Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
12. Minta Waktu


__ADS_3

"Pinjam rahim?"


Ariel mengangguk. "Kamu udah bikin Sinta kehilangan rahimnya, sekarang kamu hanya perlu meminjamkan rahim kamu selama satu tahun," tutur Ariel. Di sebelahnya, Elin hanya terdiam dengan mata melebar, jadi ia langsung menambahkan, "Sembilan bulan kalau kamu bisa langsung hamil setelah kita menikah."


"Menikah?" tanya Elin kaget. "Maksudnya aku sama Kakak?"


Ariel kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Sama seperti Elin, ia pun merasa gugup harus mengatakan hal ini. Ia mencoba menepis rasa gelisahnya dalam hati.


"Itu hanya pernikahan kontrak. Kita hanya perlu membuat bayi. Dan begitu bayi itu lahir, kita bisa kembali seperti sebelumnya. Aku sama Sinta yang akan membesarkan bayi itu. Dengan kata lain, itu bukan bayi kamu. Itu bayi aku dan Sinta," kata Ariel.


Elin masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Kepalanya yang nyeri karena luka benturan rasanya menjadi dua kali lebih sakit. Apa karena benturan itu ia jadi salah dengar? Ariel tak mungkin memintanya menikah. Kedua tangan Elin mengepal dengan erat, ia mungkin sedang berimajinasi.


"Kenapa kamu diem aja?" tanya Ariel.


Elin menoleh pada Ariel yang sama sekali tak menatapnya. Yah, ini bukan imajinasi, ini adalah kenyataan. "Aku ... kenapa harus begitu?"


"Karena kamu harus bertanggung jawab!" sergah Ariel. Ia menoleh pada Elin dengan tatapan sengit lalu kembali menatap jalanan. "Dan kamu satu-satunya yang tahu tentang kondisi Sinta. Hanya kita bertiga. Kita bisa menikah, punya anak dan ... cuma itu."


"Tapi aku harus hamil?"


"Tentu aja. Itu tujuan pernikahan kontrak yang bakal kita lakuin," kata Ariel. Elin menelan keras di sebelahnya. "Aku bakal bayar kamu. Sebanyak apapun yang kamu mau!"


Elin tersenyum getir. Jadi, sekarang ia menjadi wanita bayaran. "Karir aku bakal hancur kalau aku nikah dan hamil diam-diam."


"Karir?" Ariel tertawa mencela. "Kamu masih muda. Kontrak kita berakhir tahun depan, kamu baru 24 tahun nantinya. Kamu masih bisa memulai lagi. Tapi, gimana dengan Sinta? Kamu tahu Mama udah nuntut Sinta buat hamil lagi. Kamu mau liat Sinta depresi kayak dulu lagi?"


Elin menelan saliva. Ia kehabisan kata-kata lagi. Ia ingin menolak, bagaimana bisa ia melakukan itu?


"Cuma setahun, atau paling cepat hingga kamu melahirkan, aku janji," kata Ariel.


Elin memainkan ujung jemarinya. Ia pernah memiliki impian untuk bisa dicintai oleh Ariel. Ia berharap Ariel akan memandangnya sebagai seorang wanita alih-alih seorang adik. Namun, itu tidak pernah terwujud. Dan sekarang, Ariel ingin menikahinya! Ariel ingin ia mengandung anaknya. Itu artinya, ia bisa memeluk tubuh Ariel, ia juga bisa menciumnya. Setahun, selama setahun ia bisa menjadi istri dari pria yang diam-diam ia cintai.


Elin menatap Ariel ragu-ragu. "Gimana dengan Mbak Sinta? Kalau kita nikah, apa yang bakal dia katakan?"

__ADS_1


"Sinta bolehin aku nikah lagi," jawab Ariel. Ia menoleh sekilas pada Elin yang menatapnya lekat. Ia tak tahu bahwa hati Elin sedang meletup-letup karena obrolan ini. "Pernikahan itu bukan berarti apa-apa, kami hanya butuh bayi dari kamu. Dan juga, itu adalah pernikahan rahasia, jadi kamu harus bisa jaga mulut."


"Aku ... aku nggak tahu harus ngomong apa," kata Elin. Buru-buru ia mengambil botol air mineral yang selalu tersedia di mobil Ariel. Ia membukanya cepat lalu meneguk banyak-banyak.


"Aku harap kamu setuju. Aku nggak tahu aku harus minta siapa lagi," kata Ariel.


Elin semakin kaget mendengar ucapan Ariel. Jadi, jika ia menolak, Ariel akan memilih wanita lain, wanita asing yang akan menikah dengannya? Elin menggigit lidahnya kuat. Jika Ariel menikah lagi, ia harus menahan cemburu lagi. Bahkan dengan Sinta yang begitu baik, ia sudah sering merasa cemburu. Ia tak akan bisa melihat Ariel bersama satu wanita lainnya.


"Gimana pernikahan itu bakal dilakuin?" tanya Elin setelah mereka sama-sama terdiam selama beberapa menit.


"Kita buat surat kontrak dulu. Aku yang bakal urus, kamu hanya harus tanda tangan. Jika kamu udah tanda tangan itu artinya kamu udah setuju dengan apa isi kontrak itu," ujar Ariel menjelaskan. "Terus, kita bisa menikah siri. Kita bisa pakai wali hakim buat kamu. Kamu nggak usah khawatir tentang warga sekitar, kita nggak pernah berbaur karena perumahan kita yang tertutup, jadi semua aman."


"Gimana dengan Budhe Sarti?" tanya Elin. Budhe Sarti adalah asisten rumah tangga yang hanya datang di siang hari untuk urusan bersih-bersih dan mencuci pakaian kotor.


"Aku bakal bayar Budhe. Kamu tenang aja," kata Ariel yakin. "Pokoknya, hanya kita bertiga yang bakal tahu tentang perjanjian ini."


"Gimana kalau Mama sama Papa tahu? Gimana kalau mereka tiba-tiba datang?" tanya Elin panik. Ia sudah menjadi anak adopsi di keluarga itu, ia juga mendapatkan cukup banyak perhatian selama ini. Jadi, ia merasa begitu berdosa jika ia melakukan ini.


"Tapi aku takut," kata Elin. Ia menepis bayangan bagaimana senangnya bisa menjadi istri Ariel selama setahun ke depan. Ia harus memikirkan kedua orang tua angkatnya. Ia juga pasti akan mendapatkan celaan dari Gladis, adiknya, jika tahu ia sudah menikah dengan kakak mereka. Elin menggeleng pelan.


Melihat Elin begitu gelisah, Ariel pun merasa kesabarannya mulai menipis. Ia sudah menduga bahwa Elin tak langsung mengiyakan permintaannya. Ia juga belum memberitahu Sinta bahwa ia memilih Elin untuk menjadi istrinya. Entah apa yang akan Sinta katakan, ia merasa lebih baik mendapatkan persetujuan dari Elin lebih dulu.


"Kita udah sampai," ujar Ariel begitu mobilnya berhenti di parkiran sebuah rumah sakit.


Elin bahkan tidak sadar mereka sudah sampai di kota tujuan mereka. Dan kini ia ada di depan rumah sakit. Ariel sudah membuka pintu ketika ia berkata, "Aku butuh waktu."


"Apa?" tanya Ariel. Ia kembali menutup kembali pintu mobil. Ia menatap Elin yang tertunduk. "Kamu bilang apa?"


"Apa yang Kak Ariel minta tadi, aku butuh waktu buat mikir," kata Elin.


Ariel berdebar sekarang. Ia ingin Elin setuju. "Oke. Berapa lama yang kamu butuhkan?"


Elin mengangkat bahunya. Ia sendiri tak tahu. Ia akan mengkhianati kepercayaan orang tua yang sudah merawatnya sejak kecil. Ia juga akan membuat kecewa Gladis. Lalu Sinta, apa yang akan Sinta katakan jika ia melakukan ini? Anggap saja ia sepakat untuk menebus kesalahannya atas kecelakaan itu, tetapi Sinta bahkan tidak pernah menyalahkannya. Jadi, pantaskah ia melakukan itu?

__ADS_1


"Aku kasih tahu kalau aku udah yakin," ucap Elin.


Ariel mengangkat alisnya. "Oke. Kita turun dulu. Kamu harus diperiksa dokter."


Elin mengangguk, lalu ia turun dari mobil dan mengikuti langkah Ariel ke gedung rumah sakit. Ia melirik Ariel sesekali. Ia selalu berdebar setiap kali menatap Ariel, dan kini ia jauh lebih berdebar karena ia sudah membayangkan bisa memeluk tubuh itu. Elin menggeleng pelan.


"Permisi, adik saya terjatuh semalam. Kepalanya terbentur. Dia juga pernah kecelakaan sekitar ... setengah tahun lalu. Saya mau dia diperiksa," kata Ariel pada seorang perawat yang menyambutnya.


"Ya. Mari ikuti saya." Perawat itu meminta Elin untuk duduk di salah satu brankar di ruang UGD. "Tunggu dokter sebentar ya."


"Ya." Ariel dan Elin menjawab serempak.


Tak lama seorang dokter datang dan mulai memeriksa luka-luka Elin. "Lukanya nggak begitu dalam, jadi ini tidak masalah."


"Tapi dia udah bolak-balik kebentur, Dok," kata Ariel. "Saya mau adik saya diperiksa lengkap. Dia juga pusing sejak semalam."


Dokter itu mengangguk. "Oke, kita bisa mengambil CT scan jika Anda ingin."


Ariel pun sepakat, ia menunggu pemeriksaan Elin dan menyimak apa yang jelaskan oleh dokter tentang kondisi Elin saat ini. Dan ternyata, Elin memang baik-baik saja. Elin hanya butuh banyak istirahat untuk memulihkan dirinya. Setelah dibekali beberapa obat, Elin pun diperbolehkan pulang.


Sepanjang perjalanan, Elin pun terbayang semua perhatian yang diberikan Ariel di rumah sakit tadi. Rasanya memang menyenangkan jika Ariel tidak membencinya dan Ariel justru memperhatikannya. Hati Elin bergemuruh karena terkadang ia menginginkan lebih. Dan mungkin ia bisa mendapatkan semua perhatian Ariel jika ia setuju menikah dengannya.


Namun, masih ada hal yang mengganggunya. Setelah setahun berlalu, apa yang akan terjadi? Ia akan kembali kehilangan Ariel? Bagaimana jika setelah menikah, perasaannya semakin dalam pada Ariel.


"Kamu ngalamun?" tanya Ariel ketika ia membelok di tikungan terakhir yang mengantarkan mereka masuk ke perumahan.


"Ehm. Aku cuma mikir-mikir," jawab Elin.


"Kamu bilang, kamu butuh waktu. Aku mau kamu kasih aku jawaban secepatnya. Jika kamu sepakat, kita bisa segera bikin surat kontraknya. Jika kamu menolak, kamu tetap harus tutup mulut kalau aku bikin kesepakatan sama wanita lain. Paham?"


Elin mengangguk. Itu yang terberat. Ia harus melihat Ariel bersama wanita lain jika ia menolak. Kedua tangan Elin mengepal sempurna.


"Kak Ariel," panggilnya. Ariel menoleh padanya dan mengangguk. "Kakak nggak akan benci lagi sama aku kan? Kakak bakal maafin aku kalau aku mau pinjamin rahim aku?"

__ADS_1


__ADS_2