Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
72. Sinta Bersama Miko


__ADS_3

"Sakit, Kak." Elin meremas jari telunjuknya. Terlihat darah segar menetes hingga ke lantai.


"Ya ampun, kamu kena pisau?" tanya Ariel panik. Ia mengambil sapu tangannya lalu membalut jari Elin dengan itu. "Ini lebar banget lukanya. Kamu pusing?"


Elin mengangguk pelan. Ia begitu ceroboh ketika memotong buah apel. Pisau tajam itu rupanya menyayat jarinya dengan cukup dalam.


"Kenapa sih, pagi-pagi bikin ribut acara sarapan aja," kata Sinta yang heran dengan Ariel dan Elin. Ia juga agak kaget karena ada banyak tetesan darah di lantai.


"Elin terluka, kayaknya dia perlu dijahit, Sin. Aku bawa dia ke rumah sakit dulu ya," kata Ariel seraya merangkul bahu Elin.


"Bukannya cuma kena pisau," kata Sinta dengan nada tak suka.


"Iya, tapi ini darahnya banyak banget mana masih netes," kata Ariel.


Sinta menatap Elin yang memucat. Jika saja Elin tak sedang hamil, ia tentu tak ingin peduli. "Ya udah, buruan kamu, Mas. Kamu juga harus kerja kan."


"Iya. Maaf, Sayang. Aku nggak jadi sarapan," kata Ariel. "Ayo, El. Kita ke rumah sakit aja."


Sinta bersungut-sungut karena ia ditinggal sendirian saja di rumah. Ia sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, tetapi rupanya mereka tak jadi makan. Dengan kesal, ia pun memutuskan untuk tak jadi sarapan juga.


"Uh, ngeselin banget sih. Pinter aja itu Elin cari perhatian sama Mas Ariel pagi-pagi gini. Nggak tahu apa orang udah capek nyiapin sarapan. Orang mau kerja malah jadi repot. Dasar caper!" Sinta masih menggerutu ketika ia mendengar deru mobil mendekat.


"Miko udah datang," gumamnya yang ingat sekali saatnya pergantian shift para penjaga rumah ini. "Apa makanan ini aku bagi ke Miko aja ya?"


Sinta pun membawa makanannya ke depan. Ia membuka pintu dan menjumpai Miko sedang merokok di dekat mobilnya.


"Miko, kamu udah sarapan?" tanya Sinta pada pria yang langsung mendekatinya.


"Belum sih, Bu." Miko melirik piring berisi roti bakar dan dua gelas cangkir di meja.


"Ya udah, kamu temani aku sarapan ya. Aku bete sarapan sendirian," kata Sinta seraya duduk. Ia melambaikan tangan pada Miko. "Sini!"

__ADS_1


"Oh, ya." Miko dengan patuh duduk di seberang Sinta. Ia mencomot roti bakar dengan selai kacang itu lalu mulai makan. "Bu Sinta bikin sendiri?"


"Iya dong. Gampang kok."


"Ehm, enak banget, Bu." Miko tersenyum tipis. Pemuda 28 tahun itu sudah bekerja selama lebih dari 3 tahun dengan Ariel. Ia cukup tahu seluk-beluk kehidupan rumah tangga Ariel dan Sinta. Ia juga dibayar mahal untuk tutup mulut akan apa saja yang terjadi di rumah ini.


"Ngomong-ngomong, Pak Ariel ke mana, Bu? Tadi papasan sama saya mobilnya. Tumben pagi banget udah berangkat," kata Miko.


"Tadi Elin sakit. Tangannya kena pisau jadi dibawa ke rumah sakit," kata Sinta. Ia jadi kesal lagi dengan Ariel dan Elin. "Lebay banget padahal cuma luka kecil. Lagian motong apel aja nggak bisa malah bikin masalah."


Miko hanya tertegun mendengar ucapan Sinta. Menjadi istri yang diduakan oleh suami mungkin membuat Sinta menjadi pemarah, padahal seingat Miko, Sinta adalah wanita yang lemah lembut.


"Elin kan sedang hamil, Bu. Makanya Pak Ariel jadi panik mungkin," kata Miko dengan maksud mengurangi kekesalan Sinta.


"Iya gitu. Aku tuh kesel, suami aku sekarang lebih perhatian sama Elin daripada sama aku," kata Sinta dengan wajah cemberut.


"Nggak usah gitu lah, Bu. Pak Ariel nikah siri doang kan sama Elin," kata Miko mengingatkan.


"Saya bisa jaga mulut saya, tenang aja, Bu. Kalau Bu Sinta butuh teman buat ngobrol santai hubungi saya aja. Saya kan nggak jauh-jauh cuma di sekitar rumah," kata Miko. Ia sudah menghabiskan dua potong roti bakar dan setengah cangkir kopi, lumayan untuk sarapan, pikirnya.


Sinta mengangguk dan tersenyum pada Miko. "Makasih ya, kamu udah dengerin unek-unek aku sedikit. Kamu juga mau nemenin aku sarapan."


"Santai aja, Bu."


Sinta melirik Miko yang sedang mencomot potongan roti bakar lagi. Pria ini seumuran dengannya mungkin. Miko memiliki paras yang lumayan tampan, badan tinggi dan atletis. Pantas saja Miko bisa menjadi penjaga pilihan Ariel. Pastilah Miko pandai berkelahi.


"Kamu udah nikah, Mik?" tanya Sinta.


"Ehm, belumlah, Bu. Masih mau seneng-seneng," jawab Miko dengan wajah cengengesan.


"Bisa aja kamu. Pasti udah banyak mantan pacar kamu ya," tukas Sinta.

__ADS_1


"Kalau mantan sih ada, Bu. Hehe," ujar Miko. "Kalau pacar lagi nggak ada. Capek pacaran mulu, kebanyakan cuma memanfaatkan."


"Kamu terlalu baik mungkin," kata Sinta menebak.


"Nggak juga. Saya pasti nggak sebaik Bu Sinta yang rela membiarkan suami menikah lagi," kata Miko.


Sinta tersenyum kecut. Seandainya ia bisa bersikap baik. Sayangnya, tidak. Ia benar-benar membenci Elin sekarang. Ia ingin melompati waktu dan mempercepat proses kelahiran bayi di perut Elin. Ia tak ingin Ariel berlama-lama memanjakan Elin.


"Aku nggak sebaik itu kok. Aku sebenarnya jengkel sama pernikahan suami aku," kata Sinta. "Aku sakit hati."


"Pastilah, Bu. Wanita mana yang rela berbagi suami. Kayaknya nggak ada," kata Miko. Ia tersenyum pada Sinta. "Tapi selama ini Pak Ariel kan cinta banget sama Bu Sinta, jadi nggak usah khawatir deh. Mungkin Pak Ariel perhatian sama Elin karena dia lagi hamil aja, Bu. Lagian mereka kan emang udah dekat sebelum menikah."


"Kamu bener, suami aku emang cinta banget sama aku. Tapi sekarang, kayaknya semua berubah, Miko. Dia udah nggak kayak dulu lagi," tukas Sinta pilu. "Terkadang, aku pengen suami aku bersikap posesif lagi sama aku, tapi sekarang kasih sayangnya aja udah dibagi."


"Ehm, sabar ya, Bu. Coba cari hiburan dan kesibukan aja kalau gitu," kata Miko menyarankan.


Sinta membuang napas. Satu-satunya hal yang ia sukai adalah membuat kue. Ia selalu ingin membangun toko kuenya sendiri, tetapi sekarang ia sedang dalam mode menyembunyikan dirinya sendiri agar suatu hari ketika bayi Elin lahir ia bisa berperan sebagai ibunya.


"Makasih sarannya. Aku nggak tahu lagi mau nyari kesibukan apa lagi, kamu tahu kan aku jarang bisa keluar rumah sekarang," kata Sinta. Ia bersedekap dan membuang napas panjang.


"Santai aja, Bu. Nanti juga terbiasa kok. Pokoknya kalau ada sesuatu bisa curhat sama saya," kata Miko sembari memamerkan deretan gigi putihnya.


Selama ini, Miko hanya sering melihat Sinta yang ada di dalam rumah. Jika ia sedang berjaga di belakang rumah, ia akan bisa melihat Sinta yang sedang memasak. Sesekali ia juga akan melihat Sinta sedang duduk dan membaca buku di balkon. Ia cukup mengagumi istri cantik bosnya itu. Rasanya cukup menyenangkan bisa sarapan dan mengobrol berdua dengan Sinta.


Miko tahu, ada kekosongan di hati Sinta karena pernikahan kedua suaminya. Dan kini, ia berharap bisa mengisi kekosongan tersebut.


.


Haii aku mau promosi karya keren temen aku nihhh


Semoga berkenan mampir dijamin seru dan bikin emosi sama suami & mertua Runi

__ADS_1



__ADS_2