
"Aku mau bicara sama kamu," kata Ariel. Ia mengeratkan pelukan ketika Elin menghadap ke arahnya.
"Mau ngomong apa bukannya udah jelas?" tanya Elin. Ia mencoba melepaskan tangan Ariel dari pinggangnya, tetapi sayangnya tangan itu melekat kuat bak tentakel gurita. "Aku udah paham kok. Intinya, sampai kapanpun kita nggak akan bisa bersama. Aku tahu itu."
"Jadi kenapa kamu marah dan diemin aku seharian?" tanya Ariel.
"Aku sedih. Itu aja," jawab Elin. "Aku takut kita pisah. Aku nggak ... sebenarnya aku nggak mau kita pisah, Kak."
"Tapi kamu nggak mungkin jadi istri aku terus," tukas Ariel hati-hati. "Kamu bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Kita bisa bertemu sesekali, lagipula kita tetep keluarga."
"Setelah semua ini?" tanya Elin.
"Aku bisa bantuin kamu nanti," kata Ariel. "Setelah kita pisah, setelah bayi kita tumbuh lebih besar. Kamu bisa kembali bekerja, kamu bisa ... berkenalan dengan pria lain. Aku bisa bantuin kamu. Aku janji, kamu bisa hidup lebih baik. Kamu bisa jadi adik angkat aku lagi. Kayak dulu."
Elin terdiam selama beberapa saat, begitu juga dengan Ariel. "Tapi aku cinta sama Kakak. Aku cuma cinta sama Kakak. Aku ngelakuin ini karena aku cinta sama Kakak. Kalau aku harus pergi nanti ... aku nggak bakal pernah muncul lagi di depan Kakak."
Ariel menggeleng pelan. Ia tak bisa membayangkan Elin pergi dari kehidupannya. Jika ia tak bisa melihat Elin lagi, ia tak tahu bagaimana harus bertahan. Ia mungkin adalah pria paling egois di dunia, tetapi sekarang Elin sudah mengisi hatinya. Ia tak ingin Elin pergi dan tak bisa ia lihat lagi.
"Lagipula, kalau Mama tahu, Mama udah pasti marah besar. Mama nggak akan terima aku hamil anak Kakak. Apalagi Kakak sudah menikahi aku. Mama sama Papa pasti akan marah dan ngusir aku," kata Elin.
"Aku bisa bela kamu," kata Ariel.
Kali ini Elin yang menggeleng. "Nggak, Kak. Aku mau pergi aja. Aku ... aku bakal lahirin bayi itu dan aku bakal segera pergi."
__ADS_1
"Jangan," bisik Ariel. Ia mengusap pipi Elin, tetapi gadis itu langsung menepis tangannya. "El ... kamu tahu aku pengen kamu tetep tinggal di sini. Di sisi aku."
"Kakak pengen aku punya kehidupan sendiri, tapi Kakak juga pengen aku tinggal? Bagaimana bisa? Aku harus terus terlibat dengan Kakak sementara aku juga harus sakit hati terus?" tanya Elin. Ia menggeleng keras. "Aku nggak mau. Lebih baik aku pergi untuk selamanya."
"Jangan ngomong kayak gitu," kata Ariel dengan nada memohon. "Aku tahu aku egois, El. Tapi ... maksud aku ... aku pengen kita kembali kayak dulu. Kita bisa jadi kakak adek lagi. Kamu bakal bahagia dengan keluarga kamu sendiri dan aku juga. Tapi, kita masih bisa ketemu dan berkumpul sesekali."
"Tapi aku nggak bisa."
Ucapan Elin berhasil membuat hati Ariel terasa perih. Apalagi ketika Elin langsung bergerak untuk memunggungi dirinya. Ariel merasa kacau setengah mati karena sikap Elin. Padahal, ia yang ingin Elin pergi, padahal ia juga yang berkata bahwa hubungan mereka tidak akan pernah berhasil. Namun, membayangkan Elin tak ada di sisinya sungguh menyakitkan.
"El ... aku bisa bilang sama Mama. Kita bilang aja yang sebenarnya," kata Ariel.
Kedua mata Elin melebar, tetapi ia tidak mampu menatap Ariel saat ini. "Lalu? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa aku bisa diterima dan dimaafkan? Apa kita bisa tetap bersama?"
"Begini? Aku bakal terus jadi orang nomor dua di hati kakak?" tanya Elin pilu.
Ariel kembali melingkarkan lengannya di pinggang Elin. Tangan itu dengan terampil bergerak ke perut Elin, mengusap di sana lalu turun ke bawah.
"Mbak Sinta bakalan marah kalau tahu kita kayak gini," kata Elin mengingatkan.
Ariel tak peduli. Ia menyelipkan jemarinya di balik kain tipis yang ada di bagian bawah tubuh Elin. Dengan mudah, ia membuat area itu basah sementara Elin semakin gelisah. Bagaimana tidak? Dalam 24 jam, Ariel terus memberinya serangan.
"Kita nggak salah, ini bukan dosa, El. Kamu istri aku," bisik Ariel.
__ADS_1
"Tapi kalau kita terus sembunyi-sembunyi di belakang orang tua kita ... rasanya aku udah kayak wanita simpanan," ujar Elin. Kini ia merutuk dalam hati karena ingat ucapan Sinta yang mengatakan bahwa ia adalah wanita murahan. Benarkah seperti itu?
"Tentu aja bukan. Aku bakal bilang sama Mama kalau situasinya udah tepat," kata Ariel.
"Lalu Mbak Sinta? Gimana dengan Mbak Sinta kalau Kakak ngomong semuanya ke Mama? Mama bakal ... Mama nggak bisa nerima semua ini, Kak." Elin menarik tangan Ariel dari tubuhnya. Tetapi pria itu tidak mau lepas, Ariel kembali menyerang Elin dengan mer emas dadanya. Aksi itu berhasil membuat Elin mati kutu.
"Seenggaknya, kalau Mama tahu, kita bisa jauh lebih tenang kan?" tanya Ariel. "Mama mungkin menolak di awal, tapi sejak awal kita memang sudah dekat. Kamu jangan khawatir."
"Jadi, Kakak mau aku pergi atau tetap di sisi Kakak? Aku mau Kakak jujur," kata Elin.
Ariel menghentikan remasannya. "Aku ... aku nggak mau kamu pergi. Aku nggak bisa liat kamu menjauh dari aku."
Elin menoleh sedikit hingga ia bisa merasakan kecupan di tengkuknya. Apalagi tangan Ariel kembali bergerilya di titik-titik tubuhnya yang membuatnya lemah seketika. Elin kembali terbuai. Jika Ariel ingin ia tetep di sisinya, itu artinya ia tetap akan menjadi yang kedua. Benarkah itu yang terbaik?
Ariel bergerak lebih leluasa karena tubuh Elin kini tidak memberikan perlawanan dan sang empunya justru pasrah dengan segala sentuhan yang ia berikan. Ariel tak tahu sejak kapan tubuh Elin bisa menjadi candu baginya. Padahal, baru semalam dan pagi tadi ia melakukan penyatuan dengan Elin, kini ia menginginkannya lagi.
Dengan cepat, Ariel melucuti semua yang ada di tubuh mereka. Elin tampak begitu pasrah di bawahnya. Ia harus berhati-hati ketika memasuki tubuh Elin karena perut buncit Elin. Ia menggenggam tangan Elin erat-erat sembari memberikan dorongan yang lebih keras. Keduanya mend esah bersamaan.
Ariel tak bisa berdusta lagi. Bahkan jika ia hanya bisa menjadikan Elin sebagai istri keduanya, ia akan tetap memilih hal itu. Ia akan menjaga Elin di sisinya sampai kapanpun. Bahkan jika orang tuanya atau Sinta menentang, ia tak peduli. Ia menyesali semua kata tentang bagaimana ia meminta Elin pergi dan memulai kehidupan baru.
Tidak! Ariel tak mau itu terjadi. Elin adalah miliknya. Ia ingin Elin tetap dekat dengannya seperti ini. Bahkan jika Elin muak dengan sikap egoisnya, ia tetap tak peduli. Ia ingin Elin hanya untuk dirinya.
"El, aku cinta kamu," bisik Ariel. "Aku cinta banget sama kamu."
__ADS_1