
"Saya akan membayar ganti rugi jika memang saya sudah membuat kekacauan, Pak," ujar Elin. Yah, ia memiliki banyak uang sekarang dari Ariel. Ia juga bisa meminta Ariel untuk menangani masalah ini jika memang dibutuhkan. Ariel sanggup membayar banyak pihak untuk menyelenggarakan pernikahan rahasia itu, jadi pasti bukan masalah untuk mengganti kerugian perusahaan yang ia timbulkan.
Galang terlihat memijat pelipisnya. "Bukan itu maksud saya, Elin. Kamu benar-benar ... itu mimpi kamu! Dan jika kamu berhenti sekarang, saya rasanya tidak akan rela. Kamu bisa menjadi bintang dan bisa membantu kamu."
Elin menatap Galang dengan mata basah. Namun, pendiriannya sudah teguh. "Tapi saya nggak bisa melanjutkan mimpi saya, Pak."
"Hanya karena kamu hamil? Ah, padahal banyak wanita hamil yang tetap berkarir. Saya tahu bulan-bulan pertama pasti berat, tapi jika tim produksi tahu kamu sedang hamil mereka akan melunak, kamu tidak perlu terjun ke proses produksi dan film kamu bisa tetap tayang," kata Galang dengan nada membujuk.
"Saya ... sudah saya bilang, saya nggak mau ada orang tahu saya sedang hamil seperti ini, Pak. Plis, jangan menahan saya."
Galang terdiam selama beberapa detik kemudian ia kembali bicara, "Kalau begitu ceritakan sama saya, dengan siapa kamu hamil?"
"Dengan pacar saya tentu aja. Saya ... saya sudah menikah siri dengan pacar saya," kata Elin berbohong.
"Pacar kamu orang seperti apa? Kenapa harus dirahasiakan? Kenapa harus menikah siri?" tanya Galang dengan nada tak terima.
Elin menggeleng. Ia tak ingin membuat kebohongan lagi dan ia tak ingin menyakiti Galang lebih dalam. "Saya nggak bisa cerita, maaf. Saya harus merelakan mimpi saya demi bayi dalam kandungan saya. Suami saya melarang saya bekerja lagi. Jadi, saya harus menurut."
Galang membuang napas panjang. Ia memalingkan wajahnya dari Elin lalu mengangguk. "Oke. Kamu keluar saja."
Elin berdiri dengan gemetar sekarang. Ia benar-benar sudah menjadi pengangguran sekarang. Mimpinya hancur, karirnya berantakan. Air matanya spontan meluruh ketika ia mengerjap.
"Pengunduran diri kamu akan diproses selama seminggu atau paling cepat 3 hari. Dan selama itu kamu bebas mau masuk kerja atau tidak," kata Galang.
Elin menyedot hidung dan mengusap wajahnya. Ia kembali duduk di depan Galang. "Ini mengenakan naskah saya," kata Elin. "Bisakah itu tetap menjadi film? Saya nggak peduli jika Pak Galang menggunakan penulis lain untuk mengakui naskah tersebut. Saya ...."
"Kamu jangan gila! Itu naskah kamu!" sergah Galang. "Naskah itu tidak akan pernah menjadi film karena kamu sudah mundur, Elin."
Elin mengangguk pelan. "Oke. Maaf."
"Kamu keluar saja. Tapi jangan lupa, hapus air mata kamu. Saya nggak mau ada gosip lagi di sekitar kantor." Galang mengulurkan sapu tangannya pada Elin. Namun, aksi itu sontak membuat Elin menangis lebih keras. "Saya bakal tunggu kamu, kalau kamu mau kembali menjadi penulis naskah setelah melahirkan, kamu bisa kembali, Elin."
Elin mengusap pipinya dengan sapu tangan Galang. Ia mengangguk meskipun ia tak tahu apakah ia bisa kembali pada perusahaan Galang. Ia sudah sangat malu.
__ADS_1
"Kamu bisa pulang jika kamu tidak sehat. Kirimkan lagi surat pengunduran diri kamu via email," ujar Galang ketika Elin terlihat lebih tenang.
"Makasih, Pak. Saya minta maaf kalau saya udah bikin kecewa banyak orang," kata Elin. Ia merasa ragu, tetapi ia kembali berkata, "Jika saya perlu mengganti rugi, saya tunggu tagihannya."
"Saya hanya bercanda. Jangan dianggap serius," ujar Galang.
Elin mengangguk pelan. Ia meninggalkan ruangan Galang dengan langkah berat. Ia membelok ke kanan untuk ke toilet alih-alih langsung ke mejanya karena ia tak ingin ketahuan baru saja menangis oleh Mirna.
Elin mencuci wajahnya hingga terlihat lebih segar lalu memakai bedak dan lipstik lagi. Sesudahnya ia segera berjalan menuju meja Mirna. Ia ingin menyapa Mirna untuk terakhir kalinya. Ia memutuskan untuk pulang saja karena ia sudah tidak ingin membuat Galang merasa tak enak.
"El, kamu ini kenapa baru nongol."
Elin mengangguk pelan. "Sori. Aku nggak enak badan dari kemarin. Ini aku mau pulang."
"Serius?" Mirna membelalak.
"Iya. Aku pamit ya, aku mau istirahat," ujar Elin seraya mengetuk meja Mirna.
Elin hanya mengangguk. Ia melambaikan tangan pada Mirna lalu dengan cepat meninggalkan lantai dua tempatnya bekerja. Ia hampir menangis karena begitu sedih harus pergi. Ia menahan air matanya untuk turun lagi hingga ia keluar dari gedung.
Elin menengadah melihat langit yang gelap, rasanya langit juga ikut bersedih untuknya. Elin berjalan lebih cepat menuju halte karena tak ingin kehujanan. Ia melambaikan tangan beberapa kali pada taksi yang kebetulan lewat dan tepat sebelum hujan turun deras, ia sudah masuk.
Elin mengusap pipinya yang basah dengan sapu tangan Galang. Ah, ia bahkan tidak akan memiliki kesempatan untuk mengembalikan sapu tangan ini, pikirnya dalam hati. Dengan lembut Elin meremas sapu tangan berwarna biru muda itu.
"Kita ke mana, Neng?" tanya sopir taksi.
"Jalan Perintis, Pak. Perumahan Citra Laguna nomor 12," jawab Elin.
"Oke. Tapi ini macet, Neng. Deras banget hujannya."
"Nggak papa, Pak. Saya santai kok. Yang penting hati-hati, saya sedang hamil," ujar Elin. Sopir itu mengangguk pelan.
Elin menyandarkan kepalanya di kaca mobil yang mengembun. Ia mengusap di sana dan menuliskan nama Ariel tanpa sadar. Ia menghapusnya seketika karena merasa begitu bodoh. Bagaimana bisa ia sangat mencintai pria yang tak pernah mencintainya itu?
__ADS_1
Elin pun meraba perutnya yang kini terasa kembali mual. Ia ingin menangis lagi, tetapi ia ingat emosi seorang ibu bisa mempengaruhi janin dalam rahimnya.
"Maaf," gumam Elin. "Aku lagi sedih banget. Apa kamu ikutan sedih? Jangan, jangan sedih ... bayi."
Elin meremas tangannya. Ia tak tahu bagaimana memanggil janin dalam kandungannya. Ariel selalu menyebut itu adalah bayinya dan ia merasa aneh. Itu juga bayi miliknya.
Begitu tiba di depan rumah setelah perjalanan hampir satu jam karena macet, Elin pun turun dari taksi. Ia begitu kedinginan karena hujan masih turun. Ia sudah menelepon Sinta untuk membawakannya payung keluar, tetapi Sinta tidak menjawab panggilannya. Jadi, Elin memutuskan untuk menerobos saja.
Dengan gemetar, Elin pun masuk ke rumah. Ia memeluk tasnya dan terduduk di sofa.
"Ya Allah, Neng!" pekik Budhe Sarti. "Kenapa hujan-hujanan?"
"Cuma kehujanan dikit, Budhe. Saya mau ke kamar," kata Elin.
"Saya carikan handuk." Budhe Sarti kembali dengan cepat lalu menyelimuti tubuh Elin. "Ayo saya bantu ke atas, Neng."
Elin menaiki anak tangga perlahan. Karena ia merasa begitu dingin dan pusing. Ia bertemu tatap dengan Sinta ketika ia tiba di atas. Sinta sepertinya baru membaca pesannya dan hendak keluar dengan payung yang ia genggam. Ia masih belum bicara dengan Sinta sejak kemarin Sinta marah padanya.
"Neng Elin kehujanan, Bu," ujar Budhe Sarti pada Sinta.
"Ya. Antar ke kamar aja, Budhe." Sinta mengikuti langkah Elin dan Budhe Sarti ke kamar Elin. Ia menatap cemas Elin yang begitu pucat. Ia baru selesai menunaikan sholat Dhuha ketika membaca pesan dari Elin jadi ia terlambat turun dengan payung.
"Saya ambilkan minuman hangat, Neng."
Budhe Sarti meninggalkan mereka berdua saja di kamar. Elin masih berselimut handuk dan tak ingin bicara dengan Sinta. Sementara Sinta hanya berdiri kaku, ia baru sadar memiliki madu memang tidak enak sama sekali. Di satu sisi ia ingin memperhatikan Elin tetapi di sisi lain, ia juga ingin membencinya.
"Kamu basah?" tanya Sinta di tengah keheningan.
Elin menggeleng pelan. "Cuma dikit."
"Buruan ganti baju," ujar Sinta. Ia membuka lemari Elin lalu mengambil satu stel baju tidur panjang untuk Elin. "Pakai baju kering, nanti kamu masuk angin."
Elin tidak protes. Ia tahu, tak hanya Ariel, Sinta juga. Mereka hanya peduli dengan keadaan bayi dalam perutnya. Dan ia mulai merasa muak dengan perhatian yang diberikan mereka.
__ADS_1