Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
54. Elin Bertemu Galang


__ADS_3

Elin terbangun ketika tengah malam menjelang. Ia merasa linglung seketika karena suasana kamarnya yang berbeda. Butuh beberapa detik untuk Elin ingat bahwa ia sudah berada cukup jauh dari rumah Ariel. Ia sudah kabur dan sekarang ia ada di motel yang ada di dekat pantai Serayu.


Elin terduduk di tepi ranjang. Ia menatap ke jendela lantas membukanya. Ia bisa melihat di kejauhan ombak pantai Serayu yang tidak begitu besar. Ingatannya tiba-tiba melayang ke beberapa tahun yang lalu ketika ia masih SMP dan Ariel sudah kuliah. Ia ingat dulu berlarian di sana dengan Ariel dan Gladis sementara orang tua mereka akan berteriak agar mereka berhenti berlari.


Gladis biasanya akan menurut karena ia selalu merasa tersisih ketika Ariel bersama Elin. Elin dan Ariel masih akan berlari di sana, kemudian Ariel bisa menjangkau pinggang Elin dengan mudah. Gadis remaja itu pun ambruk bersama Ariel di atas pasir dan ombak kecil menerpa tubuh mereka.


Elin tak bisa melupakan senyum manis yang dipamerkan oleh Ariel di sela tarikan napas yang memburu itu.


"Pantainya bagus," ujar Elin.


"Bagus banget, di sini nggak rame jadi pasirnya masih terawat." Ariel tampak sepakat.


"Aku pengen ke sini lagi kapan-kapan," kata Elin tanpa mengalihkan tatapannya dari Ariel.


Ariel mengangguk. Pria 22 tahun itu menatap ke langit biru yang luas. "Ehm, nanti kita ke sini lagi. Berdua aja. Kamu mau?"


Elin tentu mengangguk senang. "Kapan? Kakak bentar lagi lulus mau ke luar negeri. Pasti nggak sempat lagi."


Ariel mencubit ujung hidung Elin dengan gemas. "Besok kalau kamu ulang tahun. Ke-17 atau ke-20. Kita bisa pergi ke sini. Berdua!"


"Janji?" tanya Elin bersemangat.


"Janji!" Ariel mengacak puncak kepala Elin dengan gemas.


Di kamar motel, Elin membuang napas pelan seraya ingatannya memudar. Janji yang hanya berupa janji. Bahkan setelah 9 tahun, Ariel lupa akan janjinya.


Elin menutup jendela ketika merasa udara malam yang dingin. Ia memutuskan untuk mandi sejenak karena sejak kemarin ia belum mandi, padahal ia sudah menempuh perjalanan yang lumayan.


Usai mandi, Elin ingin mengetik naskahnya kembali. Suasana yang sepi sangat cocok baginya untuk menuangkan ide. Namun, ia menimbang untuk mengecek ponselnya lebih dulu. Ia agak takut jika ponselnya menyala, Ariel akan tahu keberadaannya.


"Aku kenapa sih?" gumam Elin. Setengah hatinya berharap Ariel akan tahu ia ada di mana lalu tiba-tiba datang, tetapi setengah hatinya lagi berkata ia tak ingin bertemu lagi dengan Ariel.

__ADS_1


Elin yang ragu akhirnya memutuskan untuk menyimpan kembali ponselnya. Jika memang Ariel harus tahu di mana ia sekarang, pastinya tidak sekarang. Ia masih ingin menikmati waktunya sendiri.


***


2 malam berlalu dan ini adalah hari ketiga Elin meninggalkan rumah. Di luar sana, Ariel masih kelabakan mencari di mana Elin sementara Elin begitu tenang tinggal di motel.


"Ya ampun jajanan aku habis," ujar Elin malam itu.


Elin memeriksa dompetnya, ia tak memiliki banyak uang tunai yang tersisa jadi ia khawatir uangnya tak akan cukup hingga akhir pekan nanti. Jika ia menarik tunai atau menggunakan debit, ia yakin Ariel akan segera tahu.


Jadi, malam itu Elin mencoba untuk mengabadikan rasa laparnya. Namun, ia tak tahan. Ia benar-benar harus makan sesuatu. Dengan cepat, Elin pun mengambil jaket, ia mengenakannya lalu keluar dari kamar.


Elin harus berjalan sekitar 50 meter dari motel untuk tiba di minimarket 24 jam. Ia memilih roti aneka rasa, susu kemasan, tortila dan beberapa biskuit. Elin menimbang-nimbang, apakah uangnya cukup atau tidak, karena tiba-tiba saja keranjangnya sudah penuh dengan jajanan.


"Elin? Kamu ngapain di sini?"


Elin terkesiap ketika melihat sosok Galang di depannya. "Oh, Pak Galang?"


"Ya. Kamu sedang liburan?" tanya Galang.


"Oh, ya. Pak Galang ada kerjaan di sini?" Elin mendadak gugup. Di sini memang merupakan tempat wisata, tetapi tidak begitu populer. Jadi agak aneh untuk berlibur ke tempat ini.


"Iya. Baru survei lokasi. Ternyata di sini bagus banget. Padahal sepi," jawab Galang.


Elin mengangguk setuju. "Bener, Pak. Sama siapa, Pak?"


"Sama Dimas dan Satya. Tapi mereka sedang di lapangan. Saya haus mau cari minuman. Kamu?" Galang menatap keranjang belanja Elin yang penuh. "Jajan?"


"Ya. Saya gampang laper soalnya," jawab Elin gugup. Ia bisa melihat Galang tengah menatap perutnya yang masih datar hingga refleks ia mengusapnya. "Udah mau 17 minggu tapi belum kelihatan."


"Ehm, gitu," ujar Galang tak enak karena kedapatan mencuri tatap. "Kamu sama suami kamu? Di mana suami kamu?"

__ADS_1


"Ah!" Elin terkesiap. Benar juga, rasanya akan lebih aneh jika ia berkata ia sedang liburan seorang diri di sini. "Di motel, Pak. Dia capek."


Galang hanya mengangguk. Ia sudah membawa satu krat minuman kaleng. "Saya mau bayar dulu."


"Ya." Elin pun mengekor Galang. Ia lupa hendak meletakkan kembali beberapa jajanannya hingga ia tiba di kasir.


"Semuanya 135.600, Kak," ujar kasir yang menghitung belanjaan Elin.


Elin agak kaget. Karena tadinya ia hanya ingin jajan 50.000. Kenapa ternyata jadi sebab itu. Padahal uang tunainya tinggal 200.000. di sebelahnya, Galang melihat gestur bingung Elin.


"Saya yang bayar," ujar Galang seraya mengulurkan kartunya.


"Eh, nggak usah, Pak," ujar Elin tak enak.


"Nggak papa, sekalian. Kamu nggak bawa duit?" tanya Galang iseng.


"Ehm, ada sih, Pak. Tapi kayaknya kurang. Saya nggak sadar jajannya," ujar Elin. Ia menunggu Galang menyelesaikan transaksinya lalu menerima satu kantong berisi makanan.


"Nggak papa, saya maklum kok. Kayaknya ibu hamil emang beda." Galang mengedikkan dagunya lalu mereka keluar dari minimarket. "Kamu di motel mana?"


"Mawar Putih, Pak." Elin menjawab cepat. "Ini saya ganti kapan-kapan, Pak. Besok saya transfer."


"Nggak usah. Kamu buruan balik ke motel. Ini udah malam banget nanti ditungguin sama suami kamu."


"Ya. Makasih banyak, Pak."


Elin segera berlalu meninggalkan Galang yang masih berdiri di dekat minimarket. Ia menatap punggung Elin yang makin lama makin tak terlihat. Ia tak ingin curiga, tetapi Elin sungguh terlihat aneh. Jika Elin sedang hamil dan bersama dengan suaminya di sini, kenapa Elin harus membeli jajanan seorang diri? Kenapa bukan suaminya yang berbelanja. Padahal ini sudah hampir pukul 10.00 malam.


"Apa Elin bohong ya?" gumam Galang.


Galang menggeleng pelan. Ia tak ingin peduli dengan Elin, tetapi nyatanya ia tidak bisa. Pantai Serayu juga bukan pantai populer yang bisa didatangi banyak orang. Rasanya agak aneh melihat Elin di sini.

__ADS_1


"Semoga kamu di sini tidak sedang ada masalah, Elin."


__ADS_2