
"Aku beneran masih pengen kerja, Kak," kata Elin. Ia mengangkat botol obat di tangannya. "Aku juga dapat obat anti mual. Aku pasti nggak papa, tenang aja, aku bakal jagain bayinya baik-baik. Aku janji."
"El, kenapa kamu jadi begini? Bukannya kita udah sepakat begitu kamu hamil kamu harus tinggal di rumah," kata Ariel mengingatkan.
Elin membuang napas panjang. Ia menatap ke jalanan dengan wajah cemberut. "Aku bakal minta keringanan sama Pak Galang atau aku bakal nego ke mereka biar aku nggak pernah terjun ke lapangan. Ya? Hanya sampai proses casting."
"Oke, aku kasih kamu waktu sebulan untuk bekerja," kata Ariel. Ia menatap semburat keceriaan di wajah Elin. "Tapi kamu harus jaga baik-baik kandungan kamu. Itu bayi aku, kamu paham?"
Elin mengangguk. Di luar sana ada banyak wanita hamil yang masih bisa bekerja bahkan hingga mendekati persalinan. Ia mungkin tidak akan bisa bekerja di kantor jika perutnya sudah membusung, tetapi setidaknya ia masih bisa berpartisipasi dalam proses produksi filmnya.
Setibanya di rumah, Ariel dan Elin pun disambut oleh Sinta. Ia sudah mendengar bahwa Elin tak enak badan hingga minta dijemput oleh Ariel. "Kamu nggak papa, El?"
"Nggak, Mbak. Aku cuma ... aku mau mandi dulu terus sholat isya," jawab Elin. Ia melirik Ariel, tadi Ariel sudah berpesan padanya bahwa Ariel sendiri yang akan memberitahu Sinta bahwa ia sudah hamil.
"Ya udah, nanti turun kita ngemil bareng ya."
Elin hanya mengangguk, ia meninggalkan Ariel dan Sinta di lantai satu. Elin yakin Sinta akan segera menggelayut manja di lengan Ariel.
"Mas, kamu beli apa aja? Elin beneran nggak papa?" tanyanya seraya memeluk lengan Ariel.
Ariel mengangguk, ia memberikan kecupan singkat di bibir Sinta. "Aku beliin kamu martabak keju. Ini juga beli sup ayam, tadi Elin belum makan. Ini juga ada mie goreng spesial tadi Elin makan sama teman-temannya tapi nggak doyan."
"Ya ampun, ini kan udah malem. Ya udah bawa ke sana yuk, aku ambilin piring," kata Sinta.
Sinta pun membawa beberapa piring dan mangkuk ke ruang tengah. Ia membuka kotak martabak lalu mulai makan. "Itu wedang ronde, Mas?"
"Iya, kamu mau?"
Sinta mengangguk senang. "Masih anget kan? Tapi nunggu Elin aja deh."
Ariel mencomot satu potong martabak keju lalu mulai makan. Ia menatap Sinta penuh perhatian dan tersenyum tipis. "Elin hamil, Sayang."
Sinta menatap Ariel dengan mata membola. "Beneran?"
"Iya, tadi aku udah bawa dia ke klinik Dokter Ridwan, udah 6 minggu," jawab Ariel. Ia merangkul bahu istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Cepet juga, alhamdulilah," gumam Sinta. Ia ingat dulu ia hampir empat bulan menunggu baru diberi kepercayaan untuk mengandung.
"Ya, bayi kita bakal lahir 8 bulan lagi. Perjanjian itu nggak bakal nyampe setahun, kamu tenang aja," kata Ariel sembari mengusap-usap punggung Sinta. Ia tahu, Sinta masih sering menangis setiap kali ia meniduri Elin. Dan kini, Elin sudah hamil, ia tidak perlu melakukan itu lagi.
"Itu beneran bayi kita kan, Mas?" tanya Sinta dengan mata basah.
"Iya, Sayang. Itu bayi kita. Kita nggak usah bilang dulu sama Mama atau siapapun, begitu bayinya lahir, kita bisa beritahu semua orang," kata Ariel.
Sinta mengangguk senang. "Elin ngidam apa? Nanti biar aku masakin."
"Aku nggak tahu, tadi dia mual-mual. Ini aku coba beliin sup ayam jahe, semoga aja bisa masuk. Dulu kamu kan suka," ujar Ariel. Ia mencium pipi Sinta dengan gemas.
Elin bergabung dengan mereka setelah beberapa menit berlalu. Sinta sudah menyiapkan mangkuk untuknya makan sup ayam jahe, beruntung Elin bisa makan sedikit, ia juga minum wedang ronde yang menurutnya sangat segar dan hangat.
"Kamu mual banget nggak?" tanya Sinta.
"Nggak, Mbak," jawab Elin. "Tadi aja pas liat mie goreng itu rasanya pengen muntah. Sama itu, bau keju, aku juga nggak suka."
"Ah, maaf." Sinta menutup martabak manisnya yang masih tersisa beberapa potong. "Apa kata dokter pas kamu USG?"
"Katanya semua baik, aku juga nggak begitu paham," jawab Elin. Ia mengulurkan selembar foto hasil tes USG pada Sinta. "Ini dia. Mbak bisa liat sendiri."
Elin mengangguk pelan. Ia berdegup tak keruan karena ucapan Sinta. Yah, biar bagaimanapun ia yang mengandung bayi ini. Walaupun Ariel dan Sinta mengklaim ini adalah bayi mereka, ia tetap merasakan koneksi khusus dengan si janin. Ketika ia mandi tadi, ia tak bosan mengusap perut datarnya, ia bercermin hanya untuk melihat perubahan pada dirinya. Namun, ia belum bisa melihatnya.
"Kalau udah berapa bulan biasanya tambah besar, Mbak?" tanya Elin.
"Kalau udah 16 minggu mungkin udah ada perubahan, tapi setelah 20 minggu ke atas nanti cepet itu. Kamu nggak usah beli baju hamil, punya aku kemarin ada banyak," kata Sinta.
"Aku masih mau kerja sebulanan ini, jadi masih aman soalnya perut aku belum kelihatan," ujar Elin. Ia menyuap sesendok sup ke mulutnya.
"Lho, bukannya kamu mau berhenti?"
"Iya nanti, Mbak," jawab Elin was-was. Ia sudah mendapatkan ultimatum dari Ariel untuk segera berhenti bekerja.
"Oh, yang penting kamu lihat kondisi kehamilan kamu. Hati-hati aja," ujar Sinta.
__ADS_1
Elin mengangguk. Lagipula hamil bukan berarti sakit, pikirnya. Ia pasti bisa melewati masa-masa trimester pertama dengan cepat. Apalagi ia sedang senang karena akan mengerjakan proyeknya sendiri.
***
"Mas, aku lega Elin bisa cepet hamil," kata Sinta. Ia berbaring di sebelah Ariel dengan lengan besar pria itu sebagai bantal.
"Iya, alhamdulilah. Kamu seneng kan?" tanyanya. Sinta mengangguk pelan. "Kita doain aja semoga anak kita tumbuh dengan baik dan sehat di kandungan Elin. Kalau bayinya udah lahir, kita bisa merawatnya dengan baik."
"Aku agak khawatir sama Elin, dia masih mau kerja. Padahal kerjanya kan suka di luar juga, Mas," kata Sinta.
"Iya katanya naskah dia mau diangkat jadi film makanya dia harus ikutan. Aku udah kasih tahu biar dia berhenti, tapi kayaknya dia ngotot masih mau kerja," tukas Ariel.
"Iya sih, mungkin dia bakal bosan juga kalau cuma di rumah, Mas. Elin kan aktif di luar anaknya," ujar Sinta. Ia terdiam selama beberapa saat karena belaian lembut dari suaminya. "Kamu anter jemput Elin kerja, Mas. Biar dia nggak capek kalau harus naik ojek."
"Ehm, oke. Besok aku anter dia."
***
Keesokan harinya, Elin terbangun dengan kepala begitu berat. Ia tidak menduga perubahan dalam dirinya sedrastis ini. Ia tidak hanya pusing, ia juga malas sekali untuk meninggalkan ranjangnya. Ia bahkan masih meringkuk di atas ranjang ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya.
"El, kamu belum bangun?" tanya Ariel seraya membuka pintu.
"Udah, tapi masih agak males," jawab Elin seraya mendudukkan dirinya.
Ariel mengangkat alisnya. Elin selalu bangun paling pagi dan sarapan lebih awal selama ini. "Kamu nggak enak badan? Mau kerja nggak?"
"Ya kerja, ini mau mandi dulu," jawab Elin. Ia menutup bibirnya dengan telapak tangan ketika mual tiba-tiba menyerangnya.
"Kamu nggak papa?" Ariel duduk di sebelah Elin dan merangkulnya.
Elin menoleh seketika, "Aku nggak papa. Aku siap-siap kerja dulu."
"Oke. Kamu mandi aja dulu. Nanti kerjanya aku anterin ya, kita bareng."
Elin menatap Ariel terkejut. Selama ini ia jarang sekali bekerja dengan diantarkan oleh Ariel. Ia selalu berangkat lebih awal dibandingkan Ariel, bahkan menghindari waktu sarapan bersama-sama.
__ADS_1
"Nanti sore aku jemput juga pulangnya, oke?" tanya Ariel.
Elin tersenyum tipis dan mengangguk. "Oke." Ia menjadi dua kali lebih bersemangat sekarang, meskipun ia merasa badannya tidak begitu nyaman, ia akan senang jika bisa memiliki waktu berdua saja dengan Ariel. "Aku siap-siap dulu."