Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
39. Elin Tak Bisa Tidur


__ADS_3

Ariel turun ke lantai 1 setelah ia memastikan Sinta tertidur pulas. Ia sudah cukup lapar karena sejak pulang kerja ia hanya menunggui Sinta dan merawatnya. Ariel sangat tidak senang jika harus melihat Sinta sakit seperti itu.


Di dapur, Ariel melihat Elin sedang mengaduk-aduk sesuatu di panci. Mungkin, karena Sinta tidak memasak, Elin sendiri yang membuat makan malam. Elin bukan gadis pemalas yang tak bisa memasak, Ariel tahu, Elin juga suka memasak. Namun, sejak tinggal di rumah ini, selalu Sinta atau Budhe Sarti yang memasak untuk semua orang.


"Kamu masak apa?" tanya Ariel seraya mengintip ke arah panci.


"Cuma bayem bening sama bakso. Itu Budhe udah masak rendang sebenarnya tapi aku pengen yang seger-seger," jawab Elin. Ia melirik Ariel yang sedang menyeduh teh. "Mbak Sinta mana?"


"Sinta demam, dia udah makan bubur tadi sore."


"Oh." Elin membulatkan bibirnya. Ia sudah mendengar dari Budhe Sarti bahwa Sinta terlihat tidak baik sejak tadi pagi. Rupanya Sinta jatuh sakit, pikir Elin dalam hati. Apakah Sinta tertekan gara-gara dirinya?


"Itu udah mateng kan? Ayo makan bareng." Ariel mengulurkan 2 mangkuk pada Elin. "Aku juga mau itu. Udah lama nggak makan masakan kamu."


"Ini kan cuma sayur bening," ujar Elin malu-malu. Ia segera menuangkan sayur buatannya ke mangkuk. Ariel yang membawanya ke meja makan sementara ia menyusul lalu duduk di sebelahnya.


"Enak banget. Kamu nggak mual makan ini?" tanya Ariel yang dijawab dengan gelengan kepala Elin. "Alhamdulillah. Makan yang banyak kalau gitu biar nggak lemes lagi."


"Ya. Kakak juga makan yang banyak," ujar Elin.


"Tadi siang Sinta udah kelihatan sakit belum?" tanya Ariel.


"Nggak tahu. Aku cuma ketemu tadi pagi," jawab Elin tanpa menatap Ariel. Ia tak enak jika Ariel tahu tadi pagi ia sempat beradu mulut dengan Sinta.


"Ehm, aku khawatir kalau Sinta sakit. Besok aku nggak kerja mungkin," ujar Ariel. Ia menoleh pada Elin yang masih makan. "Gimana, surat pengunduran diri kamu udah diterima?"


"Baru diproses. Tadi pagi aku udah kirim email karena kemarin ditolak Pak Galang." Elin berhenti mengunyah selama beberapa saat lalu ia kembali makan.

__ADS_1


"2 hari lagi jadwal periksa kandungan kamu, nanti aku anterin. Jangan lupa," kata Ariel mengingatkan.


Elin mengangguk gugup. Usia kandungannya ternyata sudah hampir masuk 10 minggu. Ia belum merasakan perubahan apapun kecuali mual, muntah, pusing dan lemas. Namun, ia juga penasaran dengan makhluk kecil yang bersarang di rahimnya. Besok, ia pasti sudah bisa mendengar suara denyut jantung janinnya.


"Mbak Sinta kan lagi sakit, aku bisa periksa sendiri kok," ujar Elin.


"Sinta pasti udah sembuh. Lagian aku juga pengen liat bayi aku." Ariel kembali menatap Elin, ia melirik ke bawah untuk melihat perut datar Elin. "Aku pengen tahu dia baik-baik aja dan tumbuh dengan baik."


Elin tersenyum tipis. "Oke. Besok kita liat bareng."


Ariel mengangguk lalu kembali makan. Tak ada obrolan lagi karena Elin sudah lebih dulu meninggalkan meja makan. Ia tak mau berlama-lama dengan Ariel karena ia takut Sinta akan muncul lalu marah padanya. Begitu ia naik ke lantai atas, ia menatap pintu kamar Ariel dan Sinta. Ia membuang napas panjang lalu kembali melangkah.


Elin ingin bertanya pada Sinta apakah Sinta sudah menyingkirkan buku itu. Ia tak ingin ketahuan oleh Ariel. Ia agak kesal karena Sinta tidak mau memberikan buku itu padanya. Namun, ia juga maklum kenapa Sinta begitu marah padanya. Ia adalah orang ketiga yang tak diharapkan oleh Sinta. Akan lebih bagus jika ia bisa tetap menjadi seorang adik ipar bagi Sinta, sayangnya semua telah berubah.


Elin terduduk di tepi ranjang. Ia membaringkan diri lalu meraba perutnya, ia menepuk-nepuk lembut di sana dan mulai merasa sedih. Elin tidak pernah tahu siapa ibu kandungnya, apalagi ayah kandungnya. Dan anaknya nanti juga tak akan tahu siapa ibu kandungnya. Mungkin saja, anak itu akan hidup jauh lebih baik darinya karena ia akan tinggal dengan ayah kandungnya.


Elin menggeleng pelan. Tidak. Kenapa ia harus berpikir yang tidak-tidak? Sinta sebenarnya adalah wanita yang sangat baik, Sinta adalah wanita berhati lembut dan Sinta menginginkan bayinya. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia hanya perlu berbaikan dengan Sinta. Ia tak boleh membuat Sinta lebih membenci dirinya lagi.


"Kenapa aku nggak bisa tidur?" gumam Elin. Ia sudah berbaring selama lebih dari satu jam, ia agak mengantuk, tetapi kedua matanya tak mau memejam. Ia memikirkan banyak hal.


Elin pun memutuskan untuk keluar kamar. Ia menatap pintu kamar Ariel yang tertutup rapat. Ia tidak begitu lapar, tetapi ia berpikir ia ia makan sesuatu mungkin ia akan lebih cepat mengantuk dan bisa tidur.


"Es krim enak kayaknya," monolog Elin. Ia mengambil satu kotak es krim lalu membawanya ke atas konter dapur. Ia mulai menyendok dengan senang hingga ia tiba-tiba ia dikagetkan dengan lampu yang menyala. Ia memang tidak menyalakan ketika masuk dapur karena lampu di ruang tengah cukup untuk menyinari bagian kulkas.


"Kamu nggak bisa tidur?" tanya Ariel.


"Ehm, kayaknya tadi kurang kenyang makannya jadi susah merem," jawab Elin. Ia melihat Ariel membawa baskom berisi sedikit air. "Mbak Sinta masih demam?"

__ADS_1


"Udah nggak kok. Itu buat kompres tadi," jawab Ariel seraya membuang air itu ke wastafel kemudian mencuci baskomnya. Ia mengelap tangan dan mendekati Elin. "Bukannya kamu nggak suka es krim stroberi?"


"Adanya ini," jawab Elin. "Punya Mbak Sinta mungkin." Elin memang lebih suka es krim cokelat ketimbang es krim rasa lain. "Kakak mau?"


Ariel mengangguk. "Boleh."


Elin menyendok es krim lalu menyodorkannya pada Ariel. Ariel tampak mengernyit ketika merasakan makanan dingin itu mendarat di mulutnya. "Enak kan?"


"Manis banget." Ariel menggeser dirinya hingga merapat tubuh Elin. "Apa anak kita perempuan?"


Elin terkesiap ketika Ariel menyebut anak kita. Ia menjadi dua kali lebih terkejut ketika Ariel menyentuh perutnya dengan lembut. Dan ketika ia menoleh, Ariel tersenyum tipis.


"Kapan kita tahu jenis kelaminnya?" tanya Elin untuk menyingkirkan kegugupannya.


"Aku nggak tahu, kayaknya kalau udah 4 bulan lebih," ujar Ariel seraya mengingat-ingat. Ia masih menyentuh perut Elin dan mengusapnya pelan. "Sinta dulu suka banget sama yang manis pas hamil. Kamu suka juga yang manis-manis, mungkin aja anak aku perempuan lagi."


Anak aku. Elin menoleh lagi pada Ariel. Mungkin tadi ia sudah salah dengar, pikirnya. Elin mengaduk es krimnya yang sudah hampir mencair itu. Ia lalu menyendok sesuap lagi.


"Belepotan," ujar Ariel. Ia melepaskan perut Elin lalu mengusap pelan bibir Elin yang dingin.


Kedua tangan Elin mengepal karena ia begitu kaget dengan aksi Ariel. Ia tak tahu sejak kapan wajah mereka menjadi dekat. Ia berdebar keras karena bertemu tatap dengan Ariel. Ia ingin berpaling, tetapi ia juga baru saja merasakan tangan Ariel menangkup pipinya.


Elin merasa ia seperti sedang bermimpi. Ariel baru saja mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Ia menatap Ariel bingung ketika pria itu melepaskan wajahnya.


"Ayo kita tidur, udah malem," ujar Ariel tiba-tiba.


"Ya." Elin masih merasa limbung usai kecupan singkat yang diberikan oleh Ariel. Ia bahkan tidak berani melirik Ariel lagi. Ia segera membuang wadah es krim yang masih tersisa sedikit itu lalu mencuci tangan.

__ADS_1


Elin berjalan tanpa kata bersama Ariel menaiki anak tangga dan tentu saja, mereka berpisah karena masuk ke pintu kamar yang berbeda. Elin segera menutup pintu kamar, ia masih berdebar keras. Ia bahkan mulai tak yakin bahwa apa yang dilakukan Ariel adalah kenyataan. Sama seperti ketika ia mendengar Ariel menyebut janinnya sebagai bayi mereka, mungkin saja kecupan itu juga hanya sebuah halusinasi.


__ADS_2