
"Saya bayar tunai," ujar Elin pada penjual tiket menuju pulau Nareswari. Ia mengulurkan uang pada Rendra, sopir ojek mobil yang ia sewa untuk menemaninya hingga ke tempat tujuan.
Setelah perjalanan 2 jam dan menunggu di pelabuhan selama sekitar 3 jam, Elin pun akhirnya menaiki kapal feri. Ia sudah was-was jika Ariel tahu ia sudah pergi dari rumah dan akan mengejarnya. Beruntung, Ariel tidak terlihat hingga kapal pun angkat jangkar.
Elin tertidur selama tiga puluh menit dalam perjalanan antar pulau itu. Dan tiba-tiba saja mobil Rendra sudah meluncur di jalanan Pulau Nareswari. Elin pernah pergi ke sana bersama Mirna, Galang dan yang lain. Namun, bukan itu alasan Elin memilih pulau Nareswari sebagai tujuannya. Dulu, Elin hanya berjalan-jalan untuk syuting di sekitar dermaga. Kali ini, tujuan Elin adalah Pantai Serayu.
Ariel mungkin lupa, pikir Elin. Ketika masih remaja, mereka bersama seluruh anggota keluarga termasuk orang tua mereka dan juga Gladis sudah pernah berlibur di pantai Serayu. Ariel bahkan pernah berjanji pada Elin bahwa suatu hari nanti mereka akan kembali ke sana untuk jalan-jalan, berdua saja.
Hal itu menggelitik hati Elin remaja. Ia yang sedang gandrung dengan sang kakak tentu tak bisa melupakan apa yang dikatakan oleh Ariel. Ia menunggu setiap tahun untuk bisa pergi ke pantai Serayu bersama Ariel. Sayangnya, hingga sekarang, Ariel tampaknya sudah lupa.
"Neng mau ke pantainya?" tanya Rendra.
"Nggak, Pak. Saya capek banget. Antar saya ke motel saja yang terdekat," jawab Elin. Ia sudah menahan rasa tak nyaman di tubuhnya. Mungkin ia masuk angin, kelelahan atau kelaparan. Ia tak tahu lagi. Yang jelas, tubuhnya terasa begitu remuk.
Mobil Rendra tiba di sebuah motel yang tak begitu besar. Motel Mawar Putih, Elin membaca namanya ketika keluar dari mobil. Dari situ, ia sudah bisa mendengar suara ombak berdebur. Ia juga bisa membaui aroma garam yang kentara sekali.
Senyum Elin terkembang meskipun ia lelah. Dengan dibantu Rendra, Elin pun masuk ke motel. Ia memesan 1 kamar untuknya pada resepsionis lalu membayar untuk 1 minggu ke depan. Ia tak ingin kehabisan uang tunai jadi ia harus menghemat, pikirnya. Setelah seminggu di sini, ia mungkin akan pergi lagi.
"Makasih, Pak. Ini uangnya," ujar Elin seraya mengulurkan lembaran uang lima ratus ribu rupiah pada Rendra.
"Makasih ya, Neng. Ini nggak papa saya tinggal?" tanya Rendra.
__ADS_1
"Nggak, saya nginep kok di sini," jawab Elin.
"Oke, Neng. Saya permisi ya."
Elin mengangguk. Ia pun diantar oleh petugas motel untuk tiba di kamarnya. Begitu sampai di kamar, Elin langsung berlari ke toilet, ia muntah-muntah hingga merasa lega sekaligus lemas.
"Ya ampun, aku capek banget," ujarnya lirih.
Elin terdiam selama beberapa saat di toilet sebelum akhirnya mencuci muka lalu memutuskan untuk berbaring. Perutnya yang lapar memaksa Elin untuk tetap terjaga. Jadi, ia pun memesan layanan kamar yang paling murah. Nasi putih dengan ayam krispi plus es jeruk.
Elin menunggu selama hampir tiga puluh menit hingga pesanannya datang. Ia menyantap cepat makanan itu hingga habis tak bersisa. Sesudahnya, Elin pun lantas berbaring. Ia mengusap-usap perutnya yang tak nyaman karena mungkin masuk angin, atau karena ia makan terlalu cepat.
"Bayi, jangan rewel dong. Kita di sini dulu beberapa hari. Abis itu ... kita pikirin kita mau ke mana lagi," ujarnya lirih. Air matanya perlahan mengalir ke pipi. "Kita tunggu ayah kamu, kalau dia tahu kita di sini dan datang, kita mungkin bisa pulang. Kalau dia nggak datang, kita pergi aja."
***
"Kamu nggak nemuin Elin, Mas?" tanya Sinta ketika Ariel pulang ke rumah dengan tampang lesu. Ia menelengkan kepala ke kanan untuk melihat apakah Elin mengekor di belakang Ariel. Sayangnya, Elin tak terlihat.
"Nggak. Aku nggak tahu dia di mana. Aku udah minta orang-orangku untuk nyari Elin, tapi belum ada petunjuk," ujar Ariel lemas. Ia duduk di sofa lalu mengusap wajahnya dengan gusar. "Kamu bisa telepon dia?"
"Nggak aktif, Mas." Sinta duduk di sebelah Ariel dengan perasaan cemas. Ia tak suka Ariel memikirkan Elin, tetapi situasi saat ini berbeda. Mereka membutuhkan Elin kembali. Ia butuh bayi Elin! "Kamu nggak coba telepon Galang? Atau siapa ... temennya Elin?"
__ADS_1
"Kalau kita ketahuan nyari-nyari Elin, aku takut ada orang yang curiga, Sin," tukas Ariel resah. "Kita nggak mau kan semua ini terbongkar."
Sinta mengangguk. "Tentu aja, Mas. Kita masih butuh Elin sama bayinya. Apa Elin pulang ke rumah orang tua kamu?"
"Nggak, aku udah tanya Pak Jono, katanya Elin nggak ke rumah," jawab Ariel. "Nanti malam aku mau cari lagi Elin. Kita nggak boleh biarin Elin lama-lama di luar."
"Ya udah, kamu makan siang aja dulu, Mas. Ini udah mau jam 3.00 sore."
"Aku nggak laper." Ariel berlalu dari hadapan Sinta. Ia bahkan tidak sarapan, tetapi karena ia tidak bisa memikirkan Elin, rasanya ia tidak lapar sama sekali. Ia tidak berselera untuk makan.
Sinta mendesahkan napas berat. Ia semakin kesal dengan Elin yang bertingkah. Bukankah Elin berjanji untuk tidak akan menggunakan perasaannya pada Ariel bahkan tidak akan menunjukkan bahwa ia cinta dengan Ariel. Kenapa sekarang bertingkah dengan meninggal rumah? Sungguh mengesalkan!
"Mau kamu apa, El? Kamu main-main sama aku dan Mas Ariel?" gumam Sinta jengkel. Ia menatap ke arah lantai 2 di mana kamarnya dengan Ariel berada. "Kalau begini terus, Mas Ariel lama-lama bisa tergoda dengan tingkah Elin. Bahkan Mas Ariel nggak mau makan karena mikirin di mana Elin. Aku harus gimana?"
Hingga malam hari, Ariel disibukkan dengan pencarian Elin. Karena tidak mendapatkan kabar apapun, Ariel semakin resah. Tak mungkin Elin menghilang tanpa jejak. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan rumah lagi setelah makan malam.
"Mas, aku ikut ya. Aku juga mau tahu di mana Elin," ujar Sinta.
"Kamu di rumah aja. Kamu tunggu di sini, siapa tahu Elin pulang tiba-tiba. Kamu kabari aku. Oke?"
Ariel tak menunggu respon Sinta, ia segera meninggalkan rumah dengan mobilnya. Ia hanya berharap Soni segera memberinya kabar tentang kemungkinan di mana Elin. Sayangnya hingga berjam-jam ia di luar, ia sama sekali tidak mendengar kabar apapun.
__ADS_1
Ariel menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia merogoh laci dashboard lalu melihat buku kehamilan Elin yang ia simpan di situ. Ia membukanya dan melihat jadwal pemeriksaan kandungan selanjutnya. Tiga hari lagi. Ariel membuang napas panjang. Seharusnya jenis kelamin bayinya akan diketahui besok, mungkin. Namun, kini Elin hilang entah ke mana.
"Ayo dong, El, bilang sama aku, kamu di mana? Jangan pergi dari aku kayak gini. Plis. Kita harus ke dokter bareng 3 hari lagi. Hm? Hubungi aku kalau kamu denger pesan suara ini ya."