
Sinta terbangun dengan mata sembab pagi itu. Ia cukup kaget ketika tiba-tiba Ariel memeluknya di tempat tidur waktu tengah malam. Ia tidak bertanya apapun pada suaminya karena ia sudah sangat sedih dengan malam pertama yang harus dilalui oleh Ariel.
"Mas, aku udah siapin baju," kata Sinta ketika Ariel keluar dari kamar mandi dan membuka lemarinya.
"Oh, ya. Makasih, Sayang," ujar Ariel seraya menerima kemeja putih yang diulurkan oleh Sinta.
Sinta memperhatikan Ariel berpakaian hingga ia bisa melihat bekas cakaran di punggung lebar Ariel. Seketika jantungnya berdebar lebih keras, Ariel dan Elin pasti sudah melakukan itu, pikirnya. Sinta mencoba tersenyum ketika ia memakaikan dasi Ariel seperti biasanya.
"Aku minta maaf, Sayang," ujar Ariel seraya mengusap wajah Sinta.
"Kamu nggak usah minta maaf, Mas. Aku tahu ini semua hanya kesepakatan," kata Sinta setegar mungkin. "Kita berharap aja agar rencana ini segera membuahkan hasil."
Ariel mengangguk. Ia tak tahu berapa kali ia harus meniduri Elin, apakah sekali saja cukup? Ariel sudah merasa sangat tak enak pada Sinta karena ia membagi malam dan tubuhnya dengan wanita lain. Namun, ia juga bersalah pada Elin yang telah mempersembahkan keperawanan untuknya. Elin mungkin saja bisa menemukan pria lain yang jauh lebih baik darinya. Sekarang, ia jadi merasa bersalah jika ia mengingat apa yang semalam ia lakukan.
"Mas, kamu ngelamun?" tanya Sinta.
"Nggak kok," jawab Ariel. "Aku mau ngecek berkas-berkas dulu buat ke kantor. Kamu ... kamu bikinin aku kopi ya."
"Oke. Aku sekalian panggang roti," ujar Sinta.
Sinta meninggalkan kamarnya dan hendak menyiapkan sarapan. Di lantai bawah, Elin sudah duduk di meja makan dengan tangan memeluk secangkir teh hangat kesukaannya. Mereka bertemu tatap dan Sinta melemparkan senyum.
"Pagi, El. Kamu mruput banget sarapannya. Aku baru mau manggang roti," kata Sinta.
"Iya, Mbak. Aku cuma mau ngeteh. Aku sarapan di kantor aja," kata Elin.
"Lho, bukannya kamu libur," ujar Sinta yang kemarin sempat mendengar bahwa Elin meminta izin pada Galang melalui telepon.
"Nggak jadi, Mbak. Aku masih ada proyek penting. Ini mau aku bawa ke kantor biar dikurasi sama Pak Galang." Elin berdiri ketika tehnya sudah habis. Ia mengikuti langkah Sinta ke dapur dan memperhatikan bagaimana Sinta menyiapkan sarapan untuk Ariel.
Elin membasahi bibirnya, sekarang ia juga adalah istri Ariel. Namun, ia tidak tahu bagaimana bersikap karena Sinta sudah menangani semua termasuk sarapan dan kopi Ariel. Yah, ia tidak perlu melakukan itu karena ia menikah bukan untuk memainkan peran sebagai seorang istri.
"Kamu nggak resign aja?" tanya Sinta ketika ia menarik keluar roti dari panggangan.
"Nggak, Mbak. Nanti aja kalau aku udah kelar sama tulisan terakhir aku," jawab Elin. Elin membilas cangkir yang ia gunakan untuk minum teh dan meletakkannya di rak.
"Pagi, Sayang!"
Elin mengelap tangannya cepat-cepat ketika melihat kedatangan Ariel di dapur. Seperti biasa, Ariel memberikan kecupan di pipi Sinta dan merangkulnya mesra. Ariel tidak menatap Elin sedikitpun hingga Elin merasakan nyeri di hatinya. Buru-buru, Elin mengambil tasnya yang ada di atas meja makan.
__ADS_1
"Mbak, Kak, aku pergi dulu," ujar Elin.
"Oke."
Elin mendengar suara Ariel dan Sinta. Dengan langkah cepat, Elin pun meninggalkan rumah. Ia menekan tombol order pada aplikasi ojek online di ponselnya lalu berdiri di dekat gerbang rumah Ariel. Ia berharap setengah mati agar ojek online pesanannya segera datang. Beruntung, suara motor tiba-tiba terdengar, Elin pun naik ke boncengan.
Sepanjang perjalanan Elin mencoba menepis rasa cemburunya ketika melihat kemesraan pagi Ariel dengan Sinta. Ia sudah sering melihat adegan itu, tetapi rasanya setelah ia resmi menjadi istri Ariel, ia merasa lebih sakit hati. Ia juga mendapatkan ciuman dan kecupan Ariel semalam, mereka bahkan melakukan penyatuan intim, tetapi mengingat itu justru membuat Elin merasa benar-benar terluka karena Ariel mengabaikannya tadi.
Elin mengusap wajahnya yang basah tiba-tiba. Ia meyakinkan dirinya, ia bisa melewati ini. Hanya setahun atau mungkin lebih cepat jika ia segera hamil. Itu tidak lama!
***
"Saya udah baca naskah kamu," ujar Galang ketika ia memanggil Elin di kantornya. "Ini bagus, seperti yang saya bilang sebelumnya. Naskah kamu berpotensi. Tapi adegan awal mungkin harus kamu revisi supaya alur pertemuan Surya dan Citra lebih cepat. Jadi penyampaian ke penonton bisa langsung greget."
Elin mengangguk pelan mendengar Galang me-review naskahnya. Ia sudah mengirimkan naskah itu pagi-pagi sekali sebelum sarapan melalui email. Seperti biasa, Galang langsung membacanya dengan cepat.
"Cuma, adegan nomor 29 sama 34 itu menurut saya kurang relevan. Jadi saran saya adegan itu bisa diganti. Coba kamu baca ulang adegan selanjutnya atau kamu bisa memikirkan ide yang lain," ujar Galang menyelesaikan review-nya.
"Makasih, Pak. Saya masih banyak kekurangan," ujar Elin.
"Nggak kok, cuma dikit aja yang kurang. Kamu cepat selesaikan, siapa tahu beberapa bulan lagi kita bisa menggarap filmnya bersama." Galang mengangguk yakin pada Elin yang hanya membeku di tempatnya. "Kenapa? Kamu nggak yakin dengan kemampuan kamu?"
"Ya udah, kita makan siang bareng ya. Yang dulu itu kamu kan nggak ikut," ujar Galang seraya melirik jam di lengannya.
"Oke." Elin mengangguk setuju. "Saya juga udah laper."
Galang tersenyum. Ia mengedikkan dagunya ke arah pintu lalu keluar lebih dulu. Elin berjalan di belakangnya dengan sedikit bingung karena tak ada seorang pun dari timnya yang ikut berdiri atau bergabung atau diajak oleh Galang.
"Semoga sukses ya, Pak!"
Elin mendengar Mirna berucap pada Galang seraya mengacungkan kepalan tangannya. Sontak, Elin pun mendekat ke meja Mirna.
"Kalian nggak ikut makan siang bareng Pak Galang?" tanya Elin.
"Nggak. Kayaknya Pak Galang mau berdua aja sama kamu," ujar Mirna.
Elin mengerutkan kening. "Apaan sih. Serius deh. Aku nggak enak lah makan berdua aja. Itu tadi kenapa kamu ngasih semangat pula sama Pak Galang?"
"Kepo! Udah sana ditungguin itu." Mirna mendorong bahu Elin agar ia segera menyusul Galang.
__ADS_1
Mau tak mau, Elin pun berlari ke arah Galang. "Aku kira kita bakal makan siang bareng-bareng, Pak."
"Nggak kok, tapi kita nggak cuma berdua. Kamu tenang aja," kata Galang.
Elin mempercepat langkah untuk menyamai Galang. "Emang mau makan sama siapa, Pak?"
"Nanti kamu juga tahu. Saya mau kenalin kamu sama seseorang. Orang yang penting!"
Elin membelalak sempurna. Ia sontak merapikan rambut dan pakaiannya karena ia khawatir jika Galang akan mempertemukannya dengan editor sebuah penerbit mayor. Galang pernah berkata padanya bahwa ia juga memiliki peluang agar bisa menerbitkan bukunya. Selain menulis naskah film, sesekali Elin juga menulis novel.
Dengan mobil, Galang pun membawa Elin ke sebuah restoran. Ia langsung mengajak masuk Elin begitu mereka turun. "Ayo, kita udah ditungguin."
"Sama siapa sih, Mas?" tanya Elin. Seperti permintaan Galang, ketika ia berduaan saja ia akan memanggil Galang demikian.
"Nanti juga tahu."
Elin dan Galang disambut oleh pelayan di pintu masuk lalu Galang berkata bahwa ia sudah janjian dengan seseorang. Jadi mereka pun langsung naik ke lantai dua yang lebih sepi daripada lantai satu.
"Galang!" panggil seorang wanita yang berdiri dari duduknya. Wanita itu melambaikan tangan pada Galang, tetapi kedua matanya terpaku pada Elin sejak tadi.
"Itu mama saya," ujar Galang pada Elin ketika mereka sudah cukup dekat dengan meja si wanita.
"Apa?" tanya Elin kaget. Ia menghentikan langkah karena ia tak mengerti kenapa ia harus bertemu dengan ibu dari Galang.
"Ayo, saya kenalin sama mama saya," kata Galang. Ia menarik lembut tangan Elin. "Nggak papa."
Elin tak punya pilihan, apalagi Galang menggandeng tangannya erat-erat. Elin mencoba tersenyum pada ibu Galang, meskipun ia masih belum bisa mencerna situasi.
"Maaf telat, Ma. Agak macet tadi," ujar Galang pada ibunya.
"Halo, Tante," ujar Elin memberi salam pada ibu Galang.
"Jadi ini cewek yang sering kamu ceritakan, Lang?" tanya ibu Galang. Ia tak berhenti tersenyum pada Elin yang duduk dengan canggung di sebelah Galang.
"Apa? Mas Galang cerita apa emangnya, Tante?" tanya Elin kaget.
"Mama ini, kenalan dulu deh," ujar Galang seraya menuangkan air putih ke gelas Elin. "Ini mama saya, namanya Dewi. Dan ini Elin, Ma. Bener, dia cewek yang sering aku ceritain ke Mama."
Elin membuang napas panjang. Rasanya semua ini tidak benar, pikirnya.
__ADS_1
"Ehm, gitu. Cantik kok. Mama suka," komentar Dewi tanpa melepas senyuman. Ia merapatkan tubuhnya ke meja hingga bisa melihat lebih dekat Elin. Merasa ditatap lebih lekat, Elin pun me jadi dua kali lebih berdebar. "Jadi, kapan kalian bakal membina hubungan yang serius?"