Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
61. Membujuk Elin Pulang


__ADS_3

"Aku terpaksa," ujar Elin. Ia menyendok es krim lalu menyantapnya. "Aku butuh alasan buat resign. Pak Galang nggak mau aku keluar dari perusahaan begitu aja. Makanya, aku jujur kalau aku udah nikah dan lagi hamil."


Ariel membuang napas panjang. Ia mendadak gusar lantaran tak ingin ada seorang pun yang mencium hal aneh di antara dirinya dan Elin.


"Bagaimana jika Galang curiga?" tanya Ariel. "Bagaimana jika suatu hari Galang tanya sama kamu, di mana bayi yang kamu kandung?"


Elin menoleh pada Ariel yang terlihat kesal. "Aku bisa bilang ... bayinya nggak selamat atau ...."


"Kamu punya doa jelek untuk bayi aku?" tanya Ariel lagi. Dengan kesal, ia mulai makan es krimnya. "Pokoknya, jangan sampai kamu terlibat dengan Galang lagi. Kamu pulang ke rumah dan jangan kemana-mana lagi. Kehamilan kamu adalah rahasia."


"Aku nggak mau pulang," ujar Elin cemberut. "Aku nggak bisa liat Kakak sama Mbak Sinta."


Ariel hanya menggeleng pelan. Ia harus memikirkan cara agar Elin mau pulang dengannya. Ia juga tidak bisa berlama-lama di pulau itu atau Sinta akan lebih merana.


"Tapi jika kamu tinggal terpisah, itu sangat berisiko, El." Ariel menatap Elin penuh harap. Ia menggenggam tangan Elin dengan harapan Elin mau menurut padanya.


"Aku sakit banget kalau aku harus liat Kakak sama Mbak Sinta mesra-mesraan," ujar Elin jujur.


"Aku bakal jadi suami yang adil buat kalian. Aku janji," bujuk Ariel.


Elin membuang muka. Bisakah ia menerima ini? Ia harus berbagi Ariel dengan kemungkinan terbesar, Ariel tetap akan condong kepada Sinta. Bagaimana jika Sinta marah padanya? Bagaimana jika Sinta semakin membenci dirinya?


"Aku nggak pengen pulang hari ini," kata Elin resah.


"Oke. Kita masih punya semalam di sini. Besok pagi kita bisa pulang," kata Ariel seraya mengeratkan genggamannya.


Elin meremang. Yah, ia masih punya waktu semalam untuk bersama Ariel, untuk tidur dengannya di kamar dan ranjang yang sama. Itu membuat Elin begitu penasaran.

__ADS_1


"Kalau aku pulang ... apa Kakak mau tidur di kamar aku?" tanya Elin.


Ariel mengangkat alisnya. "Mungkin sesekali," jawabnya ragu.


Elin mendengus. Ia tahu itu, Ariel tak akan tega membagi hati dan tubuhnya jika ada Sinta. Lagipula, ia hanya punya 5 bulan lagi untuk menjadi istri Ariel.


"Aku bakal pergi kalau udah melahirkan," kata Elin pada Ariel. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Ariel jika ia berkata ia akan pergi dari kehidupan Ariel dan Sinta.


"Kenapa? Ke mana?" tanya Ariel kaget.


Elin mengangkat bahunya. Ia masih menikmati es krim 3 rasa yang ada di mangkuknya meskipun pembicaraan ini membuatnya agak tak berselera.


"Jangan pergi," kata Ariel kemudian.


"Aku nggak bisa tinggal," ujar Elin pilu. "Gimana aku bisa tinggal? Aku nggak bakal bisa ngeliat Kakak sama Mbak Sinta dan bayinya. Kalau aku tetap di rumah kalian ... bayi ini, gimana dia panggil aku? Tante?"


"Kamu bisa nganggep bayi itu sebagai keponakan kamu. Kita bisa ngerawat bayi itu bareng-bareng," kata Ariel meyakinkan.


Elin tertawa getir. "Ini anak aku, bukan keponakan aku, Kak!"


Dengan kesal, Elin pun berdiri. Ia meninggalkan es krimnya yang masih tersisa cukup banyak lalu berjalan kembali menuju motelnya. Ia tidak tahu kenapa ia begitu emosional membicarakan bayi itu. Padahal, Elin juga mengira ini akan mudah. Ia hanya perlu menikah, hamil, melahirkan dan selesai.


Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Pagi tadi ketika Elin mandi, ia merasakan kedutan kecil di perutnya. Ia sungguh kaget karena mengira ia hanya sedang lapar, tetapi gerakan itu begitu halus dan terjadi berulang.


Bagaimana ia bisa menganggap bayi yang tumbuh di perutnya itu sebagai keponakannya sendiri? Ia bahkan tidak akan diizinkan untuk menyebutnya sebagai anak. Ia tak akan pernah dipanggil ibu oleh bayi itu.


Jika memang harus begitu, Elin lebih suka pergi dari kehidupan Ariel dan Sinta. Ia tidak akan sanggup melihat mereka berbahagia dengan bayinya. Itulah kenapa Elin berencana pergi setelah ia melahirkan dan memberikan bayinya pada mereka.

__ADS_1


"Elin, tunggu!" panggil Ariel seraya berlari mengejar Elin. Ia menarik tangan Elin keras. "Jangan begini. Kamu ingat, kita punya perjanjian."


"Aku tahu, aku nggak lupa," ujar Elin tegas. Ia menepis tangan Ariel yang melingkari pergelangan tangannya. "Aku bakal pergi setelah ngasih bayi ini ke kalian. Jangan khawatir. Tapi, aku nggak bakal pernah muncul lagi di depan Kakak atau Mbak Sinta, atau bayi ini."


"Nggak, El. Aku minta maaf," kata Ariel bingung. Ia menimbang dalam hati bahwa banyak di antara isi pasal perjanjian mereka yang sungguh merugikan Elin. Mereka bahkan sudah melanggar banyak isi perjanjian itu sejak semalam mereka bercinta lagi. Mungkin, tak apa jika ia mengubah isinya. "Kamu bisa menganggap bayi itu sebagai anak kamu. Aku janji."


"Tapi dia nggak bakal panggil aku ibu!" hardik Elin. Ia mengusap pipinya yang basah lalu kembali berjalan. Ariel mengikuti di belakangnya. "Aku pengen sendiri, plis."


"Aku nggak mau kamu sendirian," kata Ariel seraya menggapai tangan Elin. Sayangnya, Elin tak ingin disentuh oleh Ariel. Ia segera menarik tangannya ke depan dada lalu berjalan lebih cepat.


Ariel masih mengikuti Elin dengan frustasi. Ia menyugar rambutnya beberapa kali sembari berjalan menuju motel. Ia tahu Elin butuh banyak waktu, mungkin mereka bisa bicara lagi nanti. Namun, ia takut akan membuat Elin semakin terluka. Ia juga harus memikirkan cara agar Elin mau pulang dengannya besok pagi.


"Aku mau tidur," kata Elin begitu mereka tiba di kamar. Elin yang tadinya sangat kesal mendadak gugup lantaran ia hanya berdua saja dengan Ariel di kamar kecil ini.


"Oke, kamu tidur aja. Nanti kita bicara lagi kalau kamu udah ngerasa lebih baik," kata Ariel.


Elin tertawa getir. Merasa lebih baik? Bagaimana bisa? Pikirnya dalam hati. Ia mencoba untuk tidak peduli dan berbaring dengan selimut yang ia tarik menutupi tubuhnya. Ia baru saja memejamkan mata ketika Ariel ikut bergabung dengannya di ranjang dan ia merasakan lengan Ariel melingkar di tubuhnya.


Elin menoleh hingga ia bisa bertatapan langsung dengan Ariel. "Aku udah ngerasain dia bergerak," bisiknya.


"Dia semakin besar," gumam Ariel.


"Kakak tahu aku nggak pernah mengenal orang tua kandung, mereka siapa, di mana mereka sekarang dan asal mereka dari mana. Aku nggak pernah tahu," ujar Elin dengan air mata berderai di wajahnya. "Haruskah bayi ini ... juga begitu? Dia nggak bakal tahu siapa ibu kandungnya?"


Ariel mengusap air mata Elin dengan lembut. Rasa bersalah menjalari hatinya seketika. Ia pernah kehilangan bayinya yang berharga. Dan sekarang apa yang ia lakukan? Memisahkan seorang bayi dari ibu kandungnya sendiri? Kenapa ia harus memilih Elin? Kenapa? Seharusnya ia memilih wanita lain yang harus ia korbankan alih-alih adik angkatnya sendiri.


"Aku nggak mau pulang, Kak."

__ADS_1


__ADS_2