Melahirkan Bayi Untuk Kakakku

Melahirkan Bayi Untuk Kakakku
88. Derita Elin


__ADS_3

"Mama ... bayi aku," isak Elin seraya mengulurkan tangannya ke arah sang perawat yang menggendong bayinya. Bahkan, ia belum melihat seperti apa wajah bayinya.


"Kamu masih harus dijahit," kata Maria. Ia mengangguk pada sang dokter.


"Benar, bayinya hanya perlu dibersihkan, Ibu tenang saja," kata sang dokter.


Elin menggeleng, ia memiliki firasat lain. Ia hanya ingin melihat bayinya lalu memeluknya sejenak. Ia mulai menangis, tetapi ia tak bisa banyak bergerak.


"Aku di sini, El," ujar Ariel. "Aku di sini. Kita lihat bayinya nanti, oke?"


Ariel masih menangis ketika Elin selesai dijahit dan mendapatkan beberapa perawatan lainnya. Tahun lalu, ia juga merasakan sensasi seperti ini, hanya saja, bayi kecilnya tak bernyawa lagi dan Sinta terbaring tanpa kesadaran di atas ranjang.


Kini, di sebelahnya, Elin terus menangis. Ia merengek pada siapa saja agar diperkenankan untuk melihat bayinya. Ia tak mendapatkan banyak jawaban hingga ia begitu lelah dan akhirnya tertidur.


"Ariel, kamu bisa pergi," kata Maria ketika ia merasa Ariel sudah menemani Elin selama beberapa jam.


"Apa? Mama mau aku pergi?" Ariel berdiri tak percaya. "Istri aku baru aja melahirkan, dia juga belum melihat bayinya."


"Ya, Mama mau kamu pulang. Bawa bayi itu bersama kamu," kata Maria. "Bukankah kamu dan Sinta yang akan merawat bayi itu?"


Ariel menoleh pada Elin yang masih terlelap. Ia sudah berjanji akan tetap ada di sana ketika Elin membuka mata.


"Ma, plis, aku mau Elin. Dia juga berhak melihat bayinya. Dia harus menyusui bayinya," kata Ariel.


"Kamu ... kamu mau melihat hidup adik kamu semakin hancur? Dia sudah 24 tahun. Dia masih memiliki kesempatan untuk menata karir dan kehidupan baru. Jika kamu terus ada di dekat Elin ... dia cuma akan jadi simpanan!" Maria bicara setegas mungkin. Ia memang tidak tega melihat Elin yang baru saja melahirkan, ia juga bisa melihat chemistry di antara Ariel dan Elin tadi. Namun, ini adalah keputusan yang terbaik.

__ADS_1


"Tapi, Ma. Elin cinta sama aku!"


"Elin udah milih sekolah yang akan ia masuki tahun ini," ujar Maria berbohong. "Mama sudah bicara banyak dengan Elin."


Maria berjalan menuju meja Elin lalu mengambil beberapa berkas yang telah diisi oleh Elin. Yah, Elin sempat mempertimbangkan untuk mendaftar di salah satu universitas jadi ia asal saja mengisi.


"Jangan rusak masa depan Elin lagi. Bulan depan dia akan pergi ke Prancis bersama Mama."


Ariel menatap Elin lagi. Ia masih ingin bersama Elin. Barangkali, mereka bisa memeluk Luna bersama-sama. "Mama nggak bisa begini, Elin juga harus melihat bayinya lebih dulu."


Maria menggeleng. "Mama tahu ini terlihat kejam, tetapi ini yang terbaik jika Elin memang harus pergi dari kamu, Ril. Dia tak akan bisa pergi jika melihat bayinya. Bawa bayinya, rawat dengan baik bersama istri kamu. Itu jika kamu ingin membalas apa yang sudah dilakukan Elin untuk kamu."


"Tapi Elin ...."


"Ada Mama. Kamu jangan khawatir."


***


Selama beberapa hari, Elin terus menangis lantaran ketika ia bangun 3 hari yang lalu, bayinya tak ada lagi. Maria bilang, Ariel sudah membawanya pulang. Ya, batang hidung Ariel pun tak terlihat lagi sejak momen ia melahirkan. Elin merasa remuk redam, apakah kedatangan Ariel, pelukan Ariel, kecupan Ariel di hari itu hanya sandiwara? Hanya agar ia bisa mengeluarkan bayi itu dari perutnya?


Elin berdiri di depan cermin besar di toilet kamarnya. Ia meringis ketika merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Melahirkan tidak mudah, tetapi pasca persalinan adalah yang terburuk. Ia harus menahan rasa ngilu akibat jahitan ditambah sekarang dadanya sangat bengkak akibat tidak menyusui. Dokter dan Maria berkata , ia akan pulih selama beberapa hari, tetapi bahkan satu hari saja terasa seperti setahun.


"Aku pengen liat Luna," gumam Elin.


Elin sengaja bangun sangat pagi sebelum subuh karena ia tahu, para penjaga akan sholat subuh berjamaah dan ibunya mungkin belum bangun. Jadi, setelah ia menyambar jaket, ia pun berindap-indap turun ke lantai satu. Ia keluar dari pintu belakang dan setengah berlari menuju rumah Ariel.

__ADS_1


Tubuhnya terasa sakit, yah, ia tak bisa memungkiri hal itu. Namun, ia tahu, rumah Ariel tak begitu jauh. Dan ia hanya punya waktu sebentar sebelum ibunya tahu ia kabur dari rumah.


"Ah!" Elin berhenti sejenak lalu meraba perutnya yang tak nyaman.


Ia tak peduli lalu kembali berjalan. Dengan cepat, ia akhirnya tiba di rumah Ariel. Ia menatap pintu gerbang itu lalu mengintip, tak ada penjaga. Mungkin, Ariel tak butuh penjaga lagi karena ia tak tinggal di sana lagi. Jadi, perlahan, Elin pun menyusup masuk lewat pintu gerbang kecil yang ada di sisi kanan rumah. Jika ia lewat gerbang besar, ia pasti akan ketahuan karena derit pintu itu cukup keras.


Elin tak butuh banyak waktu, ia bisa masuk ke rumah karena tahu pintu belakang pasti tak dikunci. Elin terengah-engah ketika ia masuk ke dapur. Ia menatap ke lantai atas di mana kamarnya dulu berada. Namun, kini matanya terpaku pada kamar bayinya.


"Luna," gumam Elin.


Elin pernah sangat senang ketika Ariel berkata bayi mereka akan diberi nama Luna Kirana Faras. Ia menyukai nama itu, ia juga yang mengusulkan nama Luna. Namun, ketika ia membuka pintu itu, yang ia lihat sungguh mencengangkan.


Di dekat jendela, tampak Sinta sedang menimang Luna. Nyanyian lirih terdengar dari bibir Sinta. Sinta sesekali tersenyum pada Ariel yang juga tersenyum dan memakukan tatapan ke bayi yang ada di dekapan Luna. Dan Ariel merangkul bahu Sinta, seolah mereka sedang menikmati waktu mereka bertiga.


Elin menutup bibirnya. Bertiga. Yah, hanya bertiga. Ia tak pernah masuk hitungan. Tanpa menutup pintu kamar Luna, Elin pun berlari pergi. Ia tak ingin melihat lagi. Kebahagiaan Ariel memang segalanya bagi Elin. Namun, melihat Ariel berbahagia dengan bayinya dan Sinta begitu menyakitkan.


Mungkin benar kata Maria, ia harus pergi. Sejauh mungkin. Namun, setelah ia pikir-pikir lagi, apa gunanya ia pergi jika ia masih terlibat dengan keluarga Ariel? Suatu hari mereka akan bertemu lagi dan ia akan melihat kebahagiaan Ariel bersama Sinta dan Luna. Sedangkan ia?


Elin meninggalkan rumah Ariel dengan menangis. Ia menghentikan langkah hanya untuk menahan rasa sakit di tubuhnya. Dengan sisa tenaganya, Elin mencoba terus berjalan, tetapi ia tak berjalan ke arah rumah sewa ibunya. Ia ingin pergi jauh, sejauh mungkin.


Kedua matanya tiba-tiba tak bisa melihat dengan baik. Ia merasa pusing dan perutnya begitu sakit. Ia tak tahu berapa lama ia sudah berjalan, agaknya cukup jauh hingga ketika ia berhenti di tepi jalan ia sadar ia tak tahu ia ada di mana. Elin menunduk ketika melihat lelehan darah di kakinya. Elin menggeleng pelan dan tubuhnya ambruk menghempas aspal.


"Hei! Kamu ... Elin?" Seseorang berlari mendekat lalu memeriksa tubuh Elin dengan panik. "Elin, bangun!"


.

__ADS_1


Halo sebelum karyaku tamat aku mau promo karya temenku niihhhh



__ADS_2