
Tok! Tok!
Ariel mengetuk pintu kamar Elin keras-keras. Ia sudah penasaran, apa yang baru saja terjadi dengan Elin dengan Galang. Sungguh mencurigakan karena Galang keluar dari kamar Elin sembari merapikan kancing baju dan terkesan terburu-buru. Tak lama, pintu kamar itu pun dibuka dari dalam. Tampak Elin dengan mata membulat sempurna di hadapan Ariel.
"Kakak datang?" tanya Elin.
"Ehm. Apa yang terjadi sama kamu?" Ariel mendorong pintu kamar tersebut hingga ia membuat Elin terpaksa mundur. Kedua mata Ariel memindai kamar Elin yang cukup berantakan.
"Ah, tadi malam ada aktor figuran yang kesurupan dan aku diserang," jawab Elin. Ia merapikan selimut serta pakaiannya yang berserak di dekat tempat tidur. Semua barangnya mencuat dari tas lantaran ia buru-buru mengambil kain untuk mengelap Galang.
"Kesurupan?" Ariel membelalak. "Kamu nggak papa?" Seharusnya ia tak perlu bertanya, ia bisa melihat perban kecil di sisi kiri kepala Elin. Wajah dan lengan Elin juga banyak memiliki goresan yang memerah.
"Ya kayak gini," jawab Elin. "Aku dijahit karena kebentur. Ini agak pusing. Aku cuma ke puskesmas tadi malam."
"Ya udah, kita ke rumah sakit."
Ariel mengambil alih tas milik Elin yang sudah ditutup rapat. "Ada yang ketinggalan nggak?"
"Nggak kok." Elin pun mengekor kakaknya meninggalkan kamar. Ia terdiam selama mereka menuruni anak tangga. Dalam hati, Elin sudah bertanya-tanya kenapa Ariel bisa muncul. Padahal Ariel tidak membalas pesannya. Dan ini masih sangat pagi! Itu artinya, Ariel berangkat waktu masih dini hari dari rumahnya. Elin ingin tersenyum, tetapi ia hanya menggigit bibirnya keras-keras.
"Aku ke resepsionis dulu," kata Ariel. Ia hendak membayar biaya menginap Elin, tetapi rupanya Galang sudah membayarnya lebih dulu. Untuk dua malam! Ariel membuang napas panjang, kenapa Galang bisa membooking kamar selama dua malam sementara Elin lebih baik lekas dibawa ke rumah sakit?
__ADS_1
Ariel meletakkan tas Elin di jok belakang lalu ia masuk ke mobil. Elin sudah duduk di sebelahnya. Ia melirik sekilas Elin yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya, mungkin berkirim pesan dengan Galang, pikir Ariel.
"Sebenarnya apa hubungan kamu dengan Galang?" tanya Ariel ketika mereka sudah terdiam selama bermenit-menit dan mobilnya sudah sangat jauh dari penginapan.
"Apa?" Elin menatap Ariel kaget. Ia hampir tertidur karena perjalanan ini cukup jauh. "Aku ... dia cuma atasan aku, Kak."
Sudut bibir Ariel terangkat. Ia menatap sinis Elin. "Tapi dia bermalam di kamar kamu?"
Elin menggeleng keras. "Pak Galang cuma datang buat nganter sarapan. Serius!"
Elin tak ingin Ariel salah paham. Ia memang sering pergi ke luar kota, menginap di lokasi syuting dan di hotel-hotel, tetapi ia tidak pernah bermalam dengan Galang atau pria lain.
"Aku lihat sendiri Galang baru pakai baju pas jalan dari kamar kamu," ujar Ariel lagi.
Ariel hanya tertawa getir. Adiknya sudah benar-benar dewasa, pikirnya. Ia pun menghentikan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi. Mereka masih setengah perjalanan untuk sampai di rumah, mereka juga belum mampir ke rumah sakit.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Elin bingung. Ia menatap Ariel yang memeluk setirnya dengan resah. "Kalau Kakak curiga aku udah aneh-aneh, plis, stop! Aku sama Pak Galang nggak ngapa-ngapain, jangan mikir negatif sama aku."
Ariel membalas tatapan Elin dengan tajam. "Aku nggak peduli kamu udah ngapain sama Galang atau sama cowok lain! Aku cuma ... aku mau bahas sesuatu yang penting sama kamu."
"Apa? Ada masalah apa?" tanya Elin ragu-ragu. Setelah enam bulan lebih berlalu sejak kecelakaan itu, Ariel sangat jarang mengajaknya bicara. Dan mungkin, ini adalah obrolan terpanjang yang telah ia lakukan sejak saat itu.
__ADS_1
"Ini tentang apa yang aku pernah bilang sama kamu di rumah sakit," ujar Ariel. Ucapannya spontan membuat Elin terkesiap. "Aku udah pernah bilang kan, kalau kamu harus ganti bayi aku yang udah meninggal dunia."
Jantung Elin berdebar keras. Ia ingin merespon ucapan Ariel, tetapi ia tidak tahu kata-kata apa yang cocok. Bibirnya begitu kelu.
"Waktu itu, aku cuma ngomong karena aku lagi emosi, tapi setelah aku pikir-pikir kamu emang orang yang harus bertanggung jawab. Kamu yang udah bikin aku dan Sinta kehilangan bayi, Sinta bahkan nggak bisa punya anak lagi," kata Ariel dengan dingin.
Elin meremang. Ia mengira Ariel mau menjemputnya karena Ariel sudah memaafkan apa yang terjadi setengah tahu lalu, tetapi rupanya Ariel memiliki maksud lain. Ariel akan menuntut seorang bayi darinya. Lalu bagaimana?
Apakah ia harus menikah dengan seseorang lalu hamil dan melahirkan. Lalu mereka akan mengambil bayinya! Seperti itu? Lalu bagaimana dengan suaminya? Ia harus menikah dengan siapa? Ataukah, ia tidak perlu menikah, ia bisa tidur dengan siapa saja dan memberikan bayi pada Ariel. Namun, rasanya itu tidak benar.
"Kamu dengar kan?" tanya Ariel dengan nada frustasi. Ia sudah berpikir sejak semalam. Ia hampir tidak bisa tidur karena permintaan Sinta. Ia ingin jujur saja pada orang tuanya bahwa kondisi Sinta tidak memungkinkan untuk hamil lagi, tetapi ia juga tidak tega dengan Sinta.
Lalu, muncul ide gila di kepala Ariel. Tidak ada yang tahu tentang kondisi Sinta. Hanya ia, Sinta dan Elin yang tahu. Ia tak ingin menambah daftar orang yang mengetahui hal itu. Dan jika ia memilih wanita lain secara acak, itu artinya akan ada lebih banyak orang yang tahu. Ia juga akan perlu membayar pengacara untuk membuat perjanjian dengan wanita itu. Jadi, ia mulai memikirkan Elin. Lagipula Elin adalah orang yang membuat kecelakaan itu terjadi.
"Aku harus gimana?" tanya Elin gugup. "Aku nggak mungkin tiba-tiba hamil dan melahirkan. Aku nggak ... itu kecelakaan. Kak Ariel masih nyalahin aku?"
Ariel mengangguk keras. "Gara-gara kamu, istri aku jadi cacat!" hardiknya. Air mata Elin mengalir seketika. "Jangan nangis, kamu harus tahu gimana Sinta melewati waktu setengah tahun ini. Dia masih sering nangis bahkan sampai tadi malam dia terus nangis!"
"Maaf," gumam Elin. Ia mengusap-usap wajahnya dengan punggung tangan. "Aku minta maaf. Aku harus gimana biar aku bisa dimaafin."
Ariel memalingkan wajahnya dari Elin lalu ia meletakkan kepalanya di sandaran jok. Kedua tangannya mencengkeram setir dengan erat. Ia tak ingin mengatakan hal itu, tetapi ia tak punya pilihan lain yang lebih baik. Jika Elin mengandung anaknya, akan lebih mudah menyembunyikan Elin di rumah karena mereka memang sudah tinggal bersama. Semua tidak akan begitu rumit.
__ADS_1
"Kak." Elin mengguncang lengan Ariel hati-hati.
Ariel kembali menoleh pada Elin. Ia membuang napas panjang lalu berkata, "Aku mau pinjam rahim kamu. Aku mau kamu melahirkan bayi aku."