
Elin menghabiskan hari itu dengan meringkuk di atas ranjangnya. Ia merasa tidak enak badan setelah kehujanan, ia juga sangat sedih karena mulai hari ini ia tidak bisa bekerja lagi. Jadi, rasanya ia sudah tidak bersemangat.
Ketika masih sekolah, Elin selalu mendapatkan peringkat pas-pasan, sementara adiknya, Gladis, adalah gadis yang menonjol dalam segala aspek. Gladis selalu ikut aneka les, lomba dan bahkan kegiatan organisasi di sekolah, tetapi Gladis selalu mendapatkan juara kelas bahkan juara sekolah. Elin sudah cukup kenyang jika ia harus dibanding-bandingkan dengan Gladis.
Sekarang, ketika ia mulai bekerja selama satu tahun terakhir, ia mengira ia akan bisa membuat bangga orang tuanya. Namun, rasanya itu tak mungkin lagi. Gladis yang baru mulai kuliah sudah sering mendapatkan pekerjaan tambahan dari berbagai karya tulis yang ia buat. Rasanya, Elin seperti tenggelam dalam kepedihan sekarang.
"Neng, buburnya kok nggak dimakan?" tanya Budhe Sarti ketika ia mengecek Elin di kamarnya.
"Males. Nanti aja, Budhe," jawab Elin yang kini memejamkan matanya. Ia memeluk guling lebih erat.
"Ya ampun, Neng. Apa mau saya suapin? Ini udah mau dingin, nanti nggak enak lho," ujar Budhe Sarti.
"Iya, biar aja dingin, Budhe. Kalau panas suka mual baunya." Elin menelentangkan tubuhnya lalu menatap wanita setengah baya yang begitu ramah itu. "Mbak Sinta ngapain, Budhe?"
"Di bawah, Neng. Bikin kue. Kayaknya ada pesenan banyak," jawab Budhe Sarti. "Neng Elin butuh apa, Neng? Minum deh."
"Iya, Budhe. Aku makan aja sekarang," kata Elin seraya mendudukkan dirinya.
Budhe Sarti dengan telaten mengatur meja untuk Elin, lalu meletakkan mangkuk bubur ayam di sana. "Mau pakai bawang goreng nggak, Neng?"
"Nggak usah, gini aja udah enak kayaknya," ujar Elin. Ia mengaduk pelan bubur ayam tersebut lalu menyendok sesuap ke bibirnya. Ia mengangguk pelan ketika merasakan bubur lembut itu meluncur ke kerongkongan. Rasa pahit menjalari lidahnya sebagai pertanda bahwa ia tidak menyukai makanan itu.
"Gimana, Neng? Nggak enak ya? Apa mual?" tanya Budhe Sarti was-was.
Elin mengangguk. "Aku nggak suka."
"Ya udah mau makan apa, Neng? Biar saya bikinin."
Elin tampak berpikir sejenak. Ia tiba-tiba ingat Ariel pernah mengajaknya makan sop buntut yang tak jauh dari kantornya. "Aku mau sop buntut aja, Budhe. Tapi mau dibeliin Kakak."
"Pak Ariel kan masih nanti sore pulangnya, ini siang juga harus makan dong, Neng."
"Aku makannya nanti malam aja kalau Kakak udah pulang," ujar Elin seraya mencoba menyingkirkan meja di depannya.
"Nanti lemes kalau nggak makan sama sekali dong, Neng. Saya bawain buah mangga ya, itu di dapur masih ada. Sama roti mau?"
"Iya boleh, Budhe. Nanti kalau aku mau makan biar aku makan, aku mau telepon Kakak terus tidur aja dulu," ujar Elin.
__ADS_1
Elin mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mengabaikan beberapa pesan dari ibunya, Gladis juga Mirna. Ia mencari kontak Ariel dan hendak meneleponnya, tetapi Elin begitu ragu untuk menekan tombol panggil. Setelah semalam ia mendengar obrolan itu, rasanya akan sangat aneh jika ia meminta perhatian dari Ariel.
'Untuk apa, Kak Ariel hanya peduli dengan janin di perut aku.' Elin membatin dalam hati dengan getir. Ia kembali membayangkan sop buntut itu ketika ia meletakkan ponselnya kembali. Elin tak menyerah, ia mencoba mengingat-ingat nama restoran tersebut lalu mencarinya di aplikasi pemesanan makanan, sayangnya restoran itu hanya melayani pemesanan di tempat.
'Sial banget sih. Ini yang pengen aku apa si bayi sih,' gerutunya dalam hati.
Elin masih meragu untuk telepon Ariel hingga Budhe Sarti kembali masuk ke kamarnya dengan 1 baki berisi 2 piring kecil serta 1 toples biskuit. 1 piring dengan potongan mangga muda dan 1 lagi berisi roti gandum dan kentang rebus.
"Neng, nanti dimakan ya. Tadi dipesenin Bu Sinta, Eneng harus makan dikit-dikit, kalau capek istirahat aja katanya."
"Iya, Budhe. Nanti aku makan kok," ujar Elin.
Elin memutuskan untuk menelepon Ariel setelah ia berbaring di atas ranjangnya selama lebih dari setengah jam. Ia sangat senang ketika mendengar suara Ariel di seberang.
"Halo, El?"
"Ehm, Kakak masih kerja?" tanyanya.
"Masih dong. Kenapa? Kamu perlu dijemput pulang?" tanya Ariel.
"Oh, kamu udah mantep?"
"Ya udahlah. Udah terlanjur kok. Lagian, aku juga lemes banget tiap kerja," jawab Elin dengan bibir bergetar.
"Ehm, sepertinya itu opsi yang terbaik buat kita. Bukannya kita udah sepakat sebelumnya. Kamu harus merahasiakan kehamilan kamu dari semua orang," kata Ariel mengingatkan.
Elin tidak berkomentar karena ini air matanya turun kembali tanpa permisi. Ia membuang napas panjang karena tak ingin Ariel mendengarnya menangis.
"Halo? El, kamu masih di sana?" tanya Ariel.
"Ya. Aku pengen sesuatu. Aku mau Kakak yang beliin," ujar Elin. Ia mengusap wajahnya yang basah.
"Apa? Kamu mau makan sesuatu?" tanya Ariel lagi.
"Aku mau sop buntut yang dijual di deket kantor Kakak itu," jawab Elin. "Aku pengen banget kayaknya seger anget-anget."
Ariel tertawa kecil di seberang. "Oke. Tunggu aja. Nanti aku beliin kalau aku pulang ya."
__ADS_1
"Oke. Nggak sabar nunggu Kakak pulang," ujar Elin sungguh-sungguh. Ia terdiam selama beberapa saat. "Ya udah, aku mau tidur dulu, Kak. Aku ngantuk."
"Ya. Aku juga masih ada kerjaan," tukas Ariel.
Elin mematikan ponselnya setelah selesai bicara dengan Ariel. Ia tersenyum tipis seraya memeluk gulingnya dengan lembut. Ia memang kesal karena ucapan Ariel semalam, tetapi ia juga sangat merindukan Ariel.
***
"Kamu pulang telat, Mas," ujar Sinta ketika menyambut kepulangan Ariel. Ia sudah menunggu Ariel sejak tadi bahkan beberapa menelepon Ariel, tetapi panggilannya tidak tersambung.
"Iya, Sayang. Maaf ya. Tadi aku mampir beli sop buntut buat Elin. Antri banget jadi lama." Ariel merangkul bahu Sinta lalu berjalan bersama menuju ke dapur. "Ponsel aku mati baterainya. Charger ketinggalan di kantor."
"Padahal aku udah masak," tukas Sinta ketika memperhatikan tentengan Ariel yang cukup banyak.
"Maaf, aku mau telepon juga nggak bisa tadi. Aku mau tanya kamu dibeliin apa nggak, atau mau yang lain. Jadi aku beliin sekalian aja," kata Ariel menerangkan.
"Kapan Elin ngomong sama kamu, Mas?"
"Tadi dia telepon aku, katanya pengen makan itu jadi aku beliin." Ariel meletakkan sop buntut itu di atas meja makan. Ia menatap Sinta penuh makna. "Nanti aku aja yang bawa ke atas buat Elin. Kamu nggak usah repot-repot."
"Tapi ...."
"Nggak papa. Aku cuma mau nganter makanan aja, aku nggak bakal ngapa-ngapain sama Elin. Aku juga mau hibur dia, dia baru sedih pasti karena harus resign," kata Ariel meyakinkan.
"Ya udah, tapi kamu jangan lama-lama di kamar Elin."
"Nggak dong, Sayang. Kamu udah mandi belum?" tanya Ariel.
"Belum, aku ngerjain pesenan kue tadi. Baru banget kelar. Ini tadi sambil nungguin kamu, Mas, tapi nggak nongol-nongol!" gerutu Sinta.
Ariel mendaratkan kecupan di bibir cemberut Sinta. Ia tak ingin Sinta terus-terusan cemburu dengannya dan Elin. "Ya udah kita mandi bareng, Sayang."
Sinta tertawa kecil. Ia mengangguk lalu memeluk lengan Ariel. Keduanya menaiki anak tangga sambil bercanda ini dan itu. Kedua mata Ariel menyapu pintu kamar Elin ketika ia tiba di lantai 2. Ia penasaran apa yang sedang dilakukan Elin, ia ingin sekali menyapa Elin juga, tetapi Sinta sudah menarik lengannya.
"Ayo, Mas!" ajak Sinta.
"Iya. Iya, Sayang. Ayo."
__ADS_1