Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
85. Dibawa Oleh Mama


__ADS_3

"Maksud Mama apa?" tanya Ariel tak terima.


Maria tersenyum sinis pada Ariel. "Bukankah sejak awal yang kamu inginkan hanya bayi Elin? Kamu tidak ingin rumah tangga kamu dengan Sinta berantakan bukan? Mama menentang segala bentuk perceraian meskipun Mama sangat kecewa dengan menantu yang tidak bisa memberikan keturunan. Jadi ... kamu berpisah saja dengan Elin dan pertahanan rumah tangga kamu dengan Sinta."


Sinta menatap Maria tak percaya. Ia merasa begitu lega karena mertuanya memilih dirinya alih-alih Elin. Ia hampir tersenyum jika saja ia tidak melihat wajah masam Ariel.


"Aku cinta sama Elin, Ma. Harus berapa kali aku bilang sama Mama!" Ariel berdiri resah.


"Kamu lupa posisi kamu, Ril? Kamu pimpinan perusahaan kita. Kamu mau memiliki skandal dengan 2 istri kamu? Nggak! Kamu hanya akan merusak reputasi perusahaan jika semua orang tahu kamu sudah melakukan poligami!" hardik Maria.


Ariel menggeleng keras. Ia sudah berjanji pada Elin untuk tetap menjaganya di sisinya. Ia tak ingin berpisah dengan Elin.


"Itu bisa tetap dirahasiakan," kata Ariel.


"Dan sampai kapan? Kamu membawa wanita lain ke rumah tangga kamu, kamu ingin bayi dari wanita lain, tapi ... wanita lain itu juga putri Mama! Jangan lupa itu, Ril. Jika kamu tetap egois seperti ini, kamu jangan akan menghancurkan masa depan adik kamu!" seru Maria.


Wanita itu berdiri, ia menatap Ariel dengan penuh rasa kecewa. "Seharusnya, kamu bilang sama Mama apa yang terjadi setelah kecelakaan itu. Kamu begitu gegabah dengan menikahi adik angkat kamu sendiri. Kamu sungguh membuat Mama kecewa."


"Ma, tunggu," kata Ariel. Ia menyeberangi meja lalu mengambil tangan ibunya. "Elin juga cinta sama aku. Dia nggak bisa dipisahkan dari bayinya. Jadi ... plis, biarin Elin tetep di sisi aku. Sinta ... Sinta bisa menerima semua ini. Aku sudah bicara dengan Sinta juga."


"Mama nggak peduli tentang Sinta!" teriak Maria. Ia kembali menatap sengit menantunya. "Kalian berdua bersekongkol untuk berbohong pada Mama! Itu saja sudah sangat mengecewakan. Tapi ... apa yang paling menyakitkan? Ha?"


Maria menepis tangan Ariel dan mengusap pipinya yang basah. "Kamu sudah melakukan hal yang tak pantas, Ril. Kamu menodai kepercayaan Mama untuk menjaga adik kamu. Kamu menodai keharmonisan keluarga kita! Kamu ... kamu bisa menimbulkan hal-hal buruk di perusahaan jika kamu tetap memiliki 2 istri! Mama nggak bisa biarin itu."


"Ma ... tolong dengerin aku," kata Ariel penuh harap.


"Nggak, Mama nggak bisa! Mama udah cukup bicara sama kamu, sekarang ... Mama mau tanya sama Sinta!"

__ADS_1


Sinta terkesiap ketika namanya disebutkan. Ia pun mengangguk pelan.


"Kamu bisa membesarkan bayi itu sebagai anak kamu dan Ariel? Kamu bersungguh-sungguh?" tanya Maria.


Sinta mengangguk lagi. "Ya. Aku pasti bisa jaga Luna. Dia anak aku sama Mas Ariel sejak perjanjian itu dibuat, Ma."


"Luna? Bayinya perempuan?" tanya Maria.


Sinta mengangguk sekali lagi. Ia bisa melihat raut kecewa mertuanya sekali lagi. Barangkali wanita itu mengingatkan cucu laki-laki dan itu agak mendebarkan karena sampai kapanpun ia tak akan bisa memberikan cucu.


"Ma, tunggu!" Ariel menarik tangan ibunya ketika wanita itu hampir sampai di anak tangga. "Biar aku ikut bicara sama Elin. Mama jangan ...."


"Mama mau bicara berdua dengan putri Mama!" Maria menepis tangan Ariel sekali lagi.


"Elin hampir melahirkan. Hanya beberapa hari lagi, plis, biarin aku menemani Elin sampai dia melahirkan," kata Ariel.


Ariel menyugar rambutnya dengan gelisah. Ia memukul railing tangga keras-keras karena tahu ibunya bukan wanita yang bisa dibujuk jika sudah memilih keputusan. Ia menatap kamar Elin dari lantai satu dengan napas naik turun. Tidak, ia tak ingin kehilangan Elin seperti ini.


"Kamu lihat, Mas," kata Sinta. Ia mendekati Ariel dan memeluk lengannya. "Mama ingin kamu lebih memikirkan pernikahan dan rumah tangga kita. Jadi ... lebih baik semua sesuai dengan apa yang ada di surat kontrak. Masa pernikahan kamu dengan Elin sudah hampir berakhir."


"Tapi aku nggak begini, Sin. Elin ...."


"Mama bakal bawa Elin. Kenapa kamu harus khawatir? Elin pasti baik-baik aja, dia mungkin bisa sekolah lagi atau bekerja nantinya. Kita cuma butuh bayinya, benar?" Sinta mengusap lengan Ariel dengan lembut.


Jika ia bisa memiliki Ariel seutuhnya lagi ditambah bayi kecil itu, semuanya sempurna. Ia tak akan membutuhkan Miko lagi. Yah, ia akan mengakhiri hubungan gelapnya jika benar itu yang akan terjadi di kehidupannya. Menjadi satu-satunya nyonya di rumah ini.


"Aku mau bujuk Mama," kata Ariel.

__ADS_1


Sinta menarik lengan Ariel. "Duduk aja dulu. Mama masih emosi, Mas."


Ariel membuang napas panjang. Ia tak tahu apa yang dikatakan ibunya pada Elin. Namun, ia tahu, kata-kata ibunya pasti akan melukai Elin. Ia juga ingin di sana, ia tak ingin Elin menangis sendirian ketika menghadapi ibunya.


"Aku mau naik. Kamu ...."


"Mas, jangan begini," kata Sinta. "Ini kesempatan buat kamu, sejujurnya aku sudah muak dengan pernikahan kita. Aku juga sakit hati selama ini. Apa kamu nggak ngerti? Aku udah banyak mengalah sama kamu, sama Elin? Sekarang, kita punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita bisa berbahagia lagi seperti dulu. Ditambah ... bayi kita akan segera lahir."


Ariel menatap wajah terluka Sinta. Hatinya menjadi perih, di satu sisi Sinta benar. Ia sudah hampir lupa bagaimana berbahagia dengan Sinta sejak ia mencintai Elin. "Aku ... aku minta maaf."


"Ayo duduk aja, kita kasih waktu sama Mama," kata Sinta. Ia tersenyum puas karena bisa membawa Ariel duduk. "Minum dulu, Mas. Jangan panik gitu. Elin bakal baik-baik. Dia masih muda dan dia pasti bisa memiliki kehidupan yang lebih baik daripada terus menjadi istri kedua kamu."


Senyum licik Sinta terlukis di wajah. Ia tak peduli dengan ekspresi sedih yang ditampilkan Ariel. Ia hanya ingin kembali bertahta di hati Ariel. Bahkan jika itu artinya Elin harus disingkirkan!


***


Ketika Maria masuk ke kamar Elin, ia mendapati putri angkatnya sedang menangis tersedu-sedu di atas ranjang. Ia berjalan mendekat. Seharusnya ini menjadi reuni yang menyenangkan. Namun, semua berubah sejak ia melihat perut besar Elin. Ia memiliki harapan tinggi untuk anak-anaknya termasuk Elin, walaupun Elin berbeda dan tidak pernah menonjol di sekolah, tetapi ia masih berharap Elin bisa menjadi orang sukses. Sayangnya semua sirna karena pernikahan sialan ini!


"Mama ... maaf," isak Elin ketika Maria berdiri di sebelah ranjangnya.


Plak!


Elin meringis ketika tamparan keras mendarat di pipinya. Ia bahkan tak berani mengangkat wajah karena takut dengan amukan ibunya.


"Kamu tahu, kenapa Mama mengadopsi kamu 23 tahun yang lalu?" tanya Maria pada Elin. Ia merasa gemetar karena ini pertama kalinya ia menampar Elin, ia berharap itu adalah kali terakhir baginya melakukan itu. "Itu ... karena Mama ingin kamu menjadi saudari bagi Ariel. Adik kecil. Kamu dengar. Adik! Bukan istri Ariel! Bukan untuk jatuh cinta pada Ariel. Kamu sudah mengecewakan Mama."


"Maaf!" Elin bicara lebih keras. Ia juga bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Berhenti menangis dan siapkan barang-barang kamu. Mulai hari ini, kamu tidak Mama perkenankan tinggal di sini!"


__ADS_2