Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
43. Mendengarkan Detak Jantung


__ADS_3

Elin tiba di klinik praktek Dokter Ridwan sekitar pukul 7.15 menit. Ia sudah terlambat karena ia mampir ke masjid untuk sholat Maghrib lalu menunggu taksinya datang. Begitu tiba di sana, ia pun segera mendaftarkan diri. Ada beberapa pasangan suami istri yang sudah lebih dulu datang dibandingkan dirinya.


Elin menunggu namanya dipanggil sembari membaca ulang penawaran dari David. Itu tidak buruk jika ia hanya ingin bukunya terbit, tetapi itu tidak begitu menguntungkan jika dilihat dari segi profit yang akan ia terima. Baginya itu adalah naskah yang berharga karena itu adalah kisahnya sendiri dengan Ariel.


"Kenapa kamu datang sendiri ke sini?"


Elin terkesiap ketika Ariel mendaratkan bokongnya tepat di sebelah Elin. "Kakak kok bisa datang?"


"Ya bisa dong. Kan udah aku bilang kita datang bareng. Tadi aku pulang kerja langsung pulang, tapi kata Sinta kamu pergi dari sore, kenapa nggak bilang-bilang? Ponsel kamu juga nggak bisa dihubungi. Kamu tahu, aku cemas. Untung aja kita ketemu di sini," ujar Ariel.


"Ponsel aku mati," tukas Elin. Ia menyimpan berkas-berkas dari David kembali ke dalam totebag-nya. "Tadi aku ada janji sama editor jadi aku pergi lebih awal. Aku bisa pergi sendiri, tadi aku udah bilang sama Mbak Sinta kok."


"Tapi nggak bisa gitu dong, aku kan juga pengen ikut," kata Ariel. "Harusnya kita pergi bareng."


Elin membuang napas panjang. Tentu saja ia senang jika ia bisa pergi bersama Ariel, tetapi setelah Ariel memberinya kecupan itu, ia merasa jauh lebih gugup jika berada di dekat Ariel. Ia juga tak ingin Sinta berlama-lama marah padanya.


Ariel dan Elin sama-sama terdiam, mereka hanya mendengarkan detik-detik jam yang berbunyi konstan dan sesekali mereka mendengar obrolan pasangan suami-istri lainnya yang ada di ruang tunggu.


"Apa kamu nggak mau bareng sama aku gara-gara ... malam itu?" tanya Ariel memecah keheningan di antara mereka berdua.


Elin menoleh hingga ia menyadari tatapan Ariel tertuju padanya. Oh, jantungnya benar-benar tidak aman sekarang. "Malam apa?" tanyanya gugup.


"Pas kita berdua di dapur. Waktu kamu makan es krim stroberi," jawab Ariel.


"Aku tahu Kakak nggak niat ngelakuin itu, jadi nggak perlu dibahas," ujar Elin dengan jantung semakin berdebar. "Kakak mungkin terbawa suasana aja karena itu udah malam dan kita cuma berdua di dapur."


Ariel menatap gestur resah Elin. Elin meremas ujung totebag-nya erat-erat dan bahkan tidak menatapnya. "Sebenarnya itu ...."


"Aku ngerti kok," potong Elin. Kali ini ia menoleh pada Ariel. "Lagian, aku adalah istri Kakak. Jadi, apa yang Kakak lakuin itu nggak dosa. Nggak usah minta maaf atau ngerasa bersalah cuma gara-gara itu."

__ADS_1


"Kamu dengerin dulu aku ngomong," kata Ariel. Ia hampir mengambil tangan Elin, tetapi nama Elin tiba-tiba sudah dipanggil dan Elin berdiri cepat.


"Ayo. Kita harus masuk," ujar Elin.


Ariel pun mengangguk meskipun ia belum lega karena belum bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan. Ia membuka pintu untuk Elin lantas masuk ke ruangan Dokter Ridwan.


"Halo, selamat malam," sapa Dokter Ridwan pada Elin dan Ariel.


"Malam, Dok." Elin tersenyum gugup. Ia mengikuti arahan perawat untuk menimbang berat badannya. Ia sudah khawatir berat badannya akan turun karena sebulan ini ia hampir tidak bisa makan. Dan benar saja, ia sudah kehilangan 8 ons berat badannya.


"Anda masih mual-mual?" tanya Dokter Ridwan.


"Masih, Dok. Muntah juga lumayan sering. Apa bakal kayak gini terus?" tanya Elin.


"Nggak juga, beberapa ibu hamil hanya mengalami mual muntah di trimester pertama. Nanti saya resepkan merk obat anti mual yang lain. Anda masih bekerja?"


Elin menggeleng pelan sementara Dokter Ridwan memberi respon dengan mengangguk. "Kita USG dulu ya."


"Kita bisa dengar detak jantungnya sekarang," ujar Dokter Ridwan.


Elin sudah sangat terharu melihat makhluk mungil yang tadinya hanya berupa titik kecil kini sudah tumbuh lebih besar. Ia bahkan bisa mendengar ritme keras detak jantung janin itu. Yah, janin itu benar-benar tumbuh di perutnya.


Elin sangat ingin menangis sekarang, rasanya ini adalah keajaiban. Namun, ia menahan diri karena tak ingin menunjukkan emosinya pada Ariel. Ia menoleh sekilas pada Ariel yang juga terlihat terharu.


"Janinnya tumbuh dengan baik, jangan khawatir. Tapi, Anda harus makan lebih banyak agar janinnya lebih kuat dan sehat," kata Dokter Ridwan memberi saran. Ia menatap Ariel kali ini. "Anda bisa memberi dukungan pada istri Anda jika dia tidak bisa makan. Makanan utama bisa diganti dengan cemilan. Pasti ibu hamil menginginkan beberapa makanan khusus. Coba dituruti saja."


"Baik, Dok. Terima kasih," ujar Ariel. Ia membantu Elin ketika turun dari ranjang lalu menunggu Dokter Ridwan menuliskan resep sembari memberikan beberapa saran untuk mereka. Sesekali ia melirik Elin, ia ingin menggenggam tangan Elin yang sibuk meremas totebag-nya. Elin pasti sangat gugup, pikirnya.


"Kita tebus obat sama vitamin dulu," ajak Ariel ketika mereka keluar dari ruangan Dokter Ridwan. Elin mengangguk lalu mereka berjalan bersisihan menuju bagian farmasi.

__ADS_1


"Kamu mau makan sesuatu nggak? Nanti kita mampir beli." Ariel bertanya pada Elin ketika mereka menunggu obat.


"Ehm, aku bingung mau makan apa," jawab Elin.


"Bilang aja. Nanti aku beliin buat kamu," kata Ariel dengan nada membujuk.


"Aku mau bakso aja. Yang ada pangsit gorengnya," ujar Elin.


"Oke. Nanti kita mampir beli." Ariel berdiri ketika nomor mereka dipanggil. Ia mengambil obat dan vitamin Elin lantas membayar.


***


Setibanya di rumah, Ariel dan Elin disambut oleh Sinta. Ia sudah mendapatkan pesan dari Ariel bahwa mereka mampir membeli bakso jadi ia tak tak perlu menyiapkan makan malam. Lagipula sudah lewat waktu makan malam karena ini sudah hampir jam 9.00.


"Gimana kondisi janinnya?" tanya Sinta ketika mereka duduk di meja makan.


"Semuanya bagus kok," jawab Ariel. Ia mengulurkan gambar USG pada Sinta. "Panjang janin dan beratnya sesuai dengan usianya. Aku juga udah ngerekam suara detak jantungnya."


"Alhamdulillah," gumam Sinta seraya menatap gambar USG itu. Ia mengangkat dagu untuk melihat Elin yang sedang menyantap baksonya. "Makasih, El. Kamu ... sudah melewati hari yang berat sebulan ini."


Elin berhenti mengunyah ketika mendengar Sinta mengucapkan terima kasih padanya. Padahal, Sinta masih terlihat kesal padanya sore tadi.


"Aku minta maaf udah marah-marah sama kamu belakangan ini," ujar Sinta lemah. Ia sudah memutuskan untuk bersikap baik pada Elin karena ia ingin Ariel tahu bahwa ia adalah istri terbaiknya. "Aku ... yang meminta Mas Ariel untuk menikah lagi, tapi ternyata semua ini begitu berat. Aku cuma ...."


"Aku ngerti kok, Mbak. Semua ini hanya perjanjian, tenang aja. Aku nggak bakal ngelanggar isi perjanjian itu," kata Elin memotong ucapan Sinta.


Baik Sinta maupun Ariel sama-sama membuang napas panjang. Sinta benar-benar ingin menunjukkan bahwa ia bisa menerima Elin di depan Ariel. Ia juga tak ingin terlihat membenci Elin karena jika ia terus bersikap seperti itu, Elin mungkin akan membalasnya dan akan merebut Ariel lalu ia justru ditinggalkan.


Sementara Ariel mulai mengaduk kuah baksonya dengan gelisah. Yah, Elin hanya melakukan semua ini karena perjanjian. Bahkan ketika ia hendak membahas masalah kecupan dua malam lalu, Elin menolak. Ariel hanya ingin berkata pada Elin bahwa ia bersungguh-sungguh ketika ia melakukan itu. Namun, tampaknya Elin tidak menyadari itu, atau mungkin tidak peduli.

__ADS_1


"Aku ... bakal kasih bayi ini sama kalian setelah lahir," lanjut Elin dengan hati pedih.


__ADS_2