
"Oke, kita di sini dulu," kata Ariel seraya mendekap tubuh Elin lebih erat. "Kamu istirahat dulu, aku temenin."
"Aku takut," gumam Elin. Ia membalas pelukan Ariel dengan jantung berdebar tak keruan.
"Takut apa?"
"Kalau kita kayak gini terus, aku nggak bakal bisa lepasin Kakak," ujar Elin.
Ariel melepaskan pelukan, tetapi ia langsung menangkup wajah Elin. "Kamu tahu, kamu masih muda, kamu cantik, baik dan pinter. Kamu bisa dapat pria lain yang jauh lebih baik daripada aku. Kamu juga tahu, aku pria jahat yang berengsek karena mau ambil keuntungan dari kamu. Kamu bisa benci sama aku setelah perjanjian kita berakhir."
Elin tidak merespon ucapan Ariel. Ia kembali meringkuk dan menenggelamkan kepalanya di dada hangat Ariel. Ia tak ingin melepaskan Ariel untuk saat ini. Ia hanya takut akan menjadi semakin serakah, padahal Ariel sama sekali tidak mengharapkan dirinya.
Ariel mengusap punggung Elin berkali-kali hingga gadis itu bernapas lebih tenang. Ariel sadar apa yang ia lakukan hanya akan menyakiti Elin, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia sudah terlanjur melakukannya dan ia tak bisa berhenti. 5 bulan lagi, ia akan berusaha untuk membuat Elin bahagia sebelum Elin benar-benar pergi.
***
"Kenapa Elin masuk ke kamar yang sama dengan Mas Ariel?" gumam Galang. Ia tidak sengaja melihat kedatangan Elin dengan Ariel di Motel Mawar Putih. Karena kedua kliennya kebetulan menginap di sana juga, ia pun turut menginap di sana sejak semalam.
Galang sudah cukup curiga dengan Elin sejak gadis itu berkata ia datang ke Pulau Nareswari dengan suaminya. Namun, tak sekalipun Galang melihat Elin dengan seorang pria kecuali Ariel. Dan itu rasanya agak janggal bagi Galang. Ia berdiri agak lama di sebelah anak tangga di dekat kamar Elin. Ia menunggu beberapa menit untuk melihat Ariel keluar, dan nyatanya Ariel tidak keluar hingga hampir 1 jam.
"Nggak mungkin mereka 1 kamar," ujar Galang. Ia tahu persis Motel Mawar Putih di lantai ini memiliki ruang dengan 1 bed. Lagipula Ariel datang dengan istrinya. Kenapa malah berlama-lama di kamar Elin?
"Apa yang aku pikirin," gumam Galang. Ia merasa bodoh. Ia tahu Elin dan Ariel adalah saudara. Apa yang ia pikirkan sangat tidak masuk akal apalagi ini masih siang. Bisa saja mereka hanya mengobrol di dalam atau makan bersama. Mungkin juga ada istri Ariel dan suami Elin di dalam sana.
Padahal di kamarnya, Elin dan Ariel sedang tidur siang dengan posisi berpelukan.
Galang pun memutuskan untuk meninggalkan tempatnya mengintai lalu naik ke lantai atas. Ia tak ingin memikirkan Elin meskipun ia merasa sedikit tidak nyaman. Itu bukan urusannya, ia mengingatkan diri.
***
Elin menghabiskan siang itu dengan menulis sementara Ariel mengurus pekerjaannya. Mereka tidak membicarakan masa depan lagi dan Ariel juga tidak membujuk Elin untuk pulang. Masih ada sisa waktu semalam untuk mereka tinggal di kamar ini.
__ADS_1
"Kamu mau makan di luar atau di kamar aja?" tanya Ariel sore itu. Ia baru saja mandi sementara Elin menyusun baju-bajunya yang baru saja kembali dari laundry motel.
"Di sini aja, kalau di luar takut ketemu Pak Galang," jawab Elin.
"Oke. Aku carikan yang seger-seger ya. Kamu mau jajanan juga?"
"Ehm kalau ada pempek aku mau," kata Elin.
"Nanti aku keliling, siapa tahu ada," ujar Ariel. Ia hampir mencapai daun pintu, tetapi kembali menatap Elin. "Kamu berkemas?" tanyanya.
"Cuma rapi-rapi aja," jawab Elin yang sadar, ia sudah memasukkan banyak hal ke dalam tasnya. Padahal tadinya ia tak ingin pulang.
Ariel pun segera meninggalkan kamar Elin. Tanpa sadar, ia masih diamati oleh Galang. Tadinya Galang tidak berniat untuk mengintai lagi, tetapi ia tak bisa tenang. Jadilah ia duduk di balkon motel sembari memeriksa email dan melihat kamar Elin dari sana. Ia sangat tercengang karena Ariel keluar sendiri dari kamar itu.
"Apa yang terjadi dengan Elin?"
***
Elin teringat, ia belum mengecek semua pesan masuk di ponselnya sejak beberapa hari yang lalu. Elin baru sadar ada banyak pesan masuk yang dikirimkan oleh Ariel kepadanya. Bahkan ada beberapa pesan suara yang belum ia dengarkan. Mulai mendengar satu persatu pesan yang dikirimkan oleh Ariel.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ariel.
"Oh, enggak Aku mau bersiap tidur aja." Elin menjawab dengan gugup karena beberapa pesan yang dikirimkan oleh Ariel ternyata cukup membuatnya tersentuh. Selama ini ternyata Ariel begitu kebingungan mencarinya.
"Ya udah, ayo kita tidur."
Mendengar ucapan itu, Elin merasa lebih gugup lagi. Ariel bahkan sudah bersiap dengan merentangkan lengan kanannya untuk ia jadikan bantal seperti tadi malam. Apakah mereka hanya akan tidur atau ....?
Elin mengerjap pelan karena otaknya benar-benar kotor saat ini. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri karena berdua saja dengan Ariel begitu menggelisahkan. Apakah itu karena hasrat terpendamnya selama ini atau karena hormon kehamilannya? Elin tak tahu.
"Kakak tidur duluan aja," ujar Elin.
__ADS_1
"Ke sini, kita tidur bareng. Ini udah malem banget," kata Ariel seraya menepuk sisi bantal yang kosong di sebelah kepalanya.
"Ehm." Elin bergumam pelan seraya meletakkan ponselnya di atas nakas.
Elin pun duduk di tepi ranjang lalu membaringkan dirinya di sebelah Ariel. Berbeda dengan siang tadi ketika mereka tidur bersama, kali ini dengan lampu temaram dan suara deburan ombak di kejauhan, Elin menjadi dua kali lebih gelisah. Apalagi ketika Ariel mulai menjamah tubuhnya. Pertama perutnya.
"Apa dia bergerak lagi?" tanya Ariel.
"Nggak, aku nggak kerasa apa-apa," jawab Elin. Ia merasakan Ariel menyibak baju tidurnya lalu mendaratkan telapak tangan di perutnya yang datar. Ia melihat Ariel tersenyum lebar.
"Aku nggak sabar buat ngerasain dia nendang," ujar Ariel. Ia menegakkan dirinya lalu menggeser posisinya agar ia bisa mencium perut Elin. Tentu saja, ia mencium perut polos Elin.
Elin menggelinjang karena ulah Ariel. Padahal, Ariel hanya berniat untuk membuat koneksi dengan bayinya, tetapi bagi Elin itu adalah hal yang luar biasa. Ia merasakan sentuhan lembut, Ariel juga berbisik di perutnya lalu mendaratkan kecupan dan meletakkan telinganya di sana seolah hendak mendengar sesuatu.
Elin tersenyum tipis. Ia mengusap pelan rambut Ariel dan jemarinya lenyap di balik lebatnya rambut sang suami. Ariel menengadah padanya dan tersenyum. Kali ini ciuman Ariel berubah liar karena Ariel tak hanya menciumi perutnya, tetapi juga pahanya yang entah sejak kapan tak tertutup apapun lagi.
"El, ayo kita pulang besok pagi," bisik Ariel. "Aku janji aku bakal manjain kamu dan memperlakukan kamu sebagai istri aku."
Elin menatap Ariel resah. Ia tak ingin pulang, jika ia ingin berduaan dengan Ariel, tentu saja itu bukan di rumah Ariel dan Sinta.
"Kamu juga nggak perlu pergi setelah bayinya lahir," kata Ariel lagi.
Sungguh godaan, pikir Elin dalam hati. Bisakah itu terjadi? Bisakah ia tetap tinggal di sisi Ariel? Elin tak bisa berpikir jernih karena serangan demi serangan yang diberikan oleh lidah Ariel di bawah sana. Ia ingin lebih, ia tak ingin Ariel berhenti menyerangnya. Namun, kenapa rasanya ia seperti gadis murahan yang hanya menginginkan ini jika ia memilih tetap tinggal?
"El, aku tahu kamu menginginkan aku," bisik Ariel lagi. "Aku janji bakal kasih kamu lebih jika kamu mau pulang."
Elin mend esah ketika ia mencapai puncak hanya dengan serangan lidah dan bibir Ariel. Namun, ia ingin lagi. Ia punya waktu 5 bulan untuk menikmati ini. Bahkan mungkin lebih, jika Ariel ingin ia tinggal lebih lama. Ariel mungkin juga akan mencintainya suatu hari nanti.
"Kita pulang besok pagi?" tanya Ariel ketika ia mengungkung tubuh Elin dan bersiap melakukan penyatuan.
Elin mengangguk. Ia tak tahu, apakah ia menyetujui kepulangan mereka atau penyatuan mereka yang sebentar lagi dilakukan Ariel. Namun, ia membutuhkan keduanya. Ia menarik tengkuk Ariel dan menikmati ciuman panas itu sementara Ariel menerobos masuk tubuhnya.
__ADS_1
"Aku sayang Kakak," bisik Elin di sela-sela des ahannya.