Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
75. Kekesalan Elin


__ADS_3

Serangan di mobil yang dilakukan oleh Ariel membuat elin tersadar sepenuhnya. Akan tiba saat di mana ia dan Ariel berpisah. Akan tiba saat di mana ia harus melupakan Ariel dan ia harus memulai kehidupannya sendiri tanpa bayang-bayang sang kakak dan istrinya.


Elin berpikir keras seraya merapikan pakaiannya yang berantakan karena ulah Ariel barusan. Ia selalu suka bercinta dengan Ariel, tetapi kali ini ia merasa Ariel hanya sedang memberinya peringatan tentang masa depan yang harus ia jalani.


"Kita pulang, kamu istirahat di rumah." Ariel menelan keras ketika melihat Elin hanya terdiam usai mengancingkan kemejanya. Ia tak ingin menyakiti hati Elin lagi, tetapi apa yang ia katakan dan lakukan barusan terhadap Elin tentu saja telah menorehkan luka pada gadis itu.


"Aku mau merem bentar, bangunin aku kalau udah nyampe," kata Elin.


Ariel tak menjawab dan mencoba fokus ke jalanan. Sepenuh hati, ia meminta Elin untuk melupakannya suatu hari nanti. Ia tahu itu tidak akan mudah. Karena itulah yang harus ia lakukan juga. Setelah ia merasa hatinya terpaut dengan hati Elin, ia juga harus berjuang untuk merelakan Elin suatu hari.


Toh, Elin berhak bahagia dengan orang lain yang lebih baik darinya. Bukan pria berengsek sepertinya, bukan pula pria egois yang hanya mengambil keuntungan dari wanita lain.


"Maafin aku, El. Tapi kamu tahu, kita tak mungkin bersatu," ujar Ariel lirih.


Suara Ariel sampai di pendengaran Elin. Karena ia hanya pura-pura tidur, ia bisa mendengar ucapan Ariel. Elin menahan air matanya keluar. Itu benar, Ariel akan tetap memilih Sinta. Bahkan jika Ariel bersikap egois dengan mempertahankan dirinya, ayah dan ibu mereka akan menentang.


Mobil Ariel meluncur mulus di jalanan hingga akhirnya masuk ke halaman rumah. Elin yang sudah membuka matanya sejak 5 menit lalu langsung melompat turun dari mobil.


"El, tunggu!" panggil Ariel.


"Kakak nggak usah minta maaf. Semua yang Kakak katakan itu benar kok," ujar Elin. Ia mengulurkan tangannya ke kemeja Ariel yang tidak dikancingkan dengan benar. "Ini dibenerin. Mbak Sinta bisa marah kalau tahu kita baru aja bercinta di mobil."


Ariel mengambil tangan Elin yang ada di dadanya. Ia menggenggam erat tangan mungil itu. Namun, Elin dengan cepat menarik tangannya lalu berjalan masuk ke rumah. Elin berpapasan dengan Sinta yang tadi mendengar suara mobil Ariel.

__ADS_1


"Kamu udah pulang?" tanya Sinta.


"Udah, Mbak. Aku mau ke kamar, aku pusing," jawab Elin.


Sinta menoleh ke anak tangga. Ia melihat Elin yang bermuka masam dengan penasaran. Tak lama, Ariel pun menyusul masuk.


"Kalian kok lama banget, Mas? Mampir ke mana?" tanya Sinta dengan wajah cemberut.


Ariel berdecak kesal. Ia masih ingin bicara dengan Elin yang mungkin merasa marah atau sedih karenanya. Dan kini, Sinta menghadang dengan wajah terlipat.


"Mampir sarapan aja. Tadi kan nggak jadi sarapan," jawab Ariel. "Aku mau ambil tas kerja aku terus ke kantor."


"Aku ambilin," kata Sinta seraya berlari ke ruang makan. Ia mengambil tas Ariel lalu menyerahkannya pada sang suami. "Ini udah siang, Mas. Nggak masalah ke kantor?"


Sinta mengangguk, ia menyimpan rasa kesalnya pada Ariel karena lebih peduli dengan Elin. Padahal, Elin hanya tergores pisau. Itu bukan luka parah. Ia juga kesal karena Ariel tidak pernah lagi mencium bibirnya untuk berpamitan kerja.


Sinta yang masih jengkel pun akhirnya menaiki anak tangga, ia penasaran dengan Elin yang terlihat tak biasa. Ia mengetuk pintu kamar Elin lalu masuk.


"Apa yang terjadi sama kamu dan Mas Ariel?" tanya Sinta sembari duduk di tepi ranjang.


Elin hanya melirik Sinta. Ia berbaring dengan posisi miring seraya memeluk gulingnya. Jika Sinta tahu Ariel baru saja menyadarkan dirinya akan masa depan mereka yang berarti ia akan menjadi orang yang harus pergi, Sinta pasti akan menertawakannya.


"Nggak ada. Aku beneran cuma pusing abis dijahit," kata Elin seraya menunjukkan tangannya pada Sinta.

__ADS_1


"Kamu sempat mampir sarapan dan berlama-lama di luar sama Mas Ariel dan sekarang kamu bilang pusing?" tanya Sinta sangsi. Ia tak sengaja melihat ke lekuk leher Elin dan melihat bekas kemerahan di sana, padahal pagi tadi jelas tak ada itu. Kedua tangan Sinta pun mengepal, ia yakin mereka tak hanya ke rumah sakit dan sarapan berdua.


"Mbak Sinta bisa keluar? Aku mau tidur," kata Elin.


Sinta tersenyum miring. "Kamu tahu, aku nggak sabar nunggu anak itu lahir. Aku nggak mau liat kamu lagi di antara aku dan Mas Ariel."


"Nggak usah khawatir. Aku pasti bakal pergi kalau Kakak pengen aku pergi," kata Elin dengan nada bosan.


Sinta melirik perut Elin yang tertutup oleh guling. "Bayi aku udah gerak?"


"Ya. Dia udah bisa nendang," jawab Elin. Ia mengerjap ketika Sinta menyingkirkan guling itu dari pelukannya lalu tak lama, tangan Sinta pun mendarat di perutnya. "Mbak mau ngapain?"


"Kamu lupa, aku yang akan jadi ibu dari bayi ini," ujar Sinta seraya tersenyum. "Ini bayi aku."


Elin mengepalkan tangannya. Ia sudah kesal dengan Ariel lalu kini ia juga bertambah kesal karena Sinta. Kenapa kedua orang itu membuatnya terus tersadar bahwa masa depannya sama sekali tidak bahagia. Ia harus berpisah dengan Ariel, ia juga harus berpisah dengan darah dagingnya sendiri.


"Dia nendang!" seru Sinta yang masih menyentuh perut Elin. Ia begitu girang karena bisa merasakan gerakan bayi lagi meskipun itu bukan berasal dari perutnya. "Dia pasti mengenali suara ibunya. Ini Mama, Sayang."


Elin merasa mual sekarang. Bayi itu bahkan belum lahir, tetapi ia tidak rela jika Sinta menyebut dirinya sebagai ibu dari bayinya. Dengan cepat ia pun menepis tangan Sinta.


"Aku geli, aku nggak mau dipegang-pegang," kata Elin ketika ia merasakan tatapan Sinta yang tajam. Sedetik lalu, ia bisa melihat bias haru di mata Sinta. Yah, ia merasa sedikit kasihan pada Sinta. Ia bukan wanita yang keji dan tak memiliki perasaan. Ia juga bersimpati karena Sinta kehilangan rahimnya karena kecelakaan itu.


Namun sekarang, hatinya sedang kacau balau. Ia ingin bersikap egois. Bayi itu adalah bayinya, darah dagingnya yang tumbuh di perutnya. Jika ia benar-benar harus kehilangan bayinya, ia tidak akan rela. Seharusnya Sinta juga tahu. Seharusnya Sinta bisa mengerti bagaimana isi hatinya. Sayangnya, Sinta tidak demikian. Sinta hanya menginginkan bayinya tanpa peduli dengan luka di hati Elin.

__ADS_1


"Aku mau kamu membiarkan aku bicara sesekali dengan bayi aku, lagi pula kamu nggak bakal punya kesempatan untuk merawat bayi itu setelah lahir. Mama kamu udah tahu bayi itu akan lahir 3,5 bulan lagi, yang harus kamu lakukan saat Mama datang cuma sembunyi. Benar?"


__ADS_2