
Elin berbaring di kamarnya usai makan malam bersama Sinta dan Ariel. Ia memiringkan badannya lantas memeluk guling dengan gelisah. Terkadang, ia membayangkan bahwa ia bisa memeluk Ariel seperti ini, seperti malam-malam panas mereka yang tidak pernah terulang lagi.
"Jangan ragu untuk bercinta dengan istri Anda. Kandungannya tidak bermasalah jadi itu sangat aman. Berhubungan **** juga bisa membuat mood lebih baik, jadi ibu hamil bisa lebih bahagia."
Elin teringat pesan dari Dokter Ridwan untuk Ariel tadi. Ia menggigit bibirnya resah. Ia tak akan pernah bercinta lagi dengan Ariel. Bahkan jika ia menginginkannya, Ariel tak akan mau, pikirnya.
Elin menggeleng pelan lalu menelentangkan dirinya karena tak ingin tenggelam dalam imajinasi kotornya. Elin meraih ponselnya lalu ia membuka galeri. Elin menekan tombol putar pada video yang ia ambil ketika melakukan tes USG. Karena ia memberikan foto janinnya pada Sinta, ia pun merekamnya sendiri.
"Bayi ... tumbuh dengan baik di sini," gumamnya seraya mengusap perut.
Elin kembali terharu ketika ia mendengar ritme detak jantung bayi dalam rekaman itu. Ia penasaran, seperti apa bayinya nanti jika sudah lahir. Apakah dia perempuan atau laki-laki? Akan lebih baik jika perempuan, Ariel sangat mendambakan bayi perempuan, pikirnya.
Apakah bayinya mirip dengan Ariel atau dengannya? Elin menggeleng pelan. Bayi itu harus lebih mirip Ariel, pikirnya dalam hati. Apa yang akan dikatakan orang lain jika ternyata bayi itu terlihat mirip dengannya? Ibu mereka jelas akan curiga.
Elin berdoa dalam hati agar bayinya sehat dan lahir dengan baik, ia juga berharap agar bayinya bisa bahagia meskipun ia tidak akan bisa menjaganya nanti. Elin tertidur lelap setelah beberapa menit memikirkan banyak hal tentang bayinya.
***
Keesokan harinya, tanpa Elin tebak, Ariel masuk ke kamarnya. Elin masih merasa mual ketika bangun tidur, jadi ia agak malu pada Ariel karena ia terlihat sangat berantakan pagi itu.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Ariel pada Elin yang baru saja keluar dari toilet.
"Cuma mual," ujar Elin seraya merapikan rambutnya.
"Kamu belum cerita, kemarin kamu pergi ke mana dan ketemu sama siapa?" Ariel duduk di tepi ranjang Elin sementara Elin memilih duduk di kursi kerjanya.
"Ehm, editor sebuah penerbit. Aku dapat penawaran terbit cetak. Tapi aku masih mikir-mikir. Profitnya nggak begitu bagus," ujar Elin seraya mengeluarkan surat dari David. Ia mengulurkannya pada Ariel.
"Ya, nggak usah aja. Coba kamu masukkan ke penerbit lain," kata Ariel penuh harap.
Elin mengangguk. "Aku masih pikirin. Nanti aja."
__ADS_1
Ariel tersenyum karena ia selalu bangga dengan pencapaian Elin. Meskipun Elin tidak secerdas Gladis, Elin adalah gadis yang pantang menyerah. "Kamu pasti bisa. Semangat!"
"Makasih," ujar Elin datar.
"Ayo sarapan, kamu udah laper?" tanya Ariel. Ia melihat gurat kesedihan di wajah Elin. Ia menduga, Elin masih sangat sedih karena kehilangan mimpinya sebagai penulis naskah film. Bahkan filmnya hampir diproduksi.
"Ya, aku mau mandi sekarang. Kakak turun aja duluan."
"Oke."
Elin menatap resah Ariel. Ia selalu suka bicara dengan Ariel, tetapi otaknya benar-benar tak tahan untuk memikirkan hal lain ketika Ariel ada di kamarnya. Ia ingin memeluk Ariel, ia ingin mencium bibir Ariel, ia ingin ... berbaring dengan Ariel di ranjangnya, dan ia ingin bercinta dengan Ariel.
"Aku udah gila!" desisnya tak tahan lagi. "Kalau aku kayak gini aku nggak bakal bisa pergi 7 bulan lagi."
Elin sudah berjanji pada Sinta untuk pergi, ia juga tak ingin rumah tangga Ariel berantakan gara-gara dirinya. Jadi, ia berniat untuk mengikis rasa cintanya pada Ariel. Sayangnya itu tidak mudah, hasratnya justru meningkat setiap kali ia melihat Ariel.
Dengan kesal, Elin memutuskan untuk mandi. Mungkin ia bisa mendinginkan otaknya yang tidak beres!
***
Namun, alih-alih melihat Budhe Sarti, Elin justru bertemu dengan Sinta yang sedang mengeluarkan kue dari oven. Sinta menoleh seketika, ia tersenyum tipis pada Elin.
"Kamu nggak sarapan tadi?" tanya Sinta. Ia meletakkan loyang lebar di atas meja lalu memasukkan loyang lainnya ke dalam oven.
"Nggak, Mbak. Tadi masih ngantuk," ujar Elin beralasan. "Aku makan sekarang aja. Budhe di mana?"
"Baru ke pasar beli sayuran. Kamu mau makan apa?" tanya Sinta.
"Yang ada aja deh. Aku makan roti aja sama susu," kata Elin. Ia mengeluarkan kotak susu ibu hamil dari lemari penyimpanan.
"Mau roti bakar?" tanya Sinta lagi.
__ADS_1
"Nggak usah, ini aja." Elin menatap deretan kue kering yang dibuat oleh Sinta. "Banyak pesanan, Mbak? Tumben pagi bener udah nguprek."
"Lumayan ada selusin hari ini, jadi aku mulai dari pagi biar nanti tinggal santai," jawab Sinta.
Elin mengangguk. "Aku makan dulu nanti aku bantuin packing."
Sinta hanya mengangguk ketika Elin berlalu ke meja makan. Elin makan sembari menonton film kartun komedi di ponselnya. Ia tak ingin tenggelam dalam keresahan karena merindukan Ariel, jadi ia mencoba mencari hiburan dengan menonton film lucu.
Usai makan, Elin pun kembali ke dapur. Ia mencuci piring dan gelasnya lalu mendekati Sinta. "Ini toplesnya, Mbak?"
"Iya, yang itu masih anget, nanti aja masukin ke toplesnya," tukas Sinta.
"Ya udah aku bantuin ngoles kuning telur sama naburin keju ya."
"Bukannya kamu mual sama keju," ujar Sinta.
"Udah nggak parah kok." Elin menggeser loyang berisi deretan kastangel yang hendak ia beri olesan kuning telur. Ia sudah sering membantu Sinta dengan membuat kue-kue kering, jadi ia sudah cukup bisa diandalkan.
"Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?" tanya Sinta di antara keheningan mereka.
"Ya, boleh aja." Elin mengangkat dagu sekilas untuk melihat Sinta lalu kembali berkukat dengan kue, kuning telur dan keju.
"Sejak kapan kamu suka sama Mas Ariel?" tanya Sinta dengan nada penasaran.
Elin meletakkan kuas kue di wadahnya. Ia menatap Sinta ragu, setelah Sinta meminta maaf padanya tadi malam, Sinta bertanya tentang perasaannya pada Ariel. Ia jelas tidak enak membicarakan hal itu. Ia tak ingin Sinta salah paham lagi dengannya.
"Aku cuma penasaran, aku juga ingin lebih mengerti dengan perasaan kamu jadi, aku nggak bakal marah-marah lagi sama kamu. Aku udah baca buku harian kamu. Itu ... buku harian yang kamu tulis sejak kamu SMP kan?" tanya Sinta lagi. "Kamu bisa cerita, aku nggak bakal marah."
Elin mengangguk. "Ya. Aku udah lama suka sama Kak Ariel," ungkap Elin jujur. "Mungkin sejak aku umur 13 tahun. Awalnya aku cuma mikir aku punya kakak yang ganteng, baik, pinter dan ... sempurna. Aku kira, itu cuma perasaan bangga dan senang karena aku punya kakak seperti Kak Ariel. Tapi lambat laun, jantung aku selalu berdebar ketika aku bersama Kak Ariel."
"Kamu udah lama banget nyimpen perasaan buat Mas Ariel. Gimana bisa kamu ngelakuin itu?"
__ADS_1