Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
65. Sikap Ariel di Rumah


__ADS_3

Sinta tampak melotot begitu Ariel lebih bersimpati pada Elin. Padahal, ia hampir tidak bisa tidur semenjak Ariel pergi dari rumah. Kini, Ariel merangkulnya erat dan menariknya masuk. Padahal ia masih ingin meluapkan kekesalannya pada Elin. Ia menoleh pada Elin yang berjalan ringan memasuki rumahnya.


"Wah, Neng Elin abis pulang kampung ya?" tanya Budhe Sarti seraya menyambut Elin.


Sebelumnya di mobil, Ariel sudah memberitahu Elin bawa iya harus mengatakan pada Budhe Sarti bahwa ia baru saja pulang kampung. Elin tersenyum tipis, ia memeluk wanita setengah baya itu erat.


"Iya Budhe, aku kangen sama Budhe." Elin melepaskan pelukannya dan membuang napas panjang.


"Abis pulkam seminggu jadi kelihatan seger nih Neng Elin. Pasti seneng banget di sana ya," ujar Budhe Sarti.


Elin melirik Sinta yang wajahnya sudah merah padam. "Aku cukup tenang di sana, Budhe. Seneng juga sih."


"Alhamdulillah, saya seneng dengernya. Neng Elin mau minum apa biar saya siapkan," kata Budhe Sarti.


"Lemon tea aja, Budhe. Yang anget. Tolong anter ke kamar ya, aku capek banget," ujar Elin. Ia tersenyum pada Budhe Sarti yang langsung meluncur ke dapur untuk membuatkannya minuman.


"Kamu istirahat aja di kamar, kamu pasti capek banget," ujar Ariel pada Elin.


"Iya, Kak. Aku ke kamar dulu," tukas Elin. Ia mendekati Ariel dan Sinta. Sinta memeluk lengan Ariel dengan erat. Ia pun tersenyum. "Aku naik dulu, Mbak."


Sinta hanya mengangguk pelan. Ia tak ingin bicara dengan Elin karena merasa Elin begitu sombong sekarang. Hanya karena 2 malam yang Elin lalui bersama Ariel, Elin bisa saja bertingkah lebih menyebalkan ke depannya. Apakah Elin juga berniat untuk merebut Ariel darinya?


"Aku juga mau istirahat, kamu bisa bikinin aku teh hangat?" tanya Ariel pada Sinta.


"Iya, Mas. Kamu duduk di sini apa mau ke kamar?" Sinta menengadah ke lantai dua. Mungkin Elin baru saja masuk ke kamarnya.


"Ya, di kamar aja. Aku naik dulu." Ariel mencium puncak kepala Sinta sebelum akhirnya menaiki anak tangga. Ia menoleh pada Sinta yang sudah tak terlihat lagi di bawah.


"El!" panggilnya ketika ia masuk ke kamar Elin. Dilihatnya Elin sedang berbaring di atas ranjang. Mungkin benar, Elin begitu lelah karena perjalanan mereka yang memakan waktu berjam-jam.


"Iya, Kak," jawab Elin seraya duduk.

__ADS_1


"Tas kamu." Ariel meletakkan ransel besar Elin di dekat ranjang.


"Oh iya. Ya ampun nyampe mau lupa," kata Elin. "Aku bongkar dulu deh."


"Tiduran aja dulu. Kamu capek kan?"


"Lumayan. Aku agak laper," ujar Elin.


Ariel tertawa kecil. "Kamu baru mulai doyan makan makanya laper mulu. Bilang sama Budhe kalau kamu mau makan sesuatu biar dibawain naik. Sinta juga udah masak katanya."


Ariel mengusap pelan rambut Elin hingga gadis itu berdebar tak keruan. "Aku keluar dulu," ujar Ariel.


Elin mengangguk lalu kembali berbaring di ranjang dan memeluk gulingnya. Jika begini terus, ia tak akan menyesal sudah pulang. Ariel benar-benar memberinya perhatian. Walaupun itu hanya perhatian kecil, tetapi ia merasa sangat bahagia. Sayang sekali, Ariel tak akan sering datang ke kamarnya.


Elin tak ingin bersedih. Setidaknya ia bisa merasakan kasih sayang Ariel lagi. Ariel juga sudah berjanji untuk bersikap adil dan menjaganya. Elin dengan gemas meraba perutnya yang masih datar. Ketika bayinya lahir, ia mungkin tak perlu pergi seperti yang dikatakan oleh Ariel. Jika Ariel masih menginginkannya.


"Neng, ini lemon tea angetnya," ujar Budhe Sarti.


Budhe Sarti duduk di tepi ranjang Elin lalu memijat kakinya sementara Elin mulai minum. "Nggak bawa mangga dari rumah lama, Neng?"


"Ah, nggak. Maaf, Budhe," ujar Elin tak enak. Ia, Ariel dan Sinta sudah berbohong bahwa ia baru saja pulang ke rumah lamanya. Terakhir kali Ariel dan Sinta ke sana, mereka juga memberikan buah mangga pada Budhe Sarti.


"Nggak papa, Neng. Rumah sepi banget kemarin nggak ada Eneng," ujar Budhe Sarti. "Cuma ada Bu Sinta. Pak Ariel juga jarang kelihatan di rumah semingguan ini, ternyata lagi nyusulin Neng Elin pulang ya."


Elin hanya tersenyum. Ia bertambah senang karena tahu Ariel mencari-cari dirinya. "Budhe, di bawah ada makanan apa? Aku agak laper nih."


"Tadi Bu Sinta masak rendang ayam sama tumis buncis. Neng mau?" tanya Budhe Sarti.


"Boleh, kayaknya enak."


"Mau saya bawain ke kamar, Neng?" Elin mengangguk. "Oke, tunggu sebentar, Neng. Seneng rasanya liat Neng sekarang udah seger dan nggak mabok lagi."

__ADS_1


"Alhamdulillah, Budhe. Sekarang udah enak kalau makan, tapi masih suka lemes kalau kecapekan," ujar Elin.


"Wajar itu, Neng. Apalagi kalau perutnya makin besar nanti," kata Budhe Sarti gemas.


Elin hanya tersenyum. Ia mengusap perutnya lembut. Ia tak tahu bagaimana nantinya jika Budhe Sarti tahu bayi itu tidak akan menjadi miliknya, tetapi akan diakui sebagai bayi dari Sinta dan Ariel. Apakah Ariel akan membayar lebih pada wanita itu atau sebaliknya Ariel akan memecat wanita itu agar tak perlu menutup mulutnya.


***


Sementara itu, Sinta baru saja masuk ke kamarnya. Ia meletakkan gelas berisi teh hangat untuk Ariel di atas meja. Kedua matanya memindai ruangan yang kosong. Ia hampir mengira Ariel ada di kamar Elin, tetapi kemudian Ariel muncul dari kamar mandi.


"Ini tehnya, Mas." Sinta mengangkat gelas itu lalu mengulurkannya pada Ariel.


"Makasih, Sayang." Ariel pun duduk lalu menyesap teh hangat itu. Sungguh melegakan ketika cairan beraroma segar itu melewati kerongkongannya.


"Rencana kamu selanjutnya apa, Mas? Aku butuh penjelasan, kenapa kamu mau mempertahankan Elin setelah bayi itu lahir," kata Sinta. Ia duduk di sebelah Ariel dengan perasaan tak keruan.


"Elin sedih banget kalau dipisahkan dari bayinya, Sin. Aku mohon kamu mengerti. Aku cuma pengen Elin tetap bisa merawat bayinya. Mungkin, dia bisa menyusui bayi itu sampai 2 tahun," kata Ariel.


Sinta mendengus tak percaya. Itu tak ada dalam imajinasinya. "Kamu sudah gila, Mas. Bagaimana bisa bayi itu menyusu pada Elin? Bukankah kamu bilang, Elin tidak berhak atas bayinya? Apa jadinya jika bayi itu menyusu pada Elin? Kita yang harus merawat bayinya, bukan Elin!"


"Jadi kita harus kasih susu formula? Padahal ibunya ada di sini," kata Ariel.


"Aku ibunya! Bukan Elin!" hardik Sinta. "Kamu lupa, Mas, kamu menikahi Elin hanya untuk meminjam rahimnya, bukan untuk menjadikan kamu istrinya apalagi ibu dari bayi itu!"


Ariel menatap Sinta yang tampak begitu marah padanya. Ia pun membuang napas panjang. Ia tak ingin Sinta marah seperti ini apalagi sampai menangis pada akhirnya.


"Maaf," ujar Ariel seraya menyugar rambut. "Aku cuma nggak tega sama Elin."


"Gara-gara kamu menghabiskan 2 malam sama Elin, kamu jadi lupa diri, Mas. Jangan lupa, pernikahan kalian hanya perjanjian, aku nggak mau jika terus dimadu dan aku nggak kamu kamu berpaling ke Elin," ujar Sinta dengan napas ngos-ngosan.


"Nggak, Sayang. Nggak kayak gitu," ujar Ariel meyakinkan. Ia merangkul Sinta lalu memeluknya. "Aku minta maaf. Tapi Elin harus dijaga dan diperlakukan dengan baik mulai sekarang. Kita nggak bisa ngambil risiko kalau dia kabur lagi seandainya di kesal sama kita."

__ADS_1


Sinta mengangguk setuju kali ini. "Benar, aku nggak mau Elin bermain-main dan pergi dari rumah lagi. Kurung dia, Mas!"


__ADS_2