
"Ya, aku cariin kamu di kamar." Sinta sudah menatap Ariel sejak tadi, bagaimana suaminya itu begitu dekat dengan Elin. Bahkan, Ariel sedang menyentuh atau meraba perut Elin. Dan posisi mereka cukup intim. Sinta tak tahu apa yang sudah dilakukan Ariel dengan Elin barusan, atau apa yang hendak mereka lakukan jika ia tidak muncul.
Yang jelas, Sinta merasa begitu cemburu. Apalagi, Ariel buru-buru menarik tangannya dari perut Elin lalu berdiri. Seolah, ia baru ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
"Maaf, aku nggak bisa tidur," jawab Ariel. Ia mendekati Sinta dan merangkulnya. "Kamu haus? Laper?"
"Nggak, aku cuma nyariin kamu aja. Ternyata lagi di sini," ujar Sinta ketus. Ia menatap Elin dingin. "Kamu juga nggak bisa tidur, El?"
"Aku laper makanya kebangun terus aku nyari makanan," jawab Elin.
Sinta mengangguk. "Ya udah, Mas. Kita balik ke kamar sekarang yuk."
"Oke." Ariel menatap Elin sekilas. Ia masih agak kaget karena sentuhan Elin di pipinya. Ia jelas melihat sorot mata Elin yang dipenuhi oleh gairah beberapa saat yang lalu ketika mereka bertatapan. Elin bahkan hampir mencium bibirnya! Ariel menggeleng pelan, tidak mungkin, batinnya. Ia mungkin sudah salah mengira. Elin tak mungkin memiliki hasrat dengannya.
"Ayo," ajak Sinta lagi. Pikiran Sinta semakin tidak keruan karena ia kembali mendapati Ariel mencuri tatap ke arah Elin.
"Iya, Sayang." Ariel pun mengeratkan rangkulannya di bahu Sinta lantas berjalan ke arah anak tangga. Ia lupa, ia tak ingin Sinta salah paham dengannya karena sedang berduaan di ruang makan bersama Elin.
Namun sayang, Sinta memang sudah terlanjur salah paham dengannya. "Berapa lama kamu berduaan sama Elin di bawah, Mas?" tanya Sinta begitu mereka masuk kamar. Sinta menutup pintu rapat-rapat.
"Aku cuma bentar. Tadi Elin laper jadi aku bikinin susu terus aku temenin dia minum," jawab Ariel. "Kenapa? Kamu cemburu?"
"Kamu masih tanya?" Sinta bersedekap lalu duduk di tepi ranjang.
"Ya ampun, Sayang. Kamu jangan kayak gini. Aku minta maaf. Tapi kamu jangan salah paham. Aku cuma nemenin Elin sebentar, dia susah makan dan minum, jadi aku khawatir sama bayinya."
"Tapi kamu pegang-pegang dia, Mas!" hardik Sinta tak terima. Sebenarnya ia sudah kesal sejak sore tadi ketika Ariel dan Elin pulang bekerja. Ia ingat bagaimana Ariel merangkul Elin erat-erat.
"Aku cuma pegang perut Elin, aku mau sentuh bayi kita, Sayang. Bagaimanapun, kita juga harus membangun bonding dengan bayi itu," kata Ariel mengingatkan. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Sinta lalu mencium pipinya. "Jangan marah-marah begini. Oke?"
"Aku kesel. Kenapa Elin pegang wajah kamu, Mas?" tanya Sinta dengan tampang memerah. "Kalian abis ciuman?"
"Jangan sembarangan kamu, Sayang. Aku nggak ngapa-ngapain sama Elin. Aku cuma pegang perutnya sebentar. Aku nggak mungkin ngelakuin hal aneh sama Elin, kamu tahu sendiri kita memiliki perjanjian."
"Tapi dia juga istri kamu, Mas," kata Sinta pedih. Napasnya naik turun tak keruan. Ia sangat marah dan cemburu malam ini.
"Kamu istri aku yang sesungguhnya, cuma kamu," ujar Ariel meyakinkan. Ia menggenggam tangan Sinta yang kaku. "Jangan marah lagi. Aku janji nggak bakal berduaan lagi sama Elin kayak gitu kalau kamu nggak suka."
__ADS_1
"Serius?" tanya Sinta.
Ariel mengangguk. "Tentu. Tapi kamu jangan marah lagi. Oke?"
Sinta tersenyum sekarang. Ia agak lega. Dengan manja, ia menyandarkan kepalanya di dada Ariel lantas memeluk tubuh hangat tersebut. "Aku udah relain kamu membagi tubuh kamu untuk menghamili Elin, Mas. Tapi aku nggak rela kalau kamu membagi hati kamu juga."
Ariel mengusap punggung Sinta dengan lembut. "Nggak bakal dong. Aku cuma cinta sama kamu." Ariel melepaskan pelukan lalu mendaratkan ciuman di bibir Sinta. "Hari Minggu kita jalan-jalan ke rumah lama yuk. Berdua aja."
"Beneran, Mas? Nggak papa kita ninggalin Elin di rumah?" tanya Sinta antusias.
"Nggak, nanti kita minta tolong Budhe Sarti buat jaga rumah sama Elin."
Ariel mengusap punggung Sinta sekali lagi, ia tak ingin istri pertamanya cemburu. Dengan lembut, ia kembali mencium bibir Sinta, kali ini dengan ciuman yang lebih panas. Ia mendorong pelan tubuh Sinta lalu menindihnya dengan hati-hati. Ia menumpu berat tubuhnya pada kedua siku yang terlipat.
"Mas, kamu mau lagi? Tadi kan udah," bisik Sinta ketika Ariel menjeda ciumannya.
Ariel mengangguk pelan. "Aku nggak bakal pernah bosan sama kamu." Dan ia kembali menyerang tubuh Sinta. Ia tak ingin membuang kesempatan dan segera melampiaskan hasratnya pada Sinta malam itu.
***
Keesokan harinya, seperti biasa Sinta menyiapkan sarapan untuk Ariel dan Elin. Hari ini ia membuat nasi goreng kesukaan Ariel, tetapi ia agak ragu akankah Elin mau makan. Elin terlihat semakin tidak bernafsu makan sejak kemarin. Jadi, ia juga menyiapkan jus buah dan roti untuk Elin.
Sinta menoleh senang. Ia membalas pelukan Ariel dengan penuh semangat. "Pagi, kamu mau jus juga nggak? Aku baru bikinin buat Elin."
"Boleh." Ariel menatap meja makan yang masih kosong. "Elin belum turun ya?"
"Belum tuh. Mungkin males-malesan," jawab Sinta.
Ariel yang teringat akan tatapan Elin semalam hanya mengangguk pelan. Ia agak gelisah lantaran ia tak ingin Elin memiliki perasaan lebih padanya. Ia menggeleng pelan karena yakin ia sudah salah paham, Elin mungkin terlihat seperti itu hanya karena hormon kehamilannya.
"Aku panggil Elin dulu," kata Ariel seraya meletakkan tasnya di meja makan.
"Jangan, Mas," cegah Sinta. Setelah semalam melihat Ariel dan Elin berduaan, rasanya ia tidak begitu rela jika Ariel mendatangi kamar Elin. "Aku aja yang panggil ya."
"Oh, oke." Ariel memutuskan untuk duduk dan meneguk jus buatan Sinta. Ia membuang napas panjang, ia masih merasakan kecemburuan Sinta pada Elin.
Sementara itu Sinta baru saja mengetuk pintu kamar Elin, tetapi tak ada jawaban. Jadi, ia segera masuk. Ia mengedarkan mata karena tak menemukan Elin di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Elin," panggilnya. Ia tidak mendengar Elin menjawab, tetapi ia mendengar suara orang yang sedang muntah-muntah. Segera, Sinta membuka pintu toilet. "Ya ampun. Kamu nggak papa?"
Elin menggeleng pelan. Ia baru terduduk di lantai dengan kepala menghadap kloset. Beberapa kali ia memuntahkan cairan di sana. Sinta dengan cemas memijat tengkuk Elin.
"Aku lemes banget, Mbak. Kayaknya aku nggak kerja hari ini," ucap Elin. Ia menyiram kloset lalu berdiri dengan limbung. Dengan dibantu Sinta, ia pun mencuci wajahnya di wastafel. "Nanti aku izin aja."
"Iya, kamu lemes gini. Kasian. Ayo duduk di ranjang," kata Sinta.
Elin terlihat masih mual, tetapi ia menurut. Ia menahan kepalanya yang pusing sembari berjalan. Sinta membantunya duduk dengan bersandar di bantal lalu ia mengambilkan segelas air putih.
"Minum dulu biar mualnya ilang," kata Sinta.
Elin menggeleng. "Air putih aja aku mual, Mbak."
"Tapi kamu harus minum. Nanti aku ambilin jus, oke?"
Elin mengangguk malas. Ia meneguk sedikit air yang diambilkan oleh Sinta. "Orang hamil gini amat. Mbak dulu juga nyampe lemes gini? Rasanya kayak meriang aku."
"Dulu aku cuma mual-mual, nggak muntah parah," jawab Sinta. Ia merapikan selimut Elin. "Nanti aku bawain sarapan kamu ke sini ya. Kamu nggak kerja kan? Biar aku bilang sama Mas Ariel."
"Kakak di mana?" tanya Elin. Ia berharap bisa melihat Ariel sejenak pagi itu. Apalagi ia sedang selemas ini, mungkin melihat Ariel bisa membuatnya lebih bersemangat.
"Kakak kamu sedang sarapan," jawab Sinta seraya mengusap lengan Elin. "Aku turun dulu ya."
Dengan cepat, Sinta menuruni anak tangga. Ia duduk di sebelah Ariel yang sudah mulai makan nasi goreng buatannya. "Elin nggak enak badan. Dia mau izin hari ini."
Kedua mata Ariel membola. Ia tampak begitu khawatir sekarang. "Dia kenapa? Apa muntah parah?"
"Nggak kok. Kamu tenang aja. Kan wajar hamil muda begitu," jawab Sinta. Ia tak ingin suaminya terlalu mengkhawatirkan Elin.
"Syukur deh. Tapi kenapa dia nggak turun buat sarapan?"
"Nanti aku bawain sarapan Elin ke kamar kalau kamu udah berangkat kerja," kata Sinta meyakinkan.
Ariel mengangguk dengan senyuman di wajahnya. Ia merasa beruntung karena Sinta mau mengurus Elin. Mungkin, Sinta menganggap Elin hanya sebagai adik iparnya saja bukan sebagai seorang madu.
"Ya udah, aku kerja dulu. Kamu jagain Elin ya," ujar Ariel ketika ia selesai sarapan. Ia mencium bibir Sinta lalu meninggalkan rumah.
__ADS_1
Sinta menatap kepergian Ariel lalu membuang napas panjang. "Kenapa Mas Ariel segitu cemas sama Elin sih? Aku nggak suka dia perhatian banget sama Elin!"