Ariel dan Galang, akhirnya Elin pun memutuskan untuk tidak menerima tawaran terbit dari David. Ia lekas mengirimkan email pada David bahwa ia ingin menarik naskahnya kembali. Elin tak tahu apakah naskah itu bisa diterbitkan suatu hari, atau mungkin dijadikan film. Ah, ia mulai berandai-andai padahal sekarang ia adalah pengangguran.
Lamunan Elin buyar ketika ia mendengar nada dering ponselnya. Ia menatap nama kontak yang tertera di layar dengan gugup. Mama! Elin lebih sering bertukar pesan dengan ibunya ketimbang bicara di telepon. Ia punya firasat yang tidak baik karena ibunya cukup cerewet jika telepon.
"Halo, Mama. Assalamualaikum," sapa Elin pada Maria, ibunya.
"Waalaikumsalam, kamu belum tidur, El?" tanya Maria.
"Belum, Ma. Masih jam 8.00 ini," jawab Elin.
"Alhamdulillah. Aku nggak papa." Elin berdiri lantas berpindah ke ranjangnya. Mendadak ia merasa agak mual dan ingin berbaring saja. "Mama gimana?"
"Mama juga sehat. Gimana kerjaan kamu? Kapan kamu bikin film, ini Om sama Tante kamu ada yang nanyain. Kerjaan kamu lancar kan?" tanya Maria.
"Ehm, aku kan kan udah nulis beberapa naskah film, Ma," ujar Elin. Ia memang sudah pernah menulis naskah film, tetapi bukan dari ide murninya, ia juga bersama beberapa tim untuk menyelesaikannya.
"Ya projek solo kamu maksudnya. Mama kan nggak enak kalau ditanyain kamu udah jadi apa. Ariel udah jadi CEO di perusahaan kita. Mama juga pengen liat kamu jadi orang sukses, El. Kamu nggak mau kuliah S2 kemarin. Kamu nggak nyesel?"
Elin membuang napas panjang. Jika ibunya tahu ia baru saja berhenti bekerja, ia mungkin akan kena omelan lebih panjang lagi. Ia mungkin akan dibanding-bandingkan dengan Ariel atau Gladis dan ia tidak menyukai ini.
"Aku bisa nentuin jalan untuk aku sendiri, Ma. Aku udah dewasa. Aku ... aku nggak mau ngerepotin Mama sama Papa lagi. Aku udah lulus sarjana, aku udah seneng. Aku juga bisa cari uang sendiri sekarang," kata Elin.
"Iya, Mama tahu. Tapi Mama pengen liat kamu jadi orang, El. Kamu udah 23 tahun. Kamu harus jadi wanita sukses lalu menikah. Apa kamu udah punya pacar yang serius sama kamu?" tanya Maria lagi.
__ADS_1
"Belum, Ma." Elin menggigit lidahnya. Jika ibunya tahu ia menikah dengan Ariel, oh, ia mungkin akan dicoret dari KK mereka.
"Ya, nggak masalah. Mending kamu pikirin karir kamu dulu. Jangan kerja sembarangan. Kamu jangan mau jadi bawahan terus," kata Maria mengingatkan.
"Mama nggak ada rencana pulang dalam waktu dekat?" tanya Elin mencoba mengalihkan obrolan. Ia juga penasaran sekaligus takut jika suatu hari ibunya akan muncul.
"Nggak, Mama sama Papa masih mau di sini. Paling nggak sampai Gladis lulus S1. Tapi kalau kakak kamu punya bayi, Mama juga pengen jenguk," ujar Maria dengan nada bersemangat. "Kamu kan tinggal sama kakak kamu. Udah ada kabar belum kalau Sinta udah isi lagi?"
Elin menelan keras seraya mengusap perutnya yang kembung. 'Bayi itu di sini,' batin Elin.
"Aku nggak tahu, Ma. Doain aja. Mungkin bentar lagi," kata Elin lirih.
"Iya, Mama sering mimpi gendong cucu. Atau main sama cucu. Rasanya seneng banget," kata Maria. Terdengar desah napas panjang dari wanita yang sudah merawat Elin bertahun-tahun itu. "Mama sedih banget waktu denger Ariel kehilangan bayinya. Mama juga udah berharap banget bisa segera punya cucu."
Elin tertawa kecil. "Mama kan masih muda. Aku nggak bayangin Mama dipanggil nenek nanti."
"Kamu jangan gitu. Mama sama Papa beneran udah pengen cucu."
"Mama sama Papa bakal sayang sama cucu kalian kan kalau udah ada?" tanya Elin seraya mengusap perutnya. Ia akan senang jika mereka bisa menjaga bayinya nanti, cucu mereka. Jika bayinya tidak kekurangan kasih sayang dan berkecukupan, ia mungkin tidak akan berat meninggalkannya.
"Tentu aja kami bakalan sayang. Kenapa kamu tanya kayak gitu?" tanya Maria.
Elin menggeleng pelan. "Nggak, Ma. Nggak papa kok. Aku cuma penasaran. Tapi aku percaya sama Mama kok. Aku yang bukan anak kandung kalian aja, bisa kalian sayangi kayak anak sendiri. Apalagi kalau itu cucu kalian. Darah daging kalian," ujar Elin dengan nada terharu.
"Kamu jangan bilang begitu. Sampai kapanpun kamu juga anak kami, El. Kami tulus sayang sama kamu," ujar Maria.
"Makasih, Ma. Aku juga sayang banget sama Mama, sama Papa juga."
Elin melanjutkan obrolan hingga beberapa menit dan ia mulai merasa sangat mengantuk. Setelah berpamitan dengan ibunya, ia pun menutup panggilan. Elin berbaring di bawah lampu yang temaram, ia kembali merasa bersalah pada ibunya. Ia sudah menjadi pengkhianat dengan menikahi putra mereka. Ia sangat takut jika suatu hari ibu mereka akan tahu. Tentu saja, itu akan menjadi mimpi buruk!
Elin hanya berharap, semua rencana dan perjanjian ini bisa berjalan lancar tanpa diketahui oleh semua orang.
__ADS_1