Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
79. Sinta dan Miko


__ADS_3

"Deket gimana? Mereka cuma kenal biasa kok." Ariel menatap Elin bingung.


"Ehm, gitu ya. Aku cuma pernah liat Mbak Sinta ngobrol di bawah sama Mas Miko. Kalau sama penjaga yang lain jarang. Nggak pernah kayaknya, jadi aku penasaran apa mereka temenan?"


"Ah, kayaknya mereka emang seumuran. Tapi nggak seakrab itu deh kalau dibilang teman. Kalau yang lain kan udah lebih berumur orang aku," kata Ariel. Sinta sudah pernah bercerita padanya bahwa ia sering mengobrol dengan Miko, dan baginya itu bukan masalah.


Elin hanya mengangguk. Padahal ia agak curiga karena kedekatan Sinta dengan Miko yang menurutnya tak biasa. Sinta bahkan sering menyiapkan sarapan untuk Miko. Itu agak aneh saja. Namun, ia tak ingin membuat Ariel resah. Barangkali memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Ariel. Mereka tidak sedekat itu.


***


Sementara itu, Miko yang baru saja melepas kepergian Ariel dan Elin pun tersenyum miring. "Berarti nanti Sinta sendirian di rumah," gumamnya.


Miko pun kembali ke mobilnya, ia mengambil satu plastik klip kecil berisi beberapa butir obat lalu mengantonginya. Tak lama, ia pun menjumpai Seto dan Marcus yang berjaga di belakang.


"Oy! Pagi bener!" seru Marcus.


Mereka bersalaman. "Iya, Damar nggak masuk. Kalian udah mau cabut kan?"


"Udah dong," tukas Seto. "Ini kan hari libur, mau pulang jenguk istri deh."


"Ya udah sono. Tenang aja, ada aku yang handle rumah ini," kata Miko dengan nada penuh percaya diri.


"Siap, Man!"


Begitu kedua orang itu berlalu, Miko pun tersenyum semakin lebar. Ia mengirim pesan singkat pada Sinta karena kini mereka sudah sering bertukar pesan dengan Sinta.


Miko: Aku udah datang, Sin. Kamu sendiri di rumah ya?


Di dapur, Sinta baru saja meneguk teh buatannya. Ia tersenyum ketika membaca pesan dari Miko. Ia tidak membalas, tetapi segera berlari ke pintu depan.


"Hei! Kamu tumben datang sepagi ini," kata Sinta pada Miko.


"Damar nggak masuk. Mas Seto sama Marcus udah pamit pulang," tukas Miko.


"Oh, kamu mau nemenin aku ngeteh nggak?" tanya Sinta.


"Boleh." Miko melongok ke pintu depan. "Nggak ada orang?" tanyanya berpura-pura.

__ADS_1


"Nggak ada. Aku sendiri makanya ngajak kamu ngeteh bareng. Masuk aja," kata Sinta dengan nada santai.


"Oke."


Miko pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Ia sudah pernah diajak Sinta masuk sekali, tetapi mereka lebih sering berduaan di teras untuk sarapan atau sekadar mengopi bersama.


Sinta datang dengan dua gelas teh, ia meletakkannya di meja lalu kembali berdiri. "Aku mau angkat kue dulu dari oven. Tadi aku bikin kue, itu udah teriak aja ovennya."


"Santai aja. Mau dikirim kuenya?" tanya Miko. Biasanya jika Sinta menerima pesanan, Miko lah yang akan mengantarkannya ke pelanggan. Atau mengurus pertemuan dengan kurir di depan gerbang.


"Nggak kok, dimakan sendiri. Nanti kalau dingin bisa kita cicipi," kata Sinta.


"Mantep tuh," komentar Miko.


Miko menatap Sinta yang cepat-cepat kembali ke dapur. Setelah ia memastikan Sinta tak terlihat lagi, ia segera mengeluarkan tablet obat dari kantongnya. Dengan cepat, ia mencemplungkan obat itu ke dalam gelas Sinta. Ia tersenyum tipis karena ia yakin Sinta akan mabuk karena obat itu dan ia bisa mengambil kesempatan untuk menikmati tubuh wanita itu.


"Udah aman kuenya?" tanya Miko ketika Sinta duduk.


"Udah kok. Eh, kamu cepet banget minum tehnya," kata Sinta yang melihat gelas kosong Miko.


"Iya, seger banget. Kamu juga dong, habisin," kata Miko penuh harap.


"Pak Ariel sama Elin pergi ke mana? Tadi nggak sengaja ketemu di depan," kata Miko memancing obrolan.


"Mereka pergi berdua," ujar Sinta dengan wajah cemberut. Ia kembali meneguk tehnya hingga tersisa setengah.


"Tumben, biasanya Elin nggak boleh keluar rumah. Aku aja kaget perutnya udah tambah besar," kata Miko.


"Udah 7 bulan ya besarlah," tukas Sinta. Ia meneguk lagi air tehnya. "Mereka baru liat rumah baru buat Elin. Nanti Elin kan mau pindah ke sana abis lahiran."


"Oh, kamu seneng dong nggak perlu berbagi suami lagi," kata Miko.


Sinta meletakkan gelasnya dan memejamkan matanya sejenak. "Aku ... aku tetep bete. Mas Ariel nggak mau ceraiin Elin. Ehm ... aku kok pusing ya, Mik?"


"Tenang aja, kamu nggak papa," kata Miko seraya merangkul Sinta yang mulai teler.


"Ini kenapa? Aku pusing banget," kata Sinta seraya memijat keningnya.

__ADS_1


Miko tersenyum miring. Ia mencium pipi dan leher Sinta dengan penuh hasrat sekarang. Sinta menatapnya kaget, tetapi wanita itu tak berkutik karena kepalanya begitu berat. Dengan cepat Miko mendorong tubuh Sinta agar berbaring di sofa.


"Miko, kamu apa-apaan sih?" Sinta berusaha mengangkat tangannya untuk menahan tubuh Miko yang mulai menindih dirinya.


"Kamu nikmati aja, Sin. Mumpung kita baru berdua, kamu bisa menikmati permainan aku," kata Miko. Ia mencium bibir Sinta tanpa perlawanan. Dengan cepat ia membuka setiap kancing baju Sinta. Ia tak membiarkan selembar kain pun menempel di tubuh Sinta.


"Miko ... jangan," rengek Sinta. Ia tak menyangka Miko akan berbuat seperti itu padanya.


"Kamu tahu, Pak Ariel sedang berduaan di rumah barunya bersama madu kamu. Kenapa kamu diam aja? Padahal kamu juga bisa bersenang-senang! Kamu tenang aja, kita nikmati bersama momen ini!"


Sinta menatap Miko dengan tatapan sayu, ia begitu lemas sehingga ia tak bisa banyak melawan setiap aksi yang Miko lakukan pada tubuhnya. Sebagai gantinya ia mengeluarkan des ahan keras setiap kali Miko menyentuh titik sensitifnya.


"Gimana? Enakkan? Nggak usah nolak, Sin. Kamu pasti udah kesepian selama ini karena suami kamu yang nakal," kata Miko seraya melepaskan celananya.


Sinta terkesiap. Kali ini ia mencoba bangun karena Miko tidak menindih tubuhnya. Sayangnya kedua matanya tiba-tiba terpaku pada pusaka milik Miko yang teracung di depannya.


"Aku bisa bikin kamu lebih puas daripada ketika kamu bersama suami kamu, Sinta," kata Miko.


Sinta menggeleng keras. Ia tak pernah membayangkan untuk bercinta dengan pria selain Ariel. Namun, kini ia kembali dilemahkan oleh aksi Miko.


"Nikmati ini, Sin," ujar Miko seraya menghunjamkan pusakanya ke liang Sinta yang sudah basah.


Lenguhan keras terdengar ketika Sinta merasakan hal yang baru di tubuhnya. Itu sangat nikmat sekaligus mendebarkan. Ia tak mengira ia bisa menikmati permainan Miko di atas tubuhnya. Bahkan ia berharap Miko tidak berhenti mendorong. Ia sudah gila, padahal ia sempat menolak.


Dan kini, Sinta pun menuruti setiap ucapan Miko yang menginginkan ia berganti posisi. Sinta sudah cukup jarang bercinta dengan Ariel meskipun ia lebih banyak tidur bersama dengannya. Jadi, permainan pagi yang ditawarkan oleh Miko benar-benar membuatnya bergelora. Dengan keras ia menekan turun, ia mend esah lebih kuat tanpa peduli jika suaranya menggema di ruangan.


Yah, ia hanya berdua saja dengan Miko, pikir Sinta. Jadi begini rasanya menikmati tubuh pria lain, pikir Sinta dalam hati. Miko yang berada di bawah tubuh Sinta mer emas squishy kenyal Sinta dengan gemas. Ia begitu puas bisa menjebak Sinta seperti ini. Bahkan, Sinta juga tidak menunjukkan banyak perlawanan. Ia yakin, Sinta akan ketagihan dengan pusaka miliknya.


"Miko ... seharusnya kita nggak kayak gini," kata Sinta begitu pergulatan mereka berakhir. Sinta sangat ingin menangis karena malu menguasai hatinya.


"Nggak usah ngomong gitu. Tadi kamu juga menikmati kan? Kita bisa sering begini kalau kamu mau," kata Miko. "Kamu suka permainan aku kan? Aku bisa bikin kamu puas banget kan?"


Sinta menatap Miko malu-malu, ia masih tak mengenakan apapun di bawah tubuh Miko. Dengan ragu, ia pun mengangguk.


"Kamu benar-benar bisa bikin aku lupa diri," kata Sinta malu-malu.


.

__ADS_1


ada rekomendasi cerita bagus nih buat kalian jangan lupa mampir ke karya teman aku ya



__ADS_2