
"Aku sudah gila," gumam Sinta. Ia membiarkan air dari shower mengalir di tubuhnya yang terbuka. Bagaimana bisa ia bercinta dengan Miko sepanas tadi? Ah, itu sangat tidak pantas sekaligus sangat nikmat. Sinta tak bisa mengerti kenapa semudah itu ia tunduk di bawah Miko.
"Apa karena minum teh tadi?" Sinta teringat, ia menjadi pusing setengah mati. Bahkan sekarang, ia juga masih merasa agak pusing. Namun, seharusnya ia menolak jika itu pengaruh obat. Kenapa semudah itu?
"Bego banget," umpat Sinta pada dirinya sendiri. Sinta menatap tubuhnya yang basah. Beberapa menit lalu, tubuh itu dijamah dengan penuh gairah oleh Miko. Ia bisa merasakan sentuhan yang berbeda dari yang dilakukan oleh Ariel. Bahkan ketika pusaka besar Miko menembus tubuhnya dan segala permintaan yang dilakukan Miko terhadapnya terasa berbeda.
"Apa ini yang Mas Ariel rasakan ketika bersama Elin?" tanya Sinta pada dirinya sendiri. Ia menggeleng keras. Lalu cepat-cepat mengenakan handuk untuk membilas tubuhnya. Ia baru saja mendengar deru mobil Ariel. Akan aneh jika Ariel tahu ia sudah mandi lagi jam segini.
Sinta kelabakan mengeringkan rambutnya kini, ia benar-benar takut akan ketahuan sudah melakukan hal terlarang di rumah ini. Dengan gemetar, ia menyalakan hair dryer lalu mulai mengeringkan rambut. Ia bahkan masih memakai jubah mandi.
"Sial." Sinta mengumpat keras. Kini ia berharap agar Ariel berlama-lama dengan Elin di kamar sebelah. Ia berdebar keras seiring detik demi detik berlalu. Ia bertambah gusar ketika ia ingat, rumah ini memiliki CCTV. Jika Ariel tahu ... akan gawat!
Merasa rambutnya sudah setengah kering, Sinta pun segera menyambar bajunya asal dari lemari. Ia mengenakan itu dengan cepat lalu menyisir rambut dan kembali mengeringkannya. Karena tak ingin ketahuan Ariel, Sinta pun lekas membuka aplikasi CCTV di laptopnya. Ah, beruntung Ariel hanya menginstalnya di laptop Sinta selama ini.
Sinta kembali panas dingin karena pemandangan yang ia lihat dari rekaman pagi ini di ruang tamu. Ia mempercepat rekaman itu dan sadar ia melakukannya dalam waktu yang cukup lama dengan Miko. Bersama Miko benar-benar membuatnya lupa diri dan lupa waktu.
"Astaga," desisnya ketika melihat bagaimana ia bergerak tak keruan di atas tubuh Miko. Ia benar-benar lebih rendah daripada kucing liar. Kenapa ia bisa segila itu?
Sinta terkesiap ketika mendengar kenop pintu diputar dari luar, buru-buru ia meng-klik tombol delete pada laptopnya. Ia berdebar keras ketika Ariel menerobos masuk dan menatapnya bingung.
"Kamu nggak papa, Sayang?" tanya Ariel.
"Oh, nggak." Sinta menarik rambut ke belakang telinga lalu berdiri. Kedua kakinya masih agak gemetar karena ia takut. Apakah video itu sudah terhapus sempurna? Atau masih ada? Barangkali ia juga harus menghapusnya dari recycle bin agar tak ada jejak sama sekali.
"Kamu ngecek apa di laptop?" tanya Ariel seraya mendekat ke meja Sinta.
"Itu ...." Sinta dengan cepat menutup laptopnya. Ia menyeberangi meja lalu melingkarkan kedua lengannya di bahu Ariel. "Kamu pulangnya cepet banget, Mas. Aku kira kamu bakal lama di sana."
__ADS_1
"Ini kan udah hampir duhur," kata Ariel seraya menangkup pipi Sinta. "Kok kamu wangi banget, apa kamu abis mandi?"
"Hah? Ehm, tadi aku gerah abis angkat kue dari oven. Jadi, aku mandi bentar," jawab Sinta.
"Oh, iya. Seger banget," ujar Ariel seraya tersenyum.
"Gimana rumahnya? Elin suka?" tanya Sinta untuk mengalihkan obrolan. Ia bisa merasakan tangan Ariel mengusap kepalanya pelan.
"Suka. Rumahnya nggak besar banget, tapi enaklah. Dia bisa di sana selama beberapa hari kalau Mama ke sini," kata Ariel.
"Ehm, kamu yakin Mama bakal percaya dengan rencana ini kan, Mas? Aku nggak bisa nyusuin anak Elin nanti, apa Mama bakal percaya aku baru aja melahirkan?" Sinta menatap Ariel dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia merasa takut jika rencananya gagal, ia juga takut jika Ariel tahu ia sudah bercinta dengan Miko.
"Nggak masalah. Mama mungkin akan nyinyir kalau kita pakai susu formula, makanya biarin aja Elin kasih susunya ke bayi kita. Kita bisa minta Elin untuk pumping ASI-nya," kata Ariel. "Kalau Mama tanya bilang aja payudara kamu tidak bisa untuk menyusui secara langsung. Bilang aja gitu, kita bisa beralasan. Kita juga bisa siapin susu formula. Nggak usah terlalu dipikirkan."
Sinta mencebik. Ia tidak begitu menyukai ini. Ia tak ingin Elin menyusui bayinya. Namun, ia tak memiliki pendapatan lain, jadi ia pun mengangguk pelan.
"Aku juga. Ehm, aku udah siapin nama buat bayinya," kata Ariel.
"Oh ya?" tanya Sinta penasaran.
Ariel mengangguk. Sebenarnya Elin yang telah menyiapkan nama. Elin pernah berkata pada Ariel agar bayi mereka diberi nama Luna. Dan Ariel menyukai itu.
"Ya. Gimana kalau Luna Kirana Faras?" tanya Ariel. "Kita bisa panggil dia Luna."
"Oke. Aku pasti setuju kalau itu pilihan kamu, Mas."
Ariel memeluk Sinta sekilas. "Makasih, Sayang. Kita berdoa aja agar bayi itu lahir dengan selamat. Begitu juga dengan Elin."
__ADS_1
"Ya. Tentu aja aku mau keduanya selamat dan sehat," ujar Sinta. Akan merepotkan jika terjadi sesuatu dengan Elin. Ia tak mau ketahuan membuat drama ini di depan mertuanya. Ia juga sudah berkata pada ibunya bahwa ia akan segera memiliki bayi lagi. Ibu Sinta begitu berharap bisa datang ke kota, tetapi jelas Sinta menolak. Sinta akan mengizinkan ibunya datang setelah bayi itu sedikit lebih besar.
***
2 minggu berlalu di kehidupan Sinta, ia semakin berdebar setiap kali mendengar suara mobil Miko yang mendarat di halaman rumahnya. Ia tak pernah lagi bicara dengan Miko meskipun pria itu sesekali mengirim pesan singkat. Namun, Sinta memilih untuk mengabaikannya.
Hingga hari itu, Sinta baru saja mengeluarkan kue dari oven sementara Elin berdiam diri di kamar usia sarapan. Sinta mendengar pintu belakang dibuka. Ia terkejut melihat Miko masuk tanpa permisi.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Sinta. Ia menatap ke anak tangga, berharap Elin tak muncul tiba-tiba.
"Kamu kangen aku kan?" tanya Miko seraya mendekat.
"Jangan gila kamu! Aku bakal teriak kalau kamu berani ...."
"Teriak aja, biar Elin tahu semua yang kita lakukan," kata Miko. Ia mengusap pipi Sinta dengan lembut lalu bibirnya. "Kamu cantik banget, Sinta. Aku udah lama suka sama kamu. Kamu nggak pantes diduakan sama suami kamu."
"Minggir nggak!"
"Nggak, aku tahu kamu juga menginginkan aku," kata Miko seraya menggiring tangan Sinta ke tubuh bawahnya.
Sinta menegang ketika tangannya menyentuh sesuatu yang padat di balik celana Miko. Ingatannya tentang pagi panas mereka pun terulang di kepalanya.
"Ayo kita lakuin bentar, aku kangen sama tubuh kamu," kata Miko dengan nada menuntut.
"Kamu ...." Sinta tak berkutik ketika Miko mendaratkan ciuman di bibirnya. Dengan lembut, Miko menyentuh setiap jengkal tubuh Sinta hingga wanita itu semakin lemah di depannya.
"Aku tahu kamu nggak bakal nolak aku, Sin." Miko mengangkat tubuh Sinta dan mendudukkannya di atas konter. "Kamu udah basah banget. Kamu ketagihan juga sama aku."
__ADS_1