Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
89. Pergi untuk Selamanya


__ADS_3

Ariel melepaskan bahu Sinta dan menoleh ke arah pintu kamar. Ia terkesiap karena tadi pintu itu jelas tertutup dan ini terbuka sedikit. Rasa aneh menjalari hati Ariel. Ia segera berlari ke arah pintu.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Sinta. Buru-buru Sinta meletakkan Luna di atas boks bayi.


"Elin kayaknya datang," ujar Ariel lemah. Ia melongok ke lantai satu, ia juga melihat pintu dapur terbuka.


"Kamu overthinking banget deh, Mas," kata Sinta seraya menarik lengan Ariel. "Nggak mungkin Elin ke sini sepagi ini."


"Pintu dapurnya terbuka, Sin!"


"Pintu itu emang nggak dikunci, tadi aku juga udah jalan-jalan ke belakang," kata Sinta berbohong. Ia menarik lengan Ariel lebih kuat.


"Tapi ...."


Ucapan Ariel terputus karena tangisan keras Luna. Sinta tersenyum tipis. "Kamu gendong Luna, aku mau buatin susu dulu di bawah."


Senyum Sinta menghilang ketika ia menuruni anak tangga. Ia sudah cukup senang karena hadirnya bayi kecil itu. Ariel bahkan memperhatikannya seperti layaknya memperhatikan ibu yang baru saja melahirkan. Ariel akan bertanya apakah Luna membuatnya mengantuk atau kelelahan di malam hari? Atau bertanya apakah ia ingin makan sesuatu untuk menemani begadang?


Namun, kenapa Elin harus muncul di hari ini? Sinta dengan cemberut mencuci botol bayi Luna. Ia segera menyiapkan susu bayi itu agar Ariel memujinya, ia bisa menyiapkan susu dengan cepat meskipun ia tak bisa menyusui langsung.


"Repot juga ngurus bayi itu," gerutu Sinta. "Luna juga sering nangis kalau aku yang gendong. Hm, apa karena aku bukan ibu kandungnya?"


Sejujurnya, Sinta sangat ingin menyukai bayi itu. Ia sudah menunggu 9 bulan untuk melihat bayi itu. Namun, ia agak kecewa karena wajah bayi itu terlalu mirip dengan Elin. Ia takut suatu hari nanti orang akan mempertanyakan hal itu. Akan lebih baik jika bayi itu mirip dengan Ariel.


***


Di tempat lain, Galang mondar-mandir di sebelah ranjang Elin. Ia menatap Elin yang begitu pucat. Pendarahan pasca melahirkan! Itu yang dialami Elin. Kenapa bisa begini? Pikir Galang dalam hati.


Tadinya, Galang hanya berniat untuk mencari sarapan sekaligus melihat rumah Ariel, ia masih sering mencari Elin dan lewat di sekitar rumah itu. Dan kebetulan, tadi ia melihat sosok yang mirip dengan Elin. Rupanya benar, sayang sekali ia harus menemukan Elin dalam keadaan yang tak baik.


"Elin!" panggil Galang ketika Elin membuka mata.

__ADS_1


Elin mengernyit. Ia menatap tempatnya berada saat ini. Ia menoleh pada Galang yang memanggilnya beberapa kali.


"Pak Galang?"


Galang mengangguk. "Ya. Kamu merasa ... sakit atau sudah lebih baik?"


Elin tak menjawab. Ia kembali menangis selama beberapa menit dan Galang menunggui dengan terenyuh. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Elin, sayangnya ia juga tak tega untuk bertanya. Jadi, ia menunggu hingga Elin terlihat lebih tenang.


"Dokter bilang, kamu baru melahirkan setidaknya baru beberapa hari. Kamu mengalami pendarahan, tapi untung saja kamu langsung dirawat dokter," kata Galang menjelaskan.


Elin mengangguk. "Tiga hari yang lalu bayi saya lahir."


"Ehm, lalu ... di mana bayinya?" Galang menatap Elin yang hanya terdiam. "Dokter bilang kamu tidak menyusui jadi kamu mengalami pembengkakan dan radang."


Elin mengangguk lagi. "Bayinya nggak ada. Bayinya nggak ada sama saya."


Galang membuang napas panjang ketika Elin kembali menangis. "Kamu bisa cerita, El. Kamu bisa tertekan kalau kayak gini. Saya nggak liat ponsel kamu, jadi ... saya nggak tahu harus hubungi siapa. Apa kakak kamu ...."


"Jangan!" sergah Elin. Ia bernapas lebih kuat ketika Galang menyebutkan Ariel. Ariel sudah berbahagia di sana. Ariel tak butuh dirinya.


"Nggak." Elin menggeleng lagi. Ia menatap Galang penuh makna. "Saya nggak punya siapa-siapa lagi. Bisa bantu saya buat pergi? Saya harus pergi sejauh mungkin. Saya nggak mau tinggal di sini lagi. Saya mau pergi ...."


"Ke mana? Bukannya orang tua kamu di luar negeri? Bagaimana dengan suami kamu?" tanya Galang bingung.


Elin kembali terisak. "Saya nggak punya suami. Suami saya tidak mencintai saya. Saya ... saya hanya ingin pergi dari semua orang. Tapi ... bagaimana? Pak Galang bisa bantu saja? Pak Galang ... saya pasti balas semua kebaikan Pak Galang sama saya suatu hari nanti."


Galang mengusap pipi Elin yang basah. "Kamu istirahat saja dulu. Kamu ... kamu tidak seharusnya pergi seperti itu. Setidaknya saya harus tahu kenapa kamu mau pergi. Kamu mau cerita?"


"Kalau saya cerita ... Pak Galang mau bantu saya?" tanya Elin penuh harap.


"Tergantung. Kalau posisi kamu memang butuh perlindungan, saya pasti bantu kamu."

__ADS_1


Jadi, Elin pun menceritakan semuanya pada Galang. Itu jelas kaget ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Elin. Ya tidak menyangka bahwa Elin digunakan oleh kakaknya sendiri untuk melahirkan bayi dan sekarang Elin bahkan tidak bisa melihat bayinya.


"Kamu membuat perjanjian? Kamu menikah karena perjanjian itu?" tanya Galang tak terima.


"Aku cinta sama Kak Ariel, makanya aku mau. Aku bodoh banget," ujar Elin yang sudah meninggalkan bahasa formalnya sejak ia bercerita pada Galang.


"Tapi tidak bisa begitu. Kamu juga berhak atas bayinya. Setidaknya kamu harus melihat bayi itu."


Elin menggeleng. "Kakak udah bahagia, Mbak Sinta juga. Mama nggak mau aku ganggu kehidupan Kakak. Mama mau bawa aku ke Prancis untuk sekolah lagi. Tapi ... aku nggak bisa. Jika begitu, suatu hari aku pasti bakalan ketemu Kakak. Aku nggak mau."


Galang menatap pilu Elin. Ia tak tega karena gadis yang begitu ia sukai sedang terluka luar dalam. Dengan lembut, ia pun memeluk tubuh Elin. Elin pun tak menolak, ia terlalu lelah, sakit dan ia memang butuh pelukan hangat dari seseorang. Pelukan yang tulus.


"Kamu tenang aja," kata Galang. Ia tersenyum tipis. "Kamu bisa ikut aku. Aku bisa bantu kamu."


"Beneran?" tanya Elin. Mendadak ia sangat malu, ia sudah menyakiti hati Galang. "Aku minta maaf. Aku ... selama ini ...."


"Kamu nggak perlu minta maaf. Aku bakal bawa kamu ke tempat yang aman. Tapi ... kamu harus membalasnya," ujar Galang.


Elin menatap Galang bingung. Ia sudah berkata ia akan membalas semua kebaikan Galang jika mau membantunya. Kini, ia agak gugup ketika Galang justru menagih.


"Oke. Apa yang Pak Galang mau?" tanya Elin.


"Pertama, kamu panggil aku Mas," ujar Galang seraya tertawa kecil. Di depannya Elin tersenyum tipis. "Kedua, kamu harus segera sembuh jadi banyak istirahat saja dan berpikir yang buruk-buruk. Ketiga ... setelah kamu meninggalkan semua yang ada di sini, kami harus kembali menulis karya. Kamu harus meraih kembali karir kamu yang sempat padam."


"Dan keempat?" tanya Elin antusias. Ia sempat mengira Galang akan meminta hatinya, agar ia mau kembali menerimanya Galang, tetapi rupanya bukan. Jadi, ia begitu bersemangat kali ini. Galang mungkin adalah pria paling tulus.


"Nggak ada yang keempat. Kamu hanya harus sabar, aku bakal ngurus banyak hal jika kamu mau aku sembunyikan," kata Galang. Ia kembali memeluk singkat tubuh Elin. "Kamu harus ikhlas jika kamu benar-benar mau pergi. Kamu sungguh ingin pergi?"


"Ya. Aku nggak mau lagi ada di sini, Mas."


.

__ADS_1


Halo sebelum naskah aku tamat dan aku mau haitus dari NT aku mau promosi karya temenku dulu ya



__ADS_2