
Ketika Elin keluar dari gedung setelah meeting usai, ia tak menyadari bahwa mobilnya telah diikuti sebuah taksi. Gladis di sana. Elin hanya memejamkan mata, berharap ia akan segera tiba di apartemennya agar ia bisa berbaring dan menangis lebih puas.
Namun, ketika Elin turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung apartemen, ia kembali dikagetkan dengan kemunculan Gladis. Sungguh gigih, pikir Elin dalam hati.
Elin membuang napas panjang. Ia mungkin perlu bicara lebih banyak tentang Luna, jadi, ia pun mengedikkan dagunya pada adiknya itu.
"Aku capek, aku mau pulang," kata Elin.
Gladis menurut. Mungkin, bicara di rumah jauh lebih nyaman dibandingkan di tempat lain, pikir Gladis. Ia pun dengan tenang mengikuti Elin menuju apartemennya yang ada di lantai 11.
Begitu masuk, Elin mendudukkan dirinya di sofa. Ia tadinya ingin berbaring di kamar, tetapi ada Gladis di sini. "Kamu bisa ambil minuman sendiri di dapur. Dan katakan untuk apa kamu mengikuti aku. Aku beneran capek. Kalau itu tentang keluarga Kak Ariel ... aku nggak peduli."
Kalau itu tentang Luna, ceritakan lebih banyak, batin Elin. Ia tidak menyuarakan hal itu karena ia merasa begitu sedih mengingat bayi kecil yang ia lahirkan bertahun yang lalu itu.
"Oke. Aku ambil minum dulu. Aku haus," kata Gladis. Gadis 25 tahun itu langsung melangkahkan kakinya menuju dapur setelah ia melihat-lihat. Ia membuka kulkas, mengambil dua kaleng minuman dan 1 botol air mineral. Ia meneguk lebih dulu air mineralnya lalu membawa 2 kaleng minuman itu ke ruang depan.
Elin terlihat sedang mencopot aksesoris dan membuka cardigannya ketika Gladis duduk di seberangnya. Gladis meletakkan minuman yang telah ia buka itu.
"Kak Ariel udah cerai," kata Gladis tak tanggung-tanggung.
"Apa?" tanya Elin. Tadinya ia tak ingin peduli. Namun, ia tergelitik sekarang.
"4 tahun yang lalu Kak Ariel dan wanita sialan itu resmi berpisah," kata Gladis. Ia meneguk minumannya dan menatap wajah kaget Elin.
Elin ingin bertanya apa yang terjadi, tetapi bibirnya kelu. Jadi, ia hanya mengambil minuman dan meneguknya dengan gemetar. Ariel bercerai? Sudah 4 tahun.
"Kak Ariel selalu nyariin kamu, Kak. Tak pernah sehari aja dia berhenti nyariin kamu," kata Gladis menyayat hati Elin.
Elin dibuat bingung karena baru sedetik lalu Gladis membahas perceraian Ariel, kini Gladis mengatakan hal lain.
__ADS_1
"Jadi ... kenapa ... Kakak ...."
"Kakak udah lama banget cinta sama kamu," kata Gladis. Kedua mata Elin membola sempurna. "Mungkin bareng sama kamu ketika kamu mulai jatuh cinta sama Kakak. Jauh sebelum Kakak menikah dengan Mbak Sinta. Kak Ariel ... selalu memilih wanita lain untuk dipacari karena dia nggak mau terjebak dalam cinta terlarang. Sama seperti kamu macarin cowok lain.
"Kakak menikahi Mbak Sinta karena ... menurut Kakak dia agak mirip dengan kamu. Kalian sama-sama ceria, berani dan suka dengan petualangan. Itulah yang bikin Kakak jatuh cinta dengan Mbak Sinta. Kakak ... sebenarnya udah lama cinta sama kamu, hanya saja kalian sama-sama menyembunyikan hal itu," kata Gladis.
Itu tak mungkin, pikir Elin. Ia merasa konyol sekarang. Barangkali, Gladis hanya membual.
"Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya langsung ke Kak Ariel. Dia nangis waktu aku kasih tahu kamu juga punya perasaan sejak kamu berusia 13 tahun," kata Gladis lagi.
Elin menggeleng pelan. Itu tak penting sekarang. Perasaannya sudah mati. Ia tak ingin peduli.
"Bisa kamu ceritakan saja tentang Luna? Bagaimana kondisi Luna?" tanya Elin yang kini tak bisa lagi mendeskripsikan apa yang ia rasakan.
"Ya. Luna ... dia nggak pernah disayangi oleh Mbak Sinta sebagaimana seorang ibu seharusnya menyayangi anak kecil," kata Gladis.
Kembali, Elin merasa kaget. Ia masih ingat bagaimana Sinta dengan lembut menimang Luna. "Nggak mungkin."
"Tapi dia cuma bayi!" pekik Elin.
Gladis mengangguk. "Awalnya, Kakak nggak tahu. Tapi ... lama-lama Kakak penasaran kenapa Luna nggak bisa dekat sama Mbak Sinta bahkan Luna sering rewel kalau sama Mbak Sinta. Belakangan, Kakak sering nemu memar di tubuh Luna."
Elin menutup bibirnya dengan telapak tangan. Jika Sinta adalah ibu angkat yang buruk, maka ia adalah ibu kandung yang lebih buruk lagi. Andai ia tahu, andai ia tidak menjauh dari Luna ... itu tak akan terjadi.
"Dia cuma bayi kecil," kata Elin sambil menangis. "Aku ... aku lihat Mbak Sinta sama Kakak ... sama Luna, mereka bahagia banget. Aku selalu liat mereka dari jauh sampai ... mungkin setahun setelah Luna lahir."
"Itu yang terlihat, aslinya ... Mbak Sinta nggak bisa sayang sama Luna. Dia pakai baby sitter, dia sering keluar rumah dan nggak mau ngurus Luna. Dia juga selingkuh sama Mas Miko," kata Gladis.
Elin membuang napas panjang. "Jadi ...."
__ADS_1
"Jadi mereka bercerai. Mbak Sinta memohon maaf karena tidak bisa menyayangi Luna dan Kakak begitu marah pas tahu Luna luka-luka karena Mbak Sinta. Tapi, Kakak lebih sakit hati ketika tahu Mbak Sinta udah lama menjalin hubungan dengan Mas Miko."
Elin menyandarkan punggungnya dan terengah-engah. Semua ini benar-benar tidak masuk akal. "Jadi, di mana Mbak Sinta sekarang?"
"Mana aku peduli. Kakak aja udah nggak pernah terlibat dengan Mbak Sinta. Udah lama banget sejak mereka bercerai. Kakak pindah ke rumah lama Mama. Berdua aja sama Luna," kata Gladis. "Jadi ... kamu pulang aja, Kak. Mereka butuh kamu."
"Cuma buat donor?" tanya Elin.
"Nggak. Kakak masih cinta sama kamu, Luna juga butuh ibunya. Kak ... jangan egois dan ayo pulang. Aku tahu kamu masih marah dan benci sama Kakak, tapi ... ayo coba pulang dulu. Kamu bisa lampiaskan semua kemarahan kamu sama Kakak kalau udah ketemu," kata Gladis.
Elin terduduk lemas. Ia terdiam selama beberapa saat karena tengah berpikir. Ia tak ingin pulang, ia takut terjebak lagi.
"Luna ... kondisinya gimana?" tanya Elin setelah keheningan panjang di antara mereka.
Gladis mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan foto Luna yang sedang terbaring di atas tempat tidur dengan beberapa selang di tubuhnya. "Kondisinya menurun sejak seminggu yang lalu. Sebelumnya, dia cukup baik."
Gladis menggeser foto tersebut dan menampakkan foto gadis cilik yang duduk di atas kursi roda sembari memeluk boneka beruang berwarna pink. Elin menangis seketika ketika melihat wajah pucat yang tersenyum ke arah kamera.
"Rambutnya ... dia kehilangan rambutnya?" tanya Elin terisak.
Gladis mengangguk. "Luna anak yang kuat. Dia nggak nangis ketika dikemo, tapi dia nangis kalau ditinggal Kakak. Jadi, Kakak nggak bisa ke sini jemput kamu. Makanya, ayo pulang. Kamu pasti pengen liat Luna sehat kan? Dia ... dia mirip banget sama kamu, Kak."
Elin mengusap wajah Luna di foto. Dan Gladis menunjukkan banyak sekali foto Luna, ada beberapa yang sedang bersama dengan Ariel, di mana rambut Luna masih terlihat panjang dan lebat. Elin mengusap wajahnya ketika ia melihat Luna memeluk pigura kecil.
"Itu ...."
"Itu foto kamu. Dia tahu kamu adalah ibunya. Kakak selalu bilang, wanita di foto itu adalah ibunya Luna. Jadi, Luna selalu berharap kamu bisa segera pulang. Luna selalu bersemangat ketika menjalani kemo dengan harapan ketika ia sembuh, ibunya akan datang."
Elin menangis lebih keras sekarang. Ia juga ingin pulang. Ia ingin mendekap Luna.
__ADS_1
"Kamu mau pulang, Kak?"