
"Nanti temenin aku makan ya, Mas. Aku nggak mau makan sendiri," kata Sinta ketika mereka berdua baru saja selesai sholat Maghrib berjamaah.
"Iya, aku anter makan malam Elin dulu."
Ariel segera ke dapur, ia menghangatkan sop buntut tersebut lalu menyiapkan nasi di piring. Ia membawa satu baki makanan itu ke lantai atas lalu mengetuk pintu kamar Elin. Ia membukanya ketika Elin tidak merespon dari dalam.
"Elin!" panggil Ariel ketika ia tidak melihat sosok Elin di kamar tersebut. Ia meletakkan baki berisi makanan di atas nakas lalu menumpuk beberapa piring berisi sisa makanan Elin tadi siang. 'Elin pasti cuma makan sedikit.'
Tiba-tiba, Ariel mendengar suara aneh dari toilet. Ia segera mengetuk di sana. "El? Kamu di dalem?" tanya Ariel. Hati-hati, ia membuka pintu. Ia terkejut melihat Elin sedang muntah-muntah di atas kloset. "Astaga, kamu nggak papa?"
Elin menggeleng pelan. Ia terisak-isak seraya menarik tuas kloset. Dengan lemas ia terduduk di lantai. Ariel segera merangkul dan membantunya berdiri.
"Aku pusing banget," gumam Elin.
"Cuci muka dulu," kata Ariel. Ia membantu Elin membasuh wajahnya di wastafel. Ia mengambil handuk kering untuk mengelap lalu memapahnya menuju kamar. "Kamu muntah-muntah kayak gitu terus?"
Elin hanya mengangkat bahu. Ia memang sering muntah. Hari ini rasanya sangat parah, mungkin karena ia kehujanan tadi pagi.
"Aku udah beliin kamu sop buntut," kata Ariel seraya membantu Elin duduk. Ia menyelimuti kaki Elin dengan selimut lalu merapikan cardigan yang melapisi baju tidur Elin. "Kamu meriang? Demam?"
"Nggak, tapi emang dingin banget," jawab Elin. Ia mencium aroma segar sop buntut yang sudah ia inginkan sejak tadi. "Aku mau makan. Kakak mau nememin aku makan nggak?"
"Iya, aku temenin." Ariel mulai mengatur meja. Ia meletakkan mangkuk sop dan nasi di atas meja kecil itu. "Biar aku yang suapin. Kemarin kamu enakan makannya pas aku suapin. Nggak muntah kan?"
"Nggak. Aku baru lega makan kalau disuapin Kakak," jawab Elin.
Ariel mulai menyendok kuah sop, ia membiarkan Elin mencicipi dulu. Ketika Elin tersenyum sembari mengangguk senang, ia merasa lega. Melihat Elin muntah-muntah parah seperti tadi membuatnya merasa tidak tega.
__ADS_1
"Nah, kamu boleh habisin kalau kamu suka," kata Ariel yang sudah menyuapi Elin hingga tersisa setengah. Di depannya Elin tampak senang bisa menikmati makanan.
"Aku inget dulu waktu kecil kalau aku sakit suka barengan sama Gladis," ujar Elin seraya mengenang masa lalu. "Mama sibuk banget ngurus Gladis. Dia kan lebih manja kalau sakit. Jadi, aku inget Kakak yang selalu nyuapin aku makan kayak gini."
"Oh, jadi kamu kangen yang dulu-dulu, makanya baru mau makan kalau disuapin aku?" tanya Ariel sambil tersenyum.
"Mungkin. Aku kadang kangen kita semua ngumpul," kata Elin. Ia meraba perutnya yang terasa lebih nyaman sekarang. "Tapi sekarang, kayaknya kita nggak bisa ngumpul dulu ya."
"Ehm, tahun depan semoga kita bisa berkumpul sama Mama sama Papa juga. Gladis juga," tukas Ariel. Ia menyiapkan lagi satu sendok makanan ke mulut Elin lalu mengusap bibir basah Elin dengan tisu.
"Dulu ... Kakak sayang banget sama aku," gumam Elin dengan mulut penuh makanan.
Ariel meletakkan sendoknya. Yah, karena ia tahu Elin bukan anak kandung dalam keluarga mereka, ia merasa Elin harus diberi lebih banyak kasih sayang. Karena kedua orang tua mereka lebih memperhatikan Gladis semenjak anak itu lahir, Ariel menjadi lebih protektif dan sayang pada Elin.
"Kamu pikir sekarang aku udah nggak sayang sama kamu?" tanya Ariel. Ia mengambilkan gelas berisi air putih untuk Elin.
"Aku nggak tahu," jawab Elin setelah mereka sama-sama terdiam. Hanya bunyi denting sendok dan mangkuk yang terdengar selama beberapa saat sebelumnya. "Mungkin karena Kakak udah punya keluarga sendiri, Kakak jadi lebih fokus pada keluarga Kakak. Aku juga udah dewasa, aku udah kerja, jadi ... kita sama-sama nggak punya waktu untuk menunjukkan kasih sayang."
"Ehm, kamu selalu sibuk bekerja di luar. Bahkan saat kamu kuliah, kamu jarang sekali di rumah," kata Ariel.
'Aku jarang pulang karena aku nggak suka ngeliat Kakak bareng cewek lain, apalagi akhirnya menikah,' batin Elin.
"Kita baru tinggal bareng setelah kantor Galang pindah ke sini kan," lanjut Ariel.
Elin mengangguk. Mungkin, jika ia tidak pindah ke kota ini dan tinggal di rumah besar orang tua mereka, ia tak akan mengalami kecelakaan bersama Sinta, ia juga tak akan menikah dengan Ariel bahkan mengandung anaknya.
"Sebenarnya ... aku masih sayang sama kamu," ujar Ariel. Ia menatap kedua mata Elin. "Kita masih keluarga, benar?"
__ADS_1
"Aku selalu berpikir, Kakak benci banget sama aku setelah kecelakaan itu. Aku ... aku benar-benar kehilangan Kakak selama berbulan-bulan. Aku pengen pergi dari sini, tapi aku nggak bisa pergi," kata Elin dengan mata berkaca-kaca. 'Aku nggak jauh dari Kakak. Aku selalu ingin liat Kakak.'
Ariel mengaduk sisa sop Elin dengan gelisah. Ia tidak pernah berniat membenci Elin, ia hanya sangat marah karena kehilangan yang ia rasakan. Setiap kali melihat Elin, ia masih teringat akan bayinya yang telah tiada. Ia tak bisa melupakannya. Ariel begitu marah dan rasanya ia merasa lebih lega jika ia melampiaskan semua itu pada Elin.
Tentu saja itu salah, Ariel sendiri sadar, tetapi sudah terlambat untuk menyesali semuanya. Ia sudah terlanjur menyalahkan Elin, bahkan menuntut paksa Elin untuk mengganti bayinya yang telah pergi. Dan sekarang, ia terjebak dalam perasaan yang tak keruan. Ia ingin memandang Elin seperti dulu, sebagai adik kecil yang ia sayangi.
Namun sekarang, Elin menyimpan sesuatu yang berharga di tubuhnya, benihnya yang telah tumbuh. Dan kali ini, ia tak ingin kehilangan lagi. Ia harus menjaga bayi itu, yang artinya ia juga harus menjaga Elin agar ia baik-baik saja. Ia tak bisa lagi memandang Elin sebagai adiknya jika terus seperti ini.
"Aku punya sesuatu buat kamu," kata Ariel seraya merogoh sesuatu dari kantongnya. "Tadi aku mampir beli itu buat kamu."
"Apa ini?" tanya Elin seraya melihat benda mungil di tangannya.
"Voice recorder," jawab Ariel.
"Iya, aku tahu. Tapi ini buat apa?" tanyanya bingung.
"Mimpi kamu harus terputus sekarang," ujar Ariel. "Aku tahu kamu sedih banget karena kamu harus berhenti bekerja. Kamu punya banyak ide dan mimpi cemerlang, jadi aku harap kamu bisa menampung ide-ide kamu dengan rekaman. Kamu masih suk ngerekam? Kamu mungkin gampang capek dan pusing di depan laptop, jadi aku pikir itu lebih efisien."
Elin tertawa kecil. Ia tidak mempertimbangkan hal ini karena ia selalu merekam sesuatu dengan ponselnya. Namun, karena ini hadiah dari Ariel, tentu saja ia sangat menyukainya.
"Makasih. Aku bakal pakai ini," ujar Elin.
Ariel mengangguk pelan. "Nanti, setelah kamu melahirkan dan kamu siap untuk kembali mengejar mimpi kamu, aku janji, aku bakal dukung kamu. Aku bakal bantu kamu."
Air mata Elin kini menetes tanpa ragu. Ini adalah hari yang berat baginya. Ia mungkin akan menyesal selama berhari-hari, tetapi ia tidak punya pilihan. "Aku emang sedih banget. Naskah aku ... hampir naik ke produksi. Tapi ... tapi aku nggak bisa."
Ariel menyingkirkan meja kecil di depan Elin. Dengan lembut, ia memeluk tubuh Elin. Rasa bersalah mengisi hatinya seketika karena mendengar penuturan Elin yang blak-blakan.
__ADS_1
"Maaf, maafin aku," ujar Ariel seraya mengeratkan pelukannya.