
"Apa?" tanya Elin kaget. Ia menatap Galang seolah minta penjelasan dari pria itu. Tentu saja ia begitu terkejut lantaran ia tidak pernah membayangkan akan memiliki hubungan serius dengan Galang. Ia tahu pasti Galang adalah pria baik dan sangat perhatian dengannya, tetapi ia tidak memiliki perasaan apapun pada Galang.
"Maaf ya, saya buru-buru ngajak kamu ketemu sama mama saya," kata Galang yang melihat raut kaget Elin. "Jadi gini, sebenarnya saya pengen serius sama kamu, El. Saya nggak mau pacar-pacaran, makanya saya sengaja kenalin kamu langsung ke Mama biar kamu tahu kalau saya nggak main-main."
Elin tersenyum canggung. Ini sama sekali tidak benar. Ia meneguk air minumnya perlahan untuk mengurangi rasa gelisah dalam hatinya.
"Benar, Elin. Galang nggak berhenti cerita tentang kamu di rumah. Dia baru kayak gini sekarang lho, Tante nyampe heran kapan dia bakal ngenalin cewek sama Tante," kata Dewi. "Tante lega akhirnya Galang mau kenalin kamu sama Tante. Kalian udah setahunan kenalnya kan?"
"Iya, Tante udah hampir setahun. Tapi saya sama Mas Galang nggak ada hubungan apa-apa," kata Elin jujur. Ia menatap Galang tak enak, tetapi Galang masih tersenyum di sebelahnya. Jadi ia segera melanjutkan, "Mas Galang cuma atasan saya, Tante."
"Dia emang gini, Ma," ujar Galang. "Mungkin aku harus berjuang lagi biar Elin mau sama aku."
"Tante mau tanya sama kamu, Elin, kamu beneran nggak ada rasa sama anak Tante? Galang punya niat serius sama kamu, jadi, Tante harap kamu mau menerimanya," kata Dewi.
Elin kembali meneguk airnya. Ia sangat tidak enak pada Galang sekarang. Galang bukan pria sembarangan, Galang benar-benar memiliki kharisma dan ketampanan yang akan membuat siapa saja takluk, Galang juga sangat baik dan mapan. Seandainya ia belum membuat kesepakatan dengan Ariel dan bahkan menikah, ia mungkin akan menerima Galang.
"Maaf, Tante. Tapi saya benar-benar cuma nganggep Mas Galang sebagai atasan saya," kata Elin. Ia melihat raut kecewa Dewi. Namun, ia tidak bisa menerima cinta Galang. Ia tahu, Galang terlalu baik baginya. Ia bukan wanita baik-baik, ia sudah seperti wanita bayaran sekarang.
Bahkan, jika ia tidak menikah dengan Ariel, ia hanyalah seorang anak pungut. Ia tidak memiliki jati diri dan asal usul yang jelas. Barangkali orang tua Galang tidak akan suka.
"Mas Galang bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari saya, Tante. Orang tua saya mengadopsi saya sejak bayi, saya tidak tahu siapa orang tua kandung saya dan ... latar belakang saya tidak diketahui," kata Elin.
Kali ini ia melihat Galang terkejut, begitu juga dengan Dewi. Yah, ia sudah hafal dengan tabiat orang kelas atas yang sering mengutamakan status orang lain. Ia yakin, Galang tidak akan mendapatkan restu lagi untuk mendekatinya. Lebih baik seperti ini. Elin bahkan bisa menebak tatapan Dewi yang tertuju pada Galang seolah berarti, 'Kenapa kamu nggak cerita sama Mama?'
"Kayaknya, saya mau kembali ke kantor sekarang saja," ujar Elin seraya berdiri.
"Elin, tunggu!" panggil Galang.
Terdengar derit kursi yang keras, mungkin Galang berdiri tiba-tiba dan hendak menyusulnya.
"Galang!" Elin mendengar suara Dewi memanggil putranya. Yah, tebakannya pasti tidak salah. Dewi tak lagi menyukainya.
__ADS_1
Elin mengabaikan mereka berdua, ia menuruni anak tangga dengan cepat dan menepikan dirinya ke railing ketika berpapasan dengan beberapa pramusaji. Mungkin itu menu makan siang yang seharusnya mereka makan bersama.
"Elin, tunggu saya!" teriak Galang seraya mencengkeram tangan Elin. Ia berhasil menyusul Elin ketika Elin sudah keluar dari pintu restoran.
"Pak Galang makan sama Tante Dewi aja, saya nggak enak kalau Pak Galang kayak gini," ujar Elin seraya menepis tangan Galang. Ia tak mau memanggil Galang dengan sebutan mas lagi.
"Saya tahu kamu kesal karena saya melakukan pertemuan ini tanpa bicara lebih dulu dengan kamu. Saya minta maaf," kata Galang. Ia menarik lengan Elin lalu membawanya ke mobil. "Ayo kita makan di tempat lain saja."
"Saya mau ke kantor aja," ujar Elin ketus.
"Ya udah, tapi seenggaknya kita beli makanan. Kamu mau burger? Kita beli burger drive thru aja ya sekalian buat anak-anak," kata Galang.
Sepanjang perjalanan hingga mereka mengantre di layanan drive thru, keduanya terdiam. Elin sebenarnya merasa sangat tidak enak karena sudah menolak Galang di depan ibunya. Sementara Galang mengira ia sudah membuat Elin tersinggung dengan sikap ibunya di akhir perjumpaan. Ia bahkan tidak tahu bahwa Elin adalah anak adopsi.
"Saya minta maaf sekali lagi," kata Galang. Ia menginjak gas pelan agar mobilnya maju lebih dekat ke gerai drive thru.
"Saya yang harus minta maaf, Pak."
Galang menatap Elin sedih. Elin bahkan mengubah panggilannya sekarang. Setelah ia bersusah payah meyakinkan Elin agar bicara santai ketika mereka berdua saja.
"Udah saya bilang, Pak. Saya hanya menganggap hubungan kita sebagai atasan dan bawahan, Pak," jawab Elin. Itu adalah jawaban yang jujur. Mengatakan bahwa ia tidak menyukai Galang hanya akan membuat Galang lebih sakit hati setelah ia menolaknya. "Kenapa Pak Galang tiba-tiba ngajak saya ketemu sama Tante Dewi? Saya kan nggak enak."
"Saya benaran mikir kamu nggak punya pacar atau lagi dekat sama cowok. Mirna bilang kamu udah lama banget nggak pacaran dan kita ... kita berdua udah cukup dekat. Jadi, saya emang berniat serius sama kamu, El. Perasaan saya tulus sama kamu."
Galang menghentikan ucapannya karena ia sudah tiba di gerai pemesanan. Ia memesan beberapa makanan dan minuman. Sembari menunggu pesanan dan membayar, ia pun berkata, "Soal Mama, kamu tenang aja. Saya pasti bisa bujuk orang tua saya. Mama cuma kaget karena saya belum cerita. Saya kan juga baru tahu kalau kamu bukan putri kandung orang tua kamu."
"Pak Galang nggak perlu kayak gitu," ujar Elin. Ia membuang napas panjang. "Saya ... sebenarnya saya punya pacar."
"Apa? Kamu serius?" tanya Galang kaget. Ia menerima pesanannya lantas menjalankan mobilnya. "Pacar kamu orang mana?"
"Dia di luar negeri," jawab Elin asal, "makanya saya jarang kelihatan bareng sama dia."
__ADS_1
Galang mengerjap, itu masuk akal. Ia sudah mengenal Elin selama hampir setahun dan mengira Elin tidak memiliki pacar. Bahkan, dari cerita Mirna, ia semakin yakin bahwa Elin masih jomblo. Elin memang pribadi yang supel dan ceria, jadi gampang sekali akrab dengan orang lain. Ia sudah tertarik dengan Elin sejak hari pertama mereka bertemu.
***
Elin dan Galang kembali ke kantor dan membagikan burger serta minuman yang dibeli oleh Galang. Sejak obrolan mengenai pacar Elin, Galang tak banyak bicara lagi pada Elin. Galang langsung masuk ke ruangannya sementara Elin duduk dan mulai membuka burgernya.
Mirna menatap pintu ruangan Galang dan Elin bergantian. Ia mengira Elin akan resmi berpacaran dengan Galang mulai hari ini, tetapi melihat wajah Galang yang terlipat, Mirna yakin tebakannya salah.
"El, kamu sama Pak Galang ...."
"Kamu jangan sembarangan ngomong deh. Kami nggak ada apa-apa dan nggak bakal pernah ada hubungan," ujar Elin dengan mulut penuh. Mirna berdiri di depan mejanya dengan cemberut. "Aku tuh nggak enak sama Pak Galang."
"Kamu beneran udah nolak cinta Pak Galang?" tanya Mirna kaget. Elin hanya mengangguk pelan. "Bodoh banget sih kamu. Pak Galang itu sempurna."
"Makanya, aku nggak mau. Aku kan ... aku nggak pantes buat dia." Elin meneguk air minumnya. "Aku tuh nggak suka hubungan antara atasan dan bawahan yang berubah jadi asmara. Sekarang, aku nggak tahu lagi bagaimana mau ketemu Pak Galang. Dia pasti sakit hati sama aku, tapi aku nggak punya pilihan lain, Mir. Aku nggak cocok buat Pak Galang."
Sebelum waktu pulang, Mirna pun menyempatkan dirinya untuk masuk ke ruangan Galang. Ia cukup penasaran kenapa Elin menolak cinta Galang. Padahal ia tahu, Galang sudah lama suka dengan Elin.
"Elin punya pacar, jadi dia nggak mau sama saya," ujar Galang menjawab rasa penasaran Mirna.
"Tapi nggak mungkin Elin punya pacar, Pak. Saya nggak pernah liat mereka bareng."
"Pacarnya tinggal di luar negeri," tukas Galang.
"Tapi aneh, Pak. Elin nggak pernah telepon apa chat sama cowok. Elin juga nggak pernah cerita apapun ke saya. Mungkin Elin udah bohong, Pak," kata Mirna dengan nada curiga.
Galang tampak berpikir sejenak. "Kamu tahu luar negeri memiliki jam yang berbeda dengan Indonesia. Mungkin saja mereka memiliki jadwal telepon dan chat di malam hari. Udahlah, kamu pulang aja."
"Pak, saya yakin Elin nggak punya pacar. Saya pernah liat ponselnya, nggak ada tuh kontak dengan nama pacar, apalagi foto bareng cowok. Paling cuma anak-anak kru sama kakaknya Elin," cerocos Mirna yang masih tak percaya dengan ucapan Galang.
"Bohong atau jujur, itu sama aja, Mirna. Cinta saya sudah ditolak Elin dengan berbagai alasan, saya nggak mau membahasnya dengan kamu. Saya udah cukup sakit hati," ujar Galang seraya menutup laptopnya. Ia berdiri lalu melangkah keluar disusul oleh Mirna.
__ADS_1
Elin yang baru bersiap-siap untuk pulang sontak menatap Galang. Ia membuang napas panjang ketika Galang melewati mejanya begitu saja. Ia yakin Galang sangat kecewa dengannya. Tapi ia bisa apa?
"Ini yang terbaik buat Pak Galang," gumam Elin. "Kalau Pak Galang tahu aku udah nikah demi melahirkan bayi, dia pasti bakal jauh lebih kecewa."