Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
9. Petaka di Tempat Kerja


__ADS_3

Sudah 3 hari Elin berada di luar kota. Kali ini ia dan timnya sedang mengerjakan sebuah film horor yang memaksanya untuk mengambil adegan di hutan-hutan dan permukiman di sekitarnya. Ini adalah kali pertama bagi Elin untuk bergabung dalam proyek bertema seperti ini.


Elin dan Mirna adalah penulis naskah film tersebut. Dan keduanya ternyata mendapatkan banyak tantangan karena proses syuting yang cukup rumit, apalagi mereka harus dihadapkan dengan ritual-ritual tertentu di daerah tersebut.


"Eh, yang semalam beneran kesurupan kan artisnya," ujar Mirna.


Elin mengangguk ngeri. Ia sudah cukup risih karena harus tidur di tenda dengan kondisi seram di sekitarnya. "Itu naskahnya udah aku revisi semua sampai bagian akhir yang perlu di ambil di sini. Udah di-acc juga sama Pak Galang, jadi aku mau cabut deh abis ini."


"Iya aku juga deh. Aku takut lama-lama di sini." Mirna terkikik bersama dengan Elin. "Aku mau pipis deh. Kamu temenin aku yuk."


"Cuma ke toilet aja takut," ledek Elin.


"Ya ngeri, itu deket banget sama sumur tua. Ini kan udah malem, El."


"Ya udah, yuk aku juga sekalian mau pipis deh daripada tengah malem kebangun," ujar Elin.


Keduanya memerhatikan sekitar, karena masih cukup ramai dengan beberapa kru yang melakukan pengambilan gambar, lokasi itu cukup ramai dan terang. Mirna dan Elin pun bisa berjalan dengan santai sembari bercanda sambil berjalan menuju toilet.


Namun, tiba-tiba dari arah belakang Elin mendengar beberapa teriakan. Ia menoleh panik karena sepertinya ada yang kesurupan lagi seperti malam sebelumnya. Elin menarik tangan kanan Mirna, ia berniat membawa kembali Mirna ke perkemahan.


"Elin, awas!" pekik Mirna ketika seseorang mendorong tubuh Elin keras-keras. "Pak! Tolongin!"


Elin tidak tahu bagaimana detail kejadian yang menimpanya, yang jelas pria kesurupan itu menyerangnya membabi buta. Entah apa yang dikatakan oleh pria itu, Elin tidak begitu paham, tetapi ia bersyukur ketika kru berhasil memisahkan dirinya dengan si pria. Pria itu pun ditangani oleh beberapa orang pintar dan pemuka setempat.


"Ya ampun, kamu kan udah dikasih tahu jangan pakai baju merah!" hardik Sandi, asisten sutradara yang merasa kesal karena insiden ini.


"Maaf, saya lupa, Pak," ujar Elin dengan penuh sesal. Ia menunduk malu sekaligus ketakutan karena ia baru saja membuat heboh semua kru.


"Akibatnya bisa fatal lho! Kamu beruntung cuma diserang, gimana kalau kamu sampai terbunuh?" Sandi berdecak kesal. "Kamu lihat itu!" Ia menunjuk ke arah beberapa kamera yang sedang disetting ulang oleh kru. "Gara-gara kamu semuanya jadi kacau. Pengambilan adegan harus diulang, kamera terbanting dan kamu juga terluka!"


"Maaf," ujar Elin lagi. Ia masih menggigil karena takut luar biasa.

__ADS_1


"Udah," kata Galang yang baru saja tiba di tempat kejadian. Sebelumnya, ia berada di desa sebelah untuk menyerahkan beberapa surat izin untuk melakukan syuting di sana. Namun, tiba-tiba ia mendengar ada kerusuhan di hutan. "Kamu jangan marah-marah, Sandi. Kamu urus dulu anak-anak yang terluka. Kita istirahat aja malam ini."


Kedua mata Galang menyapu tubuh Elin yang berselimut handuk besar. Rambut Elin mencuat di mana-mana dengan daun kering yang menempel. Wajah Elin memerah karena pukulan pria kesurupan tadi, dan entah di mana lagi luka Elin, ia yakin Elin sedang menyembunyikannya.


"Kita ke rumah sakit," kata Galang pada Elin.


"Nggak usah, Pak. Besok pagi saya pulang aja. Kerjaan saya udah beres kan?" tanya Elin cemas.


"Udah. Tapi kamu harus diobati, jangan sampai muka kamu jadi jelek karena lukanya nggak diobati. Ayo! Ajak Mirna sekalian."


Karena tak enak pergi berdua saja, akhirnya Galang pun membawa Mirna keluar dari hutan juga. Di jok belakang, Elin masih menggigil ketakutan sementara Mirna merangkulnya dengan lembut.


"Aku juga lupa kalau nggak boleh pakai warna merah, aku malah ngajak kamu keluar dari tenda," ujar Mirna penuh sesal.


"Nggak papa, aku cuma luka kecil. Itu juga salah aku sendiri," kata Elin.


Elin mendapatkan beberapa jahitan di kepalanya yang terbentur batu. Dan ia langsung mendapatkan tatapan prihatin dari Galang karena tadi Elin menolak dibawa ke rumah sakit. Nyatanya, di daerah situ tidak ada rumah sakit, hanya ada puskesmas kecil. Beruntung Elin tidak luka parah, ia hanya ketakutan dan lecet-lecet. Benturan itu saja yang perlu mendapatkan perawatan ekstra.


"Siap, Pak!" Mirna membuat gestur hormat dengan tangan kanannya pada Galang.


"Kamu telepon kakak kamu aja, El. Biar kamu dijemput pulang besok pagi," kata Galang menyarankan.


"Gampang deh, Pak. Makasih banyak ya."


"Ya. Besok pagi saya ke sini lagi buat ngecek kondisi kamu."


Elin menimbang-nimbang malam itu. Ia perlu pulang dan ia akan jauh lebih aman jika pulang dijemput oleh Ariel. Namun, itu artinya Ariel harus datang ke luar kota yang cukup jauh. Ia tidak yakin kakaknya itu mau datang ke sini demi dirinya. Terlebih, Ariel masih marah dengannya.


***


Di tempat lain, Ariel dan Sinta baru saja memadu kasih di pembaringan. Keduanya melampiaskan hasrat mereka dengan puas malam itu. Beruntung, proses operasi Sinta tidak banyak mempengaruhi aktivitas seksual keduanya, meskipun terkadang Sinta merasa begitu rendah diri di hadapan suaminya. Apalagi ditambah dengan pesan-pesan yang dibombardir oleh mertuanya yang terus mengharapkan ia bisa memiliki keturunan lagi.

__ADS_1


Jadi, malam itu Sinta ingin membahas masalah tersebut dengan Ariel. Ia tidak tahan jika ia harus berbohong terus menerus pada mertuanya. Juga pada ibunya.


"Mas, aku mau ngomong," ujar Sinta.


Ariel yang mulai mengantuk pun hanya mengangguk pelan. Biasanya ia akan mengobrol sedikit dengan Sinta usai mereka bercinta lalu tidur. "Ada apa, Sayang?"


"Ehm, Mama tanya terus kapan aku bisa hamil, Mas? Mereka pengen liat cucu mereka, Mas," kata Sinta dengan suara bergetar.


Ariel menelentangkan dirinya. Ia tahu suatu hari nanti ia akan dihadapkan pada obrolan ini. "Kamu nggak usah pikirin itu. Lama-lama Mama juga bakal bosan sendiri tanya-tanya mulu."


"Tapi aku nggak enak bohong terus, Mas!" hardik Sinta.


Ariel menoleh pada istrinya, ia cukup kaget karena selama ini Sinta hampir tidak pernah meninggikan suaranya. "Sayang, kita bahas lain kali ya."


"Lain kali? Hah! Jangan kayak gini, Mas. Aku udah cukup tertekan. Kamu tahu, aku nggak bakal pernah bisa punya anak. Dan semua orang menuntut aku untuk hamil lagi! Aku udah sesek, Mas!"


Ariel kembali memiringkan badannya, ia menghadap ke arah Sinta lalu mendekap tubuh itu. "Oke, Sayang. Kalau kamu pengen kita bisa mulai cari bayi buat kita adopsi. Besok pagi, oke?"


Sinta menggeleng keras. "Mereka pasti bakal curiga kalau kita adopsi, Mas. Mereka pengen cucu dari kamu! Mama berkali-kali bilang kalau Mama mimpi gendong bayi yang mirip banget sama kamu! Mereka nggak pengen bayi lain, Mas. Mereka pengen keturunan kamu!"


Ariel melepaskan pelukannya, ia menatap wajah pedih Sinta. "Maksud kamu apa?"


"Kamu pernah bilang sama aku, Mas, kalau kita bisa memiliki bayi dengan cara selain mengadopsi. Bilang sama aku, gimana?"


Ariel menggeleng pelan. Itu adalah pemikiran gila yang hanya spontan terlintas di kepalanya. "Kita bisa sewa rahim seseorang. Aku bisa bikin dia hamil terus kita ambil bayinya. Kita bisa bayar wanita itu."


Air mata Sinta meleleh seketika. Itulah yang juga sedang ia pikirkan. Meskipun itu sangat kejam dan menakutkan, mungkin itu adalah cara yang terbaik.


"Sinta, Sayang!" ujar Ariel yang melihat reaksi istrinya. Ia mengusap wajah Sinta dengan lembut. "Itu cuma ide konyol. Itu gila! Aku nggak mungkin ngelakuin itu. Aku nggak bisa, aku cuma mau sama kamu. Aku nggak bakal ngelakuin itu, kamu tenang aja."


Sinta merasakan pelukan lembut Ariel di tubuhnya. Ia tahu, itu konyol dan gila. Ia juga tidak akan tahan melihat Ariel tidur dengan wanita lain. Namun, ia juga tidak tahan didesak untuk memberikan apa yang ia tidak akan pernah bisa berikan. Setelah ia merasa jauh lebih tenang, ia mengeratkan genggaman di tangan Ariel.

__ADS_1


"Lakuin itu, Mas! Aku mau kamu punya bayi dari wanita lain."


__ADS_2