
Elin mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Ia mencari kontak Gladis karena ingin bertanya perihal buku harian miliknya yang mendadak ada di tangan Sinta. Elin hampir menekan tombol panggil, tetapi ia membatalkannya karena tak yakin apakah Gladis yang ada di Prancis sudah bangun atau belum.
Elin: Kamu tidur?
Elin: Aku mau tanya sesuatu.
Elin duduk kembali di kursinya. Ia melihat ke layar laptop sembari menunggu balasan dari Gladis. Ia sudah mengirimkan surat pengunduran diri pada Galang. Ia tidak akan bisa bekerja lagi mulai sekarang.
Gladis: Aku belajar. Ada apa?
Elin: Kamu sendiri aja? Ini penting.
Gladis: Sendiri dong. Mama sama Papa udah tidur.
Gladis: Ada apa, Kak?
Elin bersiap mengetik, ia ragu. Karena tak ingin mengganggu jam belajar adiknya ia segera membalas.
Elin: Ini tentang buku harian aku yang udah lama banget ilang. Apa kamu tahu.
Gladis: Ya. Aku ambil bukunya.
"Sial," desis Elin. Jadi benar adiknya sudah mengambil buku itu.
Elin: Kenapa?
Elin: Apa kamu tahu isinya?
Elin: Kenapa nggak kamu balikin?
Elin mulai mondar-mandir. Ia tidak mengerti dengan apa yang ads di pikiran Gladis. Ia menatap layar, tetapi Gladis masih dalam mode mengetik pesan.
Gladis: Aku penasaran, bukunya bagus. Aku ambil bareng pas aku mau pinjem novel, Kak.
__ADS_1
Gladis: Aku tahu isinya. Tentu aja. Aku udah lama tahu kamu suka sama Kak Ariel tanpa baca buku itu. Kamu selalu ngeliat Kak Ariel dengan cara berbeda.
Gladis: Aku nggak bilang siapa-siapa, tenang aja.
Gladis: Aku pengen balikin, tapi kamu jarang di rumah pas udah kuliah. Aku mau taruh bukunya di kamar kamu tapi Mama kadang tidur di kamar kamu kalau lagi kangen sama kamu. Jadi aku simpen aja bukunya di kamar aku.
Gladis: Sori, Kak. Tapi aku nggak pernah bilang sama siapa-siapa kok. Mama juga nggak tahu.
Elin terduduk kembali. Ia menggenggam ponselnya dengan gusar. Satu orang lagi yang tahu rahasianya. Dan itu adalah orang-orang terdekatnya. Ia takut jika suatu hari Ariel akan tahu, atau ibu atau ayahnya. Gladis adalah anak yang tak bisa ditebak, ia tak ingin percaya begitu saja pada Gladis.
Gladis: Percaya sama aku. Aku tahu perasaan kamu sama Kak Ariel tulus dan dalem banget. Terkadang, aku selalu berpikir kalau aja kalian bukan saudara, kalian pasti akan sangat serasi. Tapi cinta kamu terlarang, Kak.
Gladis: Kamu udah dewasa sekarang, Kak. Aku harap kamu nggak berlama-lama tenggelam dalam cinta pertama kamu.
Gladis: Kalau kamu bisa, cari cowok lain aja. Aku tahu kamu sekarang numpang tinggal di rumah Kak Ariel.
Gladis: Kak Ariel kan udah nikah. Kamu pasti sakit hati terus kalau tinggal di sana. Kenapa nggak tinggal misah aja?
Gladis: Ah, aku jadi ngelantur. Pokoknya, aku nggak mau kamu terluka, Kak. Aku hargai perasaan cinta kamu ke Kak Ariel. Tapi kamu juga berhak bahagia. Itu maksud aku.
Elin mendengus membaca deretan pesan dari Gladis. Itu benar, semua yang dikatakan oleh Gladis benar. Ia hanya akan terluka jika terus tinggal di sini. Ia tak hanya tenggelam dalam cinta pertama yang tak terbalas itu, sekarang ia justru semakin tenggelam dalam pernikahan kontrak!
Elin: Plis, jangan sampai semua orang tahu. Tolong rahasiakan, terutama dari Mama dan Kak Ariel.
Gladis: OK. Aku belajar lagi.
Elin tak lagi membalas. Jika sudah berkirim pesan, Gladis bisa terus membalasnya atau mencercanya atau memberinya nasihat. Gladis ingin ia pergi dari sini dan mencari pria lain. Sinta juga ingin mengusirnya. Yah, setelah bayinya lahir ia mungkin akan segera pergi.
***
Sementara itu, Sinta baru saja membakar buku harian milik Elin. Ia tak akan membiarkan Ariel tahu perasaan Elin yang sesungguhnya. Sinta tak bisa menebak apa yang akan dilakukan Ariel jika ia tahu bahwa Elin mencintainya. Ariel sudah menghamili wanita yang mencintainya, dan Sinta takut itu akan mengubah perasaan Ariel pada Elin.
"Ibu ngapain di belakang, kok ngalamun?" tanya Budhe Sarti. Ia hendak menjemur pakaian di kebun belakang.
__ADS_1
"Nggak papa, Budhe. Aku mau ke kamar aja."
"Ibu sakit?" tanya Budhe Sarti. Wajah Sinta terlihat pucat sementara mata Sinta memerah khas orang yang baru saja menangis. Jadi, wanita setengah baya itu agak khawatir.
"Nggak, aku mau istirahat aja. Budhe nanti masakin buat Elin ya," kata Sinta.
"Ibu nggak makan?"
"Aku males makan. Nanti aja. Gampang." Sinta segera berlalu ke kamar. Ia membuang napas panjang. Jika ia tidak membawa novel-novel milik Gladis, ia tak akan tahu rahasia besar Elin. Dengan kesal ia menumpuk novel itu lalu kembali menyimpannya di dalam kardus. Ia tak lagi berselera untuk membaca.
Dengan lemah, Sinta pun berbaring di atas ranjang. Ia menangis pilu karena tahu ada wanita lain yang sangat mencintai suaminya. Wanita itu bahkan sedang mengandung benih dari suaminya. Dan wanita itu sudah lebih lama mencintainya suaminya. Ia terlalu takut jika cinta Elin jauh lebih besar daripada cintanya. Dan suatu hari, Elin akan berhasil merebut suaminya.
"Nggak, nggak mungkin," isak Sinta.
Jika ia bukan wanita cacat, ia mungkin akan jauh lebih percaya diri. Ia cantik, ia bisa memuaskan Ariel di atas pembaringannya, tetapi kini ia benar-benar murung. Ia mulai merencanakan banyak hal di kepalanya. Yang jelas, ia tak ingin Ariel dekat dengan Elin. Dan cara terbaik untuk melakukan itu adalah mengusir Elin pergi.
Namun, ia juga membutuhkan bayi dalam perut Elin. Seperti yang dikatakan oleh Ariel, itu bukan bayi Elin, itu adalah bayinya dengan Ariel. Jadi, ia akan mengambil bayi itu lebih dulu. Setelah bayinya lahir ia benar-benar akan mengusir Elin jauh-jauh.
Sinta jatuh tertidur setelah ia memikirkan banyak hal. Ia tak sadar hingga Ariel tiba-tiba sudah ada di kamar mereka. Ariel tampak cemas ketika duduk di tepian ranjang dan menyentuh keningnya.
"Sayang, kamu sakit? Badan kamu panas banget," kata Ariel.
Sinta mencoba untuk bangun, tetapi benar badannya terasa begitu berat dan ia menggigil kedinginan. "Aku nggak enak badan, Mas."
"Kamu pasti kecapekan, tiduran aja. Aku baru pulang, kata Budhe Sarti kamu nggak mau makan siang dan tiduran aja di kamar," kata Ariel. "Aku ambilin obat demam ya."
Sinta mengangguk saja. Ia menunggu beberapa menit hingga Ariel kembali dengan membawa satu baki berisi bubur, air dan obat. Dengan sabar, Ariel membantu Sinta duduk. Ia menyuapi Sinta beberapa sendok bubur lalu membantunya minum obat.
"Kenapa kamu bisa sakit begini?" tanya Ariel khawatir. "Apa kita ke rumah sakit aja?"
Sinta menggeleng pelan. "Nggak, Mas. Aku cuma banyak pikiran belakangan ini."
"Kamu mikir apa sampai kamu tumbang begini?" tanya Ariel.
__ADS_1
Sinta mencebik. Hatinya terasa sakit sejak Ariel memberikan banyak perhatian pada Elin. Dan hari ini ia tahu fakta mencengangkan tentang Elin. "Aku cuma ... aku takut kehilangan kamu, Mas."