Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
86. Berpisah


__ADS_3

"Tapi ... Kak Ariel ingin aku di sini, Ma," kata Elin merana.


"Kamu salah," kata Maria. Ia menunjuk perut Elin. "Ariel hanya menginginkan bayi kamu. Dia ingin kamu punya kehidupan sendiri setelah melahirkan. Jadi, lebih baik kamu ikut Mama."


"Ke mana?" tanya Elin.


"Ke rumah lain," jawab Maria. "Kamu bisa melahirkan di sana dan setelah kamu pulih kamu bisa segera pergi ke luar negeri bersama Mama. Kamu bisa sekolah lagi dan bekerja, setelah itu ... kamu bisa menikah dengan pria lain. Kamu bisa memiliki awal yang baru."


Elin menggeleng pelan. Ia tak ingin pergi. Ia ingin melahirkan di sini, di sisi Ariel.


"Jika kamu masih menganggap Mama sebagai orang tua kamu, kamu harus ikut dengan Mama sekarang juga!" hardik Maria tak tahan lagi.


Elin mengusap pipinya. "Aku nggak mau pisah sama bayi ini, Ma. Ini anak aku!"


"Bayi itu ... bukankah itu hanya perjanjian? Kamu ... kamu sepakat memberikan bayi itu untuk Sinta dan Ariel," kata Maria seraya duduk. Ia menyentuh kedua bahu Elin dan mengguncangnya. "Dengarkan Mama!"


Elin mencebik. Ia menahan tangisnya mengeras karena hatinya terasa begitu sakit, tetapi ia tahu, ia juga bersalah pada ibunya.


"Ketika kamu masih bayi, kamu ditinggalkan begitu saja oleh orang tua kamu dan sekarang ... kamu tumbuh dengan baik karena Mama dan Papa udah ngerawat kamu. Dan bayi kamu ... Ariel dan Sinta yang akan merawatnya. Bukan masalah, El," kata Maria meyakinkan. "Bayi kamu bisa tumbuh menjadi anak yang tidak akan kekurangan apapun."


Elin menggeleng pelan. Bibirnya masih menggumamkan kata-kata bahwa ia adalah ibu kandung bayi itu. Ia tak ingin ada berpisah dari bayinya.


"Jika kamu tetap berada di sisi Ariel? Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Menjadi simpanan seumur hidup kamu? Kamu tidak berpikir, kamu sudah menjadi orang ketiga? Kamu merasa bangga? Ha?" Maria menggeleng. "Itu sama sekali tidak terhormat! Itu sungguh tercela dan jika ada orang yang tahu Ariel melakukan poligami, terutama dengan kamu, adik angkatnya sendiri, itu akan berpengaruh pada karir dan perusahaan Ariel.


"Kamu tak hanya menjadi pengganggu di rumah tangga Ariel. Tapi kamu juga akan merusak reputasi perusahaan! Kamu harusnya memikirkan hal itu. Jika kamu benar-benar mencintai Ariel dan kamu menghormati Mama, maka kamu harus pergi!" Maria melepaskan bahu Elin. Ia menatap putrinya yang tampak berpikir.


"Bisa aku bicara dulu dengan Kakak?" tanya Elin ragu.

__ADS_1


"Jangan. Jangan pernah bicara lagi dengan Ariel," kata Maria sungguh-sungguh. Ia pun berdiri lalu mengedarkan pandangannya. "Kamu mau bersiap sendiri atau kamu mau Mama yang berberes barang-barang kamu?"


Elin tak menjawab. Ia sibuk menangis dan menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Ia tak ingin mengiba pada Maria, ia tahu betul perangai ibunya. Jika ibunya sudah berkata A maka itu tak bisa diubah lagi.


"Pak Fendi, tolong siapkan rumah sewa yang aman untuk saya dan putri saya." Elin mendengar Maria bicara dengan seseorang. "Yah, malam ini juga kami akan ke sana. "Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan, nanti saya minta tolong diatur. Putri saya hampir melahirkan, tetapi dia tidak bisa melahirkan di rumah sakit. Saya butuh orang yang bisa dipercaya untuk menangani ini. Yah, kamu siapkan saja rumah itu. Dan tolong, jemput saya 1 jam lagi di rumah putra saya."


Maria kembali duduk di ranjang Elin. Wajah Elin masih sembab dan merah, tetapi ia tak lagi menangis. "Kamu bersiap, Mama tungguin. Kita nggak akan pergi begitu jauh."


"Bisa aku melahirkan ditemani Kakak?" tanya Elin.


Maria menggeleng. "Nggak. Ada Mama, kamu tenang saja."


Elin menggigit bibirnya. "Kalau gitu, biarin aku ngobrol sama Kakak buat terakhir kalinya."


"Nggak perlu, El. Kamu hanya harus segera pergi dari kehidupan putra Mama."


Dengan limbung, Elin pun mulai memasukan beberapa bajunya ke dalam tas. Laptop dan perekam suara dari Ariel juga masuk ke sana, lalu ponsel dan beberapa bukunya juga.


Elin tak tahu berapa lama ia bersiap, tetapi tak lama pintu kamar terbuka dari luar. Ia sempat mengira itu Ariel, tetapi yang ia lihat adalah pria setengah baya. Pria itu mengambil tasnya lalu bicara dengan Maria secara singkat dan berlalu.


Apa yang ia harapkan? Pikir Elin dalam hati. Ia sungguh berharap Ariel akan datang dan berkata tak ingin melihatnya dibawa sang ibu. Sayang sekali, hingga ia menuruni anak tangga, ia tak melihat sosok Ariel. Elin menunduk, air matanya jatuh kembali.


"Elin!"


Elin terkesiap ketika dari anak tangga Ariel berlari. Ia hampir menyongsong Ariel jika saja Maria tidak berdiri di depan tubuh Elin.


"Kakak," panggil Elin seraya meremas jemarinya.

__ADS_1


"El ... maaf," kata Ariel.


Elin menggeleng. Bukan itu yang ia ingin dengar. Ia ingin Ariel menahannya. Namun, dari anak tangga ia bisa melihat Sinta yang tersenyum penuh kemenangan. Rupanya benar, Ariel tak menginginkan dirinya. Ariel ingin ia pergi dan Ariel hanya ingin bayinya. Hati Elin seketika remuk.


"Mama kabari kalau bayi kamu sudah lahir," kata Maria pada Ariel. Ia menoleh pada Elin yang tak memiliki rona lagi di wajahnya. "Ayo, El."


"Tunggu!" Ariel kembali mendekat. Ia menunduk sejenak lalu mengangkat wajah dengan air mata menggenang. "Aku mau ngomong dulu sama Elin, Ma."


"Nggak perlu. Udah malam, Elin harus istirahat," kata Maria seraya menarik lengan Elin.


"Ma, tunggu!" Ariel mendekat lagi. Ia mengambil tangan Elin kali ini. "Aku harap ... kamu bisa memaafkan aku. Aku ... aku sungguh-sungguh cinta sama kamu."


"Kak ...." Elin kehabisan kata-kata. Entah ucapan Ariel benar atau tidak, itu sama saja menyakitkan baginya. Elin menatap wajah Ariel yang diselimuti mendung. "Aku bakal melahirkan bayi ini dan pergi."


"El ... jika kita dilahirkan kembali, aku ingin bisa bersama kamu," kata Ariel. Ia menyedot hidungnya keras-keras karena tangis mendera. Ia sungguh ingin memeluk tubuh Elin, sayangnya Maria lebih dulu menarik lengan Elin kembali.


"Aku cinta kamu!" teriak Ariel frustasi.


Ariel menyusul ke teras, tetapi rupanya beberapa orang menunggu. Tubuh Ariel ditahan oleh mereka agar tak mendekati Elin lagi. Ariel harus mengakui persiapan ibunya sangat matang. Ia tak berkutik karena pria-pria itu begitu kuat dan tak memberinya akses untuk mendekati Elin.


"Elin! Tunggu!" teriak Ariel.


Ariel menyaksikan Elin masuk ke mobil dan tak lama, mobil itu berlalu dengan cepat. Tubuhnya tersentak ke lantai teras yang dingin. Pria-pria itu pergi dengan mobil mereka tanpa peduli Ariel yang hendak menyusul.


"Mas! Kamu jangan kayak gini," panggil Sinta. Ia menarik lengan Ariel ketika pria itu mencoba masuk ke mobil. "Ini yang terbaik untuk kita, Mas. Ini ... ini juga yang terbaik untuk Elin."


"Aku menyakiti Elin!" seru Ariel. Ia meraba dadanya yang pedih.

__ADS_1


"Kamu masih punya aku, Mas." Sinta memeluk tubuh Ariel hingga pria itu menangis di sana. Ia akan membiarkan Ariel menangisi Elin untuk hari ini, tetapi mulai besok, ia akan menguasai hati dan tubuh Ariel lagi, pikir Sinta dalam hati. "Kita bisa bahagia, Mas. Kamu, aku dan bayi kita. Tinggal menghitung hari."


__ADS_2