Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
21. Elin Hamil


__ADS_3

Mobil Ariel berhenti di depan sebuah klinik praktek dokter spesialis kandungan. Ia sudah berharap penuh agar Elin benar-benar hamil. Ia juga sudah tak sabar untuk memberi tahu Sinta. Jika Elin hamil, itu artinya ia tak akan perlu lagi membagi malam-malamnya, ia hanya perlu bersama Sinta, sesuai dengan isi perjanjian.


"Kita periksa di sini aja dulu, kalau ke rumah sakit suka antre dan harus reservasi dulu," kata Ariel seraya membuka pintu mobilnya.


Elin tidak menolak, ia juga sudah penasaran dengan kondisinya. Begitu masuk, Elin diminta untuk menunggu karena ada dua nomor antrian lagi. Elin duduk dengan gelisah di sebelah Ariel.


"Kamu mual-mual sejak kapan?" tanya Ariel.


"Baru tadi kayaknya, kemarin nggak mual tapi males makan," jawab Elin jujur. Ia juga merasa begitu lelah, tetapi ia menduga itu hanya karena ia bekerja terlalu keras, bahkan ia begadang selama beberapa malam.


Ariel mengangguk. "Jadi kamu belum makan malam?"


"Belum, baru makan satu sendok tadi. Tapi aku mual banget."


"Ya udah, nanti pulangnya kita mampir beli makanan, kamu mau apa?" tanya Ariel lagi.


"Nggak tahu, aku nggak pengen apa-apa, Kak," kata Elin bingung.


"Nanti deh, kamu pikirin lagi. Siapa tahu kamu pengen sesuatu," ujar Ariel.


Elin hanya mengangguk. Ia menatap pasangan suami-istri yang ada di dekat mereka. Ia tersenyum tipis ketika melihat aksi sang suami yang sedang mengusap perut buncit istrinya. Mereka berbincang lirih lalu sesekali tertawa bersama. Kemudian, Elin melihat bagaimana si suami membukakan minuman untuk istrinya. Sungguh manis, pikir Elin. Dulu, ketika Sinta sedang hamil besar, Ariel juga seperti itu.


Sekarang, ia bertanya-tanya dalam hati, akankah Ariel memperlakukan ia seperti itu nantinya jika ia benar-benar hamil?


"Selamat, istri Anda sedang hamil. Sekarang sudah masuk usia kandungan 6 minggu," ujar Dokter Ridwan pada Ariel dan Elin.


Elin menoleh pada Ariel. Ia melihat raut bahagia di wajah kakaknya, senyum lebar tampak menghiasi wajah tampannya. Sontak, Elin ikut tersenyum kaku. Ia mengalihkan tatapan pada monitor pemeriksaan USG. Ia tidak begitu mengerti, tetapi Dokter Ridwan berkata bahwa makhluk kecil itu sudah tumbuh di dalam rahimnya. Dia akan semakin membesar di sana.


Elin mengerjap pelan ketika perawat membersihkan perutnya. Ia duduk dengan hati-hati karena kepalanya yang pusing lalu ia turun dari ranjang.


"Apa ada keluhan sejauh ini?" tanya Dokter Ridwan seraya menuliskan resep.


"Saya mual-mual sejak tadi, Dok. Saya juga capek terus pusing," jawab Elin.


"Ya, itu wajar. Karena ada perubahan hormon, tetapi nanti biasanya akan hilang sendiri meskipun ada ibu hamil yang merasakan gejala tersebut hingga trimester ketiga," ujar Dokter Ridwan menjelaskan.


"Saya bekerja, saya tidak ingin mual-mual di kantor, saya bisa dapat obat kan?" tanyanya. Ia merasakan tatapan dingin Ariel sekarang.


"Ehm, ini saya resepkan. Meskipun mual dan muntah, usahakan tetap makan dalam porsi kecil. Anda juga bisa ngemil buah-buahan atau kacang-kacangan atau biskuit." Dokter Ridwan menuliskan beberapa makanan rekomendasi untuk Elin di resepnya.


"Ya, terima kasih. Kapan saya harus periksa lagi?" tanya Elin.


"Tiga atau empat minggu lagi bisa."


Elin mengangguk pelan. Entah kenapa, ia jadi tidak sabar untuk melihat janinnya lagi. Mungkin bulan depan janinnya sudah membesar. Ia mungkin juga sudah akan bisa mendengar detak jantungnya.

__ADS_1


"Kamu jadi mau makan apa?" tanya Ariel ketika mereka meninggalkan ruangan Dokter Ridwan.


"Apa ya?" gumam Elin.


"Sinta mau makan martabak keju, kamu mau nggak?"


Elin menggeleng keras. Ia membayangkan keju saja sudah mual, padahal ia sangat suka keju sebelumnya. "Aku mau yang seger, wedang ronde aja, Kak."


"Tapi kamu juga harus makan, El. Kasian bayinya," ujar Ariel mengingatkan. "Kita beli sup ayam jahe aja ya. Itu kan juga seger."


"Oke."


Sepanjang perjalanan, Elin meraba-raba perutnya. Ada rasa bahagia sekaligus takjub yang bersarang di hatinya. Ia akan menjadi seorang ibu, meskipun ia tidak akan bisa merawat bayi itu, pikirnya dalam hati.


"Kamu tunggu di sini, aku beli martabak dulu," kata Ariel. Ia menunduk ke sebuah kedai yang tak jauh dari penjual martabak. "Aku sekalian cari wedang ronde sama sup ayam. Kayaknya ada di sekitar sini."


Elin mengangguk pelan. Ia memeriksa ponselnya begitu Ariel menjauh dari mobil. Ada beberapa pesan dari Mirna, ibunya dan Galang. Elin mulai membaca satu persatu.


Mirna: El, kamu udah nyampe rumah belum?


Mirna: Jangan lupa kerokan itu. Awas besok nggak masuk alasan masuk angin.


Mirna: T.T


Elin: Tenang, Mir. Nggak masuk sehari tuh rasanya kangen berat sama kamu.


Elin: <3


Elin kini mulai membaca beberapa pesan dari ibunya. Ia agak gugup karena ini ia sudah menjadi pengkhianat di keluarganya. Ia menjalani pernikahan terlarang dengan kakak angkatnya.


Mama: El, gimana kabar kamu? Udah beberapa hari kamu nggak chat Mama. Kamu nggak kangen?


Mama: Gladis kepilih buat jadi pengibar bendera di KBRI. Kamu kasih selamat sama adek kamu, jangan lupa.


Mama: Gimana kakak kamu? Udah ada kabar belum kalau Mama bakal punya cucu lagi? Kakak kamu susah banget diajak ngomong.


Elin membuang napas panjang. Ia mengetik pelan untuk membalas pesan ibunya.


Elin: Aku sehat, Ma. Aku sibuk banget sama kerjaan aku jadi nggak sempat chat.


Elin: Maaf.


Elin: Nanti aku chat Gladis, tenang aja. Pasti hepi itu anak. :-D


Elin: Mama tanya sama Kakak sendiri lah. Doain aja semoga cucu Mama lekas hadir.

__ADS_1


Elin berdebar kencang ketika mengetikkan pesan terakhir. Ia sudah mengandung cucu dari ibu angkatnya. Ia kembali meraba perutnya yang datar. Tak ingin terus gelisah, Elin pun membaca pesan dari Galang.


Pak Bos: Kamu sakit apa? Kamu kecapekan gara-gara saya suruh kamu kejar deadline?


Pak Bos: Istirahat ya. Jangan begadang malam ini.


Elin tersenyum tipis akan perhatian yang diberikan oleh Galang. Ia pun segera mengetikkan balasan.


Elin: Saya nggak papa. Nanti saya tidur lebih awal. :-)


Elin menyandarkan kepalanya di kaca mobil, tetapi kemudian ia ingat beberapa obat dan vitamin yang diresepkan oleh Dokter Ridwan. Ia pun mengambil kantong kecil yang ada di jok belakang. Elin mendengus pelan, ia sangat tidak suka harus menelan tablet-tablet seperti ini. Namun, demi bayi yang ada di kandungannya, ia harus minum, pikirnya.


"Sori lama," ujar Ariel ketika ia kembali ke mobil. Elin hanya mengangguk, ia tengah memainkan game online di ponselnya. "Kita pulang ya."


"Oke."


Ariel memperhatikan Elin yang masih memainkan ponselnya. Ia menunggu beberapa saat hingga Elin menyimpan kembali ponsel tersebut. "Aku mau bicara."


"Ada apa, Kak?" tanya Elin.


"Ini tentang pekerjaan kamu. Aku mau kamu berhenti," kata Ariel.


Elin menatap Ariel gelisah. Sebenarnya ia tak ingin berhenti. Ia ingin tetap bekerja, ia harus bekerja jika ia ingin naskahnya naik ke proses produksi.


"Bisa beri aku waktu? Perut aku kan belum membesar, nggak bakal ada yang tahu kalau aku hamil," kata Elin mencoba bernegosiasi. "Aku ada proyek besar. Naskah aku bakal diangkat jadi film. Tapi pihak produksi ingin aku terjun langsung ke lapangan. Ini mimpi aku, Kak."


Ariel menimbang sejenak. Proses produksi film biasanya akan memakan waktu cukup lama. "Film itu tentang apa? Di mana kapan syutingnya?"


Elin menggigit bibirnya. Ia terdiam selama beberapa saat. "Itu film romansa antar dua kubu geng yang musuhan. Kalau syutingnya aku belum tahu kapan, tapi kalau semua udah setuju, casting-nya akan dimulai. Lalu ...."


"Kalau begitu, masih lama dong. Bisa 1 atau 2 bulan lagi baru dimulai syutingnya," potong Ariel.


"Iya, mungkin aja. Tapi aku baru hamil 1 bulan. Bukannya perut aku bakal segera membesar, aku masih bisa kerja," kata Elin bersikeras.


"Di mana kemungkinan syutingnya?"


"Mungkin di beberapa kota aja," jawab Elin.


Terdengar desah napas Ariel. Ia bisa mendengar nada frustasi Elin, ia juga tahu Elin memiliki mimpi seperti ini. Namun, ia tidak bisa mengambil risiko.


"Lebih baik kamu di rumah aja," tukas Ariel. Ia bisa merasakan tatapan kecewa Elin sekarang. "Sesuai perjanjian, kamu harus merahasiakan kehamilan kamu dari semua orang. Kamu tahu perubahan dalam diri kamu seharian kan? Kamu bakal terus mengalaminya mulai besok. Bisa saja kamu mual dan muntah selama kamu bekerja, teman-teman kamu bakal curiga."


"Kalau aku ketahuan hamil, aku bakal bilang aku hamil sama pacar aku," kata Elin yang masih bersikeras.


"Nggak!" sergah Ariel. "Aku nggak mau kamu kerja. Aku mau bayi aku baik-baik aja jadi kamu nurut aja sama aku!"

__ADS_1


__ADS_2