
"Mau kok. Elin kan juga pinter masak," tukas Sinta yang tak ingin Ariel tahu ia sedang marah dengan Elin.
"Ya udah, kamu makan sendiri apa mau aku suapin?" tanya Ariel.
"Aku makan sendiri aja, kamu harus ngecek kerjaan, Mas?" tanya Sinta.
"Iya. Bentar aja. Aku juga belum mandi ini." Ariel mengangkat selai stroberi dan nanas. "Kamu mau yang rasa apa biar aku oleskan dulu di rotinya."
"Yang stroberi aja, Mas." Sinta mencoba mencicipi bubur buatan Elin yang rasanya ternyata lumayan. "Kamu belum sarapan kan, Mas?"
"Belum. Nanti aja gampang." Ariel masih mengoleskan selai di roti bakar Sinta. Ia melirik Sinta yang sedang makan bubur buatan Elin.
"Jam segini kan biasanya kamu udah makan, Mas," kata Sinta. "Makan aja dulu."
"Iya, tenang aja. Aku nggak laper banget kok." Ariel menangkupkan dua lembar roti yang telah ia olesi selai tersebut. "Nah. Kamu mau makan ini sekarang atau nanti?"
"Sekarang aja. Ini buburnya aku udah deh, nanti kekenyangan." Sinta menggeser mangkuk buburnya yang masih tersisa banyak itu. Ia mengambil roti bakar buatan Ariel dan kembali makan.
"Ya udah, ini aku aja yang habisin buat sarapan," ujar Ariel seraya mengambil mangkuk Sinta. "Besok aku udah kerja ya."
"Oke. Lagian aku udah sehat, Mas. Aku cuma meriang dikit."
"Ehm. Besok sore, aku mau anter Elin ke dokter. Udah waktunya kontrol kandungan lagi," ujar Ariel. Di depannya Sinta berhenti mengunyah makanan. "Udah masuk 10 minggu."
"Oke. Kamu boleh anterin Elin. Kita juga harus tahu kondisi bayinya." Sinta kembali makan dengan resah. Jika Ariel akan pergi dengan Elin, itu artinya mereka akan berduaan untuk waktu yang lumayan.
"Ehm, makanya. Udah 2 bulan lebih kan? Bentar lagi bayinya bakal cepet membesar, kita juga bakal tahu jenis kelaminnya. Aku ... punya feeling bayinya perempuan," kata Ariel sambil tersenyum.
Sinta juga tersenyum tipis. Mereka sudah kehilangan bayi perempuan mereka dan jika kali ini Elin mengandung bayi perempuan, tentu saja, ia akan sangat senang.
__ADS_1
"Semoga aja, Mas. Tapi yang penting bayinya sehat," ujar Sinta.
"Aamiin. Besok aku kabari hasil periksanya."
Sinta mengangguk. "Kalian nggak akan mampir kemana-mana kalau mau periksa kandungan?"
"Nggaklah. Dokter Ridwan prakteknya agak malam abis Maghrib jadi kalau antri mungkin agak malam pulangnya," kata Ariel.
Sinta menatap Ariel resah, tetapi ia tak punya pilihan lain. Ia juga ingin tahu bagaimana pertumbuhan bayi itu. Namun, akan aneh jika ia juga ikut ke dokter kandungan. Ia tak mau pernikahan rahasia Ariel dan Elin terbongkar.
"Aku balikin ini ke bawah dulu ya," kata Ariel ketika ia dan Sinta sudah selesai sarapan.
Di lantai 1, Ariel tak lagi mendapati Elin. Budhe Sarti sudah datang dan sedang bersiap untuk mencuci pakaian mereka.
"Pagi, Pak! Udah sehat belum Ibu?" tanya Budhe Sarti.
"Ehm, beruntung banget Bu Sinta punya suami perhatian kayak Pak Ariel ini," ujar Budhe Sarti dengan nada ceria.
Ariel hanya mengepalkan tangannya. Ia tak tahu apakah ucapan itu dimaksudkan untuk memuji atau mencelanya. Karena Budhe Sarti juga tahu, ia telah melakukan pernikahan dengan Elin.
***
"Kamu mau ke mana, El?" tanya Sinta pada Elin yang terlihat sudah berpakaian rapi serta membawa sebuah totebag.
"Ehm, hari ini jadwal periksa, Mbak," jawab Elin canggung. Sejak pertengkarannya dengan Sinta, ia merasa ada tembok yang memisahkan di antara mereka berdua. Padahal sebelumnya, ia dan Sinta sangat dekat bagaikan saudara atau sahabat karib. Namun, karena mereka berdua mencintai orang yang sama, rasanya mereka tidak bisa kembali dekat.
"Bukannya kamu mau pergi sama Mas Ariel," kata Sinta. Ia melirik jam di dinding. "Ini masih sore, kenapa kamu pergi jam segini? Kamu mau pergi jalan-jalan dulu sama Mas Ariel?"
"Nggak, Mbak," jawab Elin tak enak. "Aku mau mampir ketemu sama seseorang. Jadi, aku mau pergi sendiri aja. Nanti aku chat Kakak."
__ADS_1
"Kamu yakin? Kamu nggak bohong?" tanya Sinta dengan nada curiga.
Elin menggeleng. Ia memang ada janji temu dengan seorang editor sebuah penerbit buku. Ia sudah memasukkan naskahnya dua bulan yang lalu dan hari ini ia baru dihubungi.
"Jam segini Kakak masih kerja. Nggak mungkin aku sama Kakak jalan-jalan," kata Elin. "Aku ke dokter sendiri aja, biar Kakak langsung pulang kalau udah selesai kerja. Tenang aja."
Elin tak bicara lagi karena ia tak ingin adu mulut dengan Sinta. Apalagi Budhe Sarti masih ada di rumah ini. Ia juga tak ingin mood-nya memburuk padahal ia hendak datang ke pertemuan yang cukup penting baginya. Ia mungkin sudah kehilangan mimpi sebagai penulis naskah film, tetapi ia mungkin masih bisa menerbitkan bukunya.
Sinta membuang napas panjang begitu melihat kepergian Elin. Ia tak tahu kenapa ia bisa sebenci itu dengan Elin sekarang. Dengan lemah, ia berjalan menuju sofa lalu duduk di sana. Sinta menyugar rambutnya. Apakah ia sudah keterlaluan pada Elin? Apakah ia salah jika ia marah?
"Bu Sinta kenapa?" tanya Budhe Sarti.
"Nggak papa, Budhe. Saya cuma agak kepikiran sesuatu," jawab Sinta. Ia menatap Budhe Sarti dan berkata, "Budhe kalau udah selesai pulang aja nggak papa kok."
"Iya, saya mau beresin dapur dulu, Bu," tukas Budhe Sarti.
Sinta kembali merenung. Karena kecemburuannya, ia sudah bersikap tak menyenangkan pada Elin.
'Elin udah lama banget suka sama Mas Ariel. Dia tahu cintanya terlarang, tapi sampai sekarang dia masih ingin dekat sama Mas Ariel,' batin Sinta. 'Dia pasti udah sakit hati banget selama ini karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia bahkan rela hamil demi Mas Ariel dan aku.'
Sinta menggeleng keras. Ia terlalu takut untuk memahami perasaan Elin. Menyimpan perasaan selama bertahun-tahun pasti menyakitkan. Ia saja sering merasa cemburu dengan kedekatan Elin dan Ariel setelah pernikahan itu. Apakah Elin juga sering merasa cemburu dengannya?
Sinta menempelkan punggungnya di sandaran sofa. Jika Elin menyukai Ariel, itu mungkin bukan masalah besar. Ia bisa memahaminya suatu hari nanti. Lagipula Elin sudah berjanji akan pergi nanti setelah bayinya lahir.
Namun, Sinta juga takut jika Ariel akan jatuh hati dengan Elin, ia takut akan ditinggalkan. Bagaimana jika Ariel akan memilih Elin yang bisa menghasilkan keturunan untuknya?
Sinta menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Ia tak bisa membiarkan hal itu. Ia tak akan rela jika Ariel sampai jatuh hati pada Elin. Membayangkan saja, sudah membuat Sinta sesak.
"Nggak, aku nggak bisa," gumamnya. "Aku harus pastiin Mas Ariel nggak cinta sama Elin."
__ADS_1